Rabu, Juni 18, 2014

Terjemahan Novel The Perks Of Being A Wallflower [ I ]

The Original Cover Of The Perks Of Being A Wallflower Novel. 
Source : Here

BAB I

25 Agustus 1991

Dear friend,
Aku menulis padamu karena dia bilang kau akan mendengarkan dan memahami dan tidak akan mencoba untuk tidur dengan orang di pesta itu bahkan jika kau bisa. Tolong jangan mencoba untuk mengetahui siapa dia karena dengan begitu kau juga akan mengetahui siapa diriku, dan aku benar-benar tak ingin kau melakukannya. Aku akan menyebut orang-orang dengan nama-nama berbeda atau nama-nama yang umum karena aku tak ingin kau menemukanku. Dengan alasan yang sama, aku tak menyertakan alamat balasan. Aku tidak bermaksud buruk mengenai itu. Sungguh.

Aku hanya perlu mengetahui bahwa ada seseorang di luar sana yang mendengarkan dan mengerti dan tidak mencoba untuk tidur dengan orang-orang bahkan jika mereka bisa. Aku perlu tahu bahwa orang-orang seperti itu ada.

Aku pikir kau, dari semua orang, akan mengerti itu karena ku pikir dirimu, dari semua orang, hidup dan mengapresiasi apa maksudnya itu. Setidaknya, ku harap kau melakukannya karena orang lain mencarimu untuk mendapatkan kekuatan dan persahabatan dan, sesederhana itulah. Setidaknya itulah yang ku dengar.
Jadi, inilah hidupku. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku merasa bahagia juga sedih, dan aku masih mencoba untuk mengetahui bagaimana itu bisa terjadi.

Aku mencoba berpikir tentang keluargaku sebagai alasan mengapa aku menjadi seperti ini, khususnya setelah temanku Michael berhenti tidak datang ke sekolah di hari terakhir musim semi dan kami mendengar suara Mr. Vaughn di pengeras suara.

“ Anak-anak, dengan menyesal aku memberi tahu pada kalian bahwa salah satu siswa kita telah berpulang. Kita akan mengadakan upacara peringatan untuk Michael Dobson selama jam pertemuan jum’at ini.”
Aku tak tahu bagaimana berita-berita menyebar ke seantero sekolah dan mengapa kabar-kabar itu seringkali benar. Mungkin saja awal mulanya di kantin. Sulit mengingatnya. Tapi, Dave si kacamata aneh menceritakan kepada kami bahwa Michael bunuh diri. Ibunya sedang bermain kartu bersama salah seorang tetangga dan mereka mendengar suara letusan senjata.

Aku tidak benar-benar mengingat banyak hal tentang apa yang terjadi sesudahnya kecuali kakak laki-lakiku yang datang ke kantor Mr.Vaughn di SMP-ku dan bilang padaku supaya berhenti menangis. Lalu, ia melingkarkan lengannya di bahuku dan mengatakan padaku untuk mengeluarkan semua hal itu dari sistemku sebelum Ayah pulang. Kemudian kami pergi makan kentang goreng di Mc Donald’s dan dia mengajariku cara bermain pinball. Bahkan, ia membuat lelucon bahwa karenaku dia dapat melewatkan sekolah siang dan bertanya padaku kalau-kalau aku ingin membantunya memperbaiki Camaro-nya. Ku pikir aku benar-benar berantakan, karena sebelum ini ia tidak pernah membiarkanku menyentuh Camaro-nya.

Dalam sesi bimbingan konseling, mereka meminta beberapa dari kami yang benar-benar menyukai Michael untuk mengatakan beberapa patah kata. Ku rasa mereka takut jika beberapa dari kami akan mencoba untuk membunuh diri kami atau sesuatu seperti itu karena mereka terlihat sangat bersungguh-sungguh dan salah satu dari mereka terus menyentuh janggutnya.

Si gila Bridget mengatakan bahwa terkadang ia memikirkan tentang bunuh diri saat sesi iklan selama menonton TV. Bridget terlihat bersungguh-sungguh dan hal ini membingungkan petugas bimbingan konseling. Carl yang baik pada setiap orang bilang bahwa dia merasa sangat sedih, tapi tidajk akan pernah bunuh diri karena perbuatan itu termasuk dosa.

Salah satu petugas bimbigan konseling ini melintasi keseluruhan kelompok dan akhirnya mendatangiku.

“ Bagaimana pendapatmu, Charlie ?”

Hal yang sangat aneh dari kejadian ini adalah fakta bahwa aku tidak pernah bertemu orang ini karena dia adalah seorang spesialis, namun ia tahu namaku walau aku tidak mengenakan label nama seperti yang mereka lakukan dalam diskusi terbuka.

“ ku pikir Michael adalah orang baik dan aku tidak mengerti mengapa ia melakukannya. Sebanyak apapun aku bersedih, aku rasa hal yang benar-benar menggangguku adalah tak mengetahui alasannya.”

Baru saja aku membaca lagi kalimat itu dan tak terdengar seperti caraku berbicara. Terutama di kantor itu karena aku masih menangis. Aku tidak pernah berhenti menangis.

Petugas konselor bilang bahwa dia curiga Michael punya “ masalah rumah” dan tidak punya seseorang yang dapat diajaknya bicara. Mungkin itulah sebabnya sehingga ia merasa sendirian dan bunuh diri.

Kemudian, aku mulai berteriak kepada petugas konselor bahwa Michael bisa berbicara padaku. Dan aku mulai menangis lebih keras. Petugas itu mencoba menenangkanku dengan mengatakan bahwa yang dia maksud adalah orang dewasa seperti guru atau petugas konselor. Tapi, perkataannya tak berguna dan kakak lelakiku secepatnya datang ke sekolah untuk menjemputku.

Selama sisa tahun itu, para guru memperlakukanku berbeda dan memberiku nilai-nilai yang lebih baik walaupun aku pikir aku tidak bertambah pintar. Sejujurnya, ku rasa aku membuat mereka semua cemas.

Upacara pemakaman Michael terasa aneh karena ayahnya tidak menangis. Dan tiga bulan kemudian, ia meninggalkan ibu Michael. Setidaknya itulah yang dikatakan Dave saat makan siang. Kadang aku memikirkannya. Aku penasaran apa yang terjadi di rumah Michael saat makan malam dan acara TV. Michael tidak meninggalkan satupun catatan atau mungkin orangtuanya tak membiarkan seorangpun melihatnya. Mungkin itulah “ masalah rumah “. Aku berharap aku tahu. Mungkin catatan itu membuatku lebih merindukannya. Atau menimbulkan rasa sedih.

Satu hal yang membuatku panasaran yaitu apakah aku punya “ masalah rumah “, namun kelihatannya banyak orang lain yang memilikinya lebih buruk lagi. Seperti saat pacar pertama kakak perempuanku mulai kencan dengan cewek lain dan kakakku menangis sepanjang minggu.

Ayahku berkata, “ Banyak orang lain memiliki masalah yang  lebih buruk.”

Dan ibuku hanya diam. Seperti itu saja. Sebulan kemudian, kakakku bertemu cowok lain dan mulai memutar lagu-lagu bahagia lagi. Ayahku tetap bekerja. Ibuku tetap menyapu. Kakak lelakiku tetap memperbaiki Camaronya. Seperti itu, sampai ia pergi untuk kuliah di awal musim panas. Ia bermain bola untuk negara bagian Penn tapi ia butuh musim panas guna memperoleh nilai yang pantas untuk bermain bola.

Aku pikir tidak ada anak emas dalam keluarga kami. Kami tiga bersaudara dan aku anak bungsu. Kakak lelakiku adalah anak sulung. Dia adalah pemain bola yang sangat baik dan mencintai mobilnya. Kakak perempuanku sangat cantik dan jahil pada cowok-cowok. Ia masih SMP. Sekarang aku memperoleh nilai A seperti kakak perempuanku dan itulah mengapa mereka membiarkanku.

Ibuku banyak menangis selama acara TV. Ayahku pekerja keras dan seorasng yang jujur. Bibi Helen dulu sering berkata bahwa ayahku akan jadi terlalu bangga memasuki masa krisis pertengahan usia. Membutuhkan waktu hingga sekarang untukku mengerti maksud perkataannya karena ayahku berumur empat puluh tahun dan tak ada yang berubah.

Bibi Helen adalah orang favoritku di seluruh dunia. Dia adalah saudara perempuan ibuku. Dia mendapat nilai A saat remaja dan dia selalu memberiku buku untuk dibaca. Ayahku bilang bahwa buku-buku itu sedikit terlalu tua untukku, tapi aku menyukainya. Jadi, ayah hanya mengangkat bahu dan membiarkanku membaca.
Bibi Helen tinggal bersama keluargaku selama beberapa tahun terakhir hidupnya dikarenakan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Tak seorangpun memberitahuku apa itu meski aku selalu ingin tahu. Saat aku berumur sekitar tujuh tahun, aku berhenti bertanya tentang hal itu karena dulu aku selalu bertanya seperti kelakuan anak-anak dan bibi Helen mulai menangis tersedu-sedu.

Itulah alasan ayahku menamparku sambil berkata “ Kau menyakiti perasaan Bibi Helen  !”. Aku tak ingin menyakitinya, jadi aku berhenti bertanya. Bibi Helen bilang pada ayahku untuk tidak memukuliku di depannya lagi dan ayahku membalas bahwa ini adalah rumahnya dan dia akan melakukan apapun yang diinginkannya dan ibuku hanya diam, begitu juga kakak lelaki dan perempuanku.

Aku tidak ingat selebihnya karena aku mulai menangis keras dan setelah beberapa saat, ayah menyuruh ibu membawaku ke kamarku. Tak lama kemudian, ibu minum beberapa gelas anggur putih dan menceritakan padaku apa yang terjadi pada saudaranya. Beberapa orang melakukan hal yang lebih buruk daripada aku. Mereka benar-benar melakukannya.

Seharusnya aku tidur sekarang. Ini sudah sangat larut. Aku tak tahu mengapa aku menulis sebanyak ini untuk kau baca. Alasan aku menulis surat ini adalah karena sekolah SMA-ku dimulai besok dan aku benar-benar takut pergi kesana.

Salam sayang,

    Charlie
***

7 September 1991

Dear Friend,
Aku benrar-benar tak menyukai SMA. Kantinnya disebut “ pusat nutrisi “, yang mana itu sangat aneh. Ada seorang cewek bernama Susan di kelas bahasa inggris lanjutanku. Di SMP, Susan sangat menyenangkan. Dia menyukai film, dan kakaknya Frank membuatkannya rekaman lagu-lagu hebat dan dia membaginya bersama kami. Namun, selama musim panas kawat giginya dilepas, dia jadi sedikit lebih cantik dan tinggi, payudaranya juga mulai tumbuh. Sekarang, ia bertingkah sedikit tuli di gang sekolah, terutama saat ada cowok-cowok. Ku pikir itu menyedihkan karena Susan tak terlihat bahagia. Sejujurnya, dia tidak suka mengakui bahwa dia masuk di kelas bahasa inggris lanjutan, dan dia tidak menyapaku lagi di gang.

Saat Susan berada di pertemuan bimbingan konseling tentang Michael, dia bilang bahwa Michael pernah berkata padanya bahwa dia adalah gadis tercantik di seluruh dunia, berkawat gigi, dan semacamnya. Lalu, Michael memintanya untuk “ keluar dengannya “, yang mana adalah perkara besar di sekolah manapun. Mereka menyebutnya “ berkencan “. Mereka berciuman dan berbicara tentang film, dan Susan sangat merindukan Michael karena Michael adalah teman baiknya.

Hal itu lucu, karena di sekolahku cewek dan cowok normalnya tidak berteman baik. Tapi Michael dan Susan tidak. Sama seperti Bibi Helen dan aku. Maaf. Aku dan Bibi Helen. Itu adalah satu hal yang k pelajari minggu ini. Itu, dan lebih banyak lagi tanda baca.

Aku lebih banyak diam sepanjang waktu, dan hanya seorang anak bernama Sean yang benar-benar menyadari keberadaanku. Sean menungguku setelah pelajaran olahraga dan mengatakan hal-hal yang tidak dewasa seperti bagaimana ia akan memberiku sebuah “ Swirlie “, yang berarti seseorang memasukkan kepalamu ke dalam toilet lalu menyiramnya untuk membuat rambutmu melayang ke segala arah. Sean terlihat tidak senang dan aku mengatakan hal itu padanya. Lalu, Sean marah dan mulai memukuliku. Aku melakukan hal-hal yang diajarkan kakak lelakiku. Kakakku adalah seorang petarung hebat.

“ Incarlah lutut, tenggorokan, dan mata.”

Dan aku melakukannya. Dan aku benar-benar melukai Sean. Lalu aku mulai menangis. Kakak perempuanku harus meninggalkan kelas kehormatan seniornya danm engantarku pulang. Aku dipanggil ke kantor Mr. Small, tapi aku tidak mendapat hukuman apapun karena seorang anak melaporkan hal yang sebenarnya tentang perkelahian itu pada Mr. Small.

“ Sean yang memulainya. Itu adalah pertahanan diri.”

Dan memang seperti itu. Aku hanya tak mengerti mengapa Sean ingin menyakitiku. Aku tidak pernah melakukan apa-apa padanya. Aku sangat kecil. Itu benar. Tapi, ku rasa Sean tak tahu bahwa aku dapat berkelahi. Faktanya adalah bahwa aku bisa saja melukainya lebih buruk lagi. Dan mungkin seharusnya aku melakukan itu. Ku pikir akau mungkin akan melakukannya bila ia mengejar anak yang menceritakan kebenaran kepada Mr. Small, tapi ternyata Sean tak pernah mengejar anak itu. Jadi, semuanya dilupakan begitu saja.

Beberapa anak mentapku aneh di gang karena hanya aku yang tidak mnghiasi lokerku. Lagipula, akulah satu-satunya anak yang mengalahkan Sean dan tak dapat berhenti menangis setelah melakukannya. Aku pikir aku sangat emosional.

Suasana sangat sepi karena kakak perempuanku sibuk menjadi anak tertua di keluarga kami. Kakak lelakiku sibuk menjadi seorang pemain bola di negara bagian Penn. Setelah kemah pelatihan, pelatihnya berkata bahwa ia adalah tali cadangan dan setelah ia mulai mempelajari sistemnya, ia akan menjadi tali utama.

Ayahku sungguh-sungguh berharap kakak lelakiku segera menjadi pro dan bermain untuk tim Steelers. Ibuku bangga ia bisa masuk kuliah dengan gratis karena kakak perempuanku tidak bermain sepak bola dan tidak akan ada cukup uang untuk membiayai mereka berdua. Itulah mengapa ibu menginginkanku terus belajar dengan giat, jadi aku bisa mendapatkan beasiswa pendidikan.

Jadi, itulah hal yang akan terus ku lakukan sampai aku mendapat teman disini. Aku berharap anak yang dulu pernah melaporkan kebenaran itu akan jadi temanku, tapi ku pikir ia menjadi anak baik hanya karena melapor.

Salam cinta selalu,

      Charlie.
***

11 September 1991

Dear friend,
Aku tidak punya banyak waktu karena guru kelas bahasa inggris lanjutanku memberikan kami sebuah buku untuk dibaca. Dan aku suka membaca buku dua kali. Kebetulan, bukunya adalah To Kill A Mockingbird. Jika kau belum pernah membacanya, aku rasa kau harus melakukannya karena buku itu sangat menarik. Guru memberi kami tugas membaca beberapa bab dalam satu waktu, tapi aku tidak suka membaca seperti itu. Aku sudah setengah jalan sejak kali pertama.

Ngomong-ngomong, alasan aku menulis kepadamu adalah karena aku menonton kakak lelakiku di TV. Normalnya, aku tidak terlalu suka olahraga, tapi ini adalah peristiwa penting. Ibuku mulai menangis, dan ayahku melingkarkan lengannya di leher ibu, dan kakak perempuanku mulai tersenyum. Itu aneh karena kakak lelaki dan kaka perempuanku selalu bertengkar saat di rumah.

Tapi kakak lelakiku muncul di TV, dan sejauh ini, dia sudah menjadi berita utama di SMA-ku selama dua minggu. Aku sangat merindukannya, yang mana hal itu aneh karena kami tak pernah benar-benar saling bicara saat dia disini. Sejujurnya, kami masih belum banyak bicara.

Aku ingin memberitahukan padamu posisi apa yang dimainkan kakakku, tapi seperti yang ku katakan sebelumnya, aku ingin jadi anonim untukmu, ku harap kau mengerti.

Salam Cinta Selalu,

        Charlie
***

16 September 1991

Dear Friend,
Aku sudah menyelesaikan membaca buku To Kill A Mockingbird. Sekarang buku itu adalah buku favoritku sepanjang masa, tapi kemudian, aku selalu berpikir begitu sampai aku membaca buku lain. Guru kelas bahasa inggris lanjutanku memintaku untuk memanggilnya “ Bill “ saat kami tidak di kelas, dan beliau memberiku buku lain untuk dibaca. Beliau berpendapat bahwa aku punya kemampuan membaca yang baik dan mengerti tentang sastra, dan beliau ingin aku menulis sebuah esai tentang buku To Kill A Mockingbird.

Aku memberitahukan hal ini pada ibuku, dan ibu bertanya padaku mengapa Bill tidak merekomendasikan supaya aku mengambil kelas tahun kedua atau kelas bahasa ingris junior. Dan aku bilang pada ibu bahwa pada dasarnya kelas-kelas itu sama hanya punya lebih banyak buku yang rumit, dan itu tak akan menolongku. Ibuku berkata bahwa ia tidak yakin dan ingin bicara pada bill selama sesi kelas terbuka. Lalu, ia memintaku membantunya mencuci piring, yang mana aku melakukannya.

Sejujurnya, aku kurang suka makan dengan piring, aku lebih suka makan dengan jari-jari dan serbet, tapi kakak perempuanku berkata bahwa hal itu berakibat buruk untuk lingkungan. Ia adalah anggota klub bumi di SMA-nya, dan disanalah ia bertemu cowok-cowok. Mereka semua sangat baik padanya, aku tidak mengerti kenapa kecuali bahwa kakak perempuanku memang sangat cantik. Dia sangat akrab dengan cowok-cowok itu.

Utamanya seorang cowok. Aku tidak akan memberitahumu namanya. Tapi aku akan menceritakan padamu segala hal tentang cowok itu. Dia punya rambut cokelat yang sangat indah, yang dipanjangkannya lalu diikat ekor kuda. Aku rasa dia akan menyesali hal itu saat dia melihat lagi hidupnya ke belakang. Dia selalu membuat kaset campuran untuk kakakku dengan tema-tema spesifik. Salah satunya diberi nama “ Daun-daun musim gugur “. Dia memasukkan banyak lagu dari The Smiths. Dia bahkan mewarnai sendiri sampulnya. Setelah film yang disewanya tamat dan dia pergi, kakakku memberiku rekaman itu.

“ Kau mau ini, Charlie ?”

Aku mengambil kaset itu, tapi aku merasa aneh karena ia membuatnya untuk kakak perempuanku. Tapi aku mendengarkannya.  Ada sebuah lagu berjudul “ Asleep “ yang ingin ku perdengarkan padamu. Aku bercerita pada kakakku tentang lagu itu. Dan seminggu kemudian, dia berterima kasih padaku karena saat cowok ini bertanya padanya tentang kaset itu, dia menceritakan hal-hal yang ku sebutkan tentang lagu “ Asleep “ dan cowok ini sangat tergugah dengan betapa berartinya lagu itu untuk kakakku. Aku berharap ini berarti aku akan baik dalam hal berkencan saat waktunya telah tiba nanti.

Aku seharusnya menyertakan diri dalam pelajaran juga. Itulah yang dikatakan Bill karena aku menulis sama seperti caraku bicara. Ku pikir itulah alasan Bill ingin aku menulis sai tentang To kill A Mockingbird itu.

Cowok yang naksir kakakku ini sangat menghormati orang tuaku. Karenya, ibuku sangat menyukainya. Ayahku berpendapat cowok itu lembek. Ku rasa itulah mengapa kakakku melakukan apa yang dilakukannya pada cowok itu.

Suatu malam, kakak mengatakan hal yang sangat mengganggu tentang bagaimana cowok itu tidak tahan terhadap gertakan saat ia berumur lima belas atau sesuatu seperti itu. Sejujurnya, saat itu aku sedang menonton film yang baru saja disewanya sehingga aku tidak memperhatikan pertengkaran mereka. Merek abertengkar sepanjang waktu, jadi aku menyadari bahwa setidaknya filmnya sesuatu yang berbeda, tapi ternyata tidak karena itu adalah sekuel.

Omong-omong, setelah kakak bersandar pada cowok itu sepanjang empat adegan film, kurang lebih sekitar sepuluh menit, cowoknya mulai menangis. Menangis sangat keras. Kemudian, aku pergi dan kakak menudingkan jarinya padaku.

“ Kau lihat. Bahkan Charlie bisa menahan penindasannya. Kau lihat.”

Dan wajah cowok itu benar-benar merah. Dia menatapku, lalu menatap kakakku. Kemudian menampar wajah kakakku. Dengan keras. Aku membeku karena aku tak percaya ia berbuat begitu. Memukul siapapun sama sekali tidak seperti dirinya. Dia adalah cowok yang membuat kaset campuran dengan tema-tema dan sampul-sampul berwarna buatan tangan. Sampai dia memukul kakakku dan berhenti menangis.

Bagian teranehnya adalah kakakku tidak melakukan apapun. Dia hanya menatap cowok itu dengan diam. Itu sangat aneh. Kakakku akan menggila bila kau makan jenis tuna yang salah, tapi sekarang ketika cowok itu memukulnya, dia tidak berkata sepatah kata pun.  Dia hanya melembut. Kakak memintaku pergi, yang ku turuti. Setelah cowok itu pulang, kakak bilang bahwa mereka “ berkencan “ dan tidak mengatakan apapun pada ayah dan ibu tentang yang terjadi.

Ku pikir cowok itu menahan gertakannya. Dan ku rasa itu membuatnya masuk akal.

Akhir minggu itu, kakakku menghabiskan banyak waktu dengan cowok ini. Mereka tertawa  lebih banyak daripada yang biasanya mereka lakukan. Jum’at malam, aku sedang membaca buku baruku, tapi otakku lelah dan aku memutuskan menonton TV. Aku membuka pintu ruang bawah tanah, dan disanalah kakakku dengan pacarnya, telanjang.

Cowok itu di atas tubuh kakakku, dan kaki kakak terbentang di tiap sisi dipan. Kakak berteriak padaku dalam bisikan.

“ Keluar, dasar mesum.”

Jadi, aku pergi. Hari berikutnya, kami semua menonton kakak lelakiku bermain bola. Kakak perempuanku mengundang cowok ini. Aku tidak yakin kapan ia pulang semalam. Mereka bergandengan tangan dan bertingkah semuanya membahagiakan. Dan cowok ini mengatakan sesuatu tentang betapa tim sepak bola terasa tak sama lagi sejak kakakku lulus, dan ayah berterima kasih padanya. Saat cowok ini pulang, ayah berkata bahwa dia sudah menjadi lelaki muda yang baik yang bisa membawa diri. Ibuku diam. Kakak menatapku untuk memastikan aku tidak mengatakan apapun. Begitu saja.

“ Ya.” Hanya itulah yang diucapkan kakak. Aku bisa membayangkan cowok itu di rumahnya, mengerjakan PR sambil memikirkan kakakku telanjang. Aku bisa membayangkan mereka bergandengan tangan dalam sebuah pertandingan sepak bola yang tidak mereka tonton. Aku bisa membayangkan cowok ini muntah di semak-semak dalam sebuah pesta. Dan aku bisa membayangkan kakakku bertahan dengan hal itu.

Dan aku merasa tidak enak tentang mereka.

Salam Cinta Selalu

      Charlie
***
18 September 1991

Dear Friend
Aku tidak pernah bercerita padamu bahwa aku punya kelas pertukangan, ya ? Nah, aku di kelas pertukangan, dan kelas itu adalah kelas favoritku setelah kelas bahasa inggris lanjutan Bill. Aku menulis esai tentang To Kill A Mockingbird semalam, dan menyerahkannya pada Bill pagi ini. Kami akan membicarakan tentang ini besok saat jam makan siang.

Intinya, ada seorang cowok di kelas pertukangan yang namanya “ Nothing “( bukan apapun ). Aku tidak bercanda. Namanya “ Nothing “. Dan dia riang. “ Nothing“ memperoleh nama itu saat anak-anak mengusilinya di SMP. Aku rasa sekarang dia senior. Anak-anak memanggilnya Patty padahal nama aslinya Patrick. Dan “ Nothing  “ berkata pada anak-anak itu “ Dengar, panggil aku Patrick, atau jangan panggil dengan nama apapun."

Jadi, anak-anak memanggilnya “ Nothing“.  Dan nama itu melekat. Dia adalah anak baru di sekolah distrik saat itu karena ayahnya baru menikah dengan wanita di distrik ini. Aku pikir aku akan berhenti membubuhkan tanda petik di nama“ Nothing “ karena itu mengganggu dan mengacaukan aliranku. Aku berharap kau tidak merasa ini sulit untuk diikuti. Aku memastikan untuk membuat perbedaan jika sesuatu muncul.

Jadi, di kelas pertukangan Nothing mulai menirukan guru kami, Mr. Callahan, dengan sangat lucu. Di abahkan melukis janggut kambing Mr. Callahan dengan semir. Lucu. Saat Mr. Callahan mendapati Nothing melakukan perbuatan itu di dekat sabuk peralatannya, dia justru tertawa karena Nothing tidak melakukan perbuatan menirukan yang usil. Itu hanya lucu. Aku harap kau ada disana karena itu adalah tawa terkerasku sejak kakak laki-lakiku pergi. Kakakku biasa menceritakan tentang lelucon semir, yang ku tahu itu salah, tapi aku mengabaikan bagian semirnya dan mendengar lelucon itu. Menyenangkan.

Oh, tiba-tiba, kakak perempuanku meminta kaset “ daun-daun musim gugurnya “ kembali. Ia mendengarkan kaset itu sepanjang waktu sekarang.

Salam cinta selalu,

       Charlie

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Source : Pinterest

Oke, sebagai realisasi dari salah satu resolusiku tahun ini untuk menerjemahkan novel, maka pilihanku jatuh pada novel ini. " The perks of being a wallflower " karya Stephen Chbosky. Sepengetahuanku, buku ini belum ada versi terjemahan indonesianya.

Awal aku tahu novel ini tuh dari filmnya yang berjudul sama. Memang sudah lama aku mencari film itu, karena membaca di suatu tempat bahwa ceritanya tentang seorang remaja yang punya gangguan jiwa. Akhirnya bisa download sendiri, sih. Dan aku lumayan suka banget fiilmnya. Banyak quotes-quotes inspiratif, sinematografinya indah, dan akting para pemainnya sangat baik [ Ezra Miller....Kyaaa... . Kapan-kapan deh aku review filmnya [ kapan, ya ? ]

Berhubung ada peribahasa " Don't judge a book by its movie ", maka aku mencari novelnya.

Dan setelah ku teliti sekilas, bahasa inggrisnya tidak terlalu rumit. Mungkin karena ini semacam teenlit kalo di Indonesia. Buku aslinya nggak tahu berapa halaman. Tapi kalo di Ms. Word-ku, bisa jadi 192 halaman. Dan bab 1 yang ku terjemahkan di atas itu baru mencakup 12 halaman saja. 

Maaf kalau hasil terjemahanku di atas masih berantakan dan belum enak dibaca. Maklum,masih belajar. Kendala paling susahnya itu di idiom-idiom, soalnya aku paling males ngapalinnya. Lagian kamus mini idiomku entah tergeletak dimana sementara lampu kamarku ini sedang putus karena korslet. Kalau udah ada itikad menerjemahkan seperti ini kan lumayan ada niat mempersungguh nanti. 

See, ya....


1 komentar:

This is virtual world. Tapi, inilah tempat yang justru membuat diri kita bisa sejenak melepaskan topeng-topeng dan jubah kepalsuan di dunia nyata. So, this is the real me, yang tak pernah ku tunjukkan kepada kenyataanku. Mari saling berbagi dan bercerita tentang hidup. Feel free to leave your comment. I am not too creative to reply the comments. So, sometimes i don't reply it. But, Please believe that i definitely read your single comment and really appreciate it.