Tampilkan postingan dengan label Manic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manic. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 05, 2014

Chime..

Manic lagi.
Oh sial, kali ini rasanya tak tertahankan.
Aku sangat ngat ngat lelah, tapi tak bisa tidur karena di kepalaku penuh suara berisik. Penuh rencana & cita-cita setinggi langit.
Sudah berapa kali aku melalui ini ?
Semakin tinggi " naik "ku, akan semakin keras pula kejatuhanku setelah ini.
Ya Allah, tolong aku...
Let me sleep..

Source : Pinterest



Senin, Februari 03, 2014

Rhapsody ??

Pada akhirnya, aku membiarkan mimpi itu berkelana bebas ke tempat dia selayaknya berada.
Bukan jilid albumku yang disinggahinya
Do'a yang dahulu tak pernah terputus, semuanya semakin mengaburkan hal-hal yang tak seharusnya berubah.
Jika kesempatan kedua itu benar ada di dunia, bisakah bait demi bait prosa dari penghujung ini menjadikan segalanya terang ?

[ Bilangan Bulan Bancakan Satire Koheren Blantika Sokongan Dangkal Pungguk Srikandi Citra Sekelebat Bonggol Rupa Kancah Kumparan Sakti Kisruh Fatamorgana Handai Ongkang Jingkrak Enggrang Todong Bahas Maya Rombak Pikat Prima Kijing Dadu Bingkai Ujung Jauh Temali Alih Adu Balak Tobong Dongkrak ].


Rabu, Januari 22, 2014

This Day

Hari ini super amazing sekali.
Sudah lama aku tidak merasakan beragam rasa yang nyata karena kejadian-kejadian yang benar ku alami.

Source : Pinterest

Semalam bikin transkip nilai sampai jam 01.00.
Terus belajar buat ujian komprehensif sampai jam 03.00
Terus maen game sampe jam 03.30

Bangun pagi, sholat, ngerjain tugas rumah, sambil ngedit pas foto.
Jam 07.00 keluar beli kertas foto

Terus mandi dan pergi ke kampus jam 8 karena ada pengumuman ujian komprehensif mulai jam 09.00.
Ngisi KRS sambil belajar dan nunggu dosen penguji sampai 10.00
Aku salah mencantumkan nama ketua jurusan di transkip. Tidak bawa laptop pula.
Akhirnya pulang sekencang-kencangnya [ Jarak rumah-kampus +/- 13 KM ], Di perjalanan mampir beli tip-ex dan map.
Pulang langsung ngedit transkip dan nge-print ulang
Balik lagi ke kampus sekencang-kencangnya.

Source : Pinterest

Di tengah perjalanan pulang, ban motorku bocor.
Nuntun beberapa meter sampe nemu tukang tambal ban di seberang jalan. Orangnya lagi nggak ada.
Nyeberang jalan lagi, jalan lagi beberapa belas meter, nemu tukang tambal ban lagi. Orangnya lagi makan.
Nuntun lagi beberapa meter sampe nemu tukang tambal ban selanjutnya.
Banku rusak parah.
Ban luarnya terkikis sampe bolong, yang menyebabkan pentil ban dalam rusak dan ban dalammya juga otomatis harus ganti.
Biayanya Rp. 70.000. Uang di tangan cuma Rp. 10.000
Sementara diganti, nelpon teman-teman, semuanya lagi nggak ke kampus [ karena ini liburan ], ada yang ke kampus tapi cuma bawa uang Rp.20.000
Adikku yang lagi di rumah, sedang ke rumah temannya.
Bapakku sedang ke pasar.
Ibuku sedang sibuk di kantor
Dan aku panik karena hampir tengah hari dan sudah pasti ujian komprehensif telah mulai.

Nyiapin KTP untuk dijadikan jaminan
Ibu nelpon mau jemput. Tukang tambal bannya nggak profesional. Dia nggak kuat mau ngeganti ban dalamnya. Akhirnya dia minta bantuan sama tukang barang bekas keliling yang lagi pompa ban disitu.
Itu menambah lama waktu. Bersyukur karena masih ada kesempatan sampai Ibuku datang. Khawatir, karena takut ketinggalan ujian komprehensif.

Tak lama kemudian, Ibuku datang. Aku bertukar motor dengannya lalu langsung ke kampus.

Sampai sana, ujian komprehensif dari dosen pengujiku sudah mulai. Dan saat itu, yang sedang ujian aalah orang yang namanya tepat di atasku.

Sebelum masuk ke pengajaran, aku berpapasan dengan dosen waliku. Dosen wali yang kemarin diberitahukan padaku bahwa dia sedang keluar kota. Dosen wali yang nggak bakal naik kampus kecuali punya jadwal menguji. Dosen wali yang yang tidak mau menerima urusan kampus apapaun di rumahnya. Aku minta tandatangan KRS.

Source : Pinterest

Aku dipanggil masuk oleh dosen penguji. Sialnya, semua pertanyaannya adalah hal-hal yang tak ku pelajari semalam. Akhirnya aku banyak yang asal jawab. Jawab cuma betul setengah-setengah.

Selesai, temanku nanya lulus atau nggak. Karena orang sebelumku langsung diberitahu untuk ikut ujian komprehensif selanjutnya alias tidak lulus. Temanku ini tidak dibilang apa-apa. Pas aku mau pergi tadi, dosen pengujiku sempat berbicara sesuatu, namun karena suaranya sangat lirih sehingga aku tak bisa mendengar apa yang diucapkannya.

Nunggu ketua jurusan selesai menguji untuk minta tanda tangan di transkip nilai.

Pas menghadap ketua jurusan, dia menolak transkipku karena tidak resmi alias bikin sendiri. Seharusnya minta dicetakkan oleh UPT Komputer. Asal tahu saja, sebelum ini UPT Komputer hanya melayani pembuatan transkip untuk keperluan clearing nilai, Untuk yang lainnya silakan bikin sendiri. Ternyata sekarang sudah berubah.

Aku tergesa-gesa ke UPT Komputer minta transkip. Disuruh ambil jam 13.30 karena ketua UPT masih keluar. Aku jalan kaki ke sekretariat lembagaku.Sampai sana, ketemu dengan Pemimpin Redaksi yang marah-marah karena penerbitan yang sudah direncanakan sebelumnya, sekarang masih tidak jelas juntrungannya. Padahal deadline kemarin, dan hari ini belum satu berita pun terkumpul. Berhubung cuma aku yang ada disitu, dia agak melampiaskan kekesalannya sedikit padaku. Aku pura-pura biasa saja, padahal hatiku agak menciut mendengar suara laki-laki yang membentak-bentak.

Jam 13.30 aku mengambil transkip di UPT, lalu langsung pergi ke jurusan untuk minta tanda tangan ketua jurusan.

Source : Pinterest

Selanjutnya ke wakil dekan 1 di ruang senat. Begitu ku ketuk pintunya ternyata dikunci. Orang-orang yang bergerombol disitu mengatakan beliau baru saja pergi. Penjaga ruang senat mengatakan bahwa dia akan kembali lagi. Aku duduk menunggu di depan ruangannya, sambil membaca buku The Atlas Emerald yang belum selesai dan ngobrol dengan kenalanku yang juga sedang menunggu dosen. Aku juga sempat ke kantin untuk membeli sebotol minuman lalu kembali lagi ke ruangan senat.

Sekitar setengah jam kemudian, Wakil Dekan 1 datang dan aku langsung minta tanda tangannya. Kemudian aku ke pengajaran untuk minta  surat pengantar KKN. Untuk diketahui, pendaftaran KKN sudah tutup dua hari lalu, tapi kemarin aku menghadap ke P2WKKN, mereka mengatakan masih bisa diterima asal bawa surat pengantar dari Fakultas.

Mengurus surat ini ternyata sulit. Karena belum ada contoh sebelumnya. Dan para pegawai pengajaran sekarang ternyata adalah orang-orang baru yang belum begitu mengerti. Merka menyuruhku minta surat rekomendasi dari ketua UPTTU.

Aku kembali ke ruangan senat, tapi kali ini menuju ruangan UPTTU. Setelah menunggu selama 10 menit, akhirnya aku berhasil mendapat surat rekomendasi itu.

Lalu aku ke kantin untuk meng-copy berkas-berkasku.

Copy-anku ku tinggalkan dan aku kembali ke pengajaran, setelah berhadapan dengan muka dan gaya bicara  jutek para pegawainya, mereka membuatkanku surat pengantar sekalian dengan amplopnya.

Surat pengantar itu harus ditandatangan oleh Wakil Dekan 1. Jadilah aku kembali ke ruang senat tepatnya di ruangan Wakil Dekan 1. Sepanjang perjalanan aku berdo'a supaya beliau masih ada disana dan....Voila ! ternyata memang masih ada.

Aku mengambil fotokopianku ke kantin. Lalu kembali ke pengajaran untuk minta nomor surat dan cap. \

Source : Pinterest

Selesailah semua pada pukul setengah empat kurang. Pegawai pengajaran menyuruhku mengantarkan sendiri berkasku ke P2WKKN.

Sudah sore dan aku khawatir tempat itu sudah tutup.

Ternyata belum, lalu aku masuk dan bertemu dengan salah satu pegawai P2WKKN. Beliau melihat-lihat berkasku sambil agak mengomeli karena aku terlambat mendaftar, dan juga mengatakan bahwa sudah tak bisa. Tapi, beliau lalu menyuruhku menghadap langsung ke sekretaris P2WKKN di ruang dalam. '

Aku menghadap sekretaris P2WKKN. Setelah ditanya-tanya sedikit, alhamdulillah beliau menerima.

Sekarang tinggal bayar dan ambil formulir. Tapi loket sudah tutup dan disuruh kembali besok.

Aku pulang.

Sangat lelah, karena bolak-balik kesana kemari. Mana jarak antara ruang satu dengan yang lain itu tidak bisa dibilang dekat. Tak apalah. Asal semuanya beres.

Setelah dipikir-pikir, banyak hal lucu dari semua kejadian itu. Pun pertolongan Tuhan begitu terasa karena entah kenapa semuanya begitu pas. 

Hal lucu pertama, betapa aku susah payah membuat transkip semalam, lalu terpaksa pulang karena salah membubuhkan nama ketua jurusan. Pas balik ke kampus ban bocor. Setelah melalui semua kesusahan itu, ternyata transkip itu tidak dipakai. Kedua, saat ban bocor aku kesetanan menghubungi setiap orang yang ku kenal baik. Dan tidak ada yang bisa datang membantu. Eh, ternyata Ibuku kok kebetulan pekerjaan di kantornya lagi longgar. Padahal jam segitu biasanya sedang sibuk-sibuknya.

Pertolongan Tuhan banyak sekali. Pertama, bisa-bisanya dosen waliku yang susahnya dicari itu setengah hidup dan anaknya kemarin baru mengabarkanku bahwa beliau ke luar kota, tiba-tiba nongol di depanku. Kedua, Pas aku datang, kok bisa kebetulan sekali berikutnya giliranku maju ujian komprehensif. Ketiga, di hari libur antara semester begini, yang biasanya banyak dosen yan tidak ke kampus, lah kok Wakil Dekan 1 ternyata ada. Padahal Wakil Dekan 2 dan 3 nggak ada yang di tempat. Plus, aku nunggunya cuma setengah jam. Biasanya aku sampe seharian nungguin. Dan semua pegawai dan dosen yang ku perlukan tersedia di tempatnya [ kayak barang dagangan aja :D ]. Padahal, dulu aku pernah ngurus berkas KKN antara [ yang akhirnya nggak jadi ], butuh waktu 3 hari, itupun nggak ketemu dosen wali.

Source : Pinterest

Aku merasa Tuhan sedang menertawakanku dari singgasanaNya 

Yah, tak apa sih, Tuhan. Memang ada beberapa hal yang cukup lucu. Aku juga tak keberatan kok kalau Engkau menjadikanku bahan leluconMu. Tapi, tolong bantu aku menyelesaikan semua urusanku, ya. Tolong lancarkan dan lapangkan jalanku. Setelah itu, kalau Engkau ingin menertawaiku dari atas sana, terserah sajalah..

Untungnya, aku juga sedang Manic. Jadi, meski melelahkan, tapi aku tetap maju mengurus segalanya dan pantang menyerah, padahal aku yang biasanya paling males kalau disuruh berurusan dengan birokrasi kampus. Apalagi yang udah jelas-jelas telat begini. 

Maka, sampai malam ini jantungku masih berdebar keras. Pikiranku mulai meloncat-loncat, aku bahagia, dan mensyukuri semuanya.

Mudah-mudahan semuanya berakhir dengan baik. Amin...313x.

# Karena ini cerita keseharian, maka gambarnya random juga. 


Rabu, Januari 15, 2014

Up..!!

Setelah dua hari terakhir agak mereda, siang ini moodku berayun ke ketinggian lagi.
Aku perlu melakukan banyak hal, namun tubuhku tak dapat melakukannya sekaligus
Aku merasa hampir dekat dengan pencarianku atas segalanya. Di ujung sana, cahaya membutakan yang dapat ku lihat. Jawabannya, pemecahan yang selalu ku pikirkan di malam yang larut.
Namun, sayapku belum kuat untuk terbang kesana.

Karena itu, aku takut kejatuhan selanjutnya akan lebih gelap lagi.

Source : Pinterest



Senin, Januari 13, 2014

Scene V

" Aku mencintaimu, Pras,"

Aku menoleh dengan cepat demi mendengar suara lirih itu, Kanya berdiri sekitar tiga meter di belakangku. Kepalanya menunduk, ia menggigiti bibirnya dan meremas-remas ujung kausnya. Airmata mengaliri  kedua sisi pipinya.

" Kanya ? Apa.....,"

" Aku mencintaimu, dasar bodoh. Kau tidak sadar ? Aku selalu mencintaimu," Jeritnya memotong ucapanku. Aku terhenyak. 

Selama kira-kira beberapa detik, aku hanya dapat termenung dalam keterkejutanku. Kanya tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya berdiri disana, sesenggukan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.


Minggu, Januari 12, 2014

The Judgement And The Mental Diseases

Source : Pinterest

Menghakimi orang secara sepihak, itu tanda bahwa kita tak mengerti.

Entah mengapa, kita ini sebagai manusia lebih senang berbicara. Bahkan tanpa diminta. Kita mengomentari setiap hal yang mungkin tak ada hubungannya dengan kita hanya karena itulah hal paling mudah yang bisa kita lakukan. Kenapa kita tak mendengarkan omongan orang sampai selesai baru setelah itu kita mengutarakan pendapat kita ? Kenapa kita tidak berusaha untuk tidak menghakimi apapun tentang orang lain sampai kita mengetahui betul alasan di balik tindakan seseorang ?

Kita hanya membicarakan apa yang kita pernah rasakan, sesuatu yang kita [ pikir ] memahami dengan benar. Kita menjatuhkan dan menekan orang lain agar sesuai dengan apa yang kita mau. Padahal, kejadian hidup kita tak ada yang sama dengan kejadian orang lain. 

Bukan maksud untuk sok puitis atau bahkan menggurui, lho. Aku juga terkadang suka nyolot sampai berbusa-busa, menghamburkan keinginanku atas orang lain, menghakimi seseorang yang bahkan tidak ku kenal dengan baik.

Ada alasan aku menulis tentang topik " menghakimi ini ". Aku pernah sekali menulis tentang hal tersebut, namun aku hanya menceritakan tentang penghakiman orang lain terhadapku. Ya, aku ini tipe orang yang lebih suka sendirian. Orang yang mengabaikan keramaian, tak peduli terhadap sisi-sisi mana orang banyak memilih. Dan, seperti layaknya orang yang memilih berbeda, aku sering jadi korban penghakiman sepihak dari lingkunganku.

Tapi, kali ini aku akan menceritakan pendapatku tentang menghakimi orang yang mempunyai gangguan kejiwaan. Di lingkunganku ada seseorang yang terkena gangguan jiwa, tapi anehnya dia masih sadar sebagai seseorang. Ngerti kan ? Dulu aku berpikir bahwa orang gila itu ya benar-benar tak sadar akan siapa dan dimana dirinya, benar-benar terputus dari dunia. Tapi orang ini, memang perilaku, emosi, dan kemampuan sosialnya bermasalah, tapi dia masih mengerjakan pekerjaannya dengan rajin dan beres pula. Aku biasanya menjauhi orang ini karena dia sering bicara dan marah-marah sendiri, juga sering meledak tanpa sebab. Begitupun orang lain berusaha tidak bermasalah dengannya.

Source : Pinterest

Mengidap Bipolar, membuatku banyak mencari tahu tentang apa dan bagaimana gangguan mental ini. Dikatakan bahwa mengetahui tentang penyakit ini adalah salah satu cara untuk membuat pengidapnya merasa lebih baik. Aku sudah browsing kemana-mana, sampai akhirnya aku berselancar di situs Youtube. Dengan kata kunci " Bipolar Disorder ", maka banyak hasil pencarian yang bermunculan. Memang sih, semuanya berbahasa inggris. Aku hanya menonton video yang ada tulisan, bukan rekaman pembicaraan orang. Jadi, aku bisa mengerti sedikit banyak.

Dengan semua itu, aku tahu bahwa aku tidak sendirian di dunia ini. Banyak sekali orang yang juga mengalami hal yang sama, setiap hari terbangun dengan perasaan takut, mood apa yang akan menguasaiku hari ini ? Apakah Manic yang membuatku seperti terbang di atas awan tak berbatas ? Ataukah depresi ? Kejatuhan ke dalam kedalaman gelap tanpa ujung ?

Source : Pinterest

Tapi gangguan mental yang umum dikenal bukan hanya Bipolar Disorder. Masih ada Schizofrenia, kepribadian ambang, dan lain-lain. Nah, orang-orang pengidap Schizofrenia inilah yang sering diteriakin di jalan-jalan oleh anak kecil " Orang gila...Orang gila..,". Mereka mempunyai Waham, yaitu semacam halusinasi yang sangat mereka yakini bahwa hal itu benar terjadi. Karena waham itulah mereka berperilaku aneh, ada yang meyakini bahwa dirinya adalah seorang tentara pahlawan yang harus melindungi semua orang. Jadi, mereka bertingkah seperti tentara, kemana-mana membawa senjata [ mainan, tentu ], memakai topi tentara, dsb. Kalau gangguan kepribadian ambang, pengidapnya cenderung emosional, mudah marah, depresi tanpa henti, menutup diri, dll.

Meskipun Bipolar Disorder adalah penyebab tertinggi kematian yang disebabkan oleh bunuh diri, tapi aku masih merasa itu lebih baik ketimbang dua gangguan kepribadian lain diatas. Setidaknya, pengidap Bipolar masih sadar lahir batin, masih sangat manusia, tak ada yang salah kecuali mood swing yang ekstreme. Pengidap Schizofrenia banyak yang terputus dari kenyataan, hidup di dunianya sendiri. Pengidap Bipolar masih mampu hidup di masyarakat walau lebih sering menarik diri. Penderita gangguan kepribadian ambang merasa marah dan depresi terus menerus. Sedangkan pengidap Bipolar mempunyai periode Manic, yaitu di saat mood sedang sangat terlalu baik, ketika ini kami merasa sangat bahagia, optimis, bersyukur, sosialis, bersemangat, banyak ide, dan seterusnya. Disinilah kami betul-betul bisa produktif menghasilkan karya-karya hebat bahkan kalau bisa dibilang jenius. Banyak pelukis, ilmuwan, penulis, penyanyi, dan orang-orang hebat lain yang tercetak dalam sejarah diketahui mengidap Bipolar. Mau tahu siapa saja ? Silakan googling sendiri.

Inilah daftar dari beberapa video yang ku tonton di Youtube yang begitu menyentuh hatiku. Aku sampai menangis tersedu-sedu.


Daftarnya masih panjang, namun jika benar-benar ingin mengetahuinya, dipersilakan untuk mencari sendiri di Youtube.

Jika ada yang menonton semua daftar itu diatas, setidaknya kalian bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang dirasakan oleh pengidap Bipolar.

Source : Pinterest

Kembali ke soal penghakiman sepihak tadi.

Banyak orang yang hidupnya selalu baik-baik saja, masalah terbesarnya adalah tidak mendapat nilai terbaik saat ujian, putus dengan pacar, tidak dapat mencapai target, dan bagi mereka itu adalah masalah yang sudah sangat besar. Dan orang-orang kebanyakan semacam ini, begitu melihat orang yang depresi, malah mengatakan, " Alah, gitu aja kok putus asa. Harusnya kamu itu bersyukur, karena masih banyak orang yang masalahnya lebih berat dibandingkan kamu,' atau " Berdoalah kepada Tuhan. Kamu orang beriman, kan ? Maka mengadulah kepadaNya. Jangan malah ingin meratap-ratap dan mau mati begitu,".

Tahu tidak bagaimana dampak kalimat seperti itu kepada [ khusususnya ] pengidap Bipolar ? Perkataan itu akan menjerumuskan kami ke jurang depresi lebih dalam lagi. Siapapun tahu tentang berdoa dan beribadah memohon pertolongan kepadaNya, semuanya juga tahu bahwa memang sudah seharusnya seperti itu. Tapi, bagaimana caranya untuk bangkit dan berdoa sementara kami sudah tidak memiliki keinginan hidup sama sekali ? Berdoa adalah untuk orang yang mempunyai harapan, dan kami, dalam kungkungan depresi kami, tidak memilikinya.

Atau, adakah yang menganggap bahwa orang-orang yang sering mengiris-iris pergelangan tangannya, minum obat dokter sampai overdosis, sering mengatakan ingin mati dan ingin bunuh diri, bahwa mereka melakukan semua itu untuk mencari perhatian ?

Ha..Ha..Ha. Tuhan, tolong ampuni orang-orang yang seperti itu. Berarti hidup mereka cukup bahagia.

Self-harm, atau menyakiti diri sendiri, pelakunya tidak ingin mencari ketenaran atau kurang perhatian kok. Beda ceritanya kalau mereka memang melakukannya di depan orang lain, itu memang cari perhatian. Tapi, kebanyakan melakukannya karena depresi. Praktek self-harm yang paling banyak dilakukan adalah mengiris pergelangan tangan dan paha. Mau tahu kenapa mereka melakukannya ?

Pernah merasakan kehampaan ? Kekosongan yang sangat, lubang besar, melayang tanpa beban, di dalam hatimu ? Tidak bisa merasakan apapun ? Terbiasa dengan gumpalan rasa sakit sehingga tak bisa merasakannya lagi ? Nah, jalan satu-satunya untuk kembali merasakan sesuatu adalah menyakiti diri sendiri, untuk meyakinkan bahwa tubuh masih bisa merasa sakit, meyakinkan bahwa masih ada darah yang mengalir di dalam nadi, tubuh yang didiami itu masih hidup.

Tidak pernah ya ? Tidak dapat membayangkan ? Syukurlah. Kau orang normal.

Source : Pinterest

Kalau ada seseorang yang mengatakan padamu bahwa dia ingin mati atau bunuh diri, jangan malah membentak, mengusir, mengabaikan, atau menasehatinya. Kau boleh merasa takut, tapi tolong jangan melarikan diri. Datangi saja orang itu dan ajak dia bersenang-senang, paksa dia untuk bangkit ke tempat terang yang biasa kau singgahi. Karena dia, begitu percaya padamu sampai bisa mengatakan rahasia gelap terbesarnya, menghubungimu saat dia berada di tepi jurang yang dalam. Dari semua orang, kaulah yang dipanggilnya. Dia butuh pertolongan, tapi tak dapat mengatakannya. Bunuh diri itu salah satu dosa besar, kan ? Maka kalau kau berhasil menyelamatkannya, betapa banyaknya pahala dan balasan kebaikan yang kau peroleh.

Tolong jangan menghakimi orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaannya, betatapun mereka tampak begitu menggelikan, menyedihkan, aneh, dan menakutkan bagimu. Kau tidak tahu rasanya menjadi mereka dan berharaplah jangan sampai merasakan. Mereka tidak memilih untuk jadi seperti itu. Saat Tuhan menuliskan takdir setiap orang, kalau bisa semua manusia ingin mendapatkan tulisan takdir yang baik dan lurus, tapi ternyata tidak seperti itu kan ? Bukan kita yang menentukan. Apa yang baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain. Apakah kau yakin bahwa jika kau mengalami hal yang sama, kau masih dapat bertahan seperti mereka ?

Tahu tidak bahwa kebanyakan faktor penyebab gangguan kejiwaan adalah genetik ? Sesuatu yang menyebabkan pengidap gangguan kejiwaan mempunyai struktur otak yang sedikit berbeda dari orang lain ? Pengidap Schizofrenia mempunyai ruang otak yang lebih besar. Kami pengidap Bipolar mempunyai kelainan dalam produksi cairan otak. Aku tidak tahu pasti apa nama ilmiah cairan itu. Kalau pada orang biasa, cairan itu berproduksi dengan normal, maka dalam otak pengidap Bipolar produksinya tidak teratur. Suatu kali sangat sedikit dan kali berikutnya sangat banyak. Ketika cairan otak itu menyusut, maka OdB [ Orang Dengan Bipolar ] jatuh dalam jurang depresi. Dan begitu cairan itu melimpah, maka mereka langsung masuk dalam periode Manic. 

Lihat ? Tidak ada yang salah dengan pengidap gangguan mental. Sama seperti tak ada yang salah dengan orang yang terlahir berhidung pesek, berjari 6, berambut merah, dsb.

Jika ada tanda-tanda seseorang mengidap gangguan mental, jangan abaikan, temanilah dan ajak untuk memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater. Pertolongan yang dini akan mencegah semuanya bertambah buruk hingga tak tertolong lagi. Sudah ada obat-obatan khusus untuk gangguan mental.

Source : Pinterest

Tulisan ini ku buat untuk mengingatkan diriku sendiri untuk tidak berburuk sangka dan menghakimi keputusan yang diambil orang lain tanpa ku tahu pasti apa masalah dan motif mereka. Juga untuk membuatku sadar bahwa aku tak sendirian, banyak orang seperti ku di luar sana yang juga bertarung dengan diri mereka setiap hari, berjuang untuk tetap hidup, melawan suara-suara kegelapan dari dalam kepala, dan bertahan dari ayunan mood dan emosi yang naik turun.

Dan, suatu saat di masa depan, aku ingin sekali bergabung dengan komunitas yang berkecimpung untuk membantu orang-orang yang mengidap gangguan mental, kepribadian, dan kejiwaan. Mudah-mudahan aku diberi umur yang panjang dan kekuatan untuk hidup, sehingga meski aku juga tengah jatuh bangun bertarung dengan Bipolar, aku bisa membantu orang-orang dengan masalah yang sama untuk mempertahankan harapan dalam hidup. Amin Ya Robbal Alamin. 313x.


Jumat, Januari 10, 2014

Random-Manic-Thoughts

Source : Pinterest

Setelah browsing kemana-mana, aku tetap tak dapat menemukan data yang mendukung teoriku bahwa kafein bisa menyebabkan periode Manic terasa lebih berat. Sebenarnya, tidak ada makanan atau minuman yang bisa berpengaruh pada Bipolar, tidak seperti penyakit fisik yang pasti ada makanan/ minuman pantangan maupun anjuran.

Bipolar bukan penyakit fisik, namun akibatnya bahkan malah bisa lebih parah.

Kesimpulan yang bisa ku dapat, aku memang murni sedang dalam periode Manic. Dan kalau dihitung-hitung, ini sudah hari ke-4. Fakta ini baru bagiku lho, soalnya seingatku biasanya aku lebih sering depresi ketimbang Manic. Apapun yang ku lakukan, aku tidak bisa mengeluarkan diriku dari jurang depresi itu.

Ini bukan Manic pertamaku, tapi ini pertama kalinya periode ini sangat terasa sensasinya, pada tubuh maupun pikiranku.
Bisa dilihat, tulisan ini merupakan postingan ke-3 hari ini. Dan anehnya, di pagi hari tadi aku sempat merasakan depresi tapi hanya sesaat. Kemudian menjelang siang, beberapa kali terasa gejala depresi, aku bahkan menangis beberapa kali hari ini. Yang paling parah adalah depresi pertama yang muncul hari ini. Semuanya ku tumpahkan dalam postingan pertama di hari ini. Tapi semuanya itu seperti cuma sekedar emosi yang numpang lewat sebentar untuk kemudian moodku diambil alih oleh Manic. Jadi, beginilah sekarang keadaanku. 

Bersemangat, penuh energi dan ide, tak bisa diam, dan sangat optimis.

Hal tak biasa yang ku lakukan hari ini :

1. Ide pertama yang datang setelah shubuh adalah menginventarisasi dan menomori buku-buku koleksiku. Langsung ku buat rumusnya, bikin, kemudian diprint lalu digunting dan ditempelkan satu-satu ke punggung buku. Setelah hampir dua jam dan 10 buku selesai, dapat ide untuk menambahkan kategori serial pada sistem penomoranku. Akhirnya berhenti di buku ke-10.

2. Ide kedua datang saat di kampus, sedang ngobrol-ngobrol dengan ketua lembagaku, aku tiba-tiba punya ide untuk melaksanakan pelatihan Menulis Fiksi dengan mengundang narasumber dari salah satu penerbit major yang hanya minta ditanggungkan uang tiket pesawat. Ku paparkan rencana itu sedetail-detailnya kepada ketuaku.

3. Masih dalam momen yang sama, ketuaku mengingatkanku untuk mengirim pesan pemberitahuan untuk rapat redaksi kepada seluruh crew besok. Berita utama adalah tentang reuni Fakultas minggu depan. Dengan segera timbul keinginan yang sangat kuat untuk masuk dalam tim liputan dan ku ceritakan konsep beritaku kepada ketua lembaga. Melihatku yang terlalu bersemangat, ketua mengizinkanku untuk ikut meliput.

4. Di perjalanan pulang, datang cita-cita untuk membuat lagu dan menyanyikannya sendiri dengan petikan gitarku. Sudah membuat syair lagu meski baru jadi sepenggal, mencoba mencari nada vokal yang bagus untuk sepotong lagu itu.

5. Ketika mengajar anak-anak di TPA, entah bagaimana tiba-tiba sebuah ide datang dalam satu paket lengkap. Ide itu tentang membuat acara games, kompetisi, sekaligus evaluasi belajar untuk anak-anak. Segera ku tuliskan ide-ide pokoknya dalam kertas folio sepanjang 1 halaman penuh. Setelah pulang, ku paparkan keinginanku pada tendik-tendik lain dan semua menyetujuinya.

6. Timbul keinginan yang sangat untuk memposting di blog. Jadilah tulisan yang di posting tepat sebelum postingan ini.

7. Membuat kembali sistem penomoran buku yang salah tadi pagi. Membuka label yang terlanjur ditempel.

8. Tiba-tiba muncul rasa ingin membuat pembatas buku. Begini, tidak semua buku yang ku beli menyertakan bonus pembatas buku di dalamnya. Sebenarnya ini sudah rencanaku sejak lama, namun setiap kali membuka Ms. Word tiba-tiba langsung hilang mood. Malam ini aku sangat menginginkan membuat itu, lalu aku browsing Bookmark D-I-Y di Pinterest dan membuatnya. Sudah jadi dua dari sembilan.

9. Ingin menulis di blog lagi. Maka jadilah postingan ini.

Itulah ringkasan Random-Manic-Thoughtsku pada hari ini. Seperti yang ku bilang di awal, sempat juga ada depresi. Tapi itu tidak begitu mengganggu dan hanya terasa sebentar saja.

God...Please save and bless me !!!

# Say That You Glad To Be Life


My Little Library

Sudah sejak SMA aku punya cita-cita bahwa kelak di suatu saat aku akan membuat perpustakaan pribadiku sendiri. Aku ingin punya sebuah rumah yang mirip rumahnya Shinichi Kudo yang penuh buku [ udah googling tapi sayang nggak nemu gambarnya ], atau kira-kira seperti ini :

Source : Anime Go Sick Nomor 1

Tapi baru beberapa bulan terakhir ini aku mulai ngumpulin buku-buku, udah cerita kan ? Sekarang aku baru punya 13 buku. Tapi, biarpun baru segitu ternyata cukup makan tempat juga. 

My Homeless Book

Sepertinya aku butuh rak buku nih. Kamarku nggak punya rak buku. Soalnya selama ini buku paling tebal yang ku punya ya buku kuliah, terus dulu-dulu kalo ke toko buku belinya pasti komik yang nggak makan tempat. Rak bukuku adalah selembar papan yang dipakukan ke dinding. Selama ini sudah mencukupi kok.

Aku mau bikin rak buku sendiri. Yang sederhana aja, yang penting buku-buku punya rumah sendiri. Di rumah banyak papan-papan bekas ranjang kayu, tinggal mikirin gimana bentuknya, minjem peralatan dari Bapak, terus berkreasi deh. Kuat nggak ya tanganku maku-maku :D

Pengennya sih yang mirip ini :

Source : Pinterest

Tapi, karena aku sadar diri dengan kemampuanku, mungkin jadinya ya yang nggak jauh-jauh beda dari ini :

Source : Pinterest

Dan...Karena aku mau punya perpustakaan, makanya aku bulai belajar untuk menginventarisir buku-bukuku. Tau kan kalo di perpustakaan-perpustakaan itu, di punggung buku pasti ada tempelan kertas berisi indeks klasifikasi buku tersebut. Nah, tadi pagi tiba-tiba aku punya ide buat bikin kayak gitu. Biasanya buku-buku yang ku beli cuma ku tandai dengan nama dan tandatangan di lembar kedua setelah sampul.

Ada beberapa rumus klasifikasi buku yang sudah dikenal. Yang paling populer adalah indeks klasifikasi Dewey. menurut informasi yang aku dapat dari google, indeks ini adalah sistem klasifikasi yang paling maju dibanding sistem lainnya. Karena Dewey mengklasifikasikan buku-buku per kategori, tiap-tiap kategori itu di bagi lagi menurut genre buku, genre-genre buku tersebut juga dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Karena itu, sistem ini rumit. Karena kategori buku ala Dewey aja ada lebih dari 10.

Jadi, aku bikin sistem klasifikasi buku versiku sendiri. Toh, ini kan buat kepentingan pribadi juga.

Awalnya, rumusnya begini : 

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ]/ Tahun pembelian.

Jadi, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/2013

Keren, kan ?

Udah aku bikin lho untuk ke-13 bukuku, malah udah ditempelin sampe buku ke-10.

Hasil Kerjaan Sepagian-Salah Pula

Tapi ternyata aku bikin nomornya kurang. Di tahun 2013 aku beli 11 buku, tapi aku cuma nge-print nomor sampai 10. Terus yang bikin janggal tuh, kan ada beberapa buku yang berseri. Dan belinya juga nggak berurutan langsung buku 1, 2, 3 gitu. Biasanya loncat-loncat tergantung ketersediaan buku dan anggaran. Jadi, gimana bisa diketahui bahwa buku itu masih dalam satu serial padahal nomor pembelian bukunya nggak berurutan ???

Label Versi Awal-Nggak Ada Kategori Serial

Makanya aku mau nambahin satu kategori lagi, yaitu nomor serial [ jika berseri ]. Sejauh ini buku berseri yang ku miliki baru 5 serial. Jadi, daftarnya baru sampai lima. Terus gimana sistem penomorannya ? Jadi gini....

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ], Nomor Serial [ Sx ] /Non Serial [ NS ]/Tahun pembelian

Daftar Serinya :

A : Pierce Oliviera Series
B : Heather Wells Series
C : Layken Series
D : Deirdre & James Series
E : The Atlas Emerald Series

Maka, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, buku ketiga dari serial Pierce Oliviera, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/S-A-03/2013

Label Versi Perbaikan-Sudah Ada Kategori Seri

Tjakep, kan ?

Tapi, aku harus kerja dari awal lagi. Ngebukain satu-satu label yang udah ditempel, ngerancang dan ngeprint label klasifikasinya, terus ngegunting/ngelakban, dan nempelin tuh label ke buku. Yes. Bakalan sibuk nih malam ini. :D

Oh iya, perpustakaan kecil pribadiku ini aku kasih nama " HOSHIZORA PERSONAL LIBRARY ". Dalam Bahasa Jepang, " Hoshizora " berarti bintang. Alasannya simpel, aku suka bintang. Bagiku, bintang adalah simbol harapan. Dan aku berharap perpustakaan kecil ini akan terus bertambah besar dan pada akhirnya bisa menjadi salah satu tempatku membangun harapan dalam hidup [ Aciyaa.... ]

Source : Pinterest

# Puncak Manic..



Kamis, Januari 09, 2014

Manic And Caffeine..

Yang ingin sekali ku ketahui sekarang, apakah kafein dapat memperparah periode Manic ?

Masalahnya begini..
Aku ini pecinta berat kopi, yang mana tiap hari minimal mesti minum segelas. Kalau nggak rasanya nggak afdhol aja. Kalau lagi ke kampus, biasanya aku bawa bekal 2 sachet kopi untuk diminum pake air dispenser di sekret. Dulu, tak pernah ada masalah dengan ini.

Tapi, sejak akhir tahun lalu, aku sadar bahwa sepertinya kopi mendorongku masuk periode Manic. Ceritanya waktu itu aku juga sedang Manic, namun begitu habis minum satu mug besar kopi, jantungku berdebar dengan keras dan efek dari Manic menjadi dua kali lebih terasa.

Manic memang dipenuhi dengan perasaan senang dan bersemangat dalam kadar yang tak wajar. Pengidap Bipolar yang sedang mengalami periode ini dipenuhi energi, kebahagiaan, ide, semangat, dan euforia yang melimpah ruah. Untukku sendiri, saat-saat seperti ini sangat sulit untuk duduk atau berdiri diam lebih dari tiga menit. Banyak sekali rencana dan ide yang berlompatan keluar masuk pikiranku, seluruh sel tubuh sepertinya sedang menari-nari. Hidup menjadi sangat menyenangkan, aku dipenuhi keyakinan akan keberhasilanku di hari esok.


Kedengarannya menyenangkan ?


Maaf. Sama sekali tidak.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Nah, mulai dari kejadian pertama itu, sekarang tiap kali habis minum kopi, pasti aku langsung diseret oleh gelombang Manic. Dan efeknya bertahan sampai waktu yang lama. Kalau biasanya kebiasaan minum kopiku itu siang, maka sampai hampir tengah malam sensasinya masih mengungkungku.

Sepertinya seluruh saraf di tubuhku bekerja keras memerintahkanku untuk melakukan sesuatu sekaligus, ada perasaan tak nyaman di perut dan rongga dada bila aku tak bergerak atau setidaknya, berpikir keras. Kadang, luapan energi itu sampai membuatku terengah-engah tanpa sebab. 

Melelahkan. Terutama karena tubuh tidak bisa menyalurkan dengan tuntas segala euforia itu. Kalau menuruti Manic ini, sudah pasti sekarang aku sedang menyanyi rock sekeras-kerasnya sambil berjungkil balik dengan cepat. Tapi, ini kan tengah malam ? Terus, aku mana bisa jungkir balik ? Kalau menggelinding, iya.

Dalam film At The Very Bottom Of Everything, Manic digambarkan sebagai " Cahaya yang membutakan ".

Setahuku, kafein dari cokelat dan kopi memang punya efek menenangkan dan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang membuat perasaan jadi gembira.

Jadi, apakah kafein memang punya pengaruh terhadap periode Manic dalam Bipolar ???

Source : Pinterest

# Proposal pada Chopvie....Proposal memanggil Chopvie..

 Salam dari negeri Manic di atas awan..


A Suddenly Idea..

Tiba-tiba dapet ide cerita novel yang menohok banget. Barusan aja melintas di kepala. Aku nggak begitu pintar menjabarkan dengan persis apa yang ku pikirkan, tapi aku akan berusaha.

Jadi gini :

Tokoh utamanya ada satu cewek ( A ) dan dua cowok ( B & C ).

Cewek A dan cowok B adalah teman semasa SMA. A jatuh cinta pada B sejak SMA, tapi tak berani mengungkapkannya. Dia terus saja memelihara perasaannya bahkan sampai mereka lulus. B ini adalah tipe cowok yang berwibawa dan berjiwa pemimpin, karena itu di masa sekolah B termasuk cowok yang banyak dikagumi orang karena memegang jabatan-jabatan penting di organisasi sekolah [ tapi dia bukan tipe pangeran yang gantengnya selangit dan sok-sok cool gitu. Dia dikagumi karena aura kepemimpinannya ].

Nah, sampai lulus SMA pun A tetap tak berani mengungkapkan perasaannya pada B. Ia tipe perempuan yang pasrah dan sangat mempercayai takdir. Ia yakin takdirnya kelak akan bersua dengan takdir B. Sejak lulus SMA, A berusaha keras melakukan banyak hal untuk membuat dirinya sepadan dengan B. Meski mereka tak pernah bertemu lagi sejak kelulusan karena berbeda kota tempat tinggal, tapi A tetap dengan naifnya percaya bahwa B adalah jodohnya.

7 tahun kemudian....

A mendapat kabar bahwa B sudah menikah. A sangat shock, ia tiba-tiba kehilangan arah di tengah perjalanan yang selalu dipercayainya akan berujung pada B. A berubah menjadi perempuan yang pendiam dan penuh kehampaan, hidup dijalaninya dengan perasaan depresi. 

Lalu, datanglah cowok C yang menyelamatkan hidupnya dari jurang keputusasaan.

Awalnya A selalu menolak perasaan C, merasa bahwa dirinya terlalu gelap dan rusak untuk seorang yang baik seperti C. Lama kelamaan, dengan kesabaran C, A luluh dan mereka akhirnya berpacaran.

Tak berapa lama kemudian, datang lagi kabar bahwa istri B meninggal saat melahirkan. A tersentak dan kembali tenggelam dalam masa lalunya yang belum terselesaikan. Ia merasa ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya untuk kembali berada di sisi B dan melakukan hal yang semasa SMA tak dapat diperbuatnya, memperjuangkan cintanya. Lalu, A meninggalkan C dan segera pergi ke kota tempat tinggal B untuk menemui dan menemaninya.

Inti ceritanya gitu, sih. Kesannya gelap, nggak ? Aku belum mikirin endingnya gimana tuh. Ah, aku mau banget jadiin ide itu ke dalam novel. Tapi kayaknya bakalan jadi novel tebal banget, euh. 

Ayo atuh, cepetan diselesaiin bikin proposalnya supaya bisa bikin novel :D

Source : Pinterest

Salam insomnia selalu..

Selasa, Desember 24, 2013

Blindly Light

Fase depresi memang mengerikan. Baru fajar tadi aku mengalaminya. Ibu membangunkanku untuk sholat shubuh dengan sedikit membentak karena memang sholat shubuh berjamaah di masjid sudah usai. Aku bangun seketika dengan perasaan dan kebutuhan yang kuat untuk menyakitinya. Tentu saja itu tak mungkin, mau dikutuk jadi batu apa ? Tiba-tiba, perasaan itu berubah menjadi keinginan yang kuat untuk menyakiti diri sendiri. Well, gimana sih rasanya melukai dirimu sendiri ? Apakah itu akan membuatku merasa terbebaskan ? Seberapa banyak yang diperlukan untuk mencapainya ? Rasa terbebaskan itu ?

Selama sholat sampai pulang lagi, pikiranku masih begitu gelap. Ku pikir, tidur lagi adalah satu-satunya jalan keluar. Aku kembali berbaring di tempat tidur dan menarik selimut, menutup mata sambil berdoa dengan putus asa " Tuhan, tolong biarkan aku tidur. Jangan biarkan aku mengacaukan apapun. Lelapkan aku, dengan begitu aku pasti baik-baik saja saat terbangun nanti,". Dan yah, aku membuka mata saat jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi lewat sedikit. Perasaan itu sudah hilang.

Saat ini aku sedang duduk sendirian di ruangan sekretariat lembagaku di kampus. Saat ini sedang minggu tenang sebelum UAS. Jadi, bisa dibayangkan betapa lengang dan sepinya kampus. Tadi ada ketua lembagaku yang menemaniku karena dia juga kebetulan sedang ada rapat dengan BEM. Tapi dia sudah pulang 2 jam lalu.

Dan aku sedang mengalami fase Manic saat ini.

Manic juga sama mengerikannya. Saat ini tubuhku sedang dilanda rasa panas oleh ide-ide dan pikiran gila yang berloncatan silih berganti. Makanya aku menulis ini, supaya aku bisa memikirkan kata-kata sulit dan dengan begitu aku dapat mencegah diriku melakukan perbuatan gila seperti membenturkan kepala di dinding. Rasanya begitu penuh energi, motivasi, optimisme, dan semangat yang menuntut untuk dikeluarkan. Bagaimana bisa, sedangkan hal yang ku inginkan hanyalah duduk menonton animanga di youtube ? Karena itu, selain menulis disini, dari tadi aku memenuhi dinding facebook dan timeline twitterku dengan ocehan-ocehan yang mungkin terlalu bersemangat. Itu tidak mengurangi sensasi Manic, tapi cukup membuat otakku sibuk. Mengabaikan perasaan dan keinginan untuk meloncat, terbang, dan menari habis-habisan yang mulai merasuki anggota-anggota gerakku. Juga berusaha mengabaikan lagu riang yang membuat hatiku serasa mau pecah oleh antusiasme.

Bagaimanapun, aku tetap lebih menyukai Manic daripada depresi. Aku bisa menulis dan bercita-cita sangat muluk dan tumpang tindih. Itu lebih baik daripada hanya terbaring putus asa di tempat tidur, dilingkupi perasaan depresi dan tak berguna, melawan keinginan menyakiti diri sendiri.

Kemarin pagi aku sedang merasa plain, datar. Menjelang sore, entah mengapa tiba-tiba depresi mengurungku lagi hingga malam hari. Susah sekali rasanya mau bangkit dari tempat tidur. Untuk mengatasinya, sehabis shalat isya aku pergi ke toko buku dan menghabiskan waktu hampir satu jam membaca-baca blurbs novel-novel terjemahan dan akhirnya membeli satu buku. Setelah itu, aku masuk ke dalam Manic. Aku melipat baju dan mengatur lemari sambil mendengarkan musik di handphone dengan headset. Setelah selesai, aku browsing tentang seluk beluk menjadi penerjemah buku. Ide tentang menjadi translator itu begitu merasukiku hingga aku tak bisa tenang dan duduk diam. Aku baru bisa tidur pukul tiga dini hari. Makanya sholat shubuhku terlambat.

Dan sekarang Manic lagi. Selama ini aku lebih sering mengalami depresi ketimbang Manic. Masih saja pikiran tentang menjadi penerjemah buku menggangguku. Aku main ke blognya para penerjemah dan editor buku dan mendapati diriku begitu antusias terhadap profesi itu. Di dalam otakku sudah ada rencana ingin melanjutkan kursus bahasa inggrisku yang sudah selesai setahun lalu, bahkan aku ingin sekali melanjutkan ke jenjang pendidikan S2 jurusan sastra inggris. Ah, itu bukannya impian yang tak mungkin. Hanya saja itu masih begitu jauh. Lagipula itu bertentangan dengan cita-citaku yang biasa yaitu menjadi auditor publik. I guess, cita-cita utamaku, pekerjaan yang akan menjadi profesi pokokku adalah auditor publik. Pekerjaan sampinganku selain itu adalah aku ingin jadi penulis, desainer busana, produser film, fotografer, jurnalis, dosen, pianis, illustrator anime, pemandu wisata, programmer, wiraswastawan, dan sekarang ditambah lagi menjadi penerjemah.

Gila, kan ? Tak apa kan menulisnya disini ? Biar sedikit tercurahkan rasa meledak-ledak ini.

Ah ya, aku juga jadi tak habis pikir mengapa aku begitu depresi kemarin-kemarin hanya karena patah hati ??

Source : Pinterest

Scene ( IV )

PoV : ARISA

Maaf karena menunjukkan diriku yang seperti ini di hadapanmu. 

Aku tahu kau sangat terkejut. Meski tak ada sepatah katapun terlontar darimu tentang perbuatan bodohku ini, tapi aku bisa tahu dari matamu bahwa kau seperti tersentak. Dan parahnya, aku dapat melihat sedikit keraguan terpancar dari sisa-sisa senyuman yang terlukis di bibirmu. Akan lebih baik bila kau memakiku, sungguh. Setidaknya, itu bisa menghilangkan perasaan bersalahku walau sedikit. Ah, bercanda. Sebenarnya aku lebih senang jika kau langsung meninggalkanku begitu saja. Dalam hidupmu yang sempurna, semua yang ku lakukan ini tak pernah terbayangkan sedikitpun, kan ? Seharusnya kau tadi berbalik pulang saja, berpura-pura bahwa yang kau lihat hanyalah delusi karena kelelahan. Dengan begitu, kau bisa terus berdiam dalam kesempurnaanmu. Setelah itu, kau bisa melupakanku dengan alasan hilang dilibas waktu. Tapi, tidak. Meski dengan segala ketidakpercayaan, kau justru memilih menghampiriku dalam jalan satu arah itu, menarikku kembali dengan paksa, dan dengan begitu aku bisa tetap hidup dan sekarang malah berpura-pura tidur agar tak perlu bicara denganmu. Tak ada jalan kembali dari ini.

Aku juga tahu, kau mulai takut. Kau mulai berpikir bahwa kau tiba-tiba terjebak dalam sesuatu yang tak dapat kau tangani. Ah, kalau ada sesuatu yang ku kenal dengan pasti darimu itu adalah sifat baikmu pada perempuan. Bukan hanya baik, tapi sifat itu seperti sudah tertanam otomatis dalam dirimu. Menjadi satu dengan keberadaanmu. Tentu saja secara refleks kau akan memilih untuk menyelamatkanku alih-alih berpura-pura mengalami delusi.Mungkin saja sekarang kau sudah mulai menyesali tindakanmu tadi. 

Aku mengintip dari sela-sela bulu mataku. Kau sedang berdiri di depan jendela, menatap keluar sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sekali-sekali kau berbalik ke arah kasur tempatku berbaring untuk kemudian menarik nafas frustasi. Iya, aku tahu kau frustasi. Karena kau menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan keras. Aku hafal itu. Karenanya sekarang aku memilih untuk tetap berakting tidur. Aku belum siap dan belum ingin mendengar ucapan apapun darimu.

Meskipun, akan berapa lama lagi kau berdiri di situ ? Mungkin ini sudah hampir dua jam, aku sudah ingin menggerakkan anggota-anggota gerak tubuhku yang mulai kesemutan. Tidakkah kau haus dan ingin membeli sesuatu di warung ? 

Source : Pinterest

# A Novel ( Plan ( anymore -_-')) by Me

Rabu, Desember 18, 2013

My Fiction Scene #1

“ Langitnya indah.” Katamu seraya menudingkan telunjuk ke angkasa.

Aku terbengong-bengong. Responmu itu memotong segala argumentasi hebatku tentang masalah akuntansi yang kau ajukan semalam. Itu reaksimu atas segala penjelasan ilmiah yang ku kuliahkan tanpa henti sedari tadi ?

Tentu saja pilihanku hanyalah mendongakkan wajah ke arah yang kau tunjuk. Memang indah. Tapi, apakah sepenting itu ? Lebih penting daripada teori-teori kesejahteraan ekonomi dari negeri antah berantah yang ku lahap berjam-jam tadi pagi demi bisa melenyapkan senyum kemenanganmu setiap kali aku kalah berdebat darimu ?

“ Oke.. Langitnya indah. Tapi, bagaimana pendapatmu tentang pandangan ekonomi kapitalisme ala Marx ? Bagaimana fleksibilitas sistem akuntansi untuk mendukung atau menolak teori itu ? Jawablah. Apa yang terjadi di langit saat ini tak penting.” Cecarku, mungkin agak terlalu bersemangat.

Kau tak menyanggah rentetan debatku.

“ Tentu saja penting,” balasmu tanpa memalingkan wajah. “ Ini bulan desember kan ? Jarang sekali di bulan-bulan penghujan seperti ini langit sangat bersih dan awan begitu terang,”. Sekarang kau menutup kedua matamu tanpa bicara lebih banyak.

Ada sesuatu tentang ekspresimu saat itu yang membuatku bungkam. Mungkin karena aku tak pernah melihatmu sedamai itu sebelumnya ? Atau karena pantulan teduh matahari yang membalikkan sinar di wajahmu ? Apa karena senyum kecil kebahagiaan yang tak kunjung lenyap dari bibirmu ?

Aku meletakkan gelas aqua yang dari tadi ku pegang ke samping tubuhku. Ku selonjorkan kedua tanganku ke belakang dan mendongak ke arah langit, mengikuti tingkahmu.

Angin laut berhembus perlahan. Aah, cerah sekali langitnya. Namun, anehnya tidak menyilaukan pandangan.
Apakah gumpalan awan itu yang disebut Altocumulus ? Atau Cumulus ? Cumulonimbus? Entahlah.

Dan disitulah kita. Duduk tenang tanpa sepatah kata pun selama setengah jam berikutnya.

Source : Pinterest

# It's Just A Fiction...Fiction..

Kamis, November 14, 2013

Liar !

Ternyata kau tak cukup baik untuk mengorbankan sesuatu demiku. Ternyata reaksimu tak semanis sugesti katamu. Kau bohong. Kau tinggalkan semua jeritku berdarah di belakangmu.

Tetap saja akulah yang terbodoh. Lemah dengan kebaikan, tutur indah yang memujaku ke angkasa. Sebetulnya aku tahu bahwa tak ada yang boleh ku percayai, paham sekali bahwa rayumu hanya gurau murahan. Kasihan melihatku sendirian ? Penasaran dengan keberadaanku yang memucat diantara lainnya ? Aku mengerti itu semua dari matamu yang mengejekku.

Aau mungkin alasannya bukan karena aku perempuan, melainkan karena kelemahanku yang tak dapat menangani perbuatan dan ucapan yang manis ?

Source : Here