Tampilkan postingan dengan label Daily Sand Bag. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily Sand Bag. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juni 19, 2015

The Me That I Hate

Source: Pinterest

Aku…kembali lagi menjadi diriku yang lama. Diri yang penuh kemarahan, penuh frustasi, selalu bergejolak dengan emosi dan kebencian yang terlalu tinggi untuk ku tanggung.

Tak perlu dikatakan, bahwa aku sangat tak menyukai sisi diriku yang ini.

Aku begitu lemah, mudah sekali diriku terpengaruh oleh keadaan sekitar, terseret oleh permainan orang-orang yang tak layak bahkan untuk ku pandang saja. Dan akibatnya, kelemahanku ini membuatku menyakiti orang-orang terdekatku. Keluargaku, orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku ; kedua orang tuaku yang beranjak tua dan sakit-sakitan, yang seharusnya sangat tak pantas untuk ku ricuhkan dengan emosi tak terkontrolku ini. Siapa yang tahu berapa lama lagi waktu tinggal mereka di sisiku? Juga adik-adikku, yang belakangan baru ku sadari bahwa mereka memahamiku lebih daripada yang ku pikir. Mereka memang tidak tahu pasti rasa sakit yang ku hadapi, tapi mereka mengerti, dan dengan cara mereka sendiri berusaha menghibur dan menarikku ke tempat terang… Karena kelemahanku ini mereka sering memilih menjauh, takut pada gelombang badaiku yang sering tak terprediksi. Bisa ku lihat rasa takut itu di mata mereka. Saat mereka bicara padaku dengan sangat berhati-hati dan tak menatap mataku karena tak berdaya. Aku benci…Aku membenci diriku yang tidak mampu mengatasi hidup, tidak mampu menghela diriku sendiri agar tidak terpisah dari orang lain. Bagaimana caranya agar aku bisa jadi kuat? Agar roda kehidupan tidak membuatku tersakiti dan balik menyakiti? Kenapa sisi diriku yang ini ku tunjukkan pada keluargaku?
Rasa sakit ini datang dan pergi, tapi tidak pernah benar-benar menghilang. Sumbernya selalu berganti rupa, beragam wujud sesuai dengan tempat yang ku pijak. Mengapa hanya kepedihan dan kemarahan yang ku lihat dengan mataku ini?

I really hate myself. Apalah gunanya aku punya otak cerdas, banyak bakat, dan banyak kemampuan bila pada akhirnya semua itu justru tak mampu membuatku menjalani hidup dengan bahagia? Kenapa aku ini lemah sekali?


Rabu, April 08, 2015

Am I A Bad Person?

Dua puluh tiga tahun lebih sudah cukup lama bagi seseorang untuk mengenal dirinya sendiri, apalagi aku, tipe orang introvert yang suka menyelami diri sendiri. Aku sadar terlalu banyak kelebihan yang Tuhan berikan kepadaku. Diantaranya; Aku cukup bisa menulis baik fiksi maupun karya ilmiah, mudah beradaptasi, mudah belajar, punya keingintahuan yang tinggi, cukup cerdas, punya selera musik yang bagus, punya hobi yang baik, dll. Terlalu banyak, sehingga sulit rasanya menghitung semua itu.

Jadi, yang ingin ku ketahui adalah...

"Am i a bad person for feeling this way? For wanting to die soon?"

Kalau dibilang aku selalu merasa tertekan dan putus asa karena aku ini tidak bersyukur, sudah jelas bukan itu masalahnya. Aku tidak pernah menuntut kepada Tuhan untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain, karena aku sudah tahu bahwa aku hebat dengan caraku sendiri, aku diberkahi dengan caraNya sendiri. 

Aku mungkin tidak memiliki apa yang dimiliki orang kebanyakan, tapi sungguh itu bukan masalah bagiku. Depresi, kemarahan, kekecewaan dan kepahitanku ini bukan datang dari penyesalan, bukan juga dari menginginkan. Mungkin memang jalan masa lalu yang ku lalui menjadikanku orang yang seperti sekarang ini, tapi sungguh tidak pernah terpikir untuk menginginkan kembali ke masa lalu dan merubah sesuatu. Meskipun masa laluku itu penuh rasa sakit dan kegelapan-kegelapan yang ku yakin akan membuat orang lain menjadi gila, bagiku semuanya sudah lewat. Ya, sudah pasti aku masih menangisinya, masih meratapi takdirku, tapi....aku tidak lagi menginginkan menjadi orang lain yang bebas dari semua ini. Ada juga satu dua hal yang masih ku mimpikan. Tapi intinya... aku bukan orang yang tak bersyukur.


Minggu, April 05, 2015

A Place

Lagi-lagi tidak dimengerti!!!
Lagi-lagi tidak didengarkan!!!

Aku menginginkannya..
Sebuah tempat yang dihuni oleh orang-orang,
Yang juga tidak dipahami pemikirannya
Yang juga merasa kesulitan terhubung dengan dunia ini
Yang disingkirkan karena berbeda keinginannya

Menginginkan...
Mereka yang mendengarkan ide-ideku
Yang tidak melengos padaku


Sebelum aku jadi gila di tempat yang penuh dengan orang-orang bodoh ini!!!


Minggu, Maret 29, 2015

Can The Lonely Take The Place of You

Kadang-kadang saya masih suka ngestalk fb dia, mantan terindah saya yang udah menempuh hidup baru itu. Kadang-kadang lho, nggak sering. Dua bulan sekali aja nggak mesti. Saya nggak ada niat buruk kok, udah kebiasaan soalnya ngestalk dia. Masih percaya nggak percaya. Sakit nggak sakit.

Berhubung sibuk sama skripsi, udah sekitar 3 bulan lupa nggak mampir ke fb  dia. Terakhir dapet kabar kalo istrinya udah hamil anak kembar. Pas main lagi ke fb dia dua hari lalu, ahh... ternyata udah ada tuh dua bayi kembar. Usianya udah hampir setahun. Cewek. Nama yang dia kasih keren, perpaduan nama modern dan nama arab. Imut banget. Dan... mata mereka itu mata bapaknya.

Senang rasanya.

Terus sedih.

Karena saya udah unfriend dia pas tahu dia udah nikah dulu, makanya saya cuma bisa liat kabar itu aja yang ada di timelinenya.

Saya kayak nggak sadar abis itu. Kayak robot. Suer saya sedih banget. Sedih buat diri saya sendiri yang susah banget move on. Itu dua hari lalu, dan sampe sekarang rasanya saya justru makin sedih. 

Dari hasil ngestalk kemarin itu, dapet juga info kalo dia menetap di dekat SMA kami dulu (Karena kebetulan rumahnya juga deket sekolah). Saya ada rencana mau ke Bandung mei nanti, insya alloh. Dan saya pengin mampir ke sekolah, siapa tahu bisa ketemu dia. Saya ingin liat dia pas momong anak kembarnya bareng pasangan hidup yang dipilihnya. Saya punya perasaan bahwa dengan begitu saya bisa benar-benar mengikhlaskan. Atau malah saya bakal makin terpuruk, ya?

Akhir-akhir ini kabar pernikahan teman-teman saya menyerbu dari segala penjuru. Tiap buka FB atau tiap gabung sama orang-orang, kayaknya selalu ada aja foto-foto pernikahan, atau kabar si ini mau ngelamar si itu. Dan semalam, salah satu sahabat karib saya, yang sudah bersama-sama dengan saya sejak SMA hingga kuliah sekarang ini, akhirnya juga menikah. Tadi ketemu sama bapak ibunya habis ijab qabul. Saya tambah sedih. Saya merasa tertekan. Kenapa orang-orang begitu cepat menikah? Karena sahabat karib saya ini sekarang lagi sama-sama dalam proses menyusun skripsi. Minggu lalu dia tak membalas SMS saya dan saya asumsikan dia sedang sibuk dengan urusan pernikahannya yang saya rasa tak akan bisa diganggu gugat hingga kira-kira sebulan setelah resepsi pernikahan. Padahal saya berencana ujian skripsi bulan depan dan seperti ujian proposal kemarin, saya ingin minta bantuan dia untuk membantu saya. Tapi saya rasa itu tidak mungkin sekarang. Saya juga tidak yakin bisa menemui sahabat saya dengan bebas di rumahnya seperti dulu, malahan saya tidak yakin dia tinggal dimana sekarang.

Sungguh saya tidak berpikiran picik. Saya bahagia untuk semua teman saya yang sudah menikah sementara saya masih terlalu takut untuk menuju arah itu. Memikirkannya saja saya tidak sanggup. 

Apapun alasan saya, saya tahu saya belum siap. Tapi terkadang saya merasa ditinggalkan. Sepanjang hidup saya, jalan yang saya miliki selalu berbeda dengan jalan teman-teman saya. Saya tidak bilang jalan saya itu buruk. Justru jalan hidup saya itu menakjubkan karena berbeda dari yang lain. Saya tidak mengeluh. Faktanya saya suka sendirian, orang lain membuat saya terkuras. Tapi, saya juga makhluk sosial yang terkadang, terkadang sekali, saya tidak ingin sendirian.

Saya begitu sedih. Setelah begitu lama tidak meledak, tadi malam tangis saya pecah di atas motor dalam perjalanan pulang yang membuat saya harus memutar kembali untuk menenangkan dan merapikan sisa tangisan saya karena tak ingin keluarga saya di rumah melihat kehancuran saya. Tidak perlu saya jabarkan semua perasaan saya semalam, yang jelas rasa sendirian adalah salah satunya.

Saya sibuk sekali akhir-akhir ini. Judul skripsi saya lolos seleksi di konferensi internasional dan saya harus buat full papernya tanggal 25 kemarin. Belum lagi skripsi saya. Saya hanya tidur sedikit minggu ini. Berpikir dan berpikir. Saya mendapati saya bisa melupakan segalanya kalau saya sedang sangat fokus. 

Pengalihan. Itulah tepatnya yang saya butuhkan. 

Saya membaca kata-kata mutiara yang bilang bahwa jika kamu sudah sibuk dengan pemenuhanmu sendiri, kamu tidak akan mencari pemenuhan dari orang lain.

Inilah jalan saya: saya selalu ingin membuat penelitian untuk forum internasional. Inilah kunci  pembuka jalan saya, dan masih banyak konferensi yang ingin saya ikuti. Inilah pemenuhan saya. Sehingga saya tidak perlu menggapai-gapai orang lain untuk bisa memenuhi kehampaan.

Tetap saja, saya sedih.. 

"Bila nanti esok hari, kau temukan dirimu bahagia. Izinkan aku titipkan kisah cinta kita, selamanya....." -Demi Cinta, Kerispatih"

"Dancing slowly in the empty room, can the lonely take the place of you, i sing my self a quiet lullaby, let you go and let the lonely in" -The Lonely by Christina Perri



Jumat, Februari 27, 2015

The Strongest Pole

Ini tentang keinginanku menjadi sukarelawan untuk menolong orang-orang yang mengidap mood disorders, korban pelecehan seksual, atau korban kekerasan anak.....

Source : Pinterest

Aku tidak akan bisa menyelamatkan orang lain jika aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Bertahan hidup saja tidak cukup. Aku harus memiliki harapan, yang mana itu adalah sesuatu yang begitu mewah bagiku sekarang. Sebelum aku membantu orang lain untuk merelakan, menerima, memaafkan, dan melupakan, aku harus bisa melakukannya terlebih dahulu. Tidak ada hal baik yang bisa ku berikan pada orang lain jika aku sendiri belum menemukan hal baik itu.

Terutama, aku belum punya cukup kekuatan untuk menciptakan tiang yang bisa ku pegang agar tidak terseret. Penderitaan dan kejadian orang lain akan sangat mempengaruhiku. Dan kecenderunganku untuk merasa bertanggungjawab atas berbagai macam hal, akan membuatku terseret arus gelap karena aku akan merasa tidak bisa menolong mereka. Ya. itu juga alasan mengapa saku memperkecil lingkunganku. Istilahnya, membatasi perimeter. Aku memilih siapa-siapa yang bisa terlibat denganku sehingga paling tidak aku memiliki kendali atas kejadian-kejadian yang mungkin saja terjadi. Dengan begitu, aku bisa menyaring informasi apa yang ku terima, menakarnya sesuai dengan kemampuanku. 

Contohnya, saat menonton berita saja, ketika melihat nasib orang lain yang begitu buruk, atau melihat orang-orang yang begitu jahat dan tidak ada yang bisa menghukum mereka, aku akan begitu marah. Aku putus asa dan mulai menyalahkan diriku kenapa tidak bisa berbuat sesuatu. Pada akhirnya semua berujung sama : Keputusasaan.

Jika aku terlibat dengan kejadian orang lain yang pasti kurang lebih banyak yang sama seperti kejadianku sementara aku belum tersembuhkan, pasti itu akan jadi pelatuk yang meledakkan peluru berisi rasa sakit. Malah, aku mungkin akan menyeret orang yang seharusnya ku tolong itu dalam jurang penderitaanku sendiri. Tidak ada yang akan terselamatkan.

Keinginanku begitu kuat. Aku tidak mau ada orang lain merasakan seperti yang ku rasakan. Rasa sakit dan amarah ini. Sendirian lagi. Aku tidak mau ada anak-anak korban pelecehan seksual, kekerasan, dan bullying yang hidup dengan melihat neraka di depan matanya. Aku tidak mau ada orang-orang terkucilkan yang dianggap gila dan aneh oleh lingkungannya hanya karena mereka mengidap sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka diabaikan karena orang lain tidak bisa menandingi mereka. Mereka diremehkan karena sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Padahal justru orang-orang inilah pejuang yang sesungguhnya, orang-orang brillian dengan ide-ide hebat dan kekuatan tak terlihat. Mereka inilah yang harus dijaga. 

Jadi, mungkin yang harus ku lakukan pertama kali saat ini adalah mencari bantuan profesional.


Kamis, Desember 25, 2014

For Now

Source : Pinterest

Semakin ku mengerti diriku, semakin besar rasa sakit dan pahit melumpuhkanku. Aku sudah tidak lagi punya kemampuan itu, untuk menemukan sosok yang bisa menemaniku. Pada saat ini, pikiran untuk bisa sampai di titik itu merupakan keistimewaan bagiku. Bisa seperti ini saja, tetap terhubung dengan realita meski terasa payah, sudah sangat ku syukuri.

Pada dasarnya, untukku yang sekarang ini, berada di waktu dan tempat ini, cukuplah bila aku bisa berada bersama orang yang tidak menyakitiku, sehingga aku tidak balas menyakiti kemudian berbalik pergi seperti selalunya. Sudah cukup untukku bila saat membuka mata, aku bisa merasakan kekuatan di seluruh syarafku untuk bangun dan menjalani hari seperti orang biasa. Seperti sebuah jiwa yang utuh dan muda. Cukuplah bila aku mampu melangkah walau pelan. Cukuplah bila cahaya hidupku masih mampu dirasakan orang lain. 

Karena tidak mungkin untuk kembali dan merubah apapun, aku hanya menginginkan agar aku dijadikan gadis yang kuat, yang bisa tetap tersenyum walau tubuhnya remuk oleh kepedihan. Seorang gadis yang hidup meski dia kehilangan hatinya.

Semoga.


Sabtu, Agustus 09, 2014

It's Better To Be Like This

Lebih mudah seperti ini
Menarik diri, merajut selubung tebal hari demi hari
Dengan begitu mata dunia tak akan tertuju ke sini
Karena semakin waktu berjalan
Entah mengapa rasanya lebih mudah untuk diam saja
Lalu semua yang terserak dan terpapar dalam dada
Lebih baik diraba, diuraikan sendiri

Lebih mudah seperti ini
Jadi, tidak ada tuntutan untuk menjelaskan
Memaparkan
Segala sesuatu yang sebenarnya telah begitu jelas, hanya ditakacuhkan
Menyembunyikan
Kisah-kisah pilu dan kesalahan-kesalahan besar
Yang sebenarnya, mengingatnya pun telah membuat hati terasa mati

Lebih mudah seperti ini
Ada rasa takut, gelisah, khawatir
Jika kotak pandora ini terbuka
Maka akan jadi terlalu gelap untuk didekati
Diperbaiki
Dihidupkan kembali
Dan pada akhirnya lebih cenderung untuk ditinggalkan dan diabaikan
Karena lebih mudah bersikap tak peduli

Ya,
Lebih mudah seperti ini saja.

Lebih baik seperti ini...


Jumat, Agustus 01, 2014

Agoraphobia

Source : MangaFox

Kemungkinan besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, aku akan jadi seorang pengidap agoraphobia-phobia keluar rumah. Setelah bipolar disorder, PTSD, perfeksionis, anti sosial, dan kini agoraphobia. Hebat, benar-benar hebat. Masa depan yang cerah ceria benar-benar menungguku di depan sana.

Emosiku lebih kerdil daripada anak umur sepuluh tahun. Begitu banyak hal yang bisa dengan mudah melukaiku. Membuatku trauma, menjadikanku phobia, menanamkan ketakutan padaku. Setelah kejadian shubuh tadi, aku semakin menyadari bahwa betapa sedikitnya hal yang dapat ku kendalikan, terlalu sedikit sesuatu yang bisa ku atur, ku jalankan sesuai kehendakku. Kebanyakan berlalu melewatiku, tanpa sedikit pun melihat ke arahku. Aku tidak bisa. aku tidak akan bisa lagi melewati kejadian seperti itu. Aku tidak bisa tiba-tiba harus memikul tanggung jawab sebesar itu di pundakku, memikul nasib orang lain yang bahkan tak ada sangkut pautnya dengan dunia kecilku.

Seharian ini aku keluar rumah hanya ke masjid untuk sholat. Dan setiap kali melangkah keluar, bahkan memikirkannya saja, sudah membuatku panik dan ketakutan. Aku mengintip keluar dari jendela rumahku, memastikan tak ada orang yang bisa mempengaruhi emosiku. Aku berjalan cepat, lalu kembali pulang dengan cepat juga. Berkeringat dingin, nafasku tak teratur, dadaku sesak, kakiku gemetaran, pikiranku dipenuhi ilusi tentang penghakiman dalam tatapan mata orang lain. Hatiku dipenuhi rasa takut dan kepanikan, ingin menangis, rasanya tanah akan sewaktu-waktu terbelah di bawah kakiku lalu menenggelamkanku ke lubang gelap tanpa dasar, udara memampat di organ pernafasanku, dan langit mengancam akan runtuh setiap waktu.

Source : MangaFox

Aku takut. Takut sekali.

Aku tidak tahu bagaimana harus melewati semua ini. Lebih baik aku di dalam rumah sini saja, aman dan nyaman di dalam kamar kecilku, dikelilingi oleh semua hal yang ku cintai, segala sesuatu yang lebih bisa ku tangani. Ada keluargaku disini, animeku, buku-bukuku, kasurku, kipas anginku, dan….perasaan aman dan nyaman ini. Tak ada lagi yang ku butuhkan. Aku tidak mau keluar rumah. Terlalu banyak hal menakutkan di luar sana. Aku sama sekali tidak bisa meramal masa depan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padaku saat selanjutnya aku berada di luar ? atau selanjutnya lagi ?

Dan siapa yang bisa menjamin bahwa orang-orang di luar sana tidak menghakimiku setiap kali melihatku ? melihat arah dan jalan yang ku tuju ? siapa yang bisa melindungiku dari mereka ? siapa yang bisa membelaku dan berdiri di depanku, ketika aku telah putus asa dan kehilangan kata, saat seluruh dunia mencibir dan memandang rendah alasan-alasanku ?? Siapa ???

___________________________________________________________________________
Catatan tambahan ini ditulis beberapa jam kemudian  dari tulisan di atas, saat aku sudah mulai tenang.

Aku akan menceritakan kisahku tadi pagi. Kisah yang membuatku masuk dalam antrean sebagai calon pengidap agrophobia.

Jadi, aku punya tetangga yang rumahnya depan rumah, untuk menghormati privasi beliau dan privasiku sendiri di dunia nyata [ siapa tahu aja ada orang dari dunia nyataku yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca postingan ini ], sebut saja namanya Mr. D.

Sudah sejak aku KKN kurang lebih dua bulan lalu, beliau ini mendadak jatuh sakit. Komplikasi penyakit dalam yang banyak banget. Jantung, ginjal, darah rendah, dll entah apalagi. Beliau ini kebetulan seorang yang terpandang di lingkunganku, karena beliau adalah seorang ulama besar. Tidak ada orang yang tidak kenal. Sakitnya ini parah banget. Kalo pas kambuh bisa pingsan tiba-tiba, dan...ah entah apalagi.

Fajar tadi, saat aku akan berangkat sholat shubuh ke mesjid, kebetulan aku bersua dengan dia. Karena rumah kami berhadapan, tentu sering sekali kami kebetulan bertemu dalam perjalanan ke mesjid. Masalahnya, saat melihatnya tadi pagi, perasaanku tiba-tiba tidak enak. Tapi mau balik ke rumah, sudah kepalang tanggung. Apalagi beliau sepat melihatku, kelihatan sekali nanti kalau aku menghindar. Beliau berjalan di depanku.

Dan beberapa detik dan beberapa alangkah kemudian, firasat burukku menjadi kenyataan. Tiba-tiba dia melambat dan menepi di pinggir jalan, lalau terbatuk-batuk dengan keras. Aku berjalan mendahuluinya, dengan khawatir menengok ke belakang padanya karena dia juga mulai muntah-muntah. 

Dan...

Belum sempat aku mencerna kejadian itu, tiba-tiba beliau tumbang. Jatuh ke jalan sambil kejang-kejang dan tangannya kayak orang kambuh stroke gitu.

Refleks aku langsung menghampirinya. Berteriak-teriak memanggil namanya. Lalu aku berteriak meminta tolong. Di mesjid, orang-orang sedang sholat shubuh, sudah di pertengahan sujud rakaat pertama. Tidak ada orang lain di sekelilingku. Hari masih begitu gelap. Beliau masih kejang-kejang. Aku ragu antara mau memegangnya atau tidak, mau membantunya duduk atau apalah tapi takut kekuatanku tidak sanggup menahan tubuh beliau. Takut setengah mati kalau beliau kenapa-kenapa karena jujur saja, aku paling nggak bisa menangani hal seperti ini.

Lalu, dengan seketika ku putuskan untuk ke rumah beliau mencari bantuan dari anggota keluarganya. Jaraknya tidak jauh kok, tidak sampai 50 meter dari rumah kami. Aku berdo'a setengah mati supaya masih ada orang di rumah beliau.

Lalu ku gedor-gedor pintu rumah beliau yang baru, mengkilap oleh pernis, dan tebal itu. Aku berteriak-teriak di depan rumahnya, sambil memukul-mukul seperti orang kehabisan akal. Beberapa saat berlalu, tidak ada yang keluar rumahnya. Karena khawatir dengan keadaan Mr. D yang terbaring di tengah jalan tanpa ada yang menunggui, aku memutuskan akan mencoba memapahnya sendirian saja. Begitu sampai di ujung halaman rumah Mr. D dan melihat ke jalanan tempat beliau terbaring tadi, ternyata beliau sudah berdiri lagi dan berjalan ke arah mesjid. Karena sudah tak ada lagi yang dapat ku lakukan, wong orang rumahnya aja tetep nggak ada yang keluar, aku menyusul beliau ke mesjid. Mr. D berjalan tertatih-tatih sambil masih terbatuk-batuk hebat. Bahhkan beliau sempat berhenti sebentar sambil bersandar di tiang masjid. Aku menatapnya khawatir. Tapi beliau lalu masuk dan sholat shubuh berjama'ah. 

Begitu sholat selesai, ternyata di belakangku ada anak perempuannya yang terlambat sholat. Aku memanggilnya dan menceritakan kejadian tersebut. Dia membenarkan memang mendengar suaraku, tapi saat dia membuka pintu, ternyata aku sudah pergi. Sedang Mr. D sendiri, begitu selesai sholat langsung berbaring di lantai masjid.

Masalahnya, aku mendengar cerita dari adikku yang teman akrab anak perempuan Mr. D itu. Saat ditanya anak perempuannya : " Pak, kenapa tadi ?,", Mr. D menjawab : " Iya, tadi saya sempat pingsan sebentar. Eh, saya kira Nf [ Nama panggilanku di rumah ] mau nolongin, ternyata malah lari pulang,". Anaknya menjelaskan bahwa aku lari itu minta pertolongan ke rumah mereka.

Begitu ku tanya ibuku, apa yang akan dilakukannya ketika berada di posisiku, ibuku menjawab bahwa dia mungkin juga akan berteriak-teriak histeris sepertiku. Sedang adik perempuanku bilang, kalau itu dirinya, dia akan langsung memeganginya dan membantunya duduk atau berdiri. Perkataan Mr. D diatas, sepertinya menyiratkan bahwa beliau menyesali keputusanku meninggalkannya di tempat itu.

Dan sampai maghrib tadi keadaan beliau belum juga membaik. Ayah dan ibuku yang menjenguk mengatakan bahwa Mr. D bilang " Yah, kalau dalam keadaan darurat nggak apa-apa [ maksudnya memegangi dia ],"

Dan sepanjang hari ini aku tertekan oleh perasaan bersalah. Apa aku tadi melakukan hal yang benar dengan meninggalkan beliau di jalan, lalu lari ke rumahnya, alih-alih menolongnya dan menunggu pertolongan ? Kalau iya, bagaimana kalau tadi beliau tidak langsung sadar, tapi justru malah tambah parah dan orang-orang yang mungkin akan datang setelahnya, menyalahkanku karena tidak segera memanggil bantuan ? Bagaimana kalau tadi beliau kenapa-kenapa ? 

Dan aku merasa, sepanjang hari ini, orang-orang menatapku dengan pandangan penghakiman. Mungkin aku saja yang terlalu parno. Karena kenyataannya yang tahu kejadian pagi tadi mungkin cuma keluarga Mr. D dan keluargaku. Entahlah. 

Apa yang harus ku lakukan ? Yang mana yang benar sebenarnya ? Memangnya apa yang bisa ku lakukan dalam situasi seperti itu ? Apa yang akan dilakukan orang lain ? Perempuan lain ? Dalam posisi yang sama ? Apakah keputusanku bijaksana ? Apakah jalan yang ku ambil itu mempengaruhi nasibku dan keadaan Mr. D ? 
Source : MangaFox

Senin, Juli 28, 2014

A Stained Heart

Jadi, akhirnya bulan Ramadhan selesai dan hari ini kita merayakan hari raya idul fitri. Alhamdulillah. Mudah-mudahan tahun depan bisa menjumpai bulan yang istimewa dan hari spesial seperti ini.


Aku ingat saat masih kecil, sampai kira-kira SMP. Bahagia sekali rasanya menyambut hari raya. Berdebar-debar, exciting, semangat, bergembira bersama anak-anak kecil lain membicarakan tentang baju baru, kue-kue, rencana pesiar, dan hal-hal lain.

Dulu, kompleks tempatku tinggal ini setiap hari raya idul fitri punya acara pesiar bareng satu kompleks ke rumah-rumah yang jauh. Terasa sekali kebersamaannya. Naik motor bersama keluarga dan keluarga-keluarga lain, kadang dapat hagala [ istilah untuk amplop hari raya ]. 

Sejak tiga tahun lalu, hari raya idul fitri sudah mulai terasa biasa bagiku. Bukannya tidak senang atau apa. Makna hari raya masih sama besarnya bagiku, masih sama istimewanya, apalagi di usia remaja akhir ini setiap bulan puasa sudah mulai ikut balapan beramal dan mengejar pahala. Jadi, lebaran terasa begitu nikmat setelah berjuang selama sebulan. Yang berkurang kesannya adalah kebiasaan.

Berpelesir dan bersilaturahmi.

Mungkin dikarenakan sifat introvert dan antisosialku, bersosialisasi saat hari raya terasa sangat membebaniku. Soal saling maaf-maafan, sepertinya cuma terasa di mulut saja. Aku ini orang yang paling tidak suka senyum-senyum atau berbaik-baik sama orang yang sebenarnya masih ku gerundeli. Ku pikir orang lain juga seperti itu. Hanya saja, mereka kebanyakan bukan menampakkan ketidaksukaan, melainkan senyum palsu dibuat-buat lalu meminta maaf padahal dalam hati sebenarnya tidak bermaksud saling memaafkan. Kata maaf begitu sakral untukku. Aku tidak akan minta maaf jika aku tidak merasa bersalah meski orang lain mengganggapku salah. 

Source : Pinterest

Bukannya itu bertentangan dengan makna saling memaafkan yang sebenarnya ?

Bahwa meminta dan memberi maaf haruslah dilakukan dengan tulus sehingga tidak ada lagi rasa saling benci dan tidak senang setelahnya. Benar, kan ?? Seharusnya setelah itu tak ada lagi acara mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah terlewat. Betul, kan ?

Balik ke soal introvert, bukan hal asing bagi orang sepertiku untuk selalu merasa ingin sendirian. Ini tidk berhubungan dengan depresi atau bipolar yang ku alami. Sifat introvert memang seperti itu, kurang nyaman bergaul bersama orang lain, selalu ingin menenmukan tempat untuk sendirian. Keramaian justru membuatku tertekan. Apalagi kalau jalan bareng muda-mudi, rasanya tidak enak hati melihat sikap-sikap kekanakan dan tingah polah puber mereka. 

Atau mungkin hatiku saja yang sudah berkarat  Jiwa muda yang mengalami penuaan dini. Orang seusiaku memang seharusnya bergaul dengan siapa saja, pergi kemanapun kaki membawa, dst dst. Tapi, entah mengapa semua itu tidk membuatku tertarik. Bagiku, definisi kesenangan dan ketenangan adalah tempat sepi yang sejuk, akses internet tak terbatas, tumpukan buku-buku yang belum dibaca, musik mellow, mungkin secangkir dua cangkir cappuccino panas, dan...kesendirian. Sendiri sehingga pikiranku lapang tanpa ada intervensi orang lain, tanpa ada perasaan apapun yang ditimbulkan oleh kegiatan interaksi, sendiri sehingga aku dapat merasakan diriku sendiri.

Source : Here

Ah, sudahlah. Mungkin aku saja yang terlalu melodramatis, menganggap ini semua terlalu serius. Hari ini bukan tentang aku, tapi tentang kita semua umat islam yang merayakan hari besarnya.

HAPPY IED MUBAROK 1435 H.


Kamis, Juli 24, 2014

A Perfectionist

Orang perfeksionis memang sangat dibutuhkan dalam hampir setiap pekerjaan. Mereka mendetail, teliti, lengkap, menginginkan kesempurnaan pada segala hal. Dan, biasanya multi talent, serba bisa.

Tapi, justru sifat seperti itulah yang juga banyak merugikan mereka. Hal-hal seperti tak dapat menyelesaikan tugas tepat waktu, tidak mau mendelegasikan pekerjaan atau berbagi tanggung jawab karena merasa orang lain hanya akan mengganggu atau menghambat proses kerja mereka, pilih-pilih pekerjaan karena  orang-orang perfeksionis hanya akan turun tangan menangani sesuatu yang mereka yakin bisa mereka atasi.
Source : Pinterest

Kalian harus selalu menjaga untuk memiliki orang-orang perfeksionis dalam hal-hal yang kalian tangani. Tapi, beri mereka bagian pekerjaan yang butuh pemikiran yang matang, mereka suka itu. Taruh mereka di bagian perencanaan, beri mereka gambaran besar target, dan biarkan mereka mengolah dan berkontemplasi dengan keinginan dan kemampuan mereka. Atau, letakkan mereka di bagian finishing, untuk menyempurnakan dan menyelesaikan hal-hal yang mungkin terlewat.

Jangan sekali-sekali memposisikan mereka sebagai pelaksana langsung, apalagi bila bekerja dalam kelompok. Karena dapat dipastikan ada dua hal yang akan terjadi : ( 1 ) Orang-orang perfeksionis akan lepas tangan, sama sekali tidak mau bekerja karena mereka hanya mau menyelesaikan sesuatu dengan cara mereka, atau ( 2 ) Orang-orang perfeksionis akan jadi kuda pekerja dalam kelompok, mengerjakan semua tugas yang semestinya diselesaikan bersama. Bukan karena orang lain memperlakukan mereka seperti itu, tapi mereka sendirilah yang ngotot mengambil semua pekerjaan karena alasan yang sama seperti di nomor ( 1 ). Dan yakinlah, tidak akan menyenangkan bergaul dengan orang perfeksionis saat dia sedang berada di dua situasi di atas.

Kami, orang-orang perfeksionis, tidak sombong. Tidak menganggap yang lain bodoh sehingga berkeras untuk mengerjakan semuanya sendirian. Ya, kami akui kami sedikit agak telalu egois, tidak mau menerima saran pendapat yang berbeda dengan opini kami. Kami gemar mengkritik dengan pedas, sering sok ngatur, keras kepala, dan lain sebagainya.

Tapi, percayalah, ami melakukan itu dengan niat yang baik, niat yang tulus agar segalanya berakhir sempurna sesuai dengan harapan bersama. Kami tidak minta balasan atau pujian. Dan harus kalian akui, hampir semua pekerjaan kami mempunyai hasil yang bagus, kan ?

Jadi, tolong jangan abaikan kami. Jangan kucilkan kami. Satu-satunya cara berurusan dengan kami dalam hal pekerjaan adalah menjadi teman diskusi yang baik. Teman bertukar pikiran dan orang yang mendukung apa yang kami lakukan.

#BerdasarkanPengalaman&PerasaanPribadi.


Minggu, Juli 20, 2014

Why It Had To Be Her ???

Dari sinar matanya saja, aku sudah yakin kalau dia orang yang membosankan.
Yang tidak ada hal spesialnya, mungkin karena fisiknya saja yang terlihat lumayan.
Aku yakin tidak ada riak atau gelombang berarti yang bisa membuat hidupmu seru & menyenangkan.
Biasa, biasa, terlalu biasa.
Seperti wanita kebanyakan lainnya.
Penampilannya pun benar-benar tak mencolok.
Sesuatu yang kamu bisa dapatkan dimana saja.
Jadi, kenapa kamu memilih wanita itu untuk jadi pendampingmu ?
Kenapa ?
Aku mengharapkan seseorang yang tidak biasa, istimewa, outstanding, atau apalah...untuk ada di sisimu.
Setidaknya biar aku puas, bahwa orang yang kamu pilih itu sebanding denganku.
Biar aku lega, karena tahu kamu mendapatkan orang yang ku anggap pantas.
Jadi, kenapa ?
Kenapa ?

Sabtu, Juli 19, 2014

Would You ??


Source : MangaFox

Maukah kau tetap di sini ?
Jangan pergi dariku

Jangan menghilang kemanapun
Bernyanyilah
Tertawalah
Berceritalah
Bersenandunglah
Apapun itu
Deramkan suaramu
Agar ku dapat dengar
Ku dapat pastikan
Sampai mimpi burukku lenyap
Sampai kenangan gelapku sirna
Sampai gemetarku reda
Sampai ketakutanku enyah
Maukah kau ??

Selasa, Juli 15, 2014

Last Dream Of You

Source : Pinterest

Kali ini, kita berbicara. Kita berhadapan dan saling bertukar argumen. Entah mengapa di sana pun aku masih teringat tentang situasi kita hari-hari ini. 

Lucunya, kau membantahku. Aku tidak begitu ingat tentang kata yang kita lontarkan satu sama lain. Satu-satunya hal yang membekas adalah bahwa kau ingin bersamaku, tak peduli alasan apapun yang ku ucapkan untuk menahanmu, untuk mengingatkanmu bahwa saat ini kita tak mungkin bersama, kau tetap bergeming.

Ternyata dunia mimpi tidurku masih milikku. Tak terbayangkan bila di dunia itu pun aku masih harus merasakan kepahitan. Terutama, kepahitan dari kisah kita yang tak berujung.

Sialnya, aku menangis ketika terbangun. 

Sudah lama sejak aku bermimpi tentangmu. Sudah begitu lama aku berpura-pura bahwa kau hanyalah tokoh fiksi dalam buku yang ku baca, kasus khusus dimana aku begitu terpengaruh oleh alur kisahmu.

Saat-saat ini, mengingatmu hanya berarti satu bagiku, kehampaan luas dan gelap. Bukannya aku tidak tahu seberapa besar bagian hatiku yang kau tempati begitu lama, yang dengan sendirian kau kuasai. Bukannya aku tidak sadar kalau aku ini begitu bodoh, tidak tahu kapan harus berhenti.

Gadis yang pintar adalah gadis yang tahu persis kapan apa dia harus terus maju, dan kapan dia harus menyerah dan melepaskan.

Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Apalagi jika itu menyangkut dirimu.

Ada batas yang tipis antar impian dan khayalan, hanya sebatas pengetahuan apakah keinginan itu mampu diraih atau tidak. Jika terus berusaha jatuh bangun mencoba menggapai sesuatu yang dimengerti betul bahwa sesuatu itu tidak akan pernah tergenggam dalam telapak tangan, disitulah titik kejatuhan yang mungkin akan jadi penyesalan sepanjang usia.

Apakah kau impianku ? Atau khayalanku ? Atau impian yang entah sejak kapan berubah jadi sebatas khayalan masa remajaku ?

Seberapa besar aku mencintaimu ????? 

Current Mood : Deeply Mad
Current Song : Samsons__Di Ujung Jalan

Sabtu, Juli 05, 2014

Chime..

Manic lagi.
Oh sial, kali ini rasanya tak tertahankan.
Aku sangat ngat ngat lelah, tapi tak bisa tidur karena di kepalaku penuh suara berisik. Penuh rencana & cita-cita setinggi langit.
Sudah berapa kali aku melalui ini ?
Semakin tinggi " naik "ku, akan semakin keras pula kejatuhanku setelah ini.
Ya Allah, tolong aku...
Let me sleep..

Source : Pinterest



Selasa, Juni 17, 2014

Ending..

Ketika aku memutuskan bahwa aku akan melepasmu untuk kemudian menjumpaimu di sebuah ujung jalan.
Aku berlari dengan sekuat tenaga, ku rentangkan tangan selebar-lebarnya.
Tak peduli kerikil yang menceracah di telapak kaki, angin yang tak bersahabat, maupun pandangan sinis dari dunia
" Aku harus terus berlari, aku harus berani mengambil setiap tawaran yang disodorkan hidup untukku. Aku ingin jadi sempurna, supaya bisa menjadi seseorang yang sepadan dengannya. Tak peduli dia tidak memintaku untuk bisa melakukan apa pun. Aku hanya ingin merasa pantas berdiri di sampingnya, tidak jadi beban baginya, bahkan menjadi wanita yang akan jadi kebanggaannya,"

Kini, di ujung jalan itu.
Di tepi mimpi yang dipaksa berkesudahan, 
Aku menggenggam seluruh cerita dari semua perjalananku, memeluk erat segala harap dan kenangan.
Airmataku berlinangan dan tetesannya tertiup angin ke tempat yang jauh.

" Aku tidak akan menyesali apapun." Teriakku ke angkasa
Dadaku bergetar oleh ribuan rasa yang berdesak untuk diraba oleh hati, begitupun kedua tungkaiku, goyah bersama detik-detik yang terlewati dalam lepasnya kisah yang sudah menguatkan diriku selama bertahun-tahun lamanya.
Ada sesuatu yang terasa hilang dengan cepat dari keberadaanku.
Meninggalkan kekosongan dan ruang hampa yang terus meluas.

" Terima kasih atas ceritanya. Terima kasih atas semangat, kehidupan, rindu, kekuatan, ketegaran, dan segala hal darimu yang menjadikanku tetap mampu hidup hingga detik ini. Karenamu aku menemukan alasan, satu-satunya hal yang paling ku butuhkan di dunia ini." Bisikku parau, mencoba membahasakan trilyunan rasa yang mengancam akan membah pertahanananku.

Jadi, inilah sudah akhirnya.
Seperti ini saja.

Source  Pinterest


Selasa, Juni 03, 2014

Z...Z...Z...Z...

Last night was one of those sleepless night.

Source : Pinterest

Malam tak dapat terlelap. 

Mengingat-ingat kembali tentang penyakit insomniaku ini, sepertinya bermula dari aku kelas 3 SMA. Saat itu, aku sudah pindah tempat tinggal dari pondok ke kos yang lebih ringan peraturan-peraturannya, termasuk soal jam tidur. Sehingga tidak ada paksaan mau tidur jam berapa pun. Ada satu malam yang paling ku ingat ketika menjelang try out dimana aku dipenuhi energi dan adrenalin yang luar biasa di tengah malam. Sehingga aku memutuskan mengambil buku cetak Geografi mulai dari kelas satu sampai kelas tiga dan membacanya semalam suntuk. 6 buku dan semuanya ku lahap habis. Hasilnya memuaskan. Karena besoknya memang dijadwalkan untuk try out Geografi, maka aku berhasil mendapat nilai try out tertinggi di sekolah.

Dan, semakin dipikir, memang kira-kira saat-saat itulah aku sering tak dapat tidur semalaman. Meski aku tak dapat mengingat satu persatu kejadian itu, apakah memang mataku yang tak dapat terpejam atau karena energi dan ide yang  melimpah ruah butuh penyaluran.

Aku yang sekarang tahu kalau di waktu-waktu itulah aku mengalami Manic. Memang tidak sesering sekarang.

Source : Pinterest

Belum lama berselang, waktu-waktu insomnia menjadi waktu yang cukup menakutkan bagiku. Itu ketika aku belum memiliki laptop atau novel-novel koleksi. Aku dari kecil suka sekali membaca, tapi dulu yang ku koleksi hanyalah komik yang jumlah halamannya sedikit serta singkat sekali waktu menamatkan membacanya. Jadi, aku menghabiskan malam-malam itu dengan menonton film Hollywood di televisi. Waktu itu, kalau sudah jam 10 malam, maka hampir semua stasiun televisi swasta akan menayangkan film barat.

Sleepless night used to be a scary time.

Aku takut gelap. Mengerikan rasanya menyadari bahwa hanya kita sendiri yang bergerak, bernafas, dan berfikir di luasnya ruangan. Mendadak semuanya jadi terasa mencekam, perasaan parno seperti sedang diawasi pun mulai muncul. Kadang, karena tak kuat dengan perasaan takut itu, aku memilih mematikan televisi lalu berbaring di tempat tidurku. Membolak-balikkan tubuh sebanyak aku berani, memikirkan masa-masa lalu dan masa depan, menunggu kantuk menyerang. Kadang aku membersihkan kamar atau bahkan berkreasi membuat kerajinan tangan.

Sekarang, semuanya terasa lebih ringan. Laptop tersedia, dan di dalamnya aku punya banyak hal yang ku sukai. Novel-novel atau komik elektronik, anime-anime dan film favorit, lagu-lagu, tulisan-tulisan, gambar-gambar desain, internet, dan banyak lagi. Novel-novel fisik juga sudah lumayan banyak. Jadi, aku bisa melewati malam dengan cukup sibuk. Akhir-akhir ini aku lagi suka sama novel-novelnya Dan Brown yang semuanya tebalnya lebih dari 600 halaman. Di hari-hari biasa, aku tidak akan punya konsentrasi dan ketenangan yang cukup untuk menamatkan novel-novel tersebut. Tapi, berkat insomnia, aku sudah berhasil menyelesaikan membaca kelima novel pertama beliau. Yang terakhir ku baca itu tadi malam, yang judulnya Deception Point. Aku membaca dari halaman yang terakhir kubaca yaitu 121 hingga tamat.

Source : Pinterest

Terkadang, saat Manic menyerang namun tubuhku terlalu lelah untuk menuruti pikiranku supaya tetap terjaga, aku memaksakannya untuk tidur juga. Dan hasilnya tidak baik. Aku jadi mengalami halusinasi menakutkan tentang kematian dan hari kiamat. Yang membuat tubuhku bergetar ketakutan hingga aku harus keluar dari kamar untuk melihat wajah-wajah tidur adik-adikku di kamarnya masing-masing. Hal itu membuatku kapok untuk memaksakan diri tidur sementara pikiran jelas-jelas punya keinginannya sendiri.

Yang buruk adalah, hariku setelah malam tanpa tidur. Aku jadi bad mood, sakit kepala, sulit konsentrasi, jantung berdebar-debar, mengantuk luar biasa, mudah marah, malas, sensitif, dll. Terutama bila malamnya sempat mengkonsumsi kopi. Itu benar-benar mengganggu keseharianku apalagi kalau aku harus sibuk menyelesaikan sesuatu di siang harinya.

Seperti sekarang. Sebenarnya senin kemarin adalah targetku untuk bimbingan proposal pertama kalinya. Namun, karena pengaruh insomnia itulah, perasaanku sekarang jadi tidak enak dan inginnya tidur saja.

Hooaaahhhmmmm...



Minggu, Mei 25, 2014

Kalau saya ingin merusak diri saya di usia muda,
Yang pastinya saya tidak akan melakukannya dengan cara yang membutuhkan banyak uang, dong ?
Narkoba, Rokok, Miras, dan sejenisnya..
Rugi amat ya, udah badan rusak, duit abis pula.
Inti dari semua itu kan untuk mencari pembebasan, kan ?
Mencari jalan keluar sejenak dari sakitnya kehidupan.

Kalo hanya untuk  begitu, cara saya pasti lebih baik.

Minggu, Mei 18, 2014

A Story About My Moving On

Sudah 90% menjalani tahap move on ke kehidupan yang lama sebelum KKN.

Sudah 2 minggu di rumah, tapi rasanya masih agak melayang-layang, seperti masih diantara gitu. seperti hati, pikiran dan tubuhku belum menyatu di tempat yang sama.
Seperti inilah aku, seseorang yang susaaaaaahhh banget move on, dari hal apapun. Orang ataupun momen. Kadang ku berpikir, seluruh hidupku ini adalah perjalanan move on dari satu hal ke hal lain. Aku ini orang yang hidup diantara dua masa, masa lalu dan masa depan.


Source : Pinterest

Jadi, sekarang aku lagi sibuk buk banget nget. Pulang-pulang dari KKN langsung dihadapkan sama penyelesaian administrasi KKN ( Catatan harian individu, catatan harian kelompok, catatan mingguan dan bulanan kelompok, laporan akhir kelompok, daaaaannn karya tulis ilmiah ).  Karena aku sekretaris posko, jadilah aku ngerombak semua catatan-catatan itu dari awal. Soalnya waktu KKN, ternyata penulisannya salah. Ck..ck..ck.

Terus, dihadapkan lagi dengan rencana acara Festival Anak Sholeh ( FAS ) dan bazaar muda-mudi yang insyaallah diselenggarakan tanggal 1 juni. Untuk FAS, ada 12 event yang dilombakan. Karena TPA-ku punya 5 guru, jadi kami berbagi melatih 12 lomba itu. Aku kebagian melatih lomba asma'ul husna dan nasehat. Yang tahun kemarin juga aku ngelatih bagian ini.

Yang paling rempong tuh bazaar. Panitianya nggak mau susah sih. Disuruh menghias stand dengan janji akan dinilai dari segi keunikan. Tapi, fasilitas yang disediakan cuma meja dan kursi. Nggak ada tiang yang membatasi antara stand satu dengan yang lain. Jadi, standnya nanti tuh cuma meja dengan kursi doang. Trus, apanya yang mau dihias ????? Mauku itu, ada lah tiang-tiang gitu, jadi nanti aku bakalan ngelilitin kain diantara tiang-tiang itu. Trus di kain itulah barang pajangannya ku gantung. Soalnya, tidak kayak bazaar puasa kemarin yang hanya jualan makanan, Kayaknya kali ini konsepnya lebih ke pameran. 

Tadi sudah bertukar pikiran dengan guru kelompok sebelah yang punya problem yang sama masalah dinding itu. Idenya malah lebih ekstrim. Dia mau minta izin sama pengurus disana buat mencongkel paving block yang menutupi seluruh tanah disana. Iya kalau pas pavingnya diangkat dibawahnya terus tanah lunak sampai ke bawah. Nah, kalo yang dibawahnya semen keras ??? Malah cari kerjaan saja. 

Ide awalku adalah membuat kotak rangka bujur sangkar dari kayu. Tapi, rencana itu butuh setidaknya 11 batang kayu. Nah, mo dicari dimana itu ?? Akhirnya, aku dapat ide lain. Ambil kardus atau ember cat yang kecil, tancapkan tiang di tengahnya terus ditimbun dengan adukan semen. Cara itu cuma butuh 4 batang kayu. Kalau masalah bahan bangunan sih, masih bisa dicari gratis.

Source : Pinterest

Semalam aku tak tidur sedikitpun. Terlalu banyak rencana di kepalaku. Seperti biasa, pikiranku melompat-lompat dari satu hal ke hal lain dengan cepat.

Besok, nyetor judul KTI ke dosen pembimbing KTI. Padahal, hari sabtu deadline mengumpulkan KTI. Belum bikinnya, bimbingannya, ngejilidnya..Ini salahnya jurusan Ekonomi, rempong banget mau ngurus KTI doang. Harus pake blangko yang formatnya ditentukan, udah gitu nggak ada lagi lembarannya di Fakultas. Harus nyari sendiri ke teman-teman. Yang paling parah, mesti nyetor judul 3 biji. Ntar dosennya yang milih judul mana yang harus di-KTI-kan. Beda sama Fakultas lain. Bikin aja KTI, terus pergi sama dosen pembimbingnya, nggak pake lama-lama, langsung tanda tangan halaman pengesahan, setor deh. 

Nggak tahu kenapa nih Ekonomi kayak gini. Cuma ni Fakultas yang birokrasinya aneh banget.

Apalah, itu urusan besok.

Senang sih sibuk kayak gini. Senang juga pikiran nggak pernah mati. Jalannya waktu jadi nggak kerasa.

Tapi kadang, rindu juga dengan suasana KKN kemarin. Apa ya, nggak kayak teman-teman lain yang memang getol bersosialisasi dengan masyarakat sehingga mereka lebih akrab dan lebih berasa kesan pergaulannya dengan warga desa. Aku bersosialisasi seperlunya saja, seperlunya banget.  Hasil dari pergaulan ala kadarnya itu, saat sudah kembal ke Palu, teman-temanku yang lain sudah dihubungi secara rutin oleh sekitar 7 warga desa berbeda. Aku hanya 3 orang, itupun sekarang udah jarang banget. Mungkin karena sms mereka nggak ku balas, atau pas ngobrol denganku trnyata nggak asyik, atau memang ada hal lain aja. Nggak tahu, deh. Nggak peduli juga kok. Bukan orang-orangnya yang membekas di hatiku. Tapi tempatnya. Aku betah disana. Soalnya alamnya luar biasa.

Selain itu, setelah menelaah lebih lanjut tentang mengapa aku ingin kesana lagi, aku dapat jawabannya. Selama disana tuh aku tenang banget. Sempat sih, depresi sekali pas hari-hari pertama disana. Saat itu aku sempat ngiris lenganku dua irisan. Setelah itu sampai pulang, nggak lagi. Aku ngerasa emosiku jernih banget. Pikiranku tenang. Bebanku terasa menghilang. Aku nggak tertekan oleh masa lalu atau masa depanku. Aku menjalani hari demi hari dengan baik. Merasakan setiap aliran waktu di tiap detiknya. Sampai-sampai, di akhir bulan pertama aku sempat buat video tentang perasaanku yang seperti tersembuhkan.

Kini, di titik mulaku kembali, aku berharap bahwa aku berubah. Seperti apa ? Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku berharap hal-hal baik timbul dari diriku. Kerasa sih kalau sudut pandangku sekarang sepertinya berubah, yang lain-lain dalam hati juga. Pokoknya, di dalam diriku ada yang berubah. Susah jelasinnya.

Source : Pinterest

Jadi, kembali ke hari-hariku yang biasa. Yang selalu sibuk memikirkan 10 hal berbeda di waktu yang sama, kelimpungan mengerjakan 3 sampai 4 pekerjaan secara bersamaan, yang kalau lagi tenang ya bener-bener tenang banget nggak ngapa-ngapain, yang lari kesana-kemari karena selalu menunda pekerjaan, yang melempar segala macam bend ke penjuru ruangan hanya untuk mencari 1 atau 2 benda. Intinya, cara hidupku yang " Tiba Masa Tiba Akal ".

Kacau, sih. Tapi seru.

Oke, mulai besok pagi di saat membuka mata, ayo berjalan maju lagi.

Rabu, Mei 14, 2014

Let's Go..

Source : Pinterest

Aku datang
Dan semua orang bersikap biasa saja, seakan aku bukan bagian dari mereka.


Yah, memangnya apa yang ku harapkan ?
Aku sudah memisahkan diri dari mereka selama hampir setahun

Mengambil jalan yang berbeda dengan mereka
Dan setahun itu waktu yang cukup lama untuk membuat otak dan hati melupakan rasa kebersamaan apapun yang pernah mengikat kami.

Menyesal ? Tidak.
Sayangnya ada sedikit rasa sedih di hatiku. Perasaan terasing.


Mau bagaimana lagi ?
Memang sudah seperti ini jalannya.

Ada harga yang harus dibayar untuk pencapaian-pencapaian yang telah ku raih.
Mungkin ini salah satunya.

Jadi.. 
Tarik nafas, kuatkan genggaman tangan, mantapkan langkah..
Ayo lanjutkan hidup.
Selesaikan studi secepatnya. 

Current Mood : Antusias
Current Song   : Jangan Pergi By Killing Me Inside feat Tiffany


Jumat, Mei 09, 2014

God

Posisi sosial yang ku sandang mengharapkanku sebagai orang nomor satu yang seharusnya paling dekat dengan Tuhan.
Aku bukan orang suci. Bukan pula orang alim. Tapi terlalu sering dalam hidup aku merasakan kehadiranNya di sampingku, menjagaku, mengajakku tertawa, dan menguatkanku. Seberapa banyak aku membuat kesalahan, pada akhirnya aku selalu bisa menjumpaiNya lagi.

Tapi, sudah lama sejak aku terakhir kali merasakanNya.
Terakhir aku merasa Dia begitu dekat adalah lebih dari dua bulan lalu, saat sedang mengurus berkas KKN. Begitu lekat, seakan-akan berada di hadapanku.

Kini..
Entah mengapa aku tak bisa merasai itu lagi.
Apakah Engkau lupa padaku, Tuhan ?
Apakah kesalahanku begitu berat ?
Apakah Engkau telah meninggalkanku juga seperti orang lain ?

I NEED YOU....