" Untuk bisa menulis mungkin yang dibutuhkan adalah hati yang retak "
Saya berusaha keras untuk mengerjakan proyek novel pertama ini sebaik-baiknya. Semalam, saya browsing mencari kriteria novel romansa remaja yang baik. Dan setelah beberapa lama, saya nyasar ke blog punya Mbak Annesya, pengarang novel Ubur-ubur kabur. Tulisan-tulisannya sangat menyentuh, dan di sebuah artikel, saya menemukan kalimat yang menyentuh yang saya posting di baris teratas itu.
Oke, saya tidak hanya punya hati yang retak, namun juga jiwa yang hampir patah. Saya pasti bisa melakukannya.
Saya punya kegelapan saya sendiri. Bahkan lebih kelam dan lebih pekat daripada yang terlihat. Saya mencoba mengorek-ngorek hati saya, mencari kepedihan yang mungkin bisa membantu menyelami perasaan tokoh-tokoh dalam novel saya. Saya tahu saya akan membuka kotak pandora, kotak yang terlihat indah namun di dalamnya tersimpan malapetaka.
Saya baru saja menyingkap tirainya, ketika perasaan takut muncul tiba-tiba. Namun saya tak mau menyerah. Masa saya kalah sama sesuatu yang berasal dari diri saya sendiri ? Saya mencoba membuka ingatan dan hati saya hingga ke sudut-sudut terdalam.
Dan ternyata, saya masih menemukan diri saya disana. Lemah, Berdarah, Luka, Koyak, awut-awutan.
Saya segera berlari keluar, takut menghadapi dan mengingat lebih banyak lagi. Saat itu sudah lewat tengah malam. Dan mulailah saya terkena sindrom kegalauan, akibat dari melihat kembali hal-hal yang sudah saya anggap cuma mimpi buruk. Setelah itu saya menuliskan hal-hal yang gelap dan mengerikan, lancar sekali tangan ini menari di keyboard. Mengeluarkan secuil demi secuil kesakitan dan membahasakannya supaya dapat dimengerti manusia, beberapa saya posting di facebook. Benar-benar bukan seperti diri saya. Saya terus mengetik dengan kalut hingga hampir pukul lima dini hari saat saya akhirnya jatuh tertidur.
Efekny terasa hingga saya menulis ini. Sedari pagi mood saya jelek sekali, saya bangun dengan perasaan lelah luar biasa dan sulit bergerak. Beberapa kali saya bersandar ke dinding untuk menghela nafas. Sampai di kampus ternyata dosen saya tidak masuk. Dalam perjalanan pulang, melintasi jalan raya yang saya namakan ' Stairs To Sky' karena memang jika disitu berasa bisa terbang ke langit, air mata saya tumpah. Tidak banyak memang. Masih seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam dada saya, yang melarang dan mencegah air mata untuk membah keluar. Apa itu ? Saya juga tak tahu pasti.
Selama ini saya membekap ingatan-ingatan & perasaan-perasaan gelap itu dengan rantai terkuat yang bisa saya ciptakan, lalu memenjarakannya di pojok-pojok hati terdalam yang asing, menguncinya berlapis-lapis, dan membuang anak-anak kuncinya dalam waktu.
Sudah begitu lama, sehingga saya lupa bahwa saya masih memiliki bayangan-bayangan hitam. Saya lupa bahwa kegelapan itu masih bersarang dan melekat, menempel erat seperti jiwa kedua. Saya lupa bahwa esensi sejati saya awalnya tercipta dari rasa sakit dan takut. Saya lupa bahwa saya masih punya hubungan yang lebih dekat daripada hubungan darah dengan kegelapan. Saya tidak tahu bahwa ada beberapa hal yang tak bisa tersembuhkan oleh waktu.
Saya tahu saya harus menghadapinya. Saya berjanji suatu saat saya pasti akan mengalahkannya, benar-benar menghapusnya dari bagian diri saya. Namun, sepertinya saya masih harus mundur dulu untuk sekarang. Entah sampai kapan....
Beberapa gelap yang sempat terbahasakan :































