Jumat, November 22, 2013

Dancing In The Sky..

Ku jejakkan kakiku dengan mantap ke anak tangga selangkah demi selangkah. Meski begitu, pikiran dan sekitarku menggelap. Sensasi yang dapat ku rasakan hanyalah kemarahan dan kebencian yang melilit erat dadaku hingga organ pernafasanku seolah mati rasa.

Kenapa kau tinggalkan aku, Konoha ?

Krieeekk...

Ku dorong pelan pintu atap itu. Aku selalu merasa terganggu dengan bunyi derit itu sebelumnya. Dalam bayanganku, bunyi itu seolah suara tawa ejekan dan hinaan dari orang-orang brengsek yang hidup dengan bahagia di sekitarku.

Kalau begitu, Konoha...

Atap berlumuran sinar matahari seperti selalunya. Tempat ini kosong dan sepi. 
Yang bisa ku lakukan hanyalah...

Tanpa ragu ku jejakkan kakiku menaiki dinding pengaman atap yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak dipasangi kawat seperti sekolah-sekolah lain. Angin pagi seketika menerbangkan rambutku. Ah, damainya. Aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa angin dari tempat ini begitu terasa menenangkan. Keramaian siswa-siswi kelas sebelah yang sedang bertanding voli di lapangan olahraga terasa begitu jauh dari pendengaranku. Aku menatap pemandangan yang terbentang di depan mata, hanya terlihat hamparan langit seluas mata memandang. Entah mengapa beban berat di hatiku terasa mulai berkurang. Aneh, ya ?

Krieekk..

Ah, itu dia. Malaikatku. 
Aku berbalik padanya.

" MIU...." 

Konoha menjerit memanggilku. Dia berlari ke arahku sambil menjulurkan tangan. Seolah-olah itu bisa menggapaiku, mencegahku dari keputusanku. Seolah itu berarti. Wajah Konoha mengerut penuh kesedihan, matanya dipenuhi permohonan, bahkan suaranya kedengaran takut. Itu bagus, sayang. Teruslah memohon seperti itu.
Semuanya berputar dalam gerakan lambat. Konoha masih terlalu jauh dari tempatku. Lagipula, apa yang bisa dilakukannya ?

Menyakitimu...
Biar kau rasakan sakitnya....
Sehingga kau takkan pernah bisa lupakan aku kan ?....
Perasaan ini..

" Kau takkan pernah mengerti." Kataku, berharap terdengar kejam dan jahat. Ah, sebenarnya aku tak perlu berusaha, dari awal aku memang seorang gadis yang kejam dan jahat. 

Aku tersenyum padanya, senyuman paling manis yang pernah ku berikan kepada orang lain. Senyuman yang tak pernah ku tampakkan kepada siapapun kecuali Konoha. Aku ingin dia melihat betapa cantiknya senyumanku, betapa tidak terbebaninya diriku, dan betapa tidak menyesalnya aku.

" MIU..." Konoha masih terus menjerit seakan seluruh hidupnya bergantung pada responku atas panggilannya itu.

Ku rentangkan kedua tangan, lalu perlahan ku jatuhkan diriku ke bawah, menuju kesolidan tanah di bawah sana.
Ini terlalu lambat, seberapa tinggi sebenarnya gedung sekolah ini ? Ku arahkan mataku ke langit. Ada seekor burung putih yang terbang di atas sana. Aku jadi ingat, betapa dulu aku menyukai burung, berharap bisa seperti mereka. Impian yang kekanakan.

Aaaahhhh...
Angin semakin keras menerpa. Namun anehnya terasa begitu lembut di kulitku. Inikah perpisahanku dengan dunia fana ?

Konoha..
Konoha..

Aku hanya ingin ada di sampingmu selamanya.

Lalu ku tutup kedua mataku.

Asakura Miu, Anime : Bungaku Shoujo Memoire

Bungaku Shoujo Memoire mempunyai tiga episode. Masing-masing episode menceritakan tentang Konoha [ Tokoh utama cowok anime ini ] dari sudut pandang tiga cewek yang masing-masing mempunyai hubungan dengan Konoha.

Tapi, aku paling suka POV Miu, yang merupakan episode kedua. Banyak orang yang tidak menyukai karakter tokoh Miu karena memang dia gadis yang jahat dan egois,

Tapi, aku suka banget sama latar belakang kehidupan Miu yang menjadikannya orang seperti itu. Penderitaannya dimulai sejak ia kecil.

Ayahnya berselingkuh dengan perempuan lain dan menjadikannya sering bertengkar dengan ibunya. Ketika itu terjadi, Miu yang masih kelas 1 SD hanya berdiam di kamarnya diantara tumpukan buku-buku, ia membaca dongeng-dongeng indah tentang kebahagiaan. Selama ada cerita yang bagus , maka ia, ibu, dan ayahnya pasti akan selalu bahagia, anggapnya.

Suatu ketika ayahnya minggat dari rumah, meninggalkan Miu berdua dengan ibunya. Ibunya begitu depresi karena itu, dan akhirnya menjadikan Miu sebagai samsak. Ibunya menyalahkan dan mencacinya karena menganggapnya sebagai penyebab kehancuran rumah tangga itu.

Miu juga dijauhi teman-teman di sekolahnya. Mereka menganggap Miu pembohong karena selalu menceritakan ha-hal aneh seperti pohon sakura yang bisa berbicara dan berkumpul dengan teman-temannya sesama pohon sakura di malam hari. Hanya satu orang yang datang mendekati Miu dan memaksa utuk meneruskan ceritanya, dialah Inoue Konoha. Miu awalnya cuek dan tak acuh terhadap kehadiran Konoha. meski akhirnya hatinya luluh karena hanya Konohalah yang mau mendengarkan kisah-kisah imajinasinya.
Miu kecil bersedia melakukan apapun untuk menjaga agar Konoha hanya mempedulikannya. Miu merusak boneka mainan dan membunuh burung kesayangan Konoha ketika masih kecil karena merasa perhatian Konoha padanya berkurang akibat kesenangan Konoha pada boneka buatan ibunya dan burung kesayangannya itu.

Suatu saat Miu menyadari bahwa dia sudah kehabisan bahan cerita, dia tak punya ide lagi tentang kisah-kisah ajaib untuk diceritakan pada Konoha. Miu memutuskan mengambil cerita dari buku-buku dongeng yang banyak berjejer di rak kamarnya. Semuanya dilakukannya untuk menjaga Konoha yang selalu haus akan kisah-kisah petualangan untuk tetap di sisinya.

Setiap kali Miu bertanya pada Konoha " Apakah kau menyukaiku ?," Konoha hanya diam dan tak menjawab. Miu tidak pernah bosan bertanya padanya namun selalu dijawab dengan respon yang sama.

Saat SMP, banyak gadis yang kelihatan tertarik pada Konoha. Akhirnya Miu juga memfitnah Konoha di depan gadis-gadis lain yang kelihatan mulai menyukai Konoha agar mereka membenci cowok itu. Jahat, ya ? Benar. Dia memang karakter antagonis yang sangat antagonis dan membuatmu ingin menamparnya.

Pada akhirnya, Konoha memang hanya berteman dengannya. Meski begitu cowok itu tetap tidak pernah menjawab pertanyaan Miu.

Suatu hari Miu bilang " Aku pamit pulang duluan. Aku sedang menulis novel baru untuk mengikuti sebuah kompetisi,".
Konoha selalu setia menyemangati dan memotivasi Miu.

Namun, waktu terus berjalan, dan Miu tetap tidak bisa menulis satu huruf pun, sekeras apapun ia berusaha. Ini semua karena ia sudah terbiasa bercerita dengan mencuri cerita orang lain [ plagiat gitu, tapi cuma diceritakan sama Konoha ]. Namun di hadapan Konoha, Miu selalu menceritakan tentang kemajuan novelnya.

Lalu pada hari H, Konoha mengantarkan Miu ke kotak pos untuk megirimkan paket draft novelnya.

Ketika pengumuman pemenang dimuat di koran, ternyata yang menang adalah Inoue Miu, dengan judul novel " Sama Seperti Langit ".
Apakah itu Miu ? Ternyata bukan. Itu adalah pen name Konoha yang ternyata diam-diam menulis novel lalu mengirmkannya ke panitia lomba menulis yang sama dengan Miu.
Teman-teman sekolahnya memuji-muji Miu karena menang lomba, tentu saja Miu mengamuk pada mereka.

Di dalam novel yang ditulis Konoha, ada sepotong percakapan yang sering dilakukannya dengan Konoha. Akhirnya Miu gelap mata. Ia mengkonfrontir Konoha, yang dengan pelan mengakui kalau memang dialah penulis novel itu.
Di ujung cerita, setelah konfrontir itu Miu memutuskan bunuh diri dengan terjun dari atap sekolahnya.

Adegannya bunuh dirinya Miu sangat keren. Kata-kata perpisahannya juga. Karena saking kerennya adegan ini, akhirnya ku buat ulang dengan gaya novel seperti diatas. Ah, pokoknya Miu keren.

Tahu nggak kenapa Miu bunuh diri ?
Itu semua untuk menyakiti Konoha. Konoha telah mengkhianatinya dengan menjadi penulis dan berhasil debut tanpa memberi tahu Miu. Padahal Miu-lah yang terlebih dahulu punya impian jadi penulis. Ternyata Miu tak pernah mengikuti kompetisi menulis itum berkas yang dimasukkannya ke kotak pos bersama Konoha tempo hari hanyalah buntelan kertas kosong tak ternoda tinta sedikitpun. Miu juga merasa bahwa tak seperti dirinya, Konoha punya kehidupan yang lebih menyenangkan, kehidupan yang akan tetap baik-baik saja meski tak ada Miu. Padahal bagi Miu, Konoha itu dunianya, satu-satunya miliknya.

Ah, susah dijelasin deh. Mending nonton aja sendiri.

Source : Pinterest
# Jam 1.14, berarti total dua hari aku nggak memposting sesuatu, ya ? Ah. Sudahlah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

This is virtual world. Tapi, inilah tempat yang justru membuat diri kita bisa sejenak melepaskan topeng-topeng dan jubah kepalsuan di dunia nyata. So, this is the real me, yang tak pernah ku tunjukkan kepada kenyataanku. Mari saling berbagi dan bercerita tentang hidup. Feel free to leave your comment. I am not too creative to reply the comments. So, sometimes i don't reply it. But, Please believe that i definitely read your single comment and really appreciate it.