Tampilkan postingan dengan label My Dark Side. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Dark Side. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 19, 2015

The Me That I Hate

Source: Pinterest

Aku…kembali lagi menjadi diriku yang lama. Diri yang penuh kemarahan, penuh frustasi, selalu bergejolak dengan emosi dan kebencian yang terlalu tinggi untuk ku tanggung.

Tak perlu dikatakan, bahwa aku sangat tak menyukai sisi diriku yang ini.

Aku begitu lemah, mudah sekali diriku terpengaruh oleh keadaan sekitar, terseret oleh permainan orang-orang yang tak layak bahkan untuk ku pandang saja. Dan akibatnya, kelemahanku ini membuatku menyakiti orang-orang terdekatku. Keluargaku, orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku ; kedua orang tuaku yang beranjak tua dan sakit-sakitan, yang seharusnya sangat tak pantas untuk ku ricuhkan dengan emosi tak terkontrolku ini. Siapa yang tahu berapa lama lagi waktu tinggal mereka di sisiku? Juga adik-adikku, yang belakangan baru ku sadari bahwa mereka memahamiku lebih daripada yang ku pikir. Mereka memang tidak tahu pasti rasa sakit yang ku hadapi, tapi mereka mengerti, dan dengan cara mereka sendiri berusaha menghibur dan menarikku ke tempat terang… Karena kelemahanku ini mereka sering memilih menjauh, takut pada gelombang badaiku yang sering tak terprediksi. Bisa ku lihat rasa takut itu di mata mereka. Saat mereka bicara padaku dengan sangat berhati-hati dan tak menatap mataku karena tak berdaya. Aku benci…Aku membenci diriku yang tidak mampu mengatasi hidup, tidak mampu menghela diriku sendiri agar tidak terpisah dari orang lain. Bagaimana caranya agar aku bisa jadi kuat? Agar roda kehidupan tidak membuatku tersakiti dan balik menyakiti? Kenapa sisi diriku yang ini ku tunjukkan pada keluargaku?
Rasa sakit ini datang dan pergi, tapi tidak pernah benar-benar menghilang. Sumbernya selalu berganti rupa, beragam wujud sesuai dengan tempat yang ku pijak. Mengapa hanya kepedihan dan kemarahan yang ku lihat dengan mataku ini?

I really hate myself. Apalah gunanya aku punya otak cerdas, banyak bakat, dan banyak kemampuan bila pada akhirnya semua itu justru tak mampu membuatku menjalani hidup dengan bahagia? Kenapa aku ini lemah sekali?


Sabtu, April 11, 2015

Just Don't Hurt Me

Source: Pinterest

Tidak mau terlalu dekat dengan orang lain karena pada akhirnya aku akan tersakiti. Tidak peduli pada awalnya tanpa disadari jadi dekat karena kesamaan mimpi, visi, pandangan, maupun keinginan... semuanya akan berakhir dalam sekejab. Dan menyakitkan. Semakin dekat seseorang, semakin mereka merasa bebas terhadapmu. 

Akulah yang selalu pertama kali mengambil langkah menjauh. Saat aku sadar tentang pertandanya, pertanda bahwa suatu ikatan akan berubah menyakitkan. Kadang juga aku terlalu menikmati berada di suatu hubungan, terlena dengan kelegaan karena bisa terhubung dengan orang lain, sehingga membuatku lalai dan akhirnya terlambat pergi.

Orang-orang yang tanpa sadar menjadi dekat ini, sebenarnya dalam satu dan dua hal punya kemiripan denganku. Ada yang sama-sama suka membaca dan menulis, ada yang punya kesamaan prinsip, ada juga yang punya ide-ide gila dan baru terhadap lingkungan yang kami bagi, ada yang sama-sama terkurung dalam dunia anak-anak-menyukai anime, kartun, dan komik. Tapi entah mengapa pada akhirnya semua menjadi salah. Sebagian lalu mengabaikanku saat sudah merasa kuat terbang sendiri, sebagian lagi menemukan orang yang lebih 'normal' untuk diajak bicara walau aku selalu ada, sebagian menganggapku hanya bagian kecil dari hidup mereka--meski aku menganggap mereka begitu penting. Ketika aku pergi, mereka selalu menatapku dengan mata itu, mata yang bertanya "Mengapa?". 

Semua orang memilih untuk 'ada' dengan caranya sendiri-sendiri, hampir semuanya mampu berkompromi dengan individu-individu yang terhubung dengan mereka dalam jalan mencari pembuktian diri itu. Tidak masalah bila sedikit terluka, kecewa atau tersakiti yang penting tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Tapi aku berbeda. Aku tidak bisa menerima bila orang merasa bisa menyakitiku hanya karena mereka mampu. Tentu saja aku ingin berhasil dalam mimpi-mimpiku, keinginanku, aku ingin diakui dengan caraku. Tapi, tidak bila itu melukaiku. Aku sudah menjalani hidup yang panjang, dengan cerita kelam dan sedih di banyak bagiannya. Jadi, aku merasa berhak mengatur hidupku. Siapa-siapa saja yang ku izinkan membuat hubungan denganku, siapa-siapa saja yang hanya menjadi persinggahan atau batu loncatan, siapa-siapa yang cukup menjadi teman seperjalanan dalam satu fase. Aku sudah  belajar memilah semua itu. Aku tidak peduli lagi bila orang mengataiku sombong, kacang lupa kulitnya, tidak becus, dll. Sungguh aku tidak peduli karena, hei..yang tersakiti kan aku. Tidak seperti orang lain, aku tidak bisa begitu saja menumpahkan uneg-unegku, rasa sakitku, "sampahku", pada orang lain karena itu akan membuatku merasa sangat benci pada diriku walau orang itu pantas mendapatkannya.

Begitulah caraku melindungi hatiku dan pada akhirnya...melindungi diriku sendiri. 



Kamis, Maret 12, 2015

Ada alasan lain mengapa aku masih menghindari pernikahan.
Alasan utama, satu-satunya, yang terbesar..Yang selalu ku samarkan dengan alasan-alasan lain yang lebih umum seperti ingin kerja, ingin mandiri dulu, masih ingin bebas, dan lain-lain.
Alasan yang mungkin akan dianggap mengada-ada dan ditertawakan sebagian orang.
Well, mereka tidak mengalami apa yang sudah ku alami. Tentu saja mereka bisa menafikan orang lain.

Aku hanya tidak mau disakiti.

Kalau menjalin hubungan baru, membentuk keluarga baru, hanya akan menambah lukaku, sepertinya lebih baik jika aku tidak memilikinya.


Jumat, Februari 27, 2015

The Strongest Pole

Ini tentang keinginanku menjadi sukarelawan untuk menolong orang-orang yang mengidap mood disorders, korban pelecehan seksual, atau korban kekerasan anak.....

Source : Pinterest

Aku tidak akan bisa menyelamatkan orang lain jika aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Bertahan hidup saja tidak cukup. Aku harus memiliki harapan, yang mana itu adalah sesuatu yang begitu mewah bagiku sekarang. Sebelum aku membantu orang lain untuk merelakan, menerima, memaafkan, dan melupakan, aku harus bisa melakukannya terlebih dahulu. Tidak ada hal baik yang bisa ku berikan pada orang lain jika aku sendiri belum menemukan hal baik itu.

Terutama, aku belum punya cukup kekuatan untuk menciptakan tiang yang bisa ku pegang agar tidak terseret. Penderitaan dan kejadian orang lain akan sangat mempengaruhiku. Dan kecenderunganku untuk merasa bertanggungjawab atas berbagai macam hal, akan membuatku terseret arus gelap karena aku akan merasa tidak bisa menolong mereka. Ya. itu juga alasan mengapa saku memperkecil lingkunganku. Istilahnya, membatasi perimeter. Aku memilih siapa-siapa yang bisa terlibat denganku sehingga paling tidak aku memiliki kendali atas kejadian-kejadian yang mungkin saja terjadi. Dengan begitu, aku bisa menyaring informasi apa yang ku terima, menakarnya sesuai dengan kemampuanku. 

Contohnya, saat menonton berita saja, ketika melihat nasib orang lain yang begitu buruk, atau melihat orang-orang yang begitu jahat dan tidak ada yang bisa menghukum mereka, aku akan begitu marah. Aku putus asa dan mulai menyalahkan diriku kenapa tidak bisa berbuat sesuatu. Pada akhirnya semua berujung sama : Keputusasaan.

Jika aku terlibat dengan kejadian orang lain yang pasti kurang lebih banyak yang sama seperti kejadianku sementara aku belum tersembuhkan, pasti itu akan jadi pelatuk yang meledakkan peluru berisi rasa sakit. Malah, aku mungkin akan menyeret orang yang seharusnya ku tolong itu dalam jurang penderitaanku sendiri. Tidak ada yang akan terselamatkan.

Keinginanku begitu kuat. Aku tidak mau ada orang lain merasakan seperti yang ku rasakan. Rasa sakit dan amarah ini. Sendirian lagi. Aku tidak mau ada anak-anak korban pelecehan seksual, kekerasan, dan bullying yang hidup dengan melihat neraka di depan matanya. Aku tidak mau ada orang-orang terkucilkan yang dianggap gila dan aneh oleh lingkungannya hanya karena mereka mengidap sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka diabaikan karena orang lain tidak bisa menandingi mereka. Mereka diremehkan karena sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Padahal justru orang-orang inilah pejuang yang sesungguhnya, orang-orang brillian dengan ide-ide hebat dan kekuatan tak terlihat. Mereka inilah yang harus dijaga. 

Jadi, mungkin yang harus ku lakukan pertama kali saat ini adalah mencari bantuan profesional.


Senin, Januari 12, 2015

This Point

Source : Pinterest

Hi there. 

Sudah lama sejak aku terakhir menulis. Memang benar ternyata bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Dulu aku mewajibkan diri menulis blog setiap hari, sehingga setiap hari ada saja rasanya ide untuk menulis walaupun dalam keadaan setidak menyenangkan apapun. Sejak KKN, kebiasaan itu mulai menghilang dan sekarang yah...tinggal seperti inilah. Ide selalu ada, tapi rasanya sulit menuangkannya dalam kata-kata.

Jadi, aku sudah selesai ujian dan perbaikan proposal tanggal 5 Desember tahun lalu. Saat ini seharusnya aku sedang penelitian untuk skripsi. Aku ingiinya bisa ujian bulan februari awal agar bisa ikut wisuda bulan maret. Tapi, entahlah...

Kisah yang mendominasi hari-hariku masih kisah sedih dan gelap. Moodku semakin kelam, yang mendominasi perasaanku adalah semua emosi negatif. Kemarahan, kebencian, ketidakpuasan, kekecewaan, kepedihan, terasing, tidak utuh, dan sebagainya. Komunikasi dengan keluargaku sedang tidak baik. Aku merasa mereka seperti kebanyakan orang, tidak bisa memahami diriku, dan aku benci itu karena, yah, mereka kan keluargaku. Aku merasa mereka membuangku karena tidak bisa menerima aku yang sebenarnya. 

Setiap bangun tidur, aku terjaga dengan perasaan yang rapuh. Seperti aku berdiri di atas selapis es di atas permukaan sungai yang dingin. Dan aku menunggu, menunggu suatu peristiwa yang memicuku untuk jatuh dalam sungai itu. Jika beruntung, selama sehari itu semuanya baik-baik saja. Tidak ada "pelatuk" yang ditarik. Jika nasibku buruk, maka tidak akan lama sesudah bangun, aku terperangkap. 

Dan pelarian yang paling terasa nyata saat ini adalah self injury.

Awalnya aku melakukannya jika emosi yang melandaku sudah benar-benar tidak tertahankan. Namun, akhir-akhir ini sepertinya semua emosi terasa seperti itu. Bukan hal yang aneh bagiku yang sekarang bila sebelum fajar menyingsing aku sudah memiliki lima torehan baru di lenganku.

Aku mencoba percaya bahwa semua ini akan berakhir. Aku tidak mungkin memiliki takdir yang seburuk itu, kan? Semua akan indah pada waktunya. Namun, di balik keyakinan rapuh itu ada suara berbisik yang semakin keras "Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika tidak lebih baik? Bagaimana jika memang inilah nasibku? Bagaimana jika aku tidak bisa bahagia lagi?,"

Suatu kali aku merasakan begitu banyak hal sekaligus. Aku mengerti segalanya, bisa melihat dengan jelas ke arah manapun. Namun, semua itu selalu berganti dengan cepat. Aku jadi buta. Jalanku menghilang dan aku tidak mampu berdiri. Aku mulai kehilangan diriku. Yang manakah aku yang sebenarnya? 

Dan semuanya jadi lebih buruk karena aku tidak bisa menulis. Berputar-putar dalam benakku. 

Namun, ide-ideku semakin baik. Rasanya aku bisa melihat jalan yang baru dari banyak hal. Sebagian ide itu ada yang mampu diterima oleh orang lain, yang mana membuatku merasa "lepas". Tapi sebagian yang lain, terlalu aneh atau mungkin malah terlalu absurd sehingga ditolak, ditertawakan, dan diabaikan. Dan semua itu berubah jadi barbel terikat di kakiku dan menyeretku tenggelam dalam sungai yang dingin.

Dan aku tidak yakin lagi bahwa aku akan bertahan.


Kamis, Desember 25, 2014

For Now

Source : Pinterest

Semakin ku mengerti diriku, semakin besar rasa sakit dan pahit melumpuhkanku. Aku sudah tidak lagi punya kemampuan itu, untuk menemukan sosok yang bisa menemaniku. Pada saat ini, pikiran untuk bisa sampai di titik itu merupakan keistimewaan bagiku. Bisa seperti ini saja, tetap terhubung dengan realita meski terasa payah, sudah sangat ku syukuri.

Pada dasarnya, untukku yang sekarang ini, berada di waktu dan tempat ini, cukuplah bila aku bisa berada bersama orang yang tidak menyakitiku, sehingga aku tidak balas menyakiti kemudian berbalik pergi seperti selalunya. Sudah cukup untukku bila saat membuka mata, aku bisa merasakan kekuatan di seluruh syarafku untuk bangun dan menjalani hari seperti orang biasa. Seperti sebuah jiwa yang utuh dan muda. Cukuplah bila aku mampu melangkah walau pelan. Cukuplah bila cahaya hidupku masih mampu dirasakan orang lain. 

Karena tidak mungkin untuk kembali dan merubah apapun, aku hanya menginginkan agar aku dijadikan gadis yang kuat, yang bisa tetap tersenyum walau tubuhnya remuk oleh kepedihan. Seorang gadis yang hidup meski dia kehilangan hatinya.

Semoga.


Selasa, Desember 16, 2014

Positive Person

Bukannya aku berburuk sangka pada Tuhan, berburuk sangka pada orang-orang, atau masa depan...

Aku hanya mencoba realistis. Apa yang belum dialami itu belum pasti. Seseorang boleh berusaha keras, boleh menginginkan sesuatu begitu dalam, namun keputusan tidak berada di tangannya.

Jalan yang sudah ku lewati menjadikanku orang yang berhati-hati. Berhati-hati, bukan pesimis. Lebih baik tidak terlalu berharap, daripada kecewa. Berdirilah di titik tengah, tidak condong ke satu sisi antara yakin dan tidak. Dengan begitu, jika tidak mendapatkannya, rasanya tidak akan terlalu menyakitkan. Karena bagiku sekali terjatuh dalam hidup itu rasanya sama menyakitkan dengan terjatuh lima kali. Dan aku tidak sekuat itu. Sebaliknya, jika berhasil  mendapatkannya, rasanya seperti mendapat kejutan yang menyenangkan, kan?

Sekali lagi, aku bukan orang yang bermindset negatif. Aku punya alasan di balik itu.



Senin, November 24, 2014

Maybe

Source : Pinterest

Setelah sekian lama, aku sadar bahwa ada cangkang yang menutupku erat. Itulah mengapa aku sering mati rasa, itulah sebabnya aku hatiku sedingin batu padahal seharusnya aku terpengaruh. Bukannya itu buruk, orang lain yang mengalami hal yang sama denganku kebanyakan bernasib lebih buruk lagi. Aku mungkin masih menjalani hari demi hari dalam kepahitan, kesedihan, kekecewaan, dan beragam. Tapi, ada banyak hal yang ku temui dalam proses mengatasi semua itu. Mungkin memang aku tidak akan pernah menang. Mungkin aku akan selalu berpura-pura baik dan melarikan diri di kesempatan pertama, tapi aku tidak takut pada tantangan.

Mungkin saja kelak aku pergi tanpa memperoleh jawaban, tanpa pernah merasakan kebebasan. Mungkin hanya Tuhan saja satu-satunya tempatku menuntut apa yang perlu ku tuntut. Seperti itu saja. Aku sudah sadar bahwa tak ada seorangpun yang bisa ku persalahkan, karena bagaimanapun semuanya akan berbalik kepadaku. Aku tidak bisa bercerita tentang hal-hal yang sudah ku lewati tanpa dihakimi. Mereka bilang " Memaafkan akan membebaskan". Dalam cangkang ini, aku tidak mengerti apa itu maaf, aku hanya tahu bahwa aku sudah selamat sampai hari ini. Padahal, aku bisa mati kapanpun. Aku bisa saja mati karena tak mampu lagi menanggung sesuatu yang ku pikir tak pantas ku tanggung sendiri. Ternyata aku selamat sampai hari ini. Mungkin saja aku memang lebih kuat daripada yang ku pikir. 

Aku selalu menginginkan pembalasan. Aku seseorang yang naif, yang masih percaya pada konsep karma. Tapi aku lupa bahwa mungkin saja rasa sakitku adalah karmaku yang selalu berusaha menyakiti siapapun. Aku percaya bahwa Tuhan ada di pihakku, karena hanya Dia satu-satunya yang melihat jalan panjang yang ku lalui sampai di titik ini, kan? Tapi aku belajar bahwa banyak hal yang kuinginkan tapi tidak bisa ku dapatkan, maka aku mulai mengambil satu-satunya pilihan : Merelakan. 

Setidaknya aku sudah mencoba...

Sabtu, November 22, 2014

Escaping


Kalau dibilang bahwa mahasiswa tingkat akhir itu sibuknya minta ampun...entah kenapa kok nggak berlaku buatku. Justru aku punya begitu banyak waktu luang sekarang. Padahal aku sementara bimbingan proposal, tapi ternyata dengan kegiatan itu pun, beserta koreksi-koreksiannya tidak makan waktu banyak. Aku heran mengapa kok teman-temanku kelihatannya sama sekali nggak bisa beraktivitas lain saat sedang skripsi.

Jadi, akhir-akhir ini aku semakin tenggelam di dunia fiksi. Novel, anime, film, dan manga.

Aku merasa semakin hilang di dunia itu. Saat sedang diam, atau melaksanakan sesuatu yang monoton, misalnya sedang naik kendaraan, pikiranku menguasaiku sedemikian rupa hingga beberapa kali hampir saja celaka. aku memang seorang pengkhayal. Namun, semakin lama rasanya semakin sulit untuk tetap berpegangan pada realita. Ketika sedang baca manga atau nonton anime, selalu ada rasa hampa dan sedikit sakit, seperti sangat menginginkan sesuatu namun tahu bahwa tidak mungkin terjadi. Ah, aku ingin merasakan hidup seperti dalam fiksi. Semakin hari kenyataanku semakin sedikit, dan imajinasi serta hal-hal yang tidak nyata bertambah jelas dan kuat.

Mungkin karena aktivitas menulisku yang berkurang drastis sehingga aku tidak bisa mengeluarkan apapun yang ada dalam sistem pikiranku. Entah mengapa menulis semakin sulit akhir-akhir ini. Banyak yang ingin ku utarakan, namun aku tidak bisa menemukan kata-katanya. Rasanya seperti gagap bicara, seluruh diri berusaha sekuat tenaga mengeluarkan kata, namun mulut tidak bisa mengucapkannya ( Percayalah, aku tahu rasanya gagap).

Banyak yang ku takuti di dunia ini. Banyak juga hal yang ku inginkan disini. Apakah baik jika aku menyerah saja dari hidup dan sepenuhnya pasrah pada apa yang dulu pernah menyelamatkanku? Apa tak apa kalau ku lepas pikiran dari tubuhku, membiarkannya berkelana bebas untuk menemukan jawaban-jawaban? Tubuhku ini besar, namun terasa sesak untuk berpikir. Tubuhku tidak didesain untuk ini. Aktivitas fisikku sangat kurang, karena aku benci mengeluarkan tenaga. Namun, pikiranku agresif dan tidak pernah diam. Menyiksa sekali.


Ah...

Minggu, November 09, 2014

Private Place

Jika yang diinginkan orang-orang seusiaku adalah menjelajah dunia sejauh-jauhnya, mencari pengalaman sebanya mungkin, atau bertemu dengan bermacam-macam orang selagi  masih sempat...

Maka yang ku inginkan hanyalah tempat pribadi yang tenang, sepi, ditemani benda-benda yang membuatku tenang ; novel-novel, laptop, kopi, musik, dan mungkin beberapa camilan kecil. Hanya itu saja.

Jiwaku adalah jiwa tua yang bersemayam dalam tubuh muda
Aku lelah..

Please people, include my family...
Don't interfere me...


Rabu, Oktober 22, 2014

Fall

Source : Pinterest

Semakin lama aku semakin tidak bisa menahannya
Rasanya seperti menyimpan bom waktu aktif di dalam diriku, siap meledak kapan saja.
Aku sudah tak mampu.
Aku lelah dan letih.
Aku tidak mau membawa-bawa ini lagi.
Tak lama lagi, aku pasti akan mencari cara lain untuk mengalihkan rasa sakit ini.
Aku ingin terbebas dan terselamatkan.

Memangnya apa salahku sampai harus mengalami semua itu?
Aku tidak jahat
Bahkan aku tak mampu membunuh binatang sekecil apapun
Bahkan aku merasa kasihan pada benda-benda elektronik yang sering bekerja nonstop.

Aku hanya bertemu dengan nasib buruk di tempat buruk di waktu yang terlalu cepat.
Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa mengenai itu.
Jadi apakah akan tetap jadi salahku bila aku memilih menyerah saja??

Sabtu, Oktober 04, 2014

No Return


Source : Pinterest

Entahlah… memangnya siapa yang ku bohongi?
Aku tidak akan pernah menjadi sempurna.
Diriku sudah berantakan bahkan sebelum mulai berbentuk
Layu sebelum berkembang
Mati bahkan ketika baru berusaha hidup

Ku pikir aku bisa melaluinya
Jalan putih yang ku harap juga memutihkan diriku pada akhirnya
Membuang semua noda warna gelap dari tubuhku
Tapi, tentu saja tidak bisa kan?
Semua itu hanya ilusi

Apa yang ku coba ingkari? Ku berpura buta?
Tidak ada yang berubah
Bahkan jika aku menolak, jika aku membayarnya dengan nyawaku…
Gelap itu tetap akan berpatri padaku
Karena itu sudah digariskan, kan?
Dan aku tidak bisa melakukan apapun.

Hanya ingin melupakannya, tapi tidak akan bisa.
Akan terus menempel pada keberadaanku, hilang kalau aku juga menghilang
Siapa yang ku coba bodohi?
Diriku sendiri.

Tak ada tempat terang yang menungguku dimanapun
Aku boleh saja berdarah-darah mencarinya
Tapi tidak akan mendapatkannya
Sesuatu yang semurni itu, sama seperti semua hal yang begitu baik dengan caranya, tak akan bisa ku gapai dengan tanganku.
Akan selalu lepas dari antara jemariku

Apa yang tersisa dariku hanyalah kehancuran, kekacauan, salah, dan bengkok
Sudah terlalu rusak, tak mungkin diperbaiki.
Dan aku harus terus menanggungnya seumur hidupku.

Jika Tuhan memberikan hukuman untuk menghapus dosa
Maka hukumanku telah ditetapkan sebelum dosaku terukir dari tanganku
Dan itu menjelaskan banyak hal, sungguh

Aku tidak akan pernah menjadi sempurna
Dan karenanya aku tidak ditakdirkan untuk menyempurnakan orang lain
Jadi, siapa sih yang ingin ku tipu?


Senin, September 29, 2014

Before You Decide To Give Up


Source : Pinterest
Before you decide to give up, please think about :
  1. The books and mangas you want to read, and your goal to collect all of them
  2. The favorite or new animes and movies you want to watch
  3. The beautiful places around this world and your wish to visit them
  4. The clothes, accessories, handmade, and creativity you want to make and show it to the world
  5. The big personal library, full of books, that you want to build
  6. The story you want to tell to people, pull them into wonderful world of yours. The novels, articles, poems, reviews, and other great words  and incredible perspective of your beautiful mind. 
  7. The languages that you want to learn
  8. The challenging games you want to try
  9. Kutubussittah, nahwu shorof, qiro’at, and other religion knowledges you want to look for and spread it to make a better service for your creator
  10. The high-tech gadgets you want to have on your own
  11. The songs and musics you wanna write and sing it to people
  12. The delicious foods, freshing drinks, good snacks that you wanna try to eat.
  13. The people you want to save, you want to pull out of their darkness. 
  14. Your deepest hope to inspire others.
  15. All your big passions that you write down on your heart, still waiting for you to make it.
Source : Pinterest

See ? still so many reasons for you to give up now.
It doesn’t matter if your life feels like hell at all. It doesn’t matter if you fall down on the ground, surrounded by sadness and emptiness. All you need is stand up again and again in every single once. Stay strong ! Stay Alive ? Stay Happy ! See you in future, in the finish line.


Minggu, September 14, 2014

Nothing

Source : Pinterest

Long days which i can't feel anything
And i am not sad, or happy either
I am nothing, just like a freezing ice
A walking stone figure
I used to think that it's better than swing emotions
Where i am dead in dark river, while flying so high among Bimasakti
But, it's not true.
Can't feel something is more horrible
Coz it means there's no different beetwen me as a human and me as a, yeah, stone figure
And this point, where i stand in a pause too long
I start to think " What's wrong ??"


Kamis, September 11, 2014

New Gate

Source : Pinterest

Ada rasa takut yang tak dapat dijelaskan setiap kali memikirkan tentang pernikahan.

Seorang kolega yang sudah berstatus sebagai seorang ibu, usianya tiga tahun di atas saya, mengomentari pernyataan ketakutan saya ketika kami membicarakan tentang pernikahan. 

" Apa sih yang ditakutkan, mbak ?"

Saya terdiam sejenak. Mencoba menemukan kata-kata sederhana yang cukup logis untuk orang "biasa" seperti dia. Mencoba menyusun alasan masuk akal yang biasanya diungkapkan orang-orang atas pertanyaan seperti ini.

Saya akhirnya menjawab," Aneh aja rasanya, mbak. Lebih enak sendiri. Sudah terbiasa. Kalo udah nikah kan jadinya terikat gitu, kurang bebas,"

Kolega saya itu menanggapi dengan senyum yang di mata saya terlihat berusaha memahami," Ya nggak juga sih, mbak. Belum terbiasa aja kok. Nanti kalo udah kan nggak takut lagi. Saya kira mbak takutnya seperti saya dulu. Takut tidur sama-sama dan bla bla bla,"

Saya tahu gerbang itu akan mendatangi saya cepat atau lambat. Selama ini, saya sudah berhasil menghindarinya dengan status umur dan status mahasiswa saya. Berlindung di balik alasan " belum siap " yang cukup mudah dimaklumi melihat keadaan saya.

Tapi, setelah saya menjadi sarjana dan bisa menghidupi diri sendiri, saya tidak yakin ada alasan yang cukup benar lagi. Apalagi saya anak pertama. Dan adik-adik saya perempuan semua. Saya juga ingin mengabulkan keinginan tersembunyi Ayah saya untuk menggendong seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang pernah nyaris dimilikinya. Dan mereka lenyap karena keberadaan saya.

Masalahnya, saya begitu takut dan panik.

Apakah ada laki-laki yang bisa menerima keadaan saya ? Kondisi saya ? Ketidaksempurnaan saya ? Masa lalu saya ? Kegelapan & rahasia-rahasia gelap saya ? Apakah laki-laki itu bisa mencintai saya seperti jika saya menyerahkan cinta saya pada seseorang ?

Lucunya, saat ini saya sudah mulai memikirkan perceraian dan perpisahan. Padahal ketemu calon suami saja belum. Saya sudah membayangkan apa yang terjadi jika semuanya tidak berjalan sesuai keinginan. Jika pernikahan tidak bisa menyelamatkan saya.

Kehancuran.

Source : Pinterest

Saya punya penyakit insecure berlebihan atas perlindungan diri. Saya sangat sensitif bila ada orang lain menyakiti saya, akan saya balas tidak peduli siapa itu. Sesuatu yang membuat saya sering dicap sebagai cewek kasar dan tidak tahu sopan santun. Sesuatu yang membuat keluarga saya sekarang memilih jarak aman dari saya. Sesuatu yang membuat orang-orang cukup pintar untuk menempatkan saya di luar daftar orang favorit mereka. Hal yang tidak pernah sedikitpun saya sesali, sungguh. 

Tapi, akan jadi beda ceritanya kalau saya melakukan itu pada suami saya kelak. Bertentangan dengan semua kesinisan saya, sebenarnya saya berusaha percaya bahwa pernikahan adalah jalan terakhir yang tersisa bagi saya untuk menemukan kebahagiaan. Menemukan seseorang. Menemukan keluarga yang saya harapkan. Untuk membagi sedikit beban saya tanpa takut dihakimi, menguatkan saya untuk menghadapi setan-setan dari masa lalu. Sesuatu yang saya tahu tidak akan sanggup saya hadapi sendiri, tak peduli seberapa kuatnya saya. Dan yang paling penting, saya butuh alasan nyata untuk menjalani hidup.

Dan bagaimana jika saya tidak bisa mendapatkan semua itu kelak ? Bagaimana jika pernikahan justru akan semakin menghancurkan saya sementara saya beranggapan bahwa gerbang pernikahan adalah kesakralan satu arah yang tidak punya jalan mundur ? Saya banyak melihat kisah-kisah kehidupan berumah tangga di sekeliling saya, termasuk rumah tangga orang tua saya. Dan dari semuanya, saya belum dapat menemukan sesuatu yang bisa membuat saya lebih berani menghadapi pernikahan.

Saya ingin pasangan hidup saya kelak bisa menyelamatkan diri saya.

Dan oh, Tuhan. Lelaki waras mana yang mau menerima beban berat itu dengan sukarela sementara begitu banyak gadis-gadis lain yang lebih cantik dan lebih tidak merepotkan. Gadis-gadis yang patuh, tidak neko-neko, tidak punya rahasia gelap, keinginan-keinginan aneh, lugu, manja, dan bersedia menjalani peran sebagai objek halal pemuas nafsu dan mesin penghasil keturunan asalkan mereka bisa menyandang status sebagai istri seseorang.


Jumat, Agustus 01, 2014

Agoraphobia

Source : MangaFox

Kemungkinan besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, aku akan jadi seorang pengidap agoraphobia-phobia keluar rumah. Setelah bipolar disorder, PTSD, perfeksionis, anti sosial, dan kini agoraphobia. Hebat, benar-benar hebat. Masa depan yang cerah ceria benar-benar menungguku di depan sana.

Emosiku lebih kerdil daripada anak umur sepuluh tahun. Begitu banyak hal yang bisa dengan mudah melukaiku. Membuatku trauma, menjadikanku phobia, menanamkan ketakutan padaku. Setelah kejadian shubuh tadi, aku semakin menyadari bahwa betapa sedikitnya hal yang dapat ku kendalikan, terlalu sedikit sesuatu yang bisa ku atur, ku jalankan sesuai kehendakku. Kebanyakan berlalu melewatiku, tanpa sedikit pun melihat ke arahku. Aku tidak bisa. aku tidak akan bisa lagi melewati kejadian seperti itu. Aku tidak bisa tiba-tiba harus memikul tanggung jawab sebesar itu di pundakku, memikul nasib orang lain yang bahkan tak ada sangkut pautnya dengan dunia kecilku.

Seharian ini aku keluar rumah hanya ke masjid untuk sholat. Dan setiap kali melangkah keluar, bahkan memikirkannya saja, sudah membuatku panik dan ketakutan. Aku mengintip keluar dari jendela rumahku, memastikan tak ada orang yang bisa mempengaruhi emosiku. Aku berjalan cepat, lalu kembali pulang dengan cepat juga. Berkeringat dingin, nafasku tak teratur, dadaku sesak, kakiku gemetaran, pikiranku dipenuhi ilusi tentang penghakiman dalam tatapan mata orang lain. Hatiku dipenuhi rasa takut dan kepanikan, ingin menangis, rasanya tanah akan sewaktu-waktu terbelah di bawah kakiku lalu menenggelamkanku ke lubang gelap tanpa dasar, udara memampat di organ pernafasanku, dan langit mengancam akan runtuh setiap waktu.

Source : MangaFox

Aku takut. Takut sekali.

Aku tidak tahu bagaimana harus melewati semua ini. Lebih baik aku di dalam rumah sini saja, aman dan nyaman di dalam kamar kecilku, dikelilingi oleh semua hal yang ku cintai, segala sesuatu yang lebih bisa ku tangani. Ada keluargaku disini, animeku, buku-bukuku, kasurku, kipas anginku, dan….perasaan aman dan nyaman ini. Tak ada lagi yang ku butuhkan. Aku tidak mau keluar rumah. Terlalu banyak hal menakutkan di luar sana. Aku sama sekali tidak bisa meramal masa depan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padaku saat selanjutnya aku berada di luar ? atau selanjutnya lagi ?

Dan siapa yang bisa menjamin bahwa orang-orang di luar sana tidak menghakimiku setiap kali melihatku ? melihat arah dan jalan yang ku tuju ? siapa yang bisa melindungiku dari mereka ? siapa yang bisa membelaku dan berdiri di depanku, ketika aku telah putus asa dan kehilangan kata, saat seluruh dunia mencibir dan memandang rendah alasan-alasanku ?? Siapa ???

___________________________________________________________________________
Catatan tambahan ini ditulis beberapa jam kemudian  dari tulisan di atas, saat aku sudah mulai tenang.

Aku akan menceritakan kisahku tadi pagi. Kisah yang membuatku masuk dalam antrean sebagai calon pengidap agrophobia.

Jadi, aku punya tetangga yang rumahnya depan rumah, untuk menghormati privasi beliau dan privasiku sendiri di dunia nyata [ siapa tahu aja ada orang dari dunia nyataku yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca postingan ini ], sebut saja namanya Mr. D.

Sudah sejak aku KKN kurang lebih dua bulan lalu, beliau ini mendadak jatuh sakit. Komplikasi penyakit dalam yang banyak banget. Jantung, ginjal, darah rendah, dll entah apalagi. Beliau ini kebetulan seorang yang terpandang di lingkunganku, karena beliau adalah seorang ulama besar. Tidak ada orang yang tidak kenal. Sakitnya ini parah banget. Kalo pas kambuh bisa pingsan tiba-tiba, dan...ah entah apalagi.

Fajar tadi, saat aku akan berangkat sholat shubuh ke mesjid, kebetulan aku bersua dengan dia. Karena rumah kami berhadapan, tentu sering sekali kami kebetulan bertemu dalam perjalanan ke mesjid. Masalahnya, saat melihatnya tadi pagi, perasaanku tiba-tiba tidak enak. Tapi mau balik ke rumah, sudah kepalang tanggung. Apalagi beliau sepat melihatku, kelihatan sekali nanti kalau aku menghindar. Beliau berjalan di depanku.

Dan beberapa detik dan beberapa alangkah kemudian, firasat burukku menjadi kenyataan. Tiba-tiba dia melambat dan menepi di pinggir jalan, lalau terbatuk-batuk dengan keras. Aku berjalan mendahuluinya, dengan khawatir menengok ke belakang padanya karena dia juga mulai muntah-muntah. 

Dan...

Belum sempat aku mencerna kejadian itu, tiba-tiba beliau tumbang. Jatuh ke jalan sambil kejang-kejang dan tangannya kayak orang kambuh stroke gitu.

Refleks aku langsung menghampirinya. Berteriak-teriak memanggil namanya. Lalu aku berteriak meminta tolong. Di mesjid, orang-orang sedang sholat shubuh, sudah di pertengahan sujud rakaat pertama. Tidak ada orang lain di sekelilingku. Hari masih begitu gelap. Beliau masih kejang-kejang. Aku ragu antara mau memegangnya atau tidak, mau membantunya duduk atau apalah tapi takut kekuatanku tidak sanggup menahan tubuh beliau. Takut setengah mati kalau beliau kenapa-kenapa karena jujur saja, aku paling nggak bisa menangani hal seperti ini.

Lalu, dengan seketika ku putuskan untuk ke rumah beliau mencari bantuan dari anggota keluarganya. Jaraknya tidak jauh kok, tidak sampai 50 meter dari rumah kami. Aku berdo'a setengah mati supaya masih ada orang di rumah beliau.

Lalu ku gedor-gedor pintu rumah beliau yang baru, mengkilap oleh pernis, dan tebal itu. Aku berteriak-teriak di depan rumahnya, sambil memukul-mukul seperti orang kehabisan akal. Beberapa saat berlalu, tidak ada yang keluar rumahnya. Karena khawatir dengan keadaan Mr. D yang terbaring di tengah jalan tanpa ada yang menunggui, aku memutuskan akan mencoba memapahnya sendirian saja. Begitu sampai di ujung halaman rumah Mr. D dan melihat ke jalanan tempat beliau terbaring tadi, ternyata beliau sudah berdiri lagi dan berjalan ke arah mesjid. Karena sudah tak ada lagi yang dapat ku lakukan, wong orang rumahnya aja tetep nggak ada yang keluar, aku menyusul beliau ke mesjid. Mr. D berjalan tertatih-tatih sambil masih terbatuk-batuk hebat. Bahhkan beliau sempat berhenti sebentar sambil bersandar di tiang masjid. Aku menatapnya khawatir. Tapi beliau lalu masuk dan sholat shubuh berjama'ah. 

Begitu sholat selesai, ternyata di belakangku ada anak perempuannya yang terlambat sholat. Aku memanggilnya dan menceritakan kejadian tersebut. Dia membenarkan memang mendengar suaraku, tapi saat dia membuka pintu, ternyata aku sudah pergi. Sedang Mr. D sendiri, begitu selesai sholat langsung berbaring di lantai masjid.

Masalahnya, aku mendengar cerita dari adikku yang teman akrab anak perempuan Mr. D itu. Saat ditanya anak perempuannya : " Pak, kenapa tadi ?,", Mr. D menjawab : " Iya, tadi saya sempat pingsan sebentar. Eh, saya kira Nf [ Nama panggilanku di rumah ] mau nolongin, ternyata malah lari pulang,". Anaknya menjelaskan bahwa aku lari itu minta pertolongan ke rumah mereka.

Begitu ku tanya ibuku, apa yang akan dilakukannya ketika berada di posisiku, ibuku menjawab bahwa dia mungkin juga akan berteriak-teriak histeris sepertiku. Sedang adik perempuanku bilang, kalau itu dirinya, dia akan langsung memeganginya dan membantunya duduk atau berdiri. Perkataan Mr. D diatas, sepertinya menyiratkan bahwa beliau menyesali keputusanku meninggalkannya di tempat itu.

Dan sampai maghrib tadi keadaan beliau belum juga membaik. Ayah dan ibuku yang menjenguk mengatakan bahwa Mr. D bilang " Yah, kalau dalam keadaan darurat nggak apa-apa [ maksudnya memegangi dia ],"

Dan sepanjang hari ini aku tertekan oleh perasaan bersalah. Apa aku tadi melakukan hal yang benar dengan meninggalkan beliau di jalan, lalu lari ke rumahnya, alih-alih menolongnya dan menunggu pertolongan ? Kalau iya, bagaimana kalau tadi beliau tidak langsung sadar, tapi justru malah tambah parah dan orang-orang yang mungkin akan datang setelahnya, menyalahkanku karena tidak segera memanggil bantuan ? Bagaimana kalau tadi beliau kenapa-kenapa ? 

Dan aku merasa, sepanjang hari ini, orang-orang menatapku dengan pandangan penghakiman. Mungkin aku saja yang terlalu parno. Karena kenyataannya yang tahu kejadian pagi tadi mungkin cuma keluarga Mr. D dan keluargaku. Entahlah. 

Apa yang harus ku lakukan ? Yang mana yang benar sebenarnya ? Memangnya apa yang bisa ku lakukan dalam situasi seperti itu ? Apa yang akan dilakukan orang lain ? Perempuan lain ? Dalam posisi yang sama ? Apakah keputusanku bijaksana ? Apakah jalan yang ku ambil itu mempengaruhi nasibku dan keadaan Mr. D ? 
Source : MangaFox

Selasa, Juni 03, 2014

Z...Z...Z...Z...

Last night was one of those sleepless night.

Source : Pinterest

Malam tak dapat terlelap. 

Mengingat-ingat kembali tentang penyakit insomniaku ini, sepertinya bermula dari aku kelas 3 SMA. Saat itu, aku sudah pindah tempat tinggal dari pondok ke kos yang lebih ringan peraturan-peraturannya, termasuk soal jam tidur. Sehingga tidak ada paksaan mau tidur jam berapa pun. Ada satu malam yang paling ku ingat ketika menjelang try out dimana aku dipenuhi energi dan adrenalin yang luar biasa di tengah malam. Sehingga aku memutuskan mengambil buku cetak Geografi mulai dari kelas satu sampai kelas tiga dan membacanya semalam suntuk. 6 buku dan semuanya ku lahap habis. Hasilnya memuaskan. Karena besoknya memang dijadwalkan untuk try out Geografi, maka aku berhasil mendapat nilai try out tertinggi di sekolah.

Dan, semakin dipikir, memang kira-kira saat-saat itulah aku sering tak dapat tidur semalaman. Meski aku tak dapat mengingat satu persatu kejadian itu, apakah memang mataku yang tak dapat terpejam atau karena energi dan ide yang  melimpah ruah butuh penyaluran.

Aku yang sekarang tahu kalau di waktu-waktu itulah aku mengalami Manic. Memang tidak sesering sekarang.

Source : Pinterest

Belum lama berselang, waktu-waktu insomnia menjadi waktu yang cukup menakutkan bagiku. Itu ketika aku belum memiliki laptop atau novel-novel koleksi. Aku dari kecil suka sekali membaca, tapi dulu yang ku koleksi hanyalah komik yang jumlah halamannya sedikit serta singkat sekali waktu menamatkan membacanya. Jadi, aku menghabiskan malam-malam itu dengan menonton film Hollywood di televisi. Waktu itu, kalau sudah jam 10 malam, maka hampir semua stasiun televisi swasta akan menayangkan film barat.

Sleepless night used to be a scary time.

Aku takut gelap. Mengerikan rasanya menyadari bahwa hanya kita sendiri yang bergerak, bernafas, dan berfikir di luasnya ruangan. Mendadak semuanya jadi terasa mencekam, perasaan parno seperti sedang diawasi pun mulai muncul. Kadang, karena tak kuat dengan perasaan takut itu, aku memilih mematikan televisi lalu berbaring di tempat tidurku. Membolak-balikkan tubuh sebanyak aku berani, memikirkan masa-masa lalu dan masa depan, menunggu kantuk menyerang. Kadang aku membersihkan kamar atau bahkan berkreasi membuat kerajinan tangan.

Sekarang, semuanya terasa lebih ringan. Laptop tersedia, dan di dalamnya aku punya banyak hal yang ku sukai. Novel-novel atau komik elektronik, anime-anime dan film favorit, lagu-lagu, tulisan-tulisan, gambar-gambar desain, internet, dan banyak lagi. Novel-novel fisik juga sudah lumayan banyak. Jadi, aku bisa melewati malam dengan cukup sibuk. Akhir-akhir ini aku lagi suka sama novel-novelnya Dan Brown yang semuanya tebalnya lebih dari 600 halaman. Di hari-hari biasa, aku tidak akan punya konsentrasi dan ketenangan yang cukup untuk menamatkan novel-novel tersebut. Tapi, berkat insomnia, aku sudah berhasil menyelesaikan membaca kelima novel pertama beliau. Yang terakhir ku baca itu tadi malam, yang judulnya Deception Point. Aku membaca dari halaman yang terakhir kubaca yaitu 121 hingga tamat.

Source : Pinterest

Terkadang, saat Manic menyerang namun tubuhku terlalu lelah untuk menuruti pikiranku supaya tetap terjaga, aku memaksakannya untuk tidur juga. Dan hasilnya tidak baik. Aku jadi mengalami halusinasi menakutkan tentang kematian dan hari kiamat. Yang membuat tubuhku bergetar ketakutan hingga aku harus keluar dari kamar untuk melihat wajah-wajah tidur adik-adikku di kamarnya masing-masing. Hal itu membuatku kapok untuk memaksakan diri tidur sementara pikiran jelas-jelas punya keinginannya sendiri.

Yang buruk adalah, hariku setelah malam tanpa tidur. Aku jadi bad mood, sakit kepala, sulit konsentrasi, jantung berdebar-debar, mengantuk luar biasa, mudah marah, malas, sensitif, dll. Terutama bila malamnya sempat mengkonsumsi kopi. Itu benar-benar mengganggu keseharianku apalagi kalau aku harus sibuk menyelesaikan sesuatu di siang harinya.

Seperti sekarang. Sebenarnya senin kemarin adalah targetku untuk bimbingan proposal pertama kalinya. Namun, karena pengaruh insomnia itulah, perasaanku sekarang jadi tidak enak dan inginnya tidur saja.

Hooaaahhhmmmm...



Senin, Mei 19, 2014

Slepless

Source : Pinterest

Sudah dua hari terakhir, siklus tidurku terganggu.
Aku pikir ini karena Manic.
Pikiranku melompat kesana kemari, pun bicaraku tak terkendali.

Kemarin malam, tak sedetik pun mataku memicing. Semalam juga terancam tak tidur, namun aku memaksa pikiran dan mataku untuk tidur karena ada masalah studi mendesak yang arus ku selesaikan di kampus hari ini. Itupun setelah terbangun beberapa kali karena halusinasi mengerikan. 

Sekarang aku ngantuk.
Namun tak ingin tidur.

Perut, dada, dan kepalaku terasa tidak nyaman.
Inilah efek begadang bagiku, terutama jika dikombinasikan dengan kopi.
Ugh..

Selasa, Februari 11, 2014

An Antisocial Being

Iya, kok. Aku ngaku. Aku emang orang lemah. 

Source : Pinterest


Aku nggak begitu suka orang lain. Aku nggak mau tingkah mereka menyakitiku, menyinggungku, baik secara sadar maupun nggak sadar. Aku benci rasa sakit ! Seakan rasa sakitku sendiri saja belum cukup, masa' mau membiarkan diri disakiti orang lain ?

Iya. Aku gampang sakit hati. Mudah marah, egois, perfeksionis, kasar, dan paling anti disakiti.


Karena itu, aku memilih berpaling dan menjauh dari orang lain. Mungkin saja tidak ada yang salah dengan mereka. Toh, tak ada manusia yang sempurna. Semua pasti punya kekurangan dan kelemahan.

Tapi, aku tak sekuat itu untuk menghadapi dan berdamai dengan kekurangan itu. Akulah yang mendorong orang lain pergi dariku, atau menarik diri sehingga otomatis mereka perlahan menjauh. 

Source : MangaFox's Facebook

Sebenarnya, apa definisi sebenarnya dari kekuatan ? Apakah dikatakan kuat karena mampu mengangkat beban yang berat ? Mampu melakukan sesuatu yang tak sanggup dilakukan orang lain dengan " gaya tubuh " sendiri ?

Ada yang bilang orang yang kuat adalah mereka yang mampu menahan amarah padahal mereka bisa untuk melampiaskannya.

Aku tidak menyangkal bahwa orang-orang yang senang bergaul di luar sana [ apa ya istilahnya ? Sosialita ? ] juga adalah orang yang kuat. Kenapa ? Karena mereka mampu untuk menghadapi kelemahan dan tingkah beragam orang lain. Menganggapnya suatu hal yang biasa, lalu tetap hidup dan beraktivitas seperti tak ada yang terjadi. 

Sedangkan orang sepertiku, yang anti sosial ?

Karena merasa tidak sanggup menghadapi rasa sakit dan penghakiman dari orang lain, aku malah memilih mundur dari lingkaran sosial. Sebisa mungkin menghindari segala macam bentuk hubungan antar manusia, bertingkah menyedihkan dengan berusaha menyelesaikan semua hal sendirian, karena tidak mau orang lain turut campur yang malah akan mengacaukan segalanya.

Dan yang paling menyedihkan, aku sangat nyaman dengan diriku yang seperti ini. 

Entah kenapa, rasaku tak terusik sedikitpun melihat orang-orang di sekelilingku melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka anggap sebagai wujud " menikmati masa muda " yang tak jauh-jauh dari nongkrong, jalan-jalan, shopping, mejeng, wisata kuliner ke tempat-tempat makan baru, menjajaki hubungan dengan lawan jenis, membentuk geng, berkenalan dengan orang-orang tak dikenal dari tempat antah berantah lewat beragam jejaring sosial, berburu gadget dan kendaraan terbaru, dan lain sebagainya. Aku tak tahu mengerti mengapa aku tak menginginkan semua itu.

Aku tak tahu mengapa aku lebih suka diam di rumah, keluar hanya kalau benar-benar perlu, tujuan  jalan-jalan  terbanyak adalah toko buku dan toko kain, menyalurkan segala macam rasa lewat tulisan, tak merasa butuh dengan segala rupa gadget terbaru, mayoritas waktu luang dihabiskan di jagat maya, punya hobi-hobi yang nggak biasa, kesana kemari sendirian, berpakaian sesuai keinginan dan standar mode pribadi, dan teman sejatinya adalah buku dan internet.

Itu salah, tentu saja. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang dimaksudkan untuk hidup dengan saling mengsisi satu sama lain. Tak bisa hidup sendirian selamanya, bagaimanapun, suatu saat butuh manusia lain untuk, yah, setidaknya mengantarkan dan mengurus tubuh yang tak bernyawa ke rumah yang abadi.



Tapi, bukankah juga bisa dikatakan kuat orang yang percaya pada dirinya sendiri, tak menggantungkan diri pada pikiran, pendapat, dan penghakiman orang lain, serta dapat melakukan segala hal sendirian ?

Hamba aneh,

Selasa, Januari 21, 2014

The Scariest Part..

Kau tahu apa yang paling menakutkan dari kegelapan jurang ini ?

Perasaan bahwa semuanya ini tak akan pernah ada akhirnya.
Selamanya terus hidup dalam warna ini. Bangkit sedikit demi sedikit hanya untuk jatuh lagi dengan lebih mneyakitkan ketimbang sebelum-sebelumnya.
Tak ada jalan keluar atau untuk berbelok arah.
Dimana-mana hanyalah kebuntuan
Dan sinar mentari dari dunia yang nyata tak dapat menembus menerangi labirin gelap tak berujung ini

Jatuh tertelungkup, berjuang untuk bernafas.
Tertinggalkan waktu
Mati-matian menggapai cahaya ilusi yang disebut kebahagiaan

Selamanya begitu
Dan tak pernah ada orang yang datang menyelamatkan.


Source : Pinterest