Tampilkan postingan dengan label Echoes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Echoes. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 04, 2015

I was done held the pain on past years due to the genesis accomplished events 
Now i open my eyes, and put everything to grow the hopes

A long time ago, things keep broken here
Deep inside
Fallen apart
Shattered into small pieces

There are still front years anymore..
Start from this point, i wish that i've never lose my heart.

Looks like my story still could keep continue
And for the next page, 
This vulnerable, fragile soul and self
Would shine invincible overcome the darkness all around.


Kamis, Agustus 27, 2015

Twenty Four

Tepat tahun ke 24 saya hidup di dunia.

Akhir-akhir ini dibilang sibuk juga nggak, cuma saya lagi terhanyut sama hobi baru saya. Itulah kenapa pas malem baru saya ngeh kalo hari ini adalah hari terakhir saya di samping angka 23.

Hidup masih begitu sulit untuk saya, justru inilah titik terendah saya. Saya kehilangan hampir semua hal yang dulu menyangga saya. Setiap hari juga masih terus berjuang dengan lapisan-lapisan rapuh beragam emosi. Tempat-tempat yang sebelumnya terasa nyaman-nyaman saja tiba-tiba menjadi sesak dan mencekik. Pada dasarnya saya bukanlah orang yang cocok menetap lama di suatu tempat. Terlebih di usia ini, saya seharusnya sudah mandiri dan pindah dari rumah tempat kelahiran saya.

Usia 23 kemarin merupakan usia tersulit, namun begitu banyak juga hal berharga yang saya dapat. Hal-hal dan nilai-nilai hidup yang hanya bisa didapat oleh orang-orang yang menempuh perjalanan seperti yang sudah saya lalui. Saya masih penakut, masih pengecut, masih seekor siput yang terlalu waspada dan langsung berlari ke dalam tempat amannya begitu merasa terganggu sedikit saja. Namun belum pernah saya merasa lebih mengenal diri saya sendiri seperti saat ini. I have flaws, of course. And i have soooo many rare good side too. Kekuranganku mungkin fatal, tapi kebaikanku sangat jarang dimiliki orang lain. Selama 23 tahun, akhirnya saya bisa memahami diri saya. Saya mengerti alasan-alasan dari setiap tindakan dan keputusan yang saya ambil, karenanya saya bisa mencegah diri saya terluka sedini mungkin. Saya mengerti apa yang saya rasakan, apa dan siapa tepatnya yang saya butuhkan untuk dipertahankan di sisi saya. Saya akhirnya bisa merasa nyaman dengan siapa saya dan apa yang saya miliki. Saya tidak pernah ingin jadi orang lain dengan berkah mereka masing-masing. Dan di titik ini, saya yakin bahwa saya sudah cukup. Yang paling penting, saya tahu semua hal yang menjadi "pelatuk" bagi saya.

So, that's means i've lost some things but gained lots of valuable things too, right?

Sudah pasti akan ada banyak kesedihan dan penderitaan yang menanti saya di depan sana seperti biasanya, but i've endured all this time. Banyak waktu dimana saya merasa akan berakhir, namun nyatanya saya masih bisa menulis ini. Namun, Tuhan memang adil. saya diberikan hal-hal istimewa yang tidak diberikan pada orang lain dalam perjalanan saya sampai saat ini. Bukankah itu cukup jadi alasan untuk saya tetap kuat? Untuk melihat kejutan indah apalagi yang sudah disiapkan untuk saya. Untuk melihat seberapa kuat saya sebenarnya, terjatuh dan lost everything namun selalu bangkit lagi dan memperoleh kado kejutan dari Tuhan sebagai hadiah saya. Untuk melihat akan jadi seperti apa saya nantinya. It should be worth, right??

Pukul 12.48 WITA. 27 Agustus 2015.



Rabu, April 08, 2015

Am I A Bad Person?

Dua puluh tiga tahun lebih sudah cukup lama bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, apalagi aku, tipe orang introvert yang suka menyelami diri sendiri. Aku sadar terlalu banyak kelebihan yang Tuhan berikan kepadaku. Diantaranya; Aku cukup bisa menulis baik fiksi maupun karya ilmiah, mudah beradaptasi, mudah belajar, punya keingintahuan yang tinggi, cukup cerdas, punya selera musik yang bagus, punya hobi yang baik, dll. Terlalu banyak, sehingga sulit rasanya menghitung semua itu.

Jadi, yang ingin ku ketahui adalah...

"Am i a bad person for feeling this way? For wanting to die soon?"

Kalau dibilang aku selalu merasa tertekan dan putus asa karena aku ini tidak bersyukur, sudah jelas bukan itu masalahnya. Aku tidak pernah menuntut kepada Tuhan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, karena aku sudah tahu bahwa aku hebat dengan caraku sendiri, aku diberkahi dengan caraNya sendiri. 

Aku mungkin tidak memiliki apa yang dimiliki orang kebanyakan, tapi sungguh itu bukan masalah bagiku. Depresi, kemarahan, kekecewaan dan kepahitanku ini bukan datang dari penyesalan, bukan juga dari menginginkan. Mungkin memang jalan masa lalu yang ku lalui menjadikanku orang yang seperti sekarang ini, tapi sungguh tidak pernah terpikir untuk menginginkan kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu. Meskipun masa laluku itu penuh rasa sakit dan kegelapan-kegelapan yang ku yakin akan membuat orang lain menjadi gila, bagiku semuanya sudah lewat. Ya, sudah pasti aku masih menangisinya, masih meratapi takdirku, tapi....aku tidak lagi menginginkan menjadi orang lain yang bebas dari semua ini. Ada juga satu dua hal yang masih ku mimpikan. Tapi intinya... aku bukan orang yang tak bersyukur.


Kamis, Maret 05, 2015

They Are Really F**k

Source : Pinterest

Dan kepada orang-orang ini, baik yang ku kenal atau tidak, yang ku ingat atau tidak.. 

Penjaga fakultas yang sudah mengenal dan melihatku selama lebih dari empat tahun namun setiap kali bertemu diriku yang dikatakannya hanyalah ,"Kurangi makan nasi...,", " Bocor itu banmu soalnya terlalu besar yang naik,"..dan lain-lain semacam itu... 

Seorang dosen akuntansi syariah yang beberapa kali menyebutku "gajah" dan bertanya apa saja yang ku makan sambil tertawa-tawa di depan seluruh kelas

Seorang pemilik toko kelontong di pasar yang baru sekali ku berbelanja di tokonya dan yang dia tanyakan adalah " Makan apa kau? Saya pingin tahu karena saya lihat besar badanmu,"

Pegawai administrasi surat menyurat fakultas yang membicarakan berat badanku " Kalau ini tidak lari dari 110 ini....," seakan-akan aku tidak ada disitu.

Orang-orang yang dengan serius bertanya padaku bagaimana cara menggemukkan badan atau bercanda tentang berat badanku..

Dan semua yang wajah dan perkataannya tidak bisa ku ingat persis namun yang tertinggal di hatiku hanyalah kesan buruk dan perasaan terluka..

"FUCK YOURSELF"
Memangnya fisik kalian lebih baik dariku?

Penjaga fakultas itu kakinya pincang sebelah, hitam, jelek, selalu berpenampilan seperti gelandangan. Dosen itu wajahnya seperti kambing dengan jenggot panjang. Pemilik toko itu wajahnya buruk. Pegawai administrasi itu pendek dan hanyalah seorang pegawai rendahan...

Lain waktu, jika ada lagi yang berkomentar atau berlelucon tentang berat badanku aku akan berbicara dengan orang lain dan pura-pura tidak mendengar atau melihat mereka. Toh, mereka itu sampah.

Dan pada beberapa orang yang keterlaluan, aku akan bilang dengan percaya diri dan mengangkat kepala," Hei, memang tubuhku gendut, tapi apa kalian lebih baik dariku? Dan asal kalian tahu, boleh saja badanku besar, karena aku bisa pastikan tubuh itu digunakan untuk menampung otak dan hati yang besar yang menghasilkan pemikiran-pemikiran dan jiwa yang besar pula,"

Yeah, Fuck yourself, people !!!!


Senin, Desember 01, 2014

You'll Always Definitely Be All Right

Dulu kmu selalu berpikir bahwa kamu akan langsung mati jika dia tidak memilihmu. Faktanya...sampai sekarang kamu masih baik-baik saja. Kamu tidak mati tanpanya. Kamu masih hidup dan bernafas dengan normal. Duniamu masih berputar walau bukan dia lagi yang jadi poros sumbunya. Semua baik-baik saja.

Source : Pinterest

Jawaban paling logis adalah kamu sekarang sudah dinilai cukup kuat. Itu kan alasan Tuhan menjaganya untukmu selama itu? Tuhan meletakkan citra dirinya di ujung jalanmu supaya kamu tetap mau melangkah, supaya kamu punya alasan untuk terus berjuang. Tidak masalah jika kamu menangis sampai merasa ingin mati saja, karena itu membuktikan bahwa kamu memang tulus & menganggapnya berharga. Kamu sudah bosan mengancam Tuhan dengan satu-satunya hal yang kamu miliki, jiwamu. Tapi ternyata tidak, kamu tetap kuat menggenggamnya. Sadar ataupun tidak, kamu justru memilih melanjutkan hidup walau tidak dengannya. Sebelum dia, pada dasarnya kamu memang selalu sendirian. Kamu mendirikan benteng bertembok tebal dan mengunci diri di dalamnya. Setelah dia tidak ada, ternyata semua masih sama saja. Bentengmu masih kokoh tak tertembus, dan kamu akan selalu aman untuk duduk sendirian di sana. Kamu marah, membenci, murka, dan kecewa. Tapi tetap saja kamu memilih maju diatas kedua kakimu.

Source : Pinterest

Kamu sudah kehabisan alasan untuk meneruskan, kamu sudah terjatuh & terpuruk berkali-kali di tempat yang tak ada dirinya, Kamu babak belur oleh luka-luka yang tak terlihat. Tapi nyatanya kamu masih ada disini. Mungkin sebenarnya bukan dialah sumber kekuatanmu yang terbesar, mungkin dalam hati kecilmu kamu pun sudah tahu bahwa dia tidak seberarti yang kamu ilusikan. Kamu perlahan menyadari bahwa dia pun sesungguhnya tidak pernah benar-benar berhasil menerobos benteng yang kamu bangun. Dia hanya kebetulan saja datang di waktu dan tempat yang tepat. Mungkin kamu lebih kuat daripada yang kamu pikirkan. Jadi, boleh dibilang, bahwa satu-satunya hal yang bisa kamu lakukan sekarang adalah membiasakan diri. Tanpanya.


Sabtu, November 22, 2014

Escaping


Kalau dibilang bahwa mahasiswa tingkat akhir itu sibuknya minta ampun...entah kenapa kok nggak berlaku buatku. Justru aku punya begitu banyak waktu luang sekarang. Padahal aku sementara bimbingan proposal, tapi ternyata dengan kegiatan itu pun, beserta koreksi-koreksiannya tidak makan waktu banyak. Aku heran mengapa kok teman-temanku kelihatannya sama sekali nggak bisa beraktivitas lain saat sedang skripsi.

Jadi, akhir-akhir ini aku semakin tenggelam di dunia fiksi. Novel, anime, film, dan manga.

Aku merasa semakin hilang di dunia itu. Saat sedang diam, atau melaksanakan sesuatu yang monoton, misalnya sedang naik kendaraan, pikiranku menguasaiku sedemikian rupa hingga beberapa kali hampir saja celaka. aku memang seorang pengkhayal. Namun, semakin lama rasanya semakin sulit untuk tetap berpegangan pada realita. Ketika sedang baca manga atau nonton anime, selalu ada rasa hampa dan sedikit sakit, seperti sangat menginginkan sesuatu namun tahu bahwa tidak mungkin terjadi. Ah, aku ingin merasakan hidup seperti dalam fiksi. Semakin hari kenyataanku semakin sedikit, dan imajinasi serta hal-hal yang tidak nyata bertambah jelas dan kuat.

Mungkin karena aktivitas menulisku yang berkurang drastis sehingga aku tidak bisa mengeluarkan apapun yang ada dalam sistem pikiranku. Entah mengapa menulis semakin sulit akhir-akhir ini. Banyak yang ingin ku utarakan, namun aku tidak bisa menemukan kata-katanya. Rasanya seperti gagap bicara, seluruh diri berusaha sekuat tenaga mengeluarkan kata, namun mulut tidak bisa mengucapkannya ( Percayalah, aku tahu rasanya gagap).

Banyak yang ku takuti di dunia ini. Banyak juga hal yang ku inginkan disini. Apakah baik jika aku menyerah saja dari hidup dan sepenuhnya pasrah pada apa yang dulu pernah menyelamatkanku? Apa tak apa kalau ku lepas pikiran dari tubuhku, membiarkannya berkelana bebas untuk menemukan jawaban-jawaban? Tubuhku ini besar, namun terasa sesak untuk berpikir. Tubuhku tidak didesain untuk ini. Aktivitas fisikku sangat kurang, karena aku benci mengeluarkan tenaga. Namun, pikiranku agresif dan tidak pernah diam. Menyiksa sekali.


Ah...

Kamis, November 20, 2014

...

"When deep injury is done to us
We never recover until we forgive
Forgiveness doesn't change the past
But it does enlarge the future..."
(Mary Karen Read)

Senin, November 17, 2014

A Kite Analogy

Source : Here

“Saat pertama kali kau ke sini,” ucapnya pelan “kau seperti layangan yang terbang tinggi terbawa angin, tanpa siapapun memegang ujung benangnya. Tetapi angin yang memicumu adalah rasa amarah.”

Aku menggeleng. “Aku tidak marah. Aku ketakutan.”

“Mungkin sedikit,” balasnya. “Tetapi sebagian besar dirimu merasa marah, sama seperti John. Bukannya itu buruk. Itulah mengapa dia memilihmu. Kalian sangat serupa. Kalian sama-sama marah—akan apa yang terjadi pada kalian, dan apa yang kalian lihat terjadi pada orang lain. Kalian berdua sama-sama butuh seseorang untuk memegang ujung benang layangan kalian supaya amarah kalian tidak membuat kalian terbang tinggi ke langit dan hilang selamanya.”

Airmata menggenangi mataku. Kali ini aku tidak dapat menghentikannya. Aku hanya dapat berharap kalau aku tidak bicara, airmata itu akan hilang dengan sendirinya.

“Sekarang setelah John tidak ada,” Kata Mr. Liu, “tidak ada yang memegangi benang layanganmu. Kau akan pergi ke manapun angin—dan amarahmu—membawamu. Kau bahkan mungkin akan tertiup menjauhi kami. Pikiran itu pasti sudah terlintas di benakmu.”

**A Scene in "Awaken" by Meg Cabot


Jumat, November 07, 2014

You'll Never Know

Itulah sebabnya aku berusaha untuk sesedikit mungkin mendapat, atau meminta, bantuan dari orang lain. Kau tidak pernah tahu kapan mereka akan datang menagih padamu, meminta balasan atas apa yang mereka pernah lakukan. Dan, kau juga tidak tahu berapa banyak yang akan mereka minta, apakah sesuatu yang sangat berarti bagimu? Atau mungkin mereka menuntut waktumu di saat kau benar-benar membutuhkannya. Bukannya aku tidak membutuhkan orang lain, hanya saja senang rasanya kalau tidak harus selalu bersiap-siap, selalu waspada akan permintaan orang lain. Aku menginginkan hal yang tulus, tanpa pamrih. Ku pikir semua orang pasti menginginkannya. Kau membantu orang lain bukan karena harus, tapi karena kasihmu yang begitu besar pada mereka. Kau dibantu karena mereka menyayangimu, karena kau istimewa dan tidak seorangpun ingin melihatmu dalam kesulitan. Begitu saja, sesederhana itu. Sehingga kau tidak harus merasa seperti diingatkan akan hutang yang kau punya setiap kali kau melihat orang-orang yang pernah membantumu.

Senin, November 03, 2014

Hidden Passion : Volunteer

Source : Pinterest

Kesibukanku akhir-akhir ini, mengurus proposal skripsi yang tertunda selama setahun lamanya. ada beberapa masalah administrasi terkait dengan kadaluarsanya SK Pembimbing, tapi pada intinya semua berjalan dengan amat lancar.

Sudah empat kali total tatap muka dengan si Bapak pembimbing II, tapi baru 1x yg dihitung sebagai konsultasi. Pertemuan ketiga, dia coret semua proposalku. kebanyakan terkait masalah teknik penulisan yang memang sebetulnya memang aku nggak begitu telaten masalah begituan.

Sudah diprint bagus-bagus untuk ketiga kalinya, versi ketiga kemarin itu ( Jum'at ) tebel banget untuk ukuran proposal. Hampir 50 halaman. Aku udah pede banget tuh menghadap karena udah ku tambah-tambahin dari berbagai buku. Dalam bayanganku, dia bakal mengangguk-angguk terus nyuruh ngurus surat permohonan ujian di pengajaran karen amemang targetku minggu ini sudah harus selesai bimbingan ke pembimbing I dan II.

Ternyata kenyataan tak seindah khayalan. Jangankan buka proposalku yang rapi dan cantik itu. Dia malah kuliah panjang lebar nyuruh aku bikin ulang proposalku karena menurutnya latar belakangku yang sekarang itu, " cuma metodenya yang kualitatif, tapi rasanya masih kuantitatif". Memang sih, aku bikinnya cuma copas berbagai jurnal & artikel ( tetep nyantumin sumber, dong ) karena dikejar waktu. Dan empat pertemuan sebelumnya dia nggak ada masalah tuh.

Yang bikin aku menarik kesimpulan : Wah, ternyata dia baru baca baik-baik proposalku ini. Dia baru tertarik, mungkin saja dia baru merenungkannya malam sebelumnya, atau pas dia ngawas ujian mid sebelumnya ( karena ceritanya aku disuruh nunggu sampai dia selesai ngawas ujian). 

Dia menantangku, bilang bisa tidak aku merubah latar belakang itu menjadi kalimat-kalimatku sendiri. Sisipan pendapat orang lain cukup satu dua paragraf saja. Dia juga bertanya apa aku suka menulis, dan kenapa aku tertarik pada kualitatif yang metodenya memang sangat abstrak. Ku jawab sekenanya saja sambil ketawa-tawa. Aku  menjanjikan proposalku senin ini.

Aku memang perlu  menjawil diriku sendiri. Masak aku ini, yang cita-citanya menjadi penulis, yang juga adalah seorang senior di sebuah lembaga pers dengan jam terbang yang cukup, penulis blog, dan maniak buku, tidak bisa membuat sebuah proposal karya asli? Ternyata bisa. Aku mencari ide selama dua hari dan mulai menuliskannya siang tadi. Begitu kalimat pertama terketik, selanjutnya ternyata sangat lancar. Aku hanya perlu browsing sedikit untuk melengkapinya dengan fakta dan data disana-sini agar tidak menjadi karya fiksi. Sebelumnya, aku berasumsi bahwa Bab I-nya akan menyusut. Ya, aku tidak cukup percaya diri untuk bisa menulis sesuatu sebanyak 13 halaman. Eh, ternyata setelah selesai sama saja. Bab I tetap 13 halaman. Ternyata aku ini lumayan juga, ya.

Jadi, itu tidak masalah. Yang bikin aku kesal adalah mengapa si Bapak itu tidak nyuruh begitu dari awal? Bayangkan pas koreksi pertama itu lama banget dia "bedah' proposalku. Coret sana coret sini. Kan buang-buang waktu namanya. Terus proposal versi ketiga itu, yang dia nggak koreksi dan suruh bikin ulang, kan jadinya kertasnya mubadzir. Itu bikin aku jengkel. Apalagi tema proposalku adalah tentang akuntansi hijau, yang  mana di dalamnya aku tegas dan keras banget menyoroti masalah eksploitasi SDA oleh manusia demi kepentingan hidup dan industri.

Mubadzir kertas ikut mempercepat habisnya hutan-hutan Indonesia oleh Illegal logging

Yang aku syukuri selama penyusunan proposal ini, aku baru sadar bahwa aku ini punya kelebihan yang berguna yaitu rentang konsentrasiku yang amat panjang. Memang agak susah bagiku untuk konsen karena ide-ideku yang banyak dan perhatianku sangat  mudah teralih. Namun, begitu bisa memasuki mode konsentrasi, maka aku akan benar-benar fokus. Ku perhatikan, aku bisa konsen selama kurang lebih 36 jam. Dan asyiknya, aku mendapati bahwa kalau kerjaanku yang butuh konsentrasi itu belum selesai tapi karena lelah aku berhenti sejenak untuk melaksanakan aktivitas lain seperti masak, makan, nonton film, menyanyi, membaca, mencuci, bahkan tidur, otakku tetap siap siaga pada kerjaan yang belum selesai itu. Pikiranku seperti sudah terikat pada hal itu dan tidak teralih meski fisikku berpindah-pindah. Berguna banget, kan?

Oh ya, berkaitan dengan penyusunan proposal itu, aku kan browsing-browsing tuh terutama mengenai kasus-kasus pencemaranalam oleh industri. Dan sumpah, aku nangis waktu baca tentang kisah tragedi Teluk Minamata di Jepang. Bukan pas tragedinya, tapi upaya negara itu untuk menjaga lingkungannya agar tidak terjadi hal serupa. Masyarakat Jepang itu belajar dari pengalaman, makanya nggak heran mengapa setelah diluluh lantakkan bom atom Hiroshima-Nagasaki, mereka cepet banget bangkitnya. Ck...ck...ck. Tapi abis itu aku emosi berat waktu baca tentang kasus Lapindo. Urghh..Rasanya pengen banting laptop saking sebelnya sama perusahaan itu & juga pemerintah yang nggak tegas dan penakut.

Abis itu, aku jadi punya keinginan untuk menjadi seorang volunteer pelestarian lingkungan hidup. Aku pengen jadi aktivisnya Green Peace atau minimal Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Sejujurnya, sejak dulu aku ini memang punya kepedulian lingkungan yang besar, lho. Malah jauh lebih besar dibanding kepedulian sosialku. He...he..he. Aku tuh perasaan banget kalau ngeprint-ngeprint salah terus yang bikin kertas & tinta terbuang percuma, atau siang-siang pas asap knalpot kendaraan lagi banyak-banyaknya, atau yang bikin aku gelisah banget... masalah energi minyak yang bikin bumi tambah panas hari demi hari. Aku sering mikiiir gitu gimana caranya supaya ada energi alternatif pengganti minyak bumi. bahkan aku setuju-setuju aja subsidi BBM dihapuskan, atau penerapan kebijakan warna plat, dengan catatan ada fasilitas transportasi umum yang aman, murah, nyaman, terjangkau, dan mudah diakses ( Kapan, ya?). Aku juga setuju-setuju aja ada kewajiban naik sepeda kesana-kemari sebagai pengganti kendaraan bermotor. Asal bukan aku sendirian yang naik sepeda :D.

Source : Pinterest

Ya, sebetulnya keinginan jadi volunteer itu  kuat banget akhir-akhir ini. Tidak cuma jadi volunteer lingkungan, aku juga pengen banget gabung jadi aktivis gerakan kesehatan mental dan.....galakkan kebiasaan membaca. Beneran, deh. Aku mau tuh gabung di tiga gerakan itu. Mungkin abis kuliah ini aku mau meluangkan waktu kesana.

Sekian. Selamat dini hari...


Minggu, September 14, 2014

Nothing

Source : Pinterest

Long days which i can't feel anything
And i am not sad, or happy either
I am nothing, just like a freezing ice
A walking stone figure
I used to think that it's better than swing emotions
Where i am dead in dark river, while flying so high among Bimasakti
But, it's not true.
Can't feel something is more horrible
Coz it means there's no different beetwen me as a human and me as a, yeah, stone figure
And this point, where i stand in a pause too long
I start to think " What's wrong ??"


Rabu, September 10, 2014

Crying Is For The Weak..

Source : Pinterest

Katanya orang yang nggak bisa nangis itu adalah orang yang lemah.

Masak sih ?

Dilihat dari segi mana juga orang tukang nangis itu lemah. Nggak bisa ngontrol reaksi dan emosinya sendiri. Nggak bisa berekspresi dengan cara lain yang lebih kuat.

Menangis adalah cara mencari perhatian, cara pasti menarik empati orang lain.

Perkataan " orang yang nggak bisa nangis adalah orang yang lemah " hanyalah alibi di balik kata-kata manis untuk membela si cengeng yang sayangnya, jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang orang yang menolak menjadikan menangis sebagai bentuk kekuatan. 

Dimana logikanya sih ??


Selasa, Agustus 19, 2014

Lyric, Translation, and Personal Interpretation of All Of Me Song by John Legend

All Of Me by John Legend

What would I do without your smart mouth
Apa yang dapat ku lakukan tanpa mulut cerdasmu
Drawing me in, and you kicking me out
Kau libatkanku dan mengusirku keluar
Got my head spinning, no kidding
Membuatku pusing, sungguh
I can't pin you down
Aku tak dapat mengatasimu
What's going on in that beautiful mind
Apa yang sedang terjadi dalam pikiran yang indah itu
I'm on your magical mystery ride
Aku menaiki kendaraan misteri ajaibmu
And I'm so dizzy 
Aku sangat mual
Don't know what hit me
Tak tahu apa yang sudah memukulku
But I'll be alright
Tapi aku akan baik-baik saja

II
My head's underwater
Kepalaku terbenam dalam air
But I'm breathing fine
Tapi aku dapat bernafas dengan baik
You're crazy and I'm out of my mind
Kau gila dan aku kehilangan akal

III
Cause all of me
Karena seluruh diriku
Loves all of you
Mencintai seluruh dirimu
Love your curves and all your edges
Mencintai lengkungan-lengkungan dan semua tepianmu
All your perfect imperfections
Semua ketaksempurnaanmu yang sempurna
Give your all to me
Serahkan segenap dirimu padaku
I'll give my all to you
Dan aku akan berikan segenap diriku padamu
You're my end and my beginning
Kaulah awal dan akhirku
Even when I lose I'm winning
Meski saat kalah pun aku menang
Cause I give you all of me
Karena ku serahkan seluruh diriku padamu
And you give me all of you, oh
Dan kau serahkan dirimu padaku, oh.

How many times do I have to tell you
Berapa kali harus ku bilang padamu
Even when you're crying you're beautiful too
Meskipun saat menangis kau tetaplah cantik
The world is beating you down 
Dunia menjatuhkanmu
I'm around through every mood
Aku selalu ada mengarungi setiap mood
You're my downfall, you're my muse
Kaulah kejatuhanku, kaulah lamunanku
My worst distraction, my rhythm and blues
Kaulah pengalihan terburukku,  ritme dan musik sedihku
I can't stop singing, 
Aku tak dapat berhenti bernyanyi
It's ringing in my head for you
Selalu terngiang dalam kepalaku untukmu

Back to II, III

Cards on the table, we're both showing hearts
Kartu-kartu di atas meja, kartu kita berdua memunculkan gambar hati
Risking it all, though it's hard
Mempertaruhkan segalanya, walau terasa berat

Back to III

I give you all of me
Aku serahkan seluruh diriku padamu
And you give me all, all of you, oh
Dan kau serahkan dirimu padaku, oh.

Source : Pinterest

Sering denger lagu di atas, nggak ? Akhir-akhir ini lagi populer banget loh.

Kayaknya itu lagu lama, ya. Soalnya musiknya sederhana gitu. Tapi, saking terkenalnya ini lagu sempet dicover ama beberapa penyanyi yang menurut orang lain sih hasilnya lebih bagus. Tapi secara aku baru denger versi asli ini, makanya aku masih bilang kalau ini adalah versi terbaiknya. Lagian aku kan cewek, jadi lebih berasa romantisnya kalau cowok yang nyanyiin.

Aku sering denger sih lagu ini. Terutama nempel banget tuh yang di bagian " aaaaaall... " itu. Tapi baru ngeh pas dimasukkan jadi video iklannya salah satu ajang pencarian bakat tanah air. ternyata adikku punya juga.

Mendengarkan lagu ini, aku merasa terlempar ke masa lalu. Kayak mengalami kehidupan cinta di zaman film hitam putih. Kesan yang langsung kebayang di kepalaku adalah lady-lady inggris zaman dahulu pake gaun renda-renda topi lebar, dengan rok mengembang gitu. Plus ada cowok-cowok ksatria ganteng dengan sepatu kulit, pedang, dan seragam ketentaraan. Pendeknya, kalau dalam buku itu masuk genre Historical Romance.

Secara aku suka sama musik pop mellow, aku langsung menelaah lagu ini. Dan hasilnya adalah menurutku lagu ini cocok banget dinyanyikan oleh orang yang jatuh cinta sama pengidap Bipolar.

Cowok ini jatuh cinta setengah mati sama cewek pengidap Bipolar. Saking cintanya, sampai-sampai meski cewek itu dan penyakitnya bikin dunia cowok ini jungkir balik [ dalam arti yang jelek ], dia nggak bisa meninggalkan cewek itu. Tapi, bukan berarti dia berniat pergi lho. 

Cowok ini mengagumi kecerdasan dan pola pemikiran ceweknya [ Orang Bipolar biasanya kan kreatif banget, bahkan ada yang jenius ], tapi dia juga kelelahan dengan mood swing dan tingkah lakunya . Itu tergambar di lirik  " I'm on your magical mystery ride And I'm so dizzy Don't know what hit me "

Dan, cowok ini memutuskan untuk tetap bersama dengan cewek itu. Dia bersedia menanggung resikonya, bahkan meminta cewek itu untuk menyerahkan diri sepenuhnya padanya [ Pengidap Bipolar terkenal memiliki hubungan cinta yang sulit karena penyakit mereka itu. Bahkan, kapan itu aku baca penelitian kalau ODB memiliki tingkat perceraian yang tinggi dibandingkan dengan orang biasa ], memasrahkan seluruh masalahnya padanya. " The world is beating you down I'm around through every mood ", Cowok ini ingin menemani cewek ODB-nya melewati mood swing, terutama saat depresi. Dia mencintai kekurangan dan kelebihan cewek itu. Dia juga tahu cewek itu punya pengaruh yang buruk terhadapnya. Meski dia kewalahan karenanya, seperti yang tersirat dalam lirik " You're my downfall, you're my muse My worst distraction, my rhythm and blues I can't stop singing, It's ringing in my head for you " cowok itu tetep bertahan.

Lagu ini dilantunkan hanya dengan iringan piano. Sederhana instrumen dan nadanya, tapi dengan begitu justru terdengar tulus dan bener-bener datang dari dalam hati.

Hanya sedikit sekali lagu yang bisa menyentuh hatiku, lebih sedikit lagi lagu yang dapat membuatku meneteskan airmata. Dan inilah salah satu  lagu yang sukses membuatku menangis itu.

Setiap hubungan cinta mungkin punya kesulitan sendiri-sendiri. Tapi, menjalin cinta dengan ODB punya tingkat kesulitan yang tidak biasa.

Aku sendiri mencoba menghindari hubungan cinta. Karena, aku tidak kuat dengan drama. Hidupku aja udah penuh drama internal, nggak perlu lagi ditambah dengan drama dari orang lain. Dan memang, orang-orang yang berhubungan denganku baik percintaan maupun persahabatan, banyak yang pergi dariku setelah merasakan keanehanku. Yah, mereka tidak tahu sih kalau keanehanku itu disebut Bipolar, tapi tetep aja mereka nggak tahan denganku dan memilih menjauh atau mengabaikanku.

Karena itu, lagu ini benar-benar membuatku sedih dan terharu. Ngena banget pokoknya.

Dan jika suatu waktu di masa depan aku berhasil menemukan Mr. Right, aku ingin lagu ini menjadi soundtrack lagu pernikahanku. Kalau perlu aku duet sama Mr. Right itu, dia nyanyiin lagu ini dan aku mengiringi dengan piano.

Romantisss....

Soal bener nggaknya lagu ini ditujukan buat seorang kekasih yang ODB sih aku nggak tahu. Yang ku baca, John Legend menciptakan lagu ini untuk tunangannya [ yang tidak diketahui ODB atau bukan ] dulu. Sekarang sih mereka udah nikah, nggak tahu masih langgeng atau nggak.


Then

Jadi, tadi siang sekeluarga [ minus Ibu yang lagi diklat di Bogor ] kebetulan lagi ngumpul di ruang tengah. Bapak lagi nonton berita siang, adikku yang pertama lagi nonton film di laptop, adikku yang terakhir lagi baca komik di kasurnya yang terletak di ruang tengah itu.

Dan tiba-tiba..

Berita siang itu menayangkan ulasan tentang Marshanda yang mengidap Bipolar Disorder. 

Aku lagi dalam perjalanan ke kamarku, berhenti terus ikut nonton di kursi belakang.

Kalau boleh ku kasih tahu, anggota keluargaku itu tipe orang-orang yang suka dengar berita. Apalagi tentang hal-hal yang belum pernah diketahui.

Dan, mereka bereaksi terhadap berita itu. Adik pertamaku nanya : " Kak, apa sih Bipolar ?," Aku menggelengkan kepala. Dia langsung browsing di androidnya kemudian membacakan hasilnya kepada kami semua. Bapakku juga berkomentar sesuatu tentang berita itu. 

Berita itu ada dua sesi. Sesi pertama, membahas tentang Marshanda & Bipolarnya, juga wawancara dengan psikolog tentang Bipolar.

Sesi kedua, tentang orang-orang terkenal dunia yang diketahui mengidap Bipolar. Juga, naratornya membacakan gejala-gejala Bipolar.

Aku terdiam di  belakang. Tegang. Satu demi satu gejala disebutkan.

Perubahan emosi, insomnia, berbicara terlalu cepat, mengurung diri, dsb. Hatiku bertambah dingin seiring setiap kalimat yang dibacakan. 

Adikku berkomentar sambil menoleh padaku di belakang : " Ih..Ngeri banget ya kak,". Aku hanya diam mematung.

Akankah mereka menyadarinya ? Menyadari bahwa ada salah satu pengidapnya di dekat mereka ? Menyadari bahwa semua gejala itu terjadi di bawah atap yang sama dengan mereka ? Jika mereka teliti dan mengingat-ngingat lebih teliti, aku yakin mereka akan tahu.

Pada akhirnya, berita selesai dan aku kembali masuk kamar.

Entah mengapa, kalau pada waktu itu disitu ada Ibuku, aku yakin dia akan menyadarinya. Menyadari apa yang terjadi pada putri pertamanya.

Ah..


Senin, Agustus 11, 2014

Deep Dream

Source : Pinterest

Pernahkah kamu bermimpi sesuatu yang sangat sangat sangat indah, sehingga kamu meneteskan airmata ketika terbangun ? Kamu begitu menginginkannya hingga terasa menyakitkan, tapi di saat bersamaan kamu sadar bahwa itu cuma mimpi ? Kemudian perasaan menginginkan itu harus dipaksa memudar, yang pada akhirnya meninggalkan jejak berupa kehampaan besar dalam hatimu ?.

Pernahkah kamu terbangun dari tidur, lalu sesaat lamanya lenyap dalam distorsi. Ketika mimpi yang baru saja kamu tinggalkan terasa lebih nyata ketimbang kenyataan itu sendiri ?

Rabu, Agustus 06, 2014

Ada benda-benda tertentu dalam hidup yang kita lindungi dan kita hargai lebih tinggi karena kenangannya. Atau nilai kebanggaannya. Kebanyakan hanyalah benda remeh temeh seperti selembar kertas piagam, bunga kering di buku harian, patahan-patahan perhiasan tua, pakaian lama yang sudah apek dan bulukan, coretan-coretan tak beraturan di potongan kertas, carikan-carikan tiket kendaraan atau tempat hiburan, bahkan yang sangat sepele seperti sebutir kancing baju.

Kita menyimpan semua itu dengan sangat baik. Melebihi perlakuan kita pada benda-benda yang mahal dan baru kita beli.

Tak apa merasa sentimentil. Itu kan bukti nyata dan abadi dari perjalanan-perjalanan yang sudah berhasil kita lewati. Bersama segala rasa dan emosi yang menyertainya.

Pada akhirnya, itulah bukti bahwa kita pernah hidup.

Minggu, Agustus 03, 2014

Half Reality, Half Fiction

Source : Pinterest

Biasanya aku tidak suka mengkritik selera orang lain-terutama selera musik.

Kalau ada jenis musik yang ku benci, maka itu adalah musik disko. Dan metal. Rock, bisa ku nikmati beberapa tergantung dari lirik dan seberapa jelasnya penyanyinya membunyikan kata-katanya. Intinya, aku benci musik keras yang berdentam-dentam.
Semua itu terdengar bertambah buruk sepuluh kali lipat di telingaku yang baru bangun tidur singkat setelah begadang semalaman-begadang berarti begadang, tidak tidur sepicing pun hingga hari beranjak terang. Musik diciptakan untuk menjadi penghiburan, menjadi penenang untuk hati yang lelah dari kerasnya dunia nyata. Karena itu, musik haruslah lembut. Aku tidak mengerti mengapa orang membuat musik keras semacam musik disko. Siapa yang bisa merasakan ketenangan saat musik yang keras dan menyayat telinga-dan dalam kasusku, kesabaranku ? Boleh ku beri tahu sesuatu tentang penelitian tentang musik keras yang tidak sengaja ku baca saat di bangku kuliah, bahwa penikmat musik keras lebih borpotensi, berapa persen tepatnya aku lupa, untuk melakukan kekerasan dibandingkan penikmat musik lain. Mungkin karena penikmatnya bukan bertujuan untuk relaksasi, tapi sekedar pelengkap untuk kegiatan lain yang menjadi pilihan utama melepas penat-berjoget.

Musik pilihanku ? Pop mellow. Jenis yang bisa dinikmati setiap saat tanpa membuat telinga sakit. Baik sebagai teman membaca buku, belajar, minum teh, berjalan-jalan, jogging, atau pengantar tidur.

Itulah sebabnya aku tidak suka diskotik. Tempat itu menduduki nomor-nomor awal dari tempat yang paling tak ingin ku kunjungi kembali. Yang menjadi alasan diriku dilabeli sebagai “ cewek nggak asyik “ di bangku kuliah, dan di kantor setelahnya.

Alasan utamanya mungkin karena tingkat toleransiku yang sangat rendah kalau boleh dibilang hampir tidak ada. Aku yakin di planet ini bukan aku saja yang benci jenis musik keras. Hanya saja, orang lain memilih diam dan mengikuti alur, dalam hal ini, ikut mejeng di diskotik dan memaksa diri mendengarkan musik keras dan berdentam yang sebetulnya bukan kegemarannya, daripada berkelahi dengan penggemar musik itu yang bisa mengakibatkan dirinya terkena masalah. Sedangkan diriku memilih jalan ekstrem, seperti selalunya. Menolak mentah-mentah ajakan ke diskotek karena aku tidak suka musiknya yang menyebabkan diriku kehilangan prospek mendapatkan teman yang lebih banyak dan memperluas lingkup pergaulan. Mengunci diri di rumah, dengan musik mellow kebanggaanku, membaca buku, dan itulah kurang lebih definisi kebahagiaan versiku.

Benar-benar khas “ cewek nggak asyik “.

Bagaimanapun rasa tidak sukaku, semua itu mesti ku tekan saat ini.

Aku sedang berada di toko buku bekas. 

Kamis, Juli 24, 2014

A Perfectionist

Orang perfeksionis memang sangat dibutuhkan dalam hampir setiap pekerjaan. Mereka mendetail, teliti, lengkap, menginginkan kesempurnaan pada segala hal. Dan, biasanya multi talent, serba bisa.

Tapi, justru sifat seperti itulah yang juga banyak merugikan mereka. Hal-hal seperti tak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu, tidak mau mendelegasikan pekerjaan atau berbagi tanggung jawab karena merasa orang lain hanya akan mengganggu atau menghambat proses kerja mereka, pilih-pilih pekerjaan karena  orang-orang perfeksionis hanya akan turun tangan menangani sesuatu yang mereka yakin bisa mereka atasi.
Source : Pinterest

Kalian harus selalu menjaga untuk memiliki orang-orang perfeksionis dalam hal-hal yang kalian tangani. Tapi, beri mereka bagian pekerjaan yang butuh pemikiran yang matang, mereka suka itu. Taruh mereka di bagian perencanaan, beri mereka gambaran besar target, dan biarkan mereka mengolah dan berkontemplasi dengan keinginan dan kemampuan mereka. Atau, letakkan mereka di bagian finishing, untuk menyempurnakan dan menyelesaikan hal-hal yang mungkin terlewat.

Jangan sekali-sekali memposisikan mereka sebagai pelaksana langsung, apalagi bila bekerja dalam kelompok. Karena dapat dipastikan ada dua hal yang akan terjadi : ( 1 ) Orang-orang perfeksionis akan lepas tangan, sama sekali tidak mau bekerja karena mereka hanya mau menyelesaikan sesuatu dengan cara mereka, atau ( 2 ) Orang-orang perfeksionis akan jadi kuda pekerja dalam kelompok, mengerjakan semua tugas yang semestinya diselesaikan bersama. Bukan karena orang lain memperlakukan mereka seperti itu, tapi mereka sendirilah yang ngotot mengambil semua pekerjaan karena alasan yang sama seperti di nomor ( 1 ). Dan yakinlah, tidak akan menyenangkan bergaul dengan orang perfeksionis saat dia sedang berada di dua situasi di atas.

Kami, orang-orang perfeksionis, tidak sombong. Tidak menganggap yang lain bodoh sehingga berkeras untuk mengerjakan semuanya sendirian. Ya, kami akui kami sedikit agak telalu egois, tidak mau menerima saran pendapat yang berbeda dengan opini kami. Kami gemar mengkritik dengan pedas, sering sok ngatur, keras kepala, dan lain sebagainya.

Tapi, percayalah, ami melakukan itu dengan niat yang baik, niat yang tulus agar segalanya berakhir sempurna sesuai dengan harapan bersama. Kami tidak minta balasan atau pujian. Dan harus kalian akui, hampir semua pekerjaan kami mempunyai hasil yang bagus, kan ?

Jadi, tolong jangan abaikan kami. Jangan kucilkan kami. Satu-satunya cara berurusan dengan kami dalam hal pekerjaan adalah menjadi teman diskusi yang baik. Teman bertukar pikiran dan orang yang mendukung apa yang kami lakukan.

#BerdasarkanPengalaman&PerasaanPribadi.


Selasa, Juli 15, 2014

Get More Desperate Of Local Television

OH MY GOD !!!!! 
What the fuck is this soap opera !!
So cheap...
Salah satu alasan aku suka banget baca genre paranormal romance itu ya karena kisah-kisah mitologi yang kebanyakan adalah vampir & manusia serigala.

Taapiiiii..sinetron satu ini ngerusak imajinasiku tentang dua makhluk immortal di atas ?

Apa-apaan ini ?
Sejak kapan vampir & manusia srigala itu se-nggak-keren ini ? Labil ? Bego ? Konyol ? Sok Galak ? Sok Serem ? Dibuat-buat ?

Ini bencana..ini bencana. 
Tolong hentikan segera tayangan picisan ini. 

Aku nggak relaaa....
Bahkan Twilight pun masih terliht agak bagus sekarang.

Selasa, Juni 17, 2014

Ending..

Ketika aku memutuskan bahwa aku akan melepasmu untuk kemudian menjumpaimu di sebuah ujung jalan.
Aku berlari dengan sekuat tenaga, ku rentangkan tangan selebar-lebarnya.
Tak peduli kerikil yang menceracah di telapak kaki, angin yang tak bersahabat, maupun pandangan sinis dari dunia
" Aku harus terus berlari, aku harus berani mengambil setiap tawaran yang disodorkan hidup untukku. Aku ingin jadi sempurna, supaya bisa menjadi seseorang yang sepadan dengannya. Tak peduli dia tidak memintaku untuk bisa melakukan apa pun. Aku hanya ingin merasa pantas berdiri di sampingnya, tidak jadi beban baginya, bahkan menjadi wanita yang akan jadi kebanggaannya,"

Kini, di ujung jalan itu.
Di tepi mimpi yang dipaksa berkesudahan, 
Aku menggenggam seluruh cerita dari semua perjalananku, memeluk erat segala harap dan kenangan.
Airmataku berlinangan dan tetesannya tertiup angin ke tempat yang jauh.

" Aku tidak akan menyesali apapun." Teriakku ke angkasa
Dadaku bergetar oleh ribuan rasa yang berdesak untuk diraba oleh hati, begitupun kedua tungkaiku, goyah bersama detik-detik yang terlewati dalam lepasnya kisah yang sudah menguatkan diriku selama bertahun-tahun lamanya.
Ada sesuatu yang terasa hilang dengan cepat dari keberadaanku.
Meninggalkan kekosongan dan ruang hampa yang terus meluas.

" Terima kasih atas ceritanya. Terima kasih atas semangat, kehidupan, rindu, kekuatan, ketegaran, dan segala hal darimu yang menjadikanku tetap mampu hidup hingga detik ini. Karenamu aku menemukan alasan, satu-satunya hal yang paling ku butuhkan di dunia ini." Bisikku parau, mencoba membahasakan trilyunan rasa yang mengancam akan membah pertahanananku.

Jadi, inilah sudah akhirnya.
Seperti ini saja.

Source  Pinterest