Kamis, Oktober 31, 2013

The Box Of My Childhood Memories : The Library And The Sephia Nostalgic

Source : Here

Ketika mengetahui bahwa blog ini akan membuat Give Away yang berhubungan dengan perpustakaan, aku sangat bersemangat. Banyak kisah hidupku yang bertalian dengan perpustakaan. Kalau diceritakan semua mungkin akan memakan waktu yang cukup panjang. 

Karena event Give Away itulah, aku memutuskan akan mengunjungi Perpustakaan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, tempat penuh nostalgia bagiku. Namun sayangnya, karena tersita kesibukan kuliah dan organisasi kampus yang memakan waktu bahkan sampai akhir minggu, rencana itu terus tertunda dan akhirnya tak terlaksana. Pada hari ini, hari terakhir pelaksanaan Give Away itu, barulah aku dapat menyempatkan diri kesana. Sayangnya, karena sudah cukup sore, maka yang menyambutku hanyalah keheningan dan tanah lapang yang kosong. Beruntung pintu gerbangnya masih belum ditutup. Karena itu, aku masuk ke lingkungan PerpusDa itu dan membekukan dalam gambar beberapa tempat yang menjadi kunci pembuka kotak kenangan masa kecilku. Aku setengah berlari mengelilingi tempat itu dengan HP Kamera di tangan, dengan ingatan-ingatan berwarna sephia yang berlomba meluap ke permukaan sadarku.

Dan...Inilah catatan perjalananku..

Melewati sepanjang jalan ini, seakan memasuki dimensi lain dari perspektifku. Ada pintu gerbang tak kasat mata yang akan terbuka hanya untukku, pintu menuju satu lembar pertama dari buku hidupku. Sepenggal cerita itu bernama masa kecil.

Jalan Penuh Nostalgia

Sejak aku mulai bisa mengingat, sepertinya di tempat inilah kehidupan masa kecilku dulu bermuara. Sekolah dasarku di ujung jalan ini. Dan di ujung lainnya adalah tempat penuh keajaiban yang tak pernah berhenti memberi kejutan, perpustakaan.

Aku generasi kelahiran tahun 1991. Memasuki sekolah dasar di usia empat tahun lebih pada tahun 1996. Jadul amat, ya ? Ha..Ha..Ha. Aneh rasanya memikirkannya.

Apa yang muncul di ingatan ketika menyebut tahun 1996 ? Ya. Tepat. Kuno, jadul, dan….. sepertinya zaman sekarang udah nggak bisa dibayangkan deh. Saat itu kota kelahiranku ini, Kota Palu, sebagian besar daerahnya belum dicapai oleh aliran listrik, termasuk rumahku. Jalan-jalan masih sempit, dan pada pukul tujuh malam sudah sepi dan gelap tanpa satu kendaraan pun yang lewat. Di kompleks rumahku hanya ada tiga rumah. Teknologi paling mutakhir yang kami terima adalah radio. Permainan yang kami, anak-anak lakukan untuk mengisi waktu adalah memanjat pohon, petak umpet, masak-masakan, jual-jualan, rumah-rumahan, baju-baju, kejar-kejaran dan sejenisnya.

Suram ? Untungnya tidak. Aku justru bersyukur terlahir di zaman itu. Karena aku punya kesempatan untuk mengenal perpustakaan. Di zaman ketika hiburan begitu terbatas, maka buku menjadi salah satu sumber hiburan utama.

Well, thanks for my beloved mummy for that.


My Beloved Mommy

Saat aku masih kecil dan belum punya saudara, kedua orangtuaku sibuk bekerja. Ayah bekerja di pabrik tempe, dan ibu bekerja sebagai PNS di salah satu kantor pemerintahan. Lingkungan sekitarku masih hutan dan sangat sepi sedangkan sekolah dasarku pulang pagi. Karena itu, setelah menjemputku dari sekolah, ibu mengantarkanku ke perpustakaan daerah dan meninggalkanku disana sampai jam dua siang, ketika beliau pulang.


Alumni Sekolah Dasarku

Setiap hari sabtu, sudah jadi rutinitas wajib kami untuk pergi ke perpustakaan. Karena hari sabtu kantor Ibu libur, maka setelah menyelesaikan pekerjaan rumah beliau langsung ke perpustakaan. SD-ku tidak jauh dari perpustakaan, maka sepulang sekolah aku langsung menyusul Ibu kesana sampai jam empat sore, jam tutup perpustakaan. Ibu juga adalah seorang nerd. Dan hal itu menular dengan sangat sukses kepadaku, anak pertamanya.

Maka disanalah, dari kelas satu SD aku sudah bergaul dengan Asterix dan Obelix, Lucky Luke, Smurf, Tintin, dan komik-komik lain. Ada juga buku dongeng La Fontaine yang berisi kisah-kisah hikmah tumbuh-tumbuhan dan binatang, serta buku komik elex tokoh-tokoh terkenal dunia, seperti Beethoven, Maria Antoinette, Napoleon Bonaparte, dan lain-lain. Mungkin saat itu akulah anggota termuda di perpustakaan itu. Untung saja aku sudah lumayan lancar membaca di usia yang sangat dini. Aku kenal setiap seluk beluk rak-rak buku dan sudut-sudut nyaman di tempat ajaib itu. kegiatan favoritku adalah melipir rak sampai ke rak paling ujung, menikmati sensasi tersesat di tempat rahasia yang tak diketahui orang lain. Beautiful.

Asterix & Obelix
Source : Here


Lucky Luke
Source : Here

Tin-Tin & Snowy
Source : Here

Jika sudah mulai lelah membaca, aku keluar menuju halamannya yang ( dulu ) rindang, hijau, dan asri. Kadang hanya duduk dan menatap lalu lalang kendaraan pengunjung perpustakaan yang datang dan pergi. Ya, dalam ingatanku, Perpustakaan ini dulu adalah tempat yang ramai namun syahdu. Banyak orang datang, namun semuanya tenggelam dalam dunia yang terangkum dalam lembar-lembaran buku di hadapan mereka masing-masing.


Ku tatap seantero halaman Perpustakaan Daerah ini.


Saat SMP, frekuensi kunjunganku ke tempat ini mulai berkurang. Kemudian aku melanjutkan bangku SMA di kota lain. Dan saat kembali ke kota ini tiga tahun lalu, aku sempat beberapa kali mengunjungi perpustakaan ini lagi. Kalau tak salah, terakhir kali saat aku semester tiga. Sejak saat itu tidak pernah lagi sampai sore ini.

Perpustakaan ini sangat banyak berubah. Jika dulu, kesanku tentang tempat ini begitu monokrom, maka sekarang hanya warna kelabu yang kusam. Mungkin karena perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Orang tidak mau lagi repot-repot pergi ke perpustakaan, memilih-milih ribuan buku, lalu membaca setiap kalimat satu persatu untuk mencari sepatah dua patah kata yang mereka perlukan. Internet telah menggerus warna tempat ini.

Tampilan dari luar saja sudah sangat mengganggu. Tembok namanya bocel dan huruf-hurufnya sudah banyak yang lepas.


Di atas bangunan megah ini dulu terpampang dengan gagah papan nama “ PERPUSTAKAAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGAH “ . Sekarang sudah lenyap.


Saat aku SMP, pojok taman ini dipenuhi dengan anak-anak kecil yang bermain. Dulu disini ada jungkat-jungkit, ayunan, ban-ban, dan permainan anak-anak TK lain. 


Saat ini, hanya tinggal seonggok benda ini yang menjadi saksi bagaimana jayanya tempat ini dulu. Benda ini, entah mainan apa namanya, terlihat sendirian di tengah-tengah lapangan luas yang gersang dan kelabu, tubuhnya dipenuhi karat dan kotoran. Benar-benar merepresentasikan keadaan Perpustakaan ini sekarang.


Di masa kanak-kanakku, tempat parkir ini tak pernah sepi dari barisan kendaraan. Di bawah pohon ketapang ini dulu aku biasa duduk atau malah berbaring di selimut tebal rerumputan.


Selain masalah prasarana yang sudah layak dimuseumkan, ada beberapa hal lain yang membuat orang enggan mencoba memasuki tempat ini. Pertama, koleksi bukunya benar-benar memprihatinkan. Terakhir kesana, sudah tak ada lagi buku-buku fiksi ajaib yang menghanyutkan itu. Rak-rak besi berdebu hanya berisi buku-buku sejarah dan ilmu pengetahuan terbitan lama. Sepertinya memang saat ini posisi perpustakaan ini hanyalah sebagai gudang arsip umum. Hanya didatangi oleh orang-orang yang sangat memerlukan cerita dari masa lalu. Kedua, birokrasi pembuatan kartu anggotanya yang rumit. Kalau ini sebenarnya memang sudah sejak dulu. Kalau ada warga umum yang ingin membuat kartu anggota, mereka harus minta tandatangan ketua RT. Jika itu siswa, maka yang harus membubuhkan tandatangan adalah kepala sekolah. Bila mahasiswa, maka yang bertandatangan adalah dekan. Bayangkan, bagaimana susahnya mencari tandatangan dari orang-orang diatas. Tentu saja banyak yang mundur, termasuk aku yang paling malas kalau disuruh menghadap dosen. Ketiga, tidak pernah ada inovasi atau kegiatan menarik yang dapat memancing minat baca, atau paling tidak minat orang berkunjung ke tempat ini. Keempat, pustakawan dan pustakawatinya tidak begitu menyatu dengan perpustakaan ini. Mereka bergosip dengan ributnya di ruang baca, hal yang tentu sangat mengganggu para penikmat buku.

Karena alasan-alasan itulah, sampai saat ini aku belum pernah menginjakkan kaki ke dalam perpustakaan ini lagi. Formulir pendaftaran anggota pun masih tersimpan di map arsipku. Untuk memnuhi kebutuhan dan obsesi membacaku, aku beralih ke tempat penyewaan buku yang meski mahal, sesuai dengan kenyamanan dan judul buku yang ditawarkan. Atau, aku mendownload berbagai jenis bahan bacaan mulai dari fiksi sampai non fiksi lokal maupun terjemahan di internet.



Meski begitu, tetap terasa ada yang kurang. Pada dasarnya aku mengenal buku dari perpustakaan. Asosiasi dan kesan yang sudah tersetting dalam diriku adalah bahwa buku dan perpustakaan adalah pasangan yang saling melengkapi. Buku tanpa perpustakaan seperti sayur tanpa garam, bisa dimakan namun kurang nikmat.

Mungkin karena sejak kecil sudah sangat terbiasa dengan Perpustakaan, maka sampai sekarang Perpustakaan seperti sudah jadi tempatku. Tahu kan..kalau setiap orang di dunia ini punya tempatnya masing-masing, tempat mereka merasa nyaman dan aman. Tempat mereka merasa menerima dan diterima tanpa khawatir apapun. Bagiku, tempat alamiku adalah perpustakaan. Ada semacam sugesti otomatis yang sudah tertanam kuat dalam diriku, bahwa perpustakaan, dimanapun tempatnya akan selalu membuka pelukannya untukku. Meski di perpustakaan yang belum pernah ku kunjungi, jika sudah melangkah melewati ambang pintunya, maka suasana khas akan menyambutku. Bukan dari pustakawan-pustakawatinya, sarana dan fasilitasnya, atau apapun itu. Tapi, karena memang itu adalah perpustakaan. Saking sukanya, saat pelajaran bahasa inggris di SMA, aku pernah meneriakkan impianku di depan kelas " I Want To Build My Own Library ". Saat itu teman-temanku hanya berdecak sambil menatapku aneh.

Aku sering merasa kasihan pada adik-adikku dan anak-anak masa sekarang. Sedari lahir mereka sudah terpapar oleh kecanggihan zaman yang kadang menggerus indahnya masa kecil yang seharusnya penuh petualangan. Ku pikir, suatu saat nanti perpustakaan dan buku akan menjadi tempat dan benda yang asing, sama seperti asingnya teknologi di masa kecilku. Sayang sekali. Karena di dunia ini, tak ada tempat lain seperti perpustakaan. 

Source : Here

Aku juga ingin agar kelak suatu saat mempunyai anak-anak, untuk mendidik mereka seperti ibu mendidikku. Aku berjanji, jika saat itu tiba, bahwa tempat umum pertama yang ingin ku kunjungi bersama anak-anakku adalah perpustakaan.. Aahh.. Mudah-mudahan aku dapat suami yang juga mencintai Buku dan perpustakaan..

Source : Here

Demikianlah catatan perjalanan singkatku yang hanya berdurasi sekitar satu jam. Panjang sekali, ya. Padahal ini masih satu bab dari tumpukan buku ceritaku. Masih ada begitu banyak pengalaman dan kenanganku tentang Perpustakaan dan Buku. Mudah-mudahan di lain kesempatan aku dapat menuliskannya lagi.

Buat mbak Luckty, terima kasih ya karena sudah mengadakan Give Away ini. Rasanya senang bisa mengingat kembali hal-hal indah dari masa kecil. 

Bismillahirrohmanirrohim.. Mudah-mudahan Menang ya Alloh... :D

Postingan ini diikutsertakan dalam event Library Give Away yang diadakan oleh pemilik blog ini..



Senin, Oktober 28, 2013

October Night Rain


Source : Here

Hujan yang sangat sangat lebat baru saja turun. Tak biasanya di waktu-waktu ini hujan lebat seperti ini. Pukul berapa sekarang ? Sudah 23.30. Belum mengantuk. Banyak yang harus ku pikirkan untuk esok hari.

Tentang hujan lagi. Saking derasnya, ada beberapa bocoran kecil yang menyelinapkan air dari atap ke dalam kamarku. Salah satunya jatuh tepat di sisi tempat tidurku yang bergaya Floor Bed, kasur lantai. Istilah dari mana itu ? Tak tahu. Baru saja ku ciptakan. Segera ku tumpukkan beberapa lembar selimut di tempat itu agar tetesan air bisa meresap dan tak terciprat sampai kasur. Eh, ada satu tetes lagi yang jatuh tepat di kepalaku, mengalirkan sensasi dingin di sela-sela rambutku. Tapi, kipas angin tetap ku hidupkan, karena alat ini memang ku fungsikan sebagai sirkulator udara, bukan penyejuk ruangan biasa.

Source : Here

Aku suka hujan, sejak dulu. Bukan ikut-ikutan lho. Entah kenapa banyak cewek yang suka hujan, banyak film-film romansa yang menampilkan adegan hujan dalam ceritanya. Mungkin karena hujan selalu menimbulkan efek romantis, perasaan sendu dan galau, haru biru yang alami ? Aku suka semua jenis hujan. Kecuali hujan yang turun di pagi hari yang membuatku terhalang berangkat kuliah. Aku senang saat pulang kuliah bertepatan dengan hujan yang saking derasnya hingga jangkauan penglihatan hanya  mencapai sekitar satu meter. Hujan seperti itu membangkitkan euforia kenangan, untukku. Biasanya aku memacu motorku dengan batas kecepatan berkendara yang paling aman saat hujan turun.

Gemuruh hujan yang jatuh di atas atap rumahku ini begitu berisik. Namun, suara latar belakang itu entah mengapa membuatku merasa sedikit kesepian.
Ada kenangan tentang hujan yang memaksaku bungkam setiap kalinya. Ini tentang orang yang ku sukai. Banyak kenangan yang terjadi saat hujan dengannya. Bukan, bukan karena ku paksakan seperti itu. Namun, mungkin karena dulu aku menyukainya saat musim penghujan dimulai, sehingga latar ceritaku penuh dengan tetesan air dari langit. Salah satunya di malam gerimis itu, saat aku bersama seorang temanku pulang dari ekskul yang diketuai oleh orang yang ku sukai , adzan isya sudah berkumandang, namun aku dan temanku memilih untuk pulang ke kos daripada sholat di tempat karena kami akan terlambat untuk mengikuti pengajian sesi malam hari. Aku ingat diriku, seperti yang selalu ku lakukan, menunggunya keluar kelas, lalu berpura-pura baru keluar juga dan berjalan di depannya. Saat itu sudah di gerbang sekolah, dia berhenti untuk mengantri wudhu di tempat wudhu yang letaknya persis di samping gerbang sekolah. Di ujung gerbang, aku menoleh ke belakang untuk melihatnya, memastikan untuk mengisi bahan bakarku dengan kehadirannya untuk melanjutkan malam dan bangun esok paginya. Tak ku sangka, ternyata dia juga sedang melihat padaku, begitu pandangan kami bertemu, dia langsung mengalihkan matanya, meninggalkan tatapanku yang mencari tempat landasannya lagi.
Sepenggal adegan dalam kisahku yang latar belakangnya adalah gerbang sekolah, rintik gerimis yang malu-malu, dan udara yang dipenuhi bau hujan yang segar.

Source : Here

Bisa mendeskripsikan bau hujan ? Campuran antara aroma tanah basah, dedaunan hijau, dan  air segar yang menguar di udara. Bau Hujan. Mungkin ada yang mau menangkap aroma itu dan membekukannya dalam bentuk parfum. Aku suka aroma itu. Salah satu alasan kenapa aku suka hujan. Tak ada lagi momen untuk mencium aroma itu selain pasca hujan. Tak ada.

Source : Here

# Stairway To Your memories...

Senin, Oktober 21, 2013

Last Grade

Ah, facebookku isinya sudah penuh dengan curhatan dan saling comment antara temen-temen kuliah yang seangkatan dengan saya. Ada yang udah daftar ujian komprehensif, ada yang udah dapet dosen pembimbing, ada yang udah konsultasi judul sama dosen wali. Aku kapan, ya ? Jadi males buka fb, lihat progress temen-temen yang udah lancar banget gitu kayaknya. Duhm kok malah jatuh mental gini, sih ? Bukannya malah harus lebih termotivasi untuk menyusul bahkan melampaui mereka, ya kan ? Tahu, ah. Dari awal semester ini, rasanya tuh udah maleees banget kuliah. Satu mata kuliah yang ku ambil pun kayak ogah-ogahan ngejalaninnya. Mata kuliah lain, proposal, malah belum ada bayangan. 

Dari lebaran idul fitri, aku rajin banget ke kampus. Malah ngalahin rajinku waktu masih full mata kuliah. Soalnya aku lagi membangun ulang lembagaku. Ini kayak alesan aja, yah.. Sebenarnya sih, aku males banget tuh mikirin judulku. Bukannya nggak ada ide. Aku ngerasa lembagaku yang sekarang ini nyamaaaaaannn banget ku tinggali. Beneran. Aku jadi makin males ngurusin judul deh. Malesnya tuh karena harus minta tanda-tangan sana-sini, iya kalo yang dicari udah stay aja di tempat, tinggal dihampirin. Ini mah ada yang ke luar kota, ada yang sibuk nggak jelas, ih.. Kok aku jadi tukang ngeluh gini, sih ? Padahal belum ngelakuin apa-apa coba. Semua itu kan persoalan klasik yang harus dihadapi setiap mahasiswa yang sudah tingkat akhir.

Dulu pas masih aktif kuliah dan sering denger-denger cerita masalah syndrom males yang menjangkiti mahasiswa tingkat akhir, aku mikir " Ah, aku nggak bakalan kayak gitu, kok. Selain yakin sama kemampuanku, aku kan juga pengen cepetan lulus," Ternyata ? Aku udah mulai kena syndrom itu. Aduh, nggak mau, ah. Aku nggak mau kelamaan di kampus. Nggak mau. 

Ya Alloh, bantu aku dong. Bantu aku memperbaiki mood dan semangatku ini. Toloooonnggg bangeettt,,,


Source : Here

# The Holiday Was Over. Come Set The Mood And Activity Back To The Normal Before On...

Minggu, Oktober 20, 2013

Closing The Ears & The Eyes...

Source : Pinterest

Aku heran dengan orang-orang yang bicara seenak udelnya di hadapanku, berpikir bahwa aku akan mendengarkan semua omongan mereka. Berpikir bahwa aku harus menerima segala ocehan mereka. Nggak, nggak lagi. Sekarang aku sudah jadi orang jahat. Aku selalu dikenal karena keheninganku, kediamanku, kepasifanku. Banyak yang datang padaku untuk menumpahkan emosi yang mulai meluap, untuk meredam air mata, kata mereka. Itu tak masalah, datang saja kapan kalian mau. Aku memang pendengar yang baik, kok.

Tapi, tolong jangan bersusah payah menilai diriku dan lalu menyampaikannya di hadapanku. Well, tak cuma di hadapanku, sih. Aku akan lebih marah lagi jika kalian membicarakannya pada orang lain di belakangku. Tak ada yang suka kalau kejelekannya disebarkan, kan ? Meski dari kacamata dangkal kalian yang menilai baik tidaknya seseorang dari standar umum yang berlaku di dunia. Cantik, langsing, kalem, pintar, dan.. sifat artifisial lain. Sorry, i am out. Nggak ikutan, deh. Kalo kontes kecantikan gitu, aku udah bakal kalah duluan. Jadi, nggak usah repot-repot mengomentari apalagi mencelaku.

Apa sih masalah kalian kalau aku sedikit berbeda ? Toh aku tak pernah melakukan sesuatu yang merugikan kalian. Tak pernah ku ganggu hak milik kalian, privasi, hidup, atau apapun. Aku kan sudah bilang dari awal, aku tidak mau terlibat terlalu dekat dengan orang-orang dangkal macam kalian. I am living in my own world, kalian juga punya dunia yang kalian bangga-banggakan sendiri. Beres, kan ?

Bicaralah hal yang berguna untukku, sesuatu tentang dunia yang belum ku ketahui. Itu bisa mencakup banyak hal, sangat banyak. Kita akan bertukar cerita dari perspektif yang berbeda, mengasyikkan kan ? Kalau sudah kehabisan bahan, pergilah dengan tenang dan kembalilah jika masih ada yang ingin diperdebatkan. Selesai. 

Aku tak mau mendengar kalimat-kalimat penghakiman dan penilaian bodoh tentang diriku. Kalian tahu? Aku bertahun-tahun menderita karena terlalu memikirkan pandangan orang lain atasku. Apa yang bagus dari itu  ? Tak ada sama sekali. Aku hanya jadi orang bodoh yang dangkal, picik, palsu, dan tak bahagia. Jadi, aku sudah lama memutuskan untuk memasang filter di telinga dan mataku. Akan ku dengarkan hal yang ingin ku dengar, akan ku lihat hal yang ingin ku lihat. Aku tidak percaya pada peribahasa yang mengatakan bahwa orang lain adalah cermin diri kita. Siapa sih yang paling tahu tentang diri kita selain Tuhan Yang Maha Pencipta ? Tak seorangpun, kan ? Hanya diri kita sendiri.

Jadi, jangan repot-repot mengkritikku. Karena, hei.. Aku tak akan mendengarkan kalian. Akan ku tulikan telingaku, akan ku butakan mataku. Akan ku anggap kalian angin lalu yang tak layak diperhatikan. Aku sudah belajar untuk menutup indra pendengaran dan penglihatan. Jika telingaku hanya ku tutup denga kedua tangan, maka suara jelek kalian pasti masih dapat terdengar. Jadi, ku tutup kedua telingaku dengan earphone atau headset lalu ku kencangkan volume musik sambil melagu dalam hati.
Kalian pikir aku mendengarkan ? Tidak. Aku memang terlihat diam disini. Tapi filter otomatis itu sudah melindungi diriku. Jadi, nggak usah bersusah payah, ya...

Source : Pinterest

# Lagi suka posting gambar dengan ukuran besar-besar...

Sabtu, Oktober 19, 2013

Hoshizora...

Source :  Pinterest

Di malam berbintang
Selalu ada celah untuk memikirkanmu
Masih sejuta rindu terpupuk, menunggu terurai di matamu...

Di malam berbintang
Namamu mengudara dengan lepas
Ku kepakkan do'a dari ujung dunia
Agar mimpi kita jadi satu di lintas mayapada
Dan juga hari-hari yang akan datang

Di malam berbintang
Rongrongan asa menjemputmu
Karena kamu..
Bintang hatiku..


# Nggak jelas ...:D
   Current Mood : Plain And Sleepy....


Jumat, Oktober 18, 2013

Nostalgic Pain...


Bohong kalau aku bilang aku tidak ingin kembali ke hari-hari itu,
Bohong kalau aku bilang bahwa aku merasa lebih baik saat ini..

Apa sih yang berbeda ? Waktu dan tempat, orang-orang yang dengan mereka ku bagi masaku. Ku bagi umurku.
Semua masih sama. Waktu itu aku punya mimpi yang tinggi, saat ini juga. Apakah aku sudah lebih dekat ? Mungkin iya, karena aku sudah merasa menapakkan jemari kakiku selangkah ke depan.

Dulu aku menangis dan tersakiti, sekarang juga. Dulu sendirian, sekarang masih sama saja.
Dulu aku bahagia dan penuh harapan, sekarang aku juga bisa bahagia, berharap, bahkan lebih kuat lagi.

Masih masalah yang sama, jurang gelap yang sama. Hanya sudut pandangku yang berputar. Posisi yang lebih baik, ketetapan hati. Dan....Aku lebih memahami tempatku di dunia, dan bagaimana dunia menempatkanku..
Masih begitu banyak kehidupan menungguku di depan. Aku sebenarnya ingin melarikan diri ke ceruk sunyi bernama masa lalu.
Ah, tentu saja tak akan bisa. Lihat, aku bahkan menerima dengan lapang dada semua hal yang terlewatkan, kesakitan dari hari-hari yang telah berlalu, dan......

Aku hidup.........

Source Of Both Pictures : Pinterest

# Current Song : Again Performed By YUI.

Special Organization..

Lambang LPM Produktif

Hari ini pulang dari kampus jam sepuluh malam.

Aku udah pernah cerita belum ya soal keikutsertaanku dalam organisasi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di kampus ?? Belum, ya ?? Padahal aku masuk udah dari masih mahasiswa baru lho. Berarti dari tahun 2010, dua tahun lalu. Dari awal saat perkenalan lembaga di ormik, ada dua lembaga yang tertarik untuk ku ikuti. Sebelum masuk kampus, aku memang udah punya niat buat aktif berlembaga. Lembaga yang menarik perhatianku waktu itu adalah Lembaga Dakwah Kampus ( LDK ) dan LPM. LDK karena dekat dengan kehidupan sehari-hariku, jadi ku pikir aku bisa berkembang pesat disana. Selain itu presentasinya menarik dan ada teman dekatku yang senior juga jadi pengurus disitu. Bahkan, aku sempat dapat tiket gratis untuk PPAB-nya, lho. Soalnya aku bisa jawab pertanyaan mereka. Sayang, tiket itu tak jadi ku gunakan, karena saat hari kegiatan aku malah harus opname di RS karena DBD. 

Untuk HMJ aku tak begitu tertarik, karena HMJ menerapkan sistem penggodokan dalam proses PPABnya. Males deh, udah gede gini masih zaman aja gitu dibentak-bentak nggak jelas sama orang-orang yang umurnya nggak beda jauh-jauh dari kita ?? Akhirnya aku milih LPM, kebetulan juga ada teman yang mengajak. Dan aku juga saat itu sudah mulai tertarik dengan dunia tulis menulis. Alasan lain, karena lembaganya mengedepankan sistem kekeluargaan dan....anggotanya nggak banyak. Saat aku mendaftar, anggota aktif di dalam merangkap sebagai pengurus sekaligus kru hanya lima orang. LPM memang tidak pernah mempunyai banyak anggota. Dan, itu hal yang cukup ku sukai. Tidak terlalu banyak orang berarti aku punya banyak kesempatan untuk membuktikan diri. Selain itu aku juga kan orangnya nggak begitu suka sama kumpulan orang yang banyak.

Setelah itu kami membuat sebuah penerbitan buletin. Ingat banget deh sensasi pertama mewawancarai orang lain. Kalau tak salah waktu itu aku ditugaskan mewawancarai sekaligus menyusun berita tentang sebuah lembaga di Fakultas yang belum diakui legalitasnya. Agak deg-degan gitu. Karena ketua lembaga yang ku temui itu juga adalah anggota MAPALA, tahu kan gimana.. Agak keras dan kasar omongannya, penampilan luarnya juga menyeramkan. Tapi, begitu bisa terbit dan diedarkan ke seluruh fakultas, Rasanya bangga melihat kredit nama sendiri tercantum di bawah berita.

Setelah pergantian pengurus baru tak lama setelah itu, aku ditunjuk jadi Pimpinan Redaksi. Bayangkan, baru masuk jadi anggota, masih kuliah tahun pertama dan sudah diberi tanggung jawab begitu besarnya. Sayang seribu sayang, kepengurusan di zamanku tidak berjalan baik, tidak satu terbitan buletin pun yang beredar. Semua karena hilangnya garis koordinasi dari pimpinan umum. Anggotanya jadi kocar-kacir, saat itu aku sempat ngotot buat cari dan bikin berita sendiri. Namun,karena bagian layout orangnya nggak bisa diharapkan dan aku juga nggak bisa layout, terbuang percumalah semuanya.

Hampir dua tahun LPM vakum. Bahkan saat ketua umum diganti dengan pelaksana tugas sementara dari Badan Pengawas Organisasi ( BPO ) pun tetap tak berjalan mulus. Kegiatan yang berhasil dilaksanakan hanya dies natalis dan diklat PPAB, itupun semrawut dan tak jelas. Setelah itu LPM vakum lagi sampai Mei kemarin, saat kami anggota aktif memaksakan membuat Mubes dan menunjuk pengurus-pengurus baru. Kali ini aku terpilih jadi Sekretaris Umum, orang nomor dua di lembaga setelah Ketua Umum.

Namun, geliat LPM mulai terasa setelah idul fitri. Kami mulai menata ruangan sekretariat kami dan merencanakan kegitaan diklat PPAB. Anggota yang masih mau aktif dan peduli untuk membangun LPM lagi hanya tujuh orang. Jadi, kami bertujuh merangkap enam posisi pengurus inti, kru, dan saling memutar posisi kepanitiaan jika ada kegiatan lembaga. Ada senang dan sedihnya. Senangnya karena kami cuma sedikit, maka suasana kekeluargaan itu sangat terasa, kalau kerja maka semuanya kerja tanpa melihat posisi kepengurusan yang disandangnya. Sedihnya, banyak pekerjaan yang terbengkalai dan tidak terhandle dikarenakan kurangnya personel. Alhamdulillah, di PPAB akhir bulan lalu, kami melantik 19 ( sembilan belas ) orang anggota baru. Rekor anggota baru terbanyak yang pernah dimiliki LPM. Sebelum ini, anggota baru yang berhasil sampai pelantikan paling banyak hanya tujuh orang, yaitu di zamanku. Dari tujuh orang itu, tinggal dua orang tersisa yang masih peduli pada LPM, termasuk aku.Yang dua orang sudah pindah kampus, dan yang tiga sibuk dengan urusan masing-masing.

Sebagian Pengurus Inti LPM Produktif

Maka, jumlah kami sekarang hampir 30 orang. Mulailah kami mengisi pos-pos kepengurusan yang sebelumnya kosong seperti divisi pemasaran & distribusi, divisi produksi, dan divisi periklanan yang dibawahi oleh pimpinan perusahaan. Juga Pimpinan redaksi sekarang membawahi redaktur pelaksana mading & buletin yang masing-masing anggotanya antara 3-4 orang.

Suasana Penerimaan Materi Saat PPAB Outdoor

Anggota baru, semangat baru. Sekarang, kami sedang mengerjakan proker utama sebuah lembaga pers, yaitu penerbitan. Kami sudah rapat redaksi dua minggu lalu. Dalam rapat itu semua anggota baik lama atau baru ditugaskan untuk mencari berita, menyusunnya, lalu menyerahkannya kepada editor. Editornya kami bertujuh pengurus inti. Deadline pengumpulan berita sudah hari senin kemarin, namun masih ada saja yang beritanya belum siap edit. Akhirnya hari ini baru terkumpul semuanya.

Jam sebelas tadi kami rapat lembaga, dan banyak pengurus yang masuk kelas untuk kuliah. Aku yang cuma punya satu mata kuliah di hari Rabu, mulai mengedit sendirian. Beberapa saat kemudian, datang Pimpinan redaksi & Dewan Redaksi untuk membantu. Pengurus lain masih sibuk dengan urusannya masing-masing sampai jam lima sore baru bisa terkumpul semua untuk duduk bersama. Saat itulah kami mulai total mengedit.

Kami membeli nasi tahu tempe di warung lalu makan bersama saat jam tujuh, lalu mulai mengedit lagi. Pimpinan redaksi tepar dan tertidur selama hampir satu jam.

Masalahnya, di antara tujuh orang pengurus ini, hanya aku satu-satunya yang punya pengalaman menyusun lalu mengedit berita hingga siap di-layout. Keenam pengurus lain adalah adik tingkat setahun di bawahku, 2011. Saat masuk, mereka tidak didiklat dengan baik dan belum pernah menyusun apalagi mengedit berita. Jadi, meski sebelumnya sudah pembagian berita editan, tetap saja hasilnya berantakan. Untung ada Dewan Redaksi, yang merupakan Pimpinan Redaksi sebelumku. Apalagi, berita-berita yang masuk masih sangat berantakan, baik dari segi susunan bahasa maupun tanda bacanya. Maklum saja, meski ada anggota yang bukan mahasiswa baru, ini baru pertama kalinya mereka menulis berita. Proses editing mengubah hampir 80 % struktur berita awal. Belum lagi yang identitas narasumbernya tidak jelas, tidak ada fotonya satupun, sampai yang beritanya ngalor ngidul terbang jauh dari judulnya. Akhirnya, hanya aku yang mengedit berita tanpa bantuan, sementara yang lain, selain dibantu dewan redaksi juga kami saling meminta pendapat dari yang lain atas berita yang menjadi bagian editannya masing-masing. Seru, deh. Pokoknya seru banget.

Source : Pinterest

Dengan semua itu, pukul 10 tadi kami baru selesai. Itupun baru 95 ( sembilan puluh lima ) %. Masih ada satu berita yang rancu dan perlu dilakukan wawancara ulang dengan narasumbernya. Total ada tujuh rubrik yang meliputi 17 berita. Yaitu rubrik berita utama yang memuat dua berita, rubrik berita khusus yang memuat enam berita, rubrik kabar lembaga yang memuat delapan berita laporan kegiatan semua HMJ & UKM di Fakultas, satu rubrik Coming Soon yang berisi berita singkat untuk penerbitan selanjutnya, rubrik opini yang berisi tiga opini, rubrik kaktus ria yang diisi dengan satu cerbung dan dua puisi, kemudian rubrik kaktus berbagi yang memuat tentang teknik edit digital foto. Ditambah dengan dapur redaksi serta editorial. Hhh... Busyett.. Kami memang mati-matian berusaha di edisi perdana setelah dua tahun ini. Kami ingin kemunculan kami disambut dengan baik dan layak.

Jam setengah sepuluh, tiga orang cewek sudah dicalling sama mama tercinta di rumah masing-masing. Jadi, aku yang diberi tugas menghimpun semua berita hasil edit, secepatnya ku kumpulkan berita dari enam kru lain. Kami sempat terhambat dengan salah satu laptop yang bervirus sehingga datanya habis dimakan. Namun, akhirnya berhasil selesai juga. Semuanya langsung ku serahkan pada layouter, deadlinenya layouter adalah senin depan. Jadi, baru saat itu kami bisa melihat hasil kerja masing-masing.Dengan anggaran waktu percetakan selama dua hari, kira-kira rabu depan buletin itu baru bisa dipasarkan.  Ngg... Jadi nggak sabar. Ini juga salah satu senangnya masuk LPM, kita bisa melihat hasil kerja kita di depan mata secara berwujud dan ada bentuknya. He,,he,,he,,,

Saat pulang, gerbang kampus sudah hampir dikunci oleh satpam. Untung masih keburu..Karena arah rumahku yang berbeda sendiri dibanding anggota lain, maka aku pulang sendirian. Namun, karena kampusku ini letaknya di atas bukit paling tinggi di Palu, maka selama perjalanan aku sangaaaattt menikmati keindahan  suasana malam Kota Palu. Nggak kalah sama kota lain, lho.. :D

Source : Pinterest

# Nulis ini dari jam 23.15. Padahal udah mikir dan ngetik secepat-cepatnya supaya bisa diposting sebelum jam 12 biar postingan kemarin. Ternyata nggak bisa, ya. Jam 00.17 baru selesai. Jadi, dua hari deh postingan kosong.. Hhhh...

Selasa, Oktober 15, 2013

To Go On..

Buat apa mengingat-ingat hari kemarin ? Toh kita tidak akan pernah bisa pergi kesana lagi.

Hidup ini berjalan ke depan. Dan mau tidak mau, setiap orang terseret oleh berjalannya waktu. Pengalaman hari kemarin adalah sesuatu yang sudah beku di dalam waktu. Tidak berguna untuk terus menerus kita sesali. Toh kejadian-kejadian itu tidak mungkin kita betulkan lagi. Hiduplah bersama detik-detik yang terus berjalan. Seperti burung-burung yang terbang di angkasa tinggi. Seperti rumput-rumput yang bergoyang tertiup angin. Seperti singa-singa yang berkeliaran di padang gurun.

Dan ketika senja datang menjelang, tidurlah lelap seperti daun-daun kering yang rontok berguguran ke tanah. Kembali ke tempat semula kita berasal----- Ke tempat segala keluh kesah menjadi lenyap...

Source : Pinterest

# Puisi dari sebuah novel berjudul Benuel yag ku baca pada tahun 2008. Lupa siapa pengarang bukunya. Namun, isi ceritanya benar-benar menghanyutkan. Puisi inilalu ku abadikan di buku diaryku...

Senin, Oktober 14, 2013

Happy Idhul Adha....



Bismillahirrohmanirrohim.. Allohumma laka sumtu wa ala rizkika afthortu..

Alhamdulillah, akhirnya puasa hari ini dibatalkan juga. Sebenarnya sempat was-was juga kalo bakalan kedatangan " tamu " di pertengahan puasa. Tapi ternyata nggak. 

Jujur, puasa seharian ini rasanya berat banget. Tengah hari badan rasanya udah berat, kaku, kepala rasanya berdenging. Pas udah setengah tiga, bertambah dengan sakit kepala yang membuat mood luar biasa jelek. Maaf ya Alloh, bukan maksud hati mengeluh lho. He..he..he.. Mungkin sebagian besar faktor beratnya hari ini adalah karena semalam aku begadang ampe jam dua, niatnya sekalian mo nunggu makan sahur. Eh, ternyata malah ketiduran dan baru bangun sepuluh menit menjelang adzan shubuh. Untung masih sempat makan sedikit dan minum beberapa gelas air putih. Ditambah tadi siang aku berjam-jam berada di ruangan ber-AC memutar otak untuk mengedit berita. Faktor lain, mungkin karena aku jarang banget puasa. Puasa yang ku laksanakan selama ini cuma puasa ramadhan, puasa syawal ( itupun kadang nggak sampe habis enam hari ), puasa bayar utang, dan puasa arofah ini. Makanya sekali-kalinya puasa, apalagi yang cuma sehari gini, rasanya badan berat banget. Apalagi aku ini orang yang kalo udah kelaparan banget dan asupan gula mulai berkurang, moodku langsung terjun bebas dan otakku juga langsung macet. :D

Padahal waktu SMA dulu, aku rajin puasa Nab Dawud. Itu lho, puasa selang-seling, sehari puasa dan sehari tidak. Tidak bermaksud menyombongkan diri, lho. Soalnya waktu itu banyak temen yang puasa Dawud juga, apalagi karena suasana kehidupan di pondok pesantren yang kental religiusnya. Jadi, tetap bisa semangat. Sahur sama-sama dan berbuka puasa bersama-sama juga. Kapan ya bisa melaksanakan puasa sunah seperti itu lagi ? Senin kamis saja nggak pernah ku lakuin. :'(

Mudah-mudahan suatu saat aku bisa ngelakuinnya lagi ah, menjadikan puasa sebagai amalan andalan. Dan mudah-mudahan puasa arofahku hari ini menjadikan dosa-dosaku setahun sebelum dan sesudah hari ini akan diampuni oleh Yang Maha Pengampun. Amiiinn...

Mmm...Eh, di mesjid udah rame banget berkumandang takbir, tuh. Udah dulu, ya. Mo nengok sapi-sapi di lapangan kompleks untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir kalinya :D. Happy Idul Adha...


Source Of All Pictures : Google Images

Mengenangmu...

Source : Pinterest

Sering aku bersyukur hidup di zaman modern serba teknologi ini. Terutama dengan demam jejaring sosial yang merebak di seantero negeri. Aku bersyukur, karena dengan begitu aku masih punya kesempatan untuk melihatmu, mengetahui kabarmu, meski hanya lewat monitor datar yang semakin lama terasa semakin menyilaukan.

Sayang sekali, sepertinya kamu hilang tak tahu dimana. Seingatku, dulu kamu punya satu akun jejaring sosial, masih seingatku juga, waktu itu aku langsung mengirimi permintaan pertemanan dan tak kamu terima hingga sekarang. Malam ini, saat aku sedang mengenang masa laluku, aku teringat padamu dan langsung ku hubungkan laptopku ke internet. Ku cari akunmu dengan mengetikkan namamu, tak ada. Ku tambahkan kota asalmu, tak ada. Ku cari akun-akun teman SMA yang seangkatan denganmu. Ku pelototi dengan teliti daftar pertemanan mereka. Setiap tombol page down ku tekan, aku berdoa agar namamu atau potretmu muncul di bawah. Ternyata tetap tak ada. Well, kamu hilang ditelan dunia. Kemana harus ku cari ?

Terakhir kita bertemu, kalau tidak salah saat aku sedang menjalani kelas dua SMA akhir, dan kamu sudah lulus. Sudah hampir tujuh tahun, ya. Waktu itu, aku ingat aku berdoa dengan sangat kepada Tuhan " Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan dia pergi dari sini sebelum aku merelakannya atau mendapatkan penggantinya,". Well, Tuhan mengabulkan doaku. Kamu tidak pergi, tetap tinggal di sekitarku, dimana aku bahkan lebih sering melihatmu ketimbang saat kamu masih anak SMA. Terima kasih untuk itu, kamu tak tahu betapa itu membuatku tetap hidup, betapa kehadiranmu sangat berarti.

Tak lama, Tuhan mengirimkanku cahaya lain untuk menggantikanmu. Aku ingat tentang dirimu yang perlahan memudar dari hatiku, tergantikan oleh orang lain. Kamu tahu, Orang itu mirip denganmu. Manis, dan terkenal di sekolah karena masuk OSIS. Bedanya, kalau kamu dulu ketuanya, maka dia hanya anggota. Namun, dia juga adalah ketua salah satu ekskul paling elit di sekolah. Sepertinya mulai saat itulah aku menyadari kecenderunganku untuk jatuh cinta pada orang-orang yang terlihat berwibawa, bukan tampan. Tapi, punya kharisma dan ya...Sulit untuk diraih.
Lalu kamu pergi dari tempat kenangan itu, sesuatu yang tak membebaniku karena saat itu aku sudah menganggapmu sebagai Senpaiku, bukan lagi jiwaku. Kalau dipikir-pikir, betapa mudahnya aku menggantikan tempatmu, mengingat sebelumnya aku menganggapmu sebagai tiang penopangku.

Karena itu...Karena itulah aku ingin melihatmu lagi, meski hanya foto di jejaring sosial. Ingin sekali... Bagaimana ya cara menemukanmu ??? Aku sungguh ingin melihatmu, mengetahui keadaanmu, aku nggak peduli meski kamu udah nggak sekeren waktu SMA dulu. Beneran. Tolong, muncullah sekali lagi untukku, meski hanya di jejaring sosial..

Source : Pinterest

# Menunggu waktu sahur untuk puasa arafah..

Kamis, Oktober 10, 2013

Missing You,,

Lagi males ngetik banyak-banyak, nih. Apa ? Bukannya selalu gitu ya ? He..He..He. Jadi hari ini mau ngepost lagu aja, ya. 
Lagi-lagi lagu anime. :D.

Ini original soundtrack penutupnya anime Shinrei Tantei Yakumo [ Detektif Arwah Yakumo ]. Insya allah kapan-kapan ku review deh. Kapan, ya ? Yang review anime angel beats aja nggak kelar-kelar. 

Mmm..Pokoknya inti animenya menceritakan tentang seorang cowok yang punya warna mata berbeda antara kiri dan kanan, pupil kanannya berwarna normal, namun yang kiri berwarna merah. Matanya yang spesial itu bisa melihat arwah, selain itu dia juga dapat berkomunikasi dengan arwah. Karena kemampuannya itu, dia sering dimintai tolong polisi untuk menangani kasus-kasus yang melibatkan arwah-arwah dan alam spiritual. Namun dia membenci mata merahnya itu karena sebab mata itulah dia sering di-bully oleh teman-temannya. Jadi, sehari-hari dia menutupi pupil mata merahnya itu dengan lensa kontak agar terlihat normal.

Btw, Ganteng banget lho tokoh utamanya. Namanya Saitou Yakumo. Aku sampe ngiler-ngiler pas pertama nontonnya [ Jijay ah.. :D ].


Saitou Yakumo ; Main Charracter

Lagu ini judulnya Missing You [ Merindukanmu ], Dinyanyikan Oleh Risa Komine [ Gak tahu juga siapa :D ]. Menurutku, lagu ini menyayat hati banget lho. Kerasa banget kesan merindukan seseorang spesial yang  mungkin tidak akan pernah ditemui lagi. Uuuhh.. Lagu galau. Apalagi di animenya, lagu ini dinyanyikan sambil ditayangkan banyak foto-foto kebersamaan orang-orang, tentu dalam bentuk animasi. Ada Foto keluarga yang sedang merayakan ulang tahun, foto bersama sahabat-sahabat, foto sepasang suami istri yang  sudah tua di rumah sakit,  Pasangan muda bersama bayi mereka, dan lain-lain. Seperti ada rasa hampa dan menyakitkan yang ditimbulkan, sama dengan perasaan kita ketika mengenang saat menyenangkan bersama orang-orang yang berharga di masa yang sudah lama berlalu.

Kalau biasanya aku cuma memasukkan terjemahan bahasa inggris dan indonesianya, untuk kali ini ku tambahkan dengan romajinya. Sumbernya dari sini .



me ni utsuru ikusen no hoshi o 
mune no oku ni yakitsukete'ta 
mou aenai anata no namae o 
sasayaite wa hitomi tojita 
mamorenu yakusoku nado 
ano hi wa shiranu mama ni

The thousands of stars, reflected in my eyes, 
scorched right into the depth of my heart. 
Unable to meet you ever again, 
I whispered your name, and closed my eyes. 
Even on that day, we weren't aware of the existence 
of things such as promised that cannot be kept.

Ribuan bintang terpantul di mataku
Terbakar tepat di kedalaman hatiku
Tak bisa berjumpa denganmu lagi
Ku bisikkan namamu dan ku tutup mataku
Bahkan di hari itu, kita tak menyadari keberadaan
hal-hal seperti janji yang tak dapat ditepati

unmei da to iikireru nara 
toki o koete ai ni yukitai 
haruka tooku kono koe hibiku yo 
towa ni negaitsuzukeru 
maiochiru hoshikuzu no kakera 
anata no mune ni todoku kitto

If you assert that this is all fate, 
then I would traverse time to meet you. 
My voice will resound far and wide, 
as I keep on making my wish timelessly. 
The stardust shards gracefully fluttering down 
will reach your heart for sure.

Bila dirimu menegaskan bahwa semua ini adalah takdir
Maka akan ku lintasi waktu untuk bertemu denganmu
Suaraku akan bergema jauh dan luas
Seperti halnya aku yang tak kenal waktu, terus membuat harapanku 
Kepingan bintang  jatuh
Pasti kan mencapai hatimu

tooi hibi hate no nai yume o 
ano hoshi e to omoihaseta 
mou aenai anata no hohoemi 
kokoro no naka kagi o kaketa 
kioku o tadoru koto ga 
saigo no nozomi naraba

The remote days sent out towards those stars 
an endless dream of my yearning. 
Unable to meet you ever again, 
I locked your smile deep down inside my heart. 
I wonder if tracing back my memories 
is my very last hope...

 Hari-hari yang jauh menyampaikan kepada bintang-bintang itu
Mimpi tak berujung dari rinduku
Tak dapat bertemu denganmu lagi
Aku mengunci senyumanmu jauh di kedalaman hatiku
Aku ingin tahu jika melacak kembali kenangan-kenanganku
Adalah harapan terakhirku

moshi kiseki ga aru to shita nara 
toki o koete dakishimete itai 
haruka kanata tsunagaru kizuna o 
towa ni inoritsuzukeru 
michikakeru tsuki no shirabe ga 
anata no mune ni todoku kitto

If there were such thing as "miracles", 
then I would traverse time and hold you tight. 
I will keep on praying timelessly 
for a tight bond between us in a distant place. 
The melody of the waxing and waning moon 
will reach your heart for sure.

Jika ada sesuatu seperti keajaiban
Maka aku akan melintasi waktu dan memelukmu erat-erat
Aku akan terus berdoa tak kenal waktu
Demi ikatan yang kuat di antara kita di tempat yang jauh
Melodi bulan yang pucat dan bertambah besar
Pasti akan mencapai hatimu

anata ga inakereba 
hikari no nukumori sae wakaranai

If you are not with me, then I won't even 
be able to identify the warmth of the stars.

Jika kau tak denganku, maka aku bahkan tak akan bisa
mengenali kehangatan bintang-bintang

unmei da to iikireru nara 
toki o koete ai ni yukitai 
haruka tooku kono koe hibiku yo 
towa ni negaitsuzukeru 
moshi kiseki ga aru to shita nara 
toki o koete dakishimete itai 
haruka kanata tsunagaru kizuna o 
towa ni inoritsuzukeru 
maiochiru hoshikuzu no kakera 
anata no mune ni todoku kitto

If you assert that this is all fate, 
then I would traverse time to meet you. 
My voice will resound far and wide, 
as I keep on making my wish timelessly. 
If there were such thing as "miracles", 
then I would traverse time and hold you tight. 
I will keep on praying timelessly 
for a tight bond between us in a distant place. 
The stardust shards gracefully fluttering down 
will reach your heart for sure.

Bila dirimu menegaskan bahwa semua ini adalah takdir
Maka akan ku lintasi waktu untuk bertemu denganmu
Suaraku akan bergema jauh dan luas
Seperti halnya aku tak kenal waktu terus membuat harapanku 
Jika ada sesuatu seperti keajaiban
Maka aku akan melintasi waktu dan memelukmu erat-erat
Aku akan terus berdoa tak kenal waktu
Demi ikatan yang kuat di antara kita di tempat yang jauh
Melodi bulan yang pucat dan bertambah besar
Pasti akan mencapai hatimu

Source : Pinterest


Rabu, Oktober 09, 2013

The Normal Me..

Source : Pinterest

Hari ini saya bersemangat sekali dan saya tahu penyebabnya, yaitu karena jaringan wi-fi di kampus yang sudah hampir tiga minggu nggak jalan karena kabelnya putus, hari ini mulai lancar lagi. Meskipun kecepatannya belum begitu normal, sih. Tapi, dengan begitu nafas hidup saya nyambung lagi. He..he..he..


Mau bukti ? Dari tadi maghrib saya konsentrasi membuat SK Kepanitiaan & Kepengurusan baru lembaga kampus yang mana saya jadi sekretarisnya. Habis itu ngutak-ngatik judul proposal [ rencananya insya alloh mau saya konsultasikan perdana ke dosen wali kamis besok lusa. Mudah-mudahan lancar dan barokah. Amiiinnn...]. Terus buka-buka jurnal-jurnal akuntansi nasional untuk nyari penelitian terdahulu dan bikin pemetaannya. Sekarang saya nge-blog. Semangat sekali, kan ?


Inilah diri saya yang normal, yang paling saya sukai. Saat saya terlihat duduk tenang mengikuti suatu kegiatan, namun dalam kepala sangat sibuk menyusun rencana untuk lebih dari tiga hal yang berbeda. Ha ? Iya, contohnya saat saya kelihatan duduk tenang selama dua jam menyimak kuliah dosen, ketahuilah bahwa pikiran dan sebagian nyawa saya tidak disitu. Saya menyusun kalimat demi kalimat untuk novel saya, memikirkan tentang metode-metode efektif yang kira-kira dapat membantu saya mengajar murid-murid TPA tempat saya mengabdi, membongkar dan memasang kata-kata dalam berbagai judul proposal. impian masa depan, hal yang saya ingin posting dalam blog saya malam nanti, anime-anime baru yang kira-kira seru, dan banyak hal lainnya. Dari luar saya kelihatan tenang dan konsentrasi kuliah banget, padahal mah nggak. :D

This is the normal me.. Mudah-mudahan saya bisa seterusnya bersemangat, full energi, dan banjir ide seperti saya yang biasanya, seperti sekarang ini. Karena, diri saya yang seperti ini selalu membuat saya jadi orang yang sedikit ceria, positif, baik, dan saya merasa dapat melangkah kemanapun, menjadi apapun yang saya mau di masa depan..

Source : Pinterest

Senin, Oktober 07, 2013

The Veil...

Source : Google Images

Ini cerita uneg-uneg yang sebenarnya sudah mengganjal di hati saya sejak lama, namun baru menemukan ujungnya kemarin siang. Ini tentang hijab, atau biasa disebut jilbab.

Kemarin siang saya tidak sengaja melihat tayangan infotainment di salah satu stasiun televisi swasta. Infotainment itu menayangkan tentang Ibunda Vicky yang mengunjungi anaknya di penjara bersama dengan adik perempuan Vicky dan salah satu personel Trio Macan yang saya tidak tahu [ dan tidak peduli ] siapa namanya. Yang membuat hati saya bergolak adalah personel Trio Macan itu yang mengenakan jilbab. Jilbabnya ketat membalut leher, dengan baju ala artis yang juga ketat melekat di tubuhnya. Dia yang sehari-hari pekerjaannya mengumbar diri dan goyangannya di depan umum tiba-tiba jadi mengenakan jilbab saat tahu akan masuk infotainment. Menyebalkan.

Sekarang jilbab memang sedang trend di kalangan perempuan yang [ mengaku ] islam. Saya tidak tahu sejak kapan tepatnya trend ini mulai. Mungkin sejak bermunculan desainer-desainer wanita islam dengan hasil rancangan masing-masing yang mendobrak pakem busana muslim konvensional. Kalau dulu, busana muslim identik dengan hal yang tidak gaul, tidak bersinar, model dan warna bajunya pun plain, standar, nggak neko-neko, jadi orang-orang, terutama remaja putri hanya mau memakainya saat acara-acara keagamaan dan lebaran. Itu pun kadang bukan busana muslim melainkan hanya celana panjang, kaos panjang, dan jilbab yang disampirkan sekenanya, outfit yang tak pantas disebut busana muslim, melainkan hanya jadi-jadian, setelan biasa yang dipaksakan supaya kelihatan menutup aurat.

Source : Here


Source : Here

Saya bukannya sombong atau pamer. Saya dibesarkan dalam lingkungan keagamaan yang kuat dan ketat. Seorang perempuan yang sudah memasuki masa akil balig [ ditandai dengan mulai mendapat menstruasi ] maka haram hukumnya untuk menampakkan auratnya kepada lawan jenis yang bukan mahramnya. Dalam hal ini hanya boleh tidak berjilbab di depan Ayah, Kakak/Adik kandung laki-laki, Kakek, Saudara sesusuan laki-laki, Ipar laki-laki, dan paman. Selain itu tidak boleh. Jadi, melepas kerudung hanya dilakukan di dalam rumah. Keluar dari pintu rumah, meski hanya di teras atau di halaman, harus sudah memakai pakaian yang menutup aurat.

Saya ingat waktu saya pertama kali memakai jilbab, yaitu saat mulai masuk SMP. Sebenarnya saya baligh saat kelas dua SMP, tapi untuk membiasakan supaya tidak malu atau canggung nantinya, maka saya mulai berjilbab sejak mengenakan seragam SMP. Waktu itu, dalam satu angkatan hanya ada tiga orang perempuan yang berjilbab, satu sekolahan totalnya ada sekitar lima orang. Saya ingat pandangan aneh dan olok-olokan teman-teman, terutama laki-laki yang suka menjahili saya. Saya dipandang berbeda namun tidak selalu dalam arti yang baik. Ejekan seperti " Botak, kutuan, sok alim, sok suci " dll sudah sering saya terima. Kadang mereka tidak mau mengikutsertakan saya jika berencana melakukan hal yang melanggar aturan seperti bolos, nongkrong, dll dengan kalimat " Eh, kamu nggak boleh ikut, soalnya kamu kan pake kerudung,". Kadang saya juga merasa ada beberapa teman yang menyepelekan dan memandang saya sebelah mata karena jilbab saya. Tuntutan lingkungan sekitar atas budi pekerti dan adab pun lebih kuat pada saya yang berjilbab. Tapi, tidak semuanya cerita sedih lho.


Source Of Two Pictures Above : Google Images

Waktu itu, model dan warna kerudung formal [ segi empat ] itu sangat terbatas dan biasa sekali. Warnanya hanya terbatas pada hitam, krem, merah tua, biru tua, dan warna-warna tua lain yang identik dengan emak-emak serta dipenuhi dengan hiasan bordiran kuno di kedua sisinya. Pokoknya, nggak keren sekali lah. Untuk anak sekolah, ada semacam kerudung yang bordirannya berwarna lebih cerah. Cara memakainya pun sederhana. Cukup dilipat membentuk segitiga dan disemat dengan peniti di leher. Selesai. Mencari baju muslim kasual atau semi-formal pun sangat susah. Saya ingat saat saya bersama Ayah saya berkeliling pasar dan toko-toko hanya untuk mencari sepotong baju untuk menghadiri acara perpisahan SMP. Sama sekali tidak dapat.

Dunia dewasa pun tidak kalah menyulitkan bagi perempuan berkerudung waktu itu. Banyak perusahaan yang tidak membolehkan karyawan wanitanya berpakaian muslim dengan berbagai macam alasan yang kebanyakan dibuat-buat. Sanksinya tidak main-main, kehilangan pekerjaan meski kinerjanya baik. Berfoto untuk segala macam kartu identitas juga punya aturan aneh, yaitu jilbab tidak boleh menutup telinga. Jadilah waktu itu foto-foto di KTP dan SIM ibu saya begitu aneh, dengan jilbab yang diselipkan di belakang telinga hingga kedua daun telinga kelihatan keluar. Adakah alasan logis di balik aturan itu ? Saya tidak dapat memikirkan satu pun alasan yang masuk akal.

Sebenarnya terima kasih yang sebesar-besarnya harus diajukan kepada para desainer wanita muslimah itu. Karena mereka lah saat ini baju muslim dan jilbab sudah tak dianggap aneh. Mereka menciptakan setelan-setelan dengan warna-warna cerah dan model yang agak rumit khas anak muda. Selain itu, mereka juga berinovasi dengan jilbab. Yang sebelumnya hanya diketahui satu cara untuk mengenakan jilbab, sekarang sudah ada ratusan cara mengenakannya. Bahkan setiap acara punya model kerudung sendiri. Untuk ke kampus lain modelnya, begitu pun untuk jalan-jalan, ke masjid, ke pesta, pernikahan, ulang tahun, rekreasi, dan sebagainya. Namanya pun bukan hanya jilbab, hijab, atau kerudung lagi. Sekarang kerudung punya model dan nama-nama keren berbau western seperti scarf, peafowl, tierack, dsb. Semua hal itu menyebabkan para perempuan yang [ mengaku ] islam berlomba-lomba mengenakan pakaian muslimah supaya dikatakan gaul.

Artis-artis di televisi juga. Pakaian muslim menjadi pakaian wajib yang dikenakan saat menjadi terdakwa di persidangan, ataupun saling hujat dan mengumbar aib di infotainment.

Pada saat saya pertama kali masuk bangku kuliah, hanya sekitar 20 % perempuan beragama islam di angkatan saya yang berkerudung. Tiap semester baru mulai, angka itu meningkat. Dan akhirnya sekarang pada semester tujuh, seluruh perempuan beragama islam di angkatan saya telah berkerudung dengan caranya masing-masing. 



Source Of Three Pictures Above : Google Images

Apakah itu hal yang buruk ? Saya tidak bisa menjawabnya. Menutup aurat adalah KEWAJIBAN bagi setiap perempuan muslim. Jika saya mencela mereka, berarti saya sama dengan mengentahkan peraturan agama. Saya hanya tidak suka jika mereka berkerudung karena ikut-ikutan mode. Kenapa tidak dari dulu saat hijab masih merupakan jenis penampilan minoritas ? Kenapa baru sekarang berani mengenakannya saat dunia fashion wanita sudah mengakui pakaian syar'i ? Bukti ? Kenapa mereka hanya mengenakan jilbab saat di kampus, namun saat nongkrong atau di luar rumah kembali ke habitat dan penamilan semula ? Kenapa ?

Kesannya saya iri dan dengki begini sih. Sama sekali tidak. Saya harap orang-orang itu selamanya akan terus berhijab, meski suatu saat trend fashion Indonesia sudah berganti kiblat bukan lagi ke arah yang syar'i. Dan saya mohon kepada mereka, hargailah jilbab yang kalian kenakan itu. Kalian tidak dituntut untuk jadi perempuan solehah sempurna seperti Khadijah, misalnya. Tapi setidaknya kontrollah sedikit perilakumu, jangan mabuk-mabukan, merokok, berteriak-teriak, pergaulan bebas, narkotika, dan sejenisnya. Saya menyatakan seperti itu karena saya sudah banyak melihat langsung teman-teman saya yang berkerudung hanya mengikuti trend, namun mereka masih rajin melakukan semua hal di atas. 


Source Of Two Pictures Above : Google Images

Untuk para artis, mohon jangan mengenakan jilbab hanya saat jadi pesakitan atau berdebat di infotainment, namun saat manggung atau mentas pakaiannya tak ubahnya wanita nakal.

Oh ya, dua hal lagi. Yang Pertama, kalau memang kamu berkerudung, tolong jangan meng-upload foto-foto tanpa jilbab atau bahkan hanya mengenakan tank top di media sosial. Dan yang kedua, kalau kamu berkerudung, tolong jangan biarkan rambutmu tergerai di luar pakaianmu sehingga terlihat dari luar kerudung, dengan alasan apapun. Mau panas kek, keringetan kek, basah kek, atau sekedar pamer rambut supaya dikatakan cocok jadi model iklan shampoo. Ikatlah rambutmu atau masukkan saja ke dalam baju. Niat menutup aurat nggak sih sebenarnya ??? *-*

Source : Here