Tampilkan postingan dengan label My Dreams. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Dreams. Tampilkan semua postingan

Selasa, Mei 26, 2015

In May Days

Mmm..Sudah lama banget ga nulis. Bahkan saya pun bisa disibukkan oleh dunia nyata yang sedang berusaha saya rengkuh sebaik-baiknya.

Jadi, banyak progress bulan ini. Tanggal 6 Mei kemarin saya sudah selesai ujian skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan. Prosesnya cepet, ujian berlangsung nggak sampe setengah jam, sedikit sekali yang menanyakan argumentasi, kebanyakan hanya saran teknis penulisan saja. Saya sampe nggak percaya kalau itu ujian. Nggak kerasa. 

Sayangnya, saya nggak bisa ngejar wisuda bulan Juni. Saya insya allah akan mengikuti wisuda berikutnya September. Penyebabnya? Males ngerjain perbaikan. Hihihi. Saya sudah mengatakannya pada orang tua saya (Nunda wisudanya, bukan males perbaikannya) dan mereka OK saja karena toh saya masih terikat dengan kegiatan kursus sekitar empat bulan ke depan. 

Sekarang ini, saya sedang ada di Bandung, menginap di hotel Puri Tomat. Baru datang, sih. Besok konferensinya sudah mulai. Yang bikin saya agak lega adalah ternyata tempat penyelenggaraan konferensinya, di The Jayakarta Hotel, Suites, and Spa, itu di seberang jalannya Puri Tomat. Lebih dari yang bisa saya harapkan.

Akhirnya tiba juga saat ini, yang sudah saya nantikan selama tiga bulan terakhir ini. Banyak hambatan yang mewarnai perjalanan saya, masalah klasik sih: Uang. Saya baru tahu bahwa mahasiswa yang mengikuti acara-acara seperti ini tenyata harus mengatasi masalah keuangan sendiri. Cari dana sendiri, bikin proposal sendiri, kalau perlu pakai uang pribadi meski membawa nama kampus dan nama fakultas. Tapi, alhamdulillah semuanya bisa teratasi. Tidak banyak sih, malah bisa dibilang sangat pas-pasan banget. Dukungan orang tua dan dosen pembimbing membuat saya merasa begitu bangga dan senang pada mereka. Terutama pada kedua orang tua saya yang punya satu suara jika menyangkut pendidikan anak-anaknya. Tidak apa-apa kita di rumah makan seadanya, rumah jelek belum diplester atau dikeramik, perabotan rumah pun seperlunya saja, asal anak-anak bisa sekolah. Kalau perlu ngutang. Yang penting pendidikan lancar.

Saya agak merasa seperti berdelusi bisa kembali ke tanah Jawa secepat ini. Akan saya ceritakan esok, insya allah. Saya harus memaksa diri beistirahat supaya fit mengikuti konferensi esok.


Jumat, Februari 27, 2015

The Strongest Pole

Ini tentang keinginanku menjadi sukarelawan untuk menolong orang-orang yang mengidap mood disorders, korban pelecehan seksual, atau korban kekerasan anak.....

Source : Pinterest

Aku tidak akan bisa menyelamatkan orang lain jika aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Bertahan hidup saja tidak cukup. Aku harus memiliki harapan, yang mana itu adalah sesuatu yang begitu mewah bagiku sekarang. Sebelum aku membantu orang lain untuk merelakan, menerima, memaafkan, dan melupakan, aku harus bisa melakukannya terlebih dahulu. Tidak ada hal baik yang bisa ku berikan pada orang lain jika aku sendiri belum menemukan hal baik itu.

Terutama, aku belum punya cukup kekuatan untuk menciptakan tiang yang bisa ku pegang agar tidak terseret. Penderitaan dan kejadian orang lain akan sangat mempengaruhiku. Dan kecenderunganku untuk merasa bertanggungjawab atas berbagai macam hal, akan membuatku terseret arus gelap karena aku akan merasa tidak bisa menolong mereka. Ya. itu juga alasan mengapa saku memperkecil lingkunganku. Istilahnya, membatasi perimeter. Aku memilih siapa-siapa yang bisa terlibat denganku sehingga paling tidak aku memiliki kendali atas kejadian-kejadian yang mungkin saja terjadi. Dengan begitu, aku bisa menyaring informasi apa yang ku terima, menakarnya sesuai dengan kemampuanku. 

Contohnya, saat menonton berita saja, ketika melihat nasib orang lain yang begitu buruk, atau melihat orang-orang yang begitu jahat dan tidak ada yang bisa menghukum mereka, aku akan begitu marah. Aku putus asa dan mulai menyalahkan diriku kenapa tidak bisa berbuat sesuatu. Pada akhirnya semua berujung sama : Keputusasaan.

Jika aku terlibat dengan kejadian orang lain yang pasti kurang lebih banyak yang sama seperti kejadianku sementara aku belum tersembuhkan, pasti itu akan jadi pelatuk yang meledakkan peluru berisi rasa sakit. Malah, aku mungkin akan menyeret orang yang seharusnya ku tolong itu dalam jurang penderitaanku sendiri. Tidak ada yang akan terselamatkan.

Keinginanku begitu kuat. Aku tidak mau ada orang lain merasakan seperti yang ku rasakan. Rasa sakit dan amarah ini. Sendirian lagi. Aku tidak mau ada anak-anak korban pelecehan seksual, kekerasan, dan bullying yang hidup dengan melihat neraka di depan matanya. Aku tidak mau ada orang-orang terkucilkan yang dianggap gila dan aneh oleh lingkungannya hanya karena mereka mengidap sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka diabaikan karena orang lain tidak bisa menandingi mereka. Mereka diremehkan karena sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Padahal justru orang-orang inilah pejuang yang sesungguhnya, orang-orang brillian dengan ide-ide hebat dan kekuatan tak terlihat. Mereka inilah yang harus dijaga. 

Jadi, mungkin yang harus ku lakukan pertama kali saat ini adalah mencari bantuan profesional.


Selasa, Februari 24, 2015

Accounting, Sewing, Writing, Dreams, Me, and The Way It Is Now

Untuk orang yang benci peraturan dan kesulitan bekerja di belakang orang lain, aku cukup menyukai dunia akuntansi. Sungguh. Akuntansi itu menantang. Akuntansi bukan persoalan yang terlalu mudah sehingga membuatku cepat bosan dan bukan juga bidang yang sangat sulit hingga aku harus jatuh bangun mempelajarinya.



Lebih dalam lagi, bagiku akuntansi adalah kenyataan. Ketika mempelajarinya saat kuliah dulu, aku sering berpikir, Wow! Jadi inilah semua yang menantiku di luar sana. Semua tabel dan alur ini yang akan menemani hidupku hingga akhir kelak, segala macam ketentuan dan keteraturan ini.

Aku beryukur bahwa di tengah semua keterbatasan dan kemungkinan, aku justru bisa kuliah di jurusan yang tidak sekedar bagus, namun juga bergengsi. Pekerjaan yang berkaitan dengan akuntansi bukan hanya sekedar pekerjaan, tapi juga menjamin citra dan kedudukan sosial. Meskipun aku sering membaca bahwa para akuntan adalah orang-orang pemikir yang kaku, patuh hukum, tidak neko-neko, dan suka hidup tenang dengan keluarga bahagia. Pekerjaan di bidang akuntansi bukanlah pekerjaan yang menuntut inovasi atau kreativitas, semua yang diperlukan hanyalah belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi ahli disana. Akuntansi bukanlah tentang kemampuan berbicara di depan orang banyak, melainkan bagaimana dengan pendidikan dan pengalaman masalah bisa ditemukan lalu mengatur dan mengelompokkan apa-apa yang “di luar tabel” sehingga segala macam aktivitas bisa tercatat dan terekam lalu catatan itu disusun sedemikian rupa. Akuntansi adalah keseimbangan.

Aku sendiri selalu menganggap diriku lebih ke tipe orang yang artistik. Aku sangat menghargai seni dan kreativitas manusia. Seni adalah sesuatu yang abstrak, berkaitan dengan rasa dan selera yang tidak dapat dikuantifikasi atau diproksikan. Sungguh bertolak belakang dengan akuntansi.

Source : Pinterest

Aku adalah seseorang yang punya mimpi-mimpi besar. Aku menyukai berbagai macam hal yang tidak ku ketahui. Terlebih lagi, aku sangat menikmati proses kreatif dan menciptakan sesuatu. Ya, proses itu sangat sulit. Tidak bisa ditebak, tidak bisa diatur, namun sekali ide itu muncul maka lahirlah sesuatu yang khas dan tidak bisa ditiru individu lain.

Dalam hal ini, aku ingin menjadi penulis dan perancang busana. Dua bidang yang menuntut inovasi dan kreativitas penuh. Tapi itulah yang aku sukai. Aku ini tidak suka mendapati diriku sama dengan orang lain, aku harus berbeda, harus unik, harus tak terganti, harus terlihat. Itulah prinsipku selama ini.

Penulis berarti menjadi Tuhan untuk sebuah semesta kecil. Sang penulis membuat dunia dengan aturan, hukum, norma, dan ketentuan yang diinginkannya. Ia mengisinya dengan tokoh-tokoh rekaannya, mensifati mereka, dan menggerakkan mereka sesuai kemauannya. Perintah yang datang dari jari jemarinya adalah titah tak terbantahkan. Ia menciptakan sistem sesuai idealismenya dan tak ada yang bisa menyalahkannya karena, hei, bagaimanapun ini adalah fiksi. Semua itu adalah keistimewaan seorang penulis. Bahkan, ia bisa mereka ulang takdirnya sendiri, lalu mengaturnya kembali sesuai yang diinginkannya. Memang, ia hanya bisa melimpahkan takdir ideal itu kepada tokoh-tokohnya, namun...apa salahnya?

Source : Pinterest

Mengenai perancang busana, ia juga adalah pembuat aturan. Namun skalanya lebih besar karena ia bersentuhan dengan dunia nyata dan orang-oran yang sesungguhnya. Perancang busana menciptakan aturan dan model yang dengan keindahannya dapat membuat orang terpengaruh sehingga tanpa sadar  mengikuti idealismenya. Siapa yang menentukan bahwa untuk terlihat sebagai seorang yang sukses dengan cita rasa tinggi, engkau harus memakai setelan jas Channel dengan jam tangan Rolex dan sepatu Dolce & Gabbana? Ya, para perancang merek-merek itulah. Mereka berhasil menyentuh orang dengan kreativitasnya sehingga aturan dibuat berdasarkan visi mereka.

Seni adalah pondasi peradaban.

Mengapa aku ingin menjadi penulis dan perancang busana?

Menjadi penulis, tentu karena aku ingin menghidupkan dunia sesuai bayanganku. Sering, aku merasa sangat lelah dalam dunia nyata yang ini. Aku lahir dan terikat dengan berbagai aturan yang ditentukan orang lain. Aku menjalani kehidupan dalam koridor takdir yang telah dituliskan untukku dan aku tidak punya hak apapun untuk merubahnya. Meski aku menganggap diriku adalah orang yang istimewa, meski aku punya berbagai macam ide dan solusi untuk membuat kehidupan di sekelilingku menjadi lebih baik, tidak serta merta aku dapat melaksanakannya. Aku terbentur berbagai batasan dan kekuasaan yang bahkan tidak peduli dengan niat baikku.  Aku hanyalah satu pemain diantara milyaran pemain. Karena itu, aku ingin melihat dunia yang ada di kepalaku benar-benar tercipta walau hanya setebal satu buku. Kalau beruntung, duniaku itu bisa mempengaruhi bahkan menyelamatkan orang lain.

Sedangkan mengenai perancang busana, aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak suka sama dengan orang lain. Jadi, ya, itu saja. Untuk yang satu ini, aku sudah memulainya. Awalnya karena ukuran tubuhku yang tidak ideal, sungguh sulit bagiku menemukan busana yang pas. Padahal aku kuliah yang menuntut pergantian model busana setiap hari dan baju-baju yang ku beli karena ukurannya muat, sungguh tidak ku sukai bentuknya. Karena itu, sejak awal semester tiga, aku mulai membuat modeku sendiri. Aku membeli majalah-majalah mode obralan, aku berselancar ke blog-blog para fashionista. Aku mendesain semampuku. Aku menyisihkan uang sakuku untuk membeli kain di pasar dan menjahitnya ke penjahit. Hasil-hasil karya pertamaku adalah rok-rok maxi dan beberapa macam kemeja. Namun sayangnya, karena aku menjahit pada penjahit pemula tetanggaku yang lulusan SMK dengan pertimbangan biaya, maka hasil jahitannya untuk baju belum terlalu bagus. Kerena itu aku memutuskan untuk menjahit rok-rok saja. Saat aku semester tiga itu, baru aku lah cewek berkerudung yang setiap hari memakai rok beragam model dengan beragam motif dan warna. Mode umum anak kuliah waktu itu adalah celana botol jins dengan kemeja. Aku punya gaya berbusana yang berbeda dengan mahasiswa lain dan aku percaya diri karenanya. Beberapa teman menanyakan model busanaku dan saat tahu aku mendesainnya sendiri mereka terlihat begitu kagum. Itu perasaan yang menyenangkan, mengetahui bahwa seleramu diakui orang lain. 

Saat memasuki semester enam, barulah style baru yang dibawa oleh para hijaber meledak. Saat itu mulailah banyak mahasiswa berkerudung yang memakai rok sebagai padanan busananya. Ada yang begitu menggangguku tentang hal tersebut. Banyak dari mereka hanya membeli pakaian itu karena modelnya terlihat bagus, padahal mereka sama sekali tidak pantas memakainya. Kesannya jadi dipaksakan. Fashion adalah tentang orang. Mengapa berusaha memakai sesuatu terlihat bagus di tubuh orang lain namun sangat mengerikan dikenakan pada tubuh sendiri?  Seperti rok maxi dari kain transparan dengan pelapis kain yang hanya sampai lutut sehingga orang masih harus memakai kaus kaki jika tak ingin kakinya terlihat, dan penampilan itu sangat sangat menggangguku sehingga hampir saja aku memarahinya. Padahal kebanyakan para perancang yang menampilkan sendiri rancangannya itu memiliki tubuh yang ideal dengan warna kulit dan kontur wajah sempurna sehingga ya, tentu saja apa yang mereka kenakan akan terlihat bagus. Atau jika tidak, mereka menggunakan model-model dengan tubuh yang sudah jelas sempurna. Padahal aku membaca di suatu tempat bahwa di dunia ini hanya kurang dari 5% orang yang punya tubuh ideal. Jadi, haruskah 95% lainnya memaksakan diri mereka dalam busana yang sama sekali tidak sesuai?

Itulah keinginanku. Untuk menciptakan busana yang cocok untuk 95% orang itu. Aku adalah salah satu orang yang masuk kategori yang disebut “bencana mode”. Tubuhku gendut, besar, dengan kulit sawo matang ke arah gelap. Perutku berlipat dan lenganku bergelambir. Hidungku pesek, wajahku bundar, alis dan bulu mataku tipis, serta tulang pipiku tidak menonjol. Sulit mencari busana yang pas denganku. Banyak anak-anak muda dengan tubuh sepertiku yang akhirnya harus menyerah dan memakai pakaian yang diperuntukkan bagi para ibu-ibu. Sungguh mengenaskan.

Source : Pinterest

Dan apa alasanku menulis postingan sepanjang ini kali ini?

Ya. Satu hal. Ibuku yang bekerja di Kantor Disnakertrans menawariku kesempatan mengikuti kursus yang dilaksanakan selama lima bulan oleh BLK. Satu bulan program pelatihan dan empat bulan lagi magang. Awalnya aku agak ragu karena aku berencana sehabis ujian skripsi yang memberikan gelar SE di belakang namaku, aku ingin langsung mencari kerja yang sesuai dengan bidangku tanpa menunggu wisuda di Juni. Lagipula, meski ingin menjadi perancang busana, aku sama sekali tidak ingin menjadi penjahit yang kerjanya monoton namun upahnya tidak sesuai UMR.

Namun, setelah berpikir masak-masak, aku akan mengambil kesempatan pelatihan ini. Para perancang busana profesional yang telah diakui adalah mereka yang pernah sekolah fashion. Mendesain tidak hanya tentang menggambar. Itulah hambatan yang ku temui selama ini. Aku mengerti sedikit banyak tentang basic fashion rules, aku tidak buta sama sekali soal jahit menjahit. Aku mampu membuat pakaian-pakaian berpotongan sederhana, namun keterbatasan pengetahuanku tentang teknik menjahit menyumbat ide-ideku. Aku tidak bisa membayangkan model-model pakaian yang rumit dan tidak bisa membayangkan letak jahitan dan potongannya. Hal itu membatasiku. Ide-ideku tidak bisa meninggi bila pondasiku rapuh. Lagipula, aku tidak punya modal. Sehingga aku tidak bisa harus terus membayar penjahit yang ongkosnya sungguh mahal di awal-awal nanti. Lagipula, tidak semua penjahit itu kreatif. Beberapa kali aku temukan hasil jahitan yang ku terima tidak sesuai dengan keinginanku, mendekati pun tidak. Ada beberapa hal yang tidak bisa dipelajari secara otodidak, termasuk teknik menjahit. Untuk hal lain seperti tema, padu padan warna dan motif, gambar desain kasar, dan pemasaran bisa ku pelajari sendiri dari buku-buku dan internet.

Jadi, sepertinya aku tidak bisa langsung terjun ke dunia akuntansi. Aku akan beralih ke mimpiku yang lain untuk sementara. Selepas ini, aku janji akan kembali ke dunia akuntansi karena aku sudah terlalu terpikat dengannya. Akuntansi itu pasti dan bekerja di bidang itu menjanjikan ketetapan dan sumber daya besar. Citranya baik. Meski aku sangat menghargai kerja kreatif, harus ku akui bahwa penulis dan perancang busana  bukanlah profesi-profesi yang menghasilkan kemapanan. Setidaknya tidak secara instan. Padahal ketahanan finansial adalah salah satu tujuanku dalam hidup. Uang yang cukup memberikan ketenangan. Aku menonton di salah satu film yang  tentang psikologi yang psikiaternya menjelaskan bahwa bila kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan telah terpenuhi, barulah manusia punya keistimewaan untuk melangkah lagi ke tahap pemenuhan kebutuhan lainnya, yaitu aktualisasi seni. Lagipula, mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan untukku. Berbeda dengan menulis yang hanya butuh banyak latihan dan banyak membaca, fashion butuh pengajaran dan praktik langsung kepada ahlinya. Meski keinginanku menjadi perancang busana sama kuatnya dengan mimpiku yang lain, sesungguhnya sebelum ini aku belum bisa melihat jalan ke arah sana. Dan tepat saat aku akan lulus, ada kesempatan ini yang ditawarkan di depan mataku. Ini adalah jawaban, kan?


Kamis, Desember 11, 2014

Book Hangover

Udah lama nggak baca buku fiksi yang bagus, tapi kemaren pas main ke toko buku dapet tiga buku dan salah satunya ternyata punya cerita yang dramatik dan cukup berbobot, syukurlah. Baru bulan sekarang ini punya timbunan buku yang belum dibaca dari bulan lalu. Abis kayaknya cerita-ceritanya ringan-ringan dan pasaran banget sih, padahal sekarang lagi pengen baca yang berat-berat.

Buku itu judulnya The Book Club. Aku udah naksir sih dari pas liat promonya di toko buku online langgananku, cuma belum sampe kepikir mo beli. Eh, kok ternyata malah ada di toku buku sini. Ya udahlah beli aja. 

Aku nggak mau review buku itu disini, nanti bakal ku tulis di postingan lain [ Walaaah..kapan?]. Ceritanya berat, soalnya tentang kehidupan lima orang wanita paruh baya dengan segala masalah mereka. Perasaanku mendung banget pas baca tuh novel di halaman-halaman pertamanya. Saking menariknya, pas baca aku terhanyut sampe-sampe bikin prinsip pribadi :
  1. Aku bakalan hati-hati banget milih pasangan hidupku kelak
  2. Aku bakalan pikir-pikir banget tentang keputusan punya anak, nggak sembarang bikin-bikin aja.
  3. Aku HARUS jadi wanita karir yang punya penghasilan sendiri selamanya.
  4. Aku bakal terus hidup bersama buku-buku
  5. Aku HARUS punya rumah pohon kelak
Huehehehe....


Selasa, November 11, 2014

Lyric And Translation Of "Baby Don't Cut" By B-Mike

Source : Pinterest

She's only 17, her whole life's ahead of her.
Gadis itu masih berumur 17 tahun, hidup terbentang di hadapannya.
She hates school because the people there discredit her.
Ia benci sekolah karena orang-orang disana merendahkannya
Her boyfriend tries to show her that's not how it seems.
Kekasihnya mencoba menunjukkan padanya bahwa semua tak seperti kelihatannya
But everyday she just gets lowered with her self-esteem.
Namun setiap hari harga diri gadis itu semakin rendah
He let's her know that every night will have a brighter day,
Kekasihnya membiarkannya untuk tahu bahwa setiap malam akan memiliki hari yang lebih cerah
She even tried to overdose and take her life away.
Gadis itu bahkan mencoba overdosis dan membuang hidupnya
She's feeling hopeless there just sitting down beside her bed,
Dia merasa putus asa, duduk di sisi tempat tidurnya
Then he takes his hand and places it beside her head.
Lalu sang kekasih mengangkat tangan dan meletakkannya di samping kepala si gadis.

He tries to hold her but with every touch she still resists,
Kekasihnya mencoba memeluk gadis itu, namun setiap sentuhannya ditolak
And then he sees the scars that bury deep within her wrists,
Lalu kekasihnya melihat luka-luka yang tercetak dalam di pergelangan tangan si gadis
She's feeling numb, he tries to beg and plead and ask her, "Why?"
Gadis itu mati rasa, kekasihnya terus memohon dan bertanya padanya, “Mengapa?”
She says this way she has control of the pain she feels inside.
Si gadis bilang inilah caranya mengontrol rasa sakit dalam dirinya
He's asking her, "How long it's going since you've felt this way?"
Sang kekasih bertanya “ Berapa lama sudah kau merasa seperti ini?”
Because you got me here, just feeling so damn helpless."
Karena kau membuatku merasa benar-benar tak berguna disini."
She says, "It's been a while. I guess I needed better luck."
Si gadis berkata “Sudah beberapa lama.  Sepertinya aku butuh keberuntungan yang lebih baik.”
And then he screams at her and tells her, "Baby, never cut!"
Lalu sang kekasih berteriak pada si gadis,”Sayang, jangan mengiris,”

Nobody seems to get you, you feel you're on your own,
Kelihatannya tak seorangpun cocok bersamamu, kau merasa sendirian
But listen, pretty lady, you don't have to be alone.
Tapi dengarlah wahai gadis cantik, bahwa kau tak harus sendirian
So, baby, don't cut, baby, don't cut.
Jadi, sayang jangan mengiris. Sayang, jangan mengiris.
You can do anything, just promise baby you won't cut.
Kau bisa melakukan apapun, berjanjilah bahwa kau tak akan mengiris.
I know your heart is hurting, you think the road has end,
Ku tahu hatimu sakit, kau pikir jalan telah berakhir
You may just feel that blade you're holding is your only friend
Kau mungkin merasa bahwa silet yang kau pegang adalah satu-satunya kawanmu.
But baby don't cut, baby don't cut.
Tapi sayang, jangan mengiris. Sayang, jangan mengiris.
You can do anything, just promise baby you won't cut.
Kau bisa melakukan segala hal, berjanjilah bahwa kau tak akan mengiris.

The next day at school she's feeling better than the day before.
Hari berikutnya di sekolah, si gadis merasa lebih baik daripada kemarin
Even cracked a couple smiles as she walked the corridor.
Dia bahkan merekahkan senyuman saat berjalan di koridor
But all that seemed to end: she dropped her books when she walked into class.
Namun semua itu cepat berakhir: bukunya jatuh ketika masuk kelas
And every student in the room just seemed to point and laugh.
Dan setiap siswa di ruangan hanya menudingnya sambil tertawa.
She couldn't take it anymore, she sent her boy a text.
Dia tak mampu menahannya lagi, dikirimnya pesan pada kekasihnya
She said, "I love you with my body, heart and soul to death."
Si gadis bilang,” Aku mencintaimu dengan seluruh tubuh, hati, dan jiwaku sampai mati.”
He thought nothing, typed "I love you", then he sent it.
Kekasihnya tak memikirkan apapun, mengetik “ Aku mencintaimu”, lalu mengirimnya.
By "death" he didn't know that she had literally just meant it.
“Sampai mati”, sang kekasih tidak tahu bahwa gadisnya benar-benar memaksudkannya seperti itu.

She ducked the next class, ran home into the bathroom.
Gadis itu membolos kelas selanjutnya, berlari pulang dan masuk ke dalam kamar mandi
Thought to herself she wouldn't break her promise that soon.
Berpikir bahwa dia tak menyangka dirinya melanggar janjinya secepat itu
One cut... two cuts... three cuts... four...
Satu irisan, dua irisan, tiga irisan, empat...
The blood just started dripping from the tub to the floor.
Darah mulai menetes dari bak mandi hingga lantai
Her boyfriend had a feeling in his stomach that he hated.
Kekasih gadis itu merasakan sesuatu yang dia benci di perutnya
He followed it right down to her house he never waited.
Dia mengikuti si gadis ke rumah yang tak pernah ditunggunya
The front door was open, he heard the water running.
Pintu depan terbuka, sang kekasih mendengar aliran air
He stormed into the bathroom and his heart just started gunning.
Dia menyerbu ke kamar mandi dan hatinya mulai tertembak

Nobody seems to get you, you feel you're on your own,
Kelihatannya tak seorangpun cocok bersamamu, kau merasa sendirian
But listen, pretty lady, you don't have to be alone.
Tapi dengarlah wahai gadis cantik, bahwa kau tak harus sendirian
So, baby, don't cut, baby, don't cut.
Jadi, sayang jangan mengiris. Sayang, jangan mengiris.
You can do anything, just promise baby you won't cut.
Kau bisa melakukan apapun, berjanjilah bahwa kau tak akan mengiris.
I know your heart is hurting, you think the road has end,
Ku tahu hatimu sakit, kau pikir jalan telah berakhir
You may just feel that blade you're holding is your only friend.
Kau mungkin merasa bahwa silet yang kau pegang adalah satu-satunya kawanmu.
But baby don't cut, baby don't cut.
Tapi sayang, jangan mengiris. Sayang, jangan mengiris.
You can do anything, just promise baby you won't cut.
Kau bisa melakukan segala hal, berjanjilah bahwa kau tak akan mengiris.

He puts her arm around his shoulder, he's just trying lean her back up.
Sang kekasih memeluk bahu gadis itu, mencoba mengangkatnya.
Yelling out her name as he lays her beside the bathtub.
Meneriakkan nama si gadis sambil menyangganya di sisi bak mandi
Feels his whole world just took a hit from a big avalanche.
Merasa seluruh dunianya runtuh karena longsoran besar
Screaming out so heavily, "Somebody call an ambulance!"
Berteriak begitu kuat “Seseorang tolong panggil ambulans!”
Feeling mad angry like somebody's led her onto this.
Merasa sangat marah karena semua orang telah membuat si gadis menjadi seperti ini
Her eyeballs are rolling, drifting out of consciousness.
Mata si gadis bergerak-gerak, mulai  hilang kesadaran
Thinking to himself why the hell did she just stop at will.
Sang kekasih berpikir mengapa si gadis berhenti berusaha
The tears just keep on rolling as they head to the hospital.
Airmata terus mengalir saat mereka menuju ke rumah sakit

Paramedics rush her in, the doctor calls emergency.
Staf medis segera menjemput si gadis, dokter memanggil gawat darurat
She's lost a lot of blood the place looks like a murder scene,
Si gadis kehilangan banyak darah, tempat itu terlihat seperti lokasi pembunuhan
An hour later, the doc walks over with a sour face,
Sejam kemudian, dokter berjalan keluar dengan wajah masam
And says, "Excuse me for the words that I'm about to say.
Dan berkata “Aku minta maaf atas apa yang akan ku sampaikan”
I'm sorry for your loss," the boy just starts collapsing.
“Aku turut berduka atas kehilanganmu” cowok itu terjatuh.
His own world, his own girl just took a crashing.
Dunianya, gadisnya baru saja hancur
Saying to himself that it's his fault and that he let it up.
Mengatakan pada diri sendiri bahwa semua salahnya 
"Baby, I thought you made a promise you would never cut."
“Sayang, ku kira kau telah berjanji bahwa kau tak akan mengiris"

Nobody seems to get you, you feel you're on your own,
Kelihatannya tak seorangpun cocok bersamamu, kau merasa sendirian
But listen, pretty lady, you don't have to be alone.
Tapi dengarlah wahai gadis cantik, bahwa kau tak harus sendirian
So, baby, don't cut, baby, don't cut.
Jadi, sayang jangan mengiris. Sayang, jangan mengiris.
You can do anything, just promise baby you won't cut.
Kau bisa melakukan apapun, berjanjilah bahwa kau tak akan mengiris.
I know your heart is hurting, you think the road has end,
Ku tahu hatimu sakit, kau pikir jalan telah berakhir
You may just feel that blade you're holding is your only friend.
Kau mungkin merasa bahwa silet yang kau pegang adalah satu-satunya kawanmu.
But baby don't cut, baby don't cut.
Tapi sayang, jangan mengiris. Sayang, jangan mengiris.
You can do anything, just promise baby you won't cut.
Kau bisa melakukan segala hal, berjanjilah bahwa kau tak akan mengiris.

Lyric's source : From here...

----------------------------------------------------------------------------

Ada perasaan miris, marah, dan getir kalau mendengarkan lagu di atas. Ceritanya tentang seorang cowok yang gagal menyelamatkan hidup kekasihnya. Jenis musik yang digunakan adalah rap. Lagu ini benar-benar sukses menampilkan perasaan kedua pasangan kekasih itu. Si cowok benar-benar peduli pada depresi yang dialami kekasihnya, dia terus menghibur, memeluk, dan ada di sisi gadisnya setiap saat. Gadis itu adalah orang yang terkucil di sekolahnya, dan tempat itu merupakan sumber depresi terbesarnya. 

Sayang, cowok itu tak berhasil. Semua kasih sayangnya itu tak cukup untuk membuat gadisnya ingin terus hidup. Semua cinta yang diberikannya tak cukup melawan rasa sakit kekasihnya. Dan ketika si gadis memutuskan untuk benar-benar mati, cowok itu merasa benar-benar hancur berantakan.

Ah, aku suka lagu ini. Pertama dengar aku ternganga karena terpesona akan kuatnya emosi yang dihasilkan lagu ini. Apalagi ini rap, yang ku rasa cocok untuk dipakai menyampaikan melodi-melodi tentang kemanusiaan.

Dan, hasilnya adalah aku semakin ingin menjadi sukarelawan kesehatan mental remaja. Aku tidak sanggup memikirkan betapa banyaknya remaja-remaja di luar sana yang memutus paksa bentangan hidupnya yang masih sangat luas. Aku ingin menyelamatkan mereka. 


Senin, November 03, 2014

Hidden Passion : Volunteer

Source : Pinterest

Kesibukanku akhir-akhir ini, mengurus proposal skripsi yang tertunda selama setahun lamanya. ada beberapa masalah administrasi terkait dengan kadaluarsanya SK Pembimbing, tapi pada intinya semua berjalan dengan amat lancar.

Sudah empat kali total tatap muka dengan si Bapak pembimbing II, tapi baru 1x yg dihitung sebagai konsultasi. Pertemuan ketiga, dia coret semua proposalku. kebanyakan terkait masalah teknik penulisan yang memang sebetulnya memang aku nggak begitu telaten masalah begituan.

Sudah diprint bagus-bagus untuk ketiga kalinya, versi ketiga kemarin itu ( Jum'at ) tebel banget untuk ukuran proposal. Hampir 50 halaman. Aku udah pede banget tuh menghadap karena udah ku tambah-tambahin dari berbagai buku. Dalam bayanganku, dia bakal mengangguk-angguk terus nyuruh ngurus surat permohonan ujian di pengajaran karen amemang targetku minggu ini sudah harus selesai bimbingan ke pembimbing I dan II.

Ternyata kenyataan tak seindah khayalan. Jangankan buka proposalku yang rapi dan cantik itu. Dia malah kuliah panjang lebar nyuruh aku bikin ulang proposalku karena menurutnya latar belakangku yang sekarang itu, " cuma metodenya yang kualitatif, tapi rasanya masih kuantitatif". Memang sih, aku bikinnya cuma copas berbagai jurnal & artikel ( tetep nyantumin sumber, dong ) karena dikejar waktu. Dan empat pertemuan sebelumnya dia nggak ada masalah tuh.

Yang bikin aku menarik kesimpulan : Wah, ternyata dia baru baca baik-baik proposalku ini. Dia baru tertarik, mungkin saja dia baru merenungkannya malam sebelumnya, atau pas dia ngawas ujian mid sebelumnya ( karena ceritanya aku disuruh nunggu sampai dia selesai ngawas ujian). 

Dia menantangku, bilang bisa tidak aku merubah latar belakang itu menjadi kalimat-kalimatku sendiri. Sisipan pendapat orang lain cukup satu dua paragraf saja. Dia juga bertanya apa aku suka menulis, dan kenapa aku tertarik pada kualitatif yang metodenya memang sangat abstrak. Ku jawab sekenanya saja sambil ketawa-tawa. Aku  menjanjikan proposalku senin ini.

Aku memang perlu  menjawil diriku sendiri. Masak aku ini, yang cita-citanya menjadi penulis, yang juga adalah seorang senior di sebuah lembaga pers dengan jam terbang yang cukup, penulis blog, dan maniak buku, tidak bisa membuat sebuah proposal karya asli? Ternyata bisa. Aku mencari ide selama dua hari dan mulai menuliskannya siang tadi. Begitu kalimat pertama terketik, selanjutnya ternyata sangat lancar. Aku hanya perlu browsing sedikit untuk melengkapinya dengan fakta dan data disana-sini agar tidak menjadi karya fiksi. Sebelumnya, aku berasumsi bahwa Bab I-nya akan menyusut. Ya, aku tidak cukup percaya diri untuk bisa menulis sesuatu sebanyak 13 halaman. Eh, ternyata setelah selesai sama saja. Bab I tetap 13 halaman. Ternyata aku ini lumayan juga, ya.

Jadi, itu tidak masalah. Yang bikin aku kesal adalah mengapa si Bapak itu tidak nyuruh begitu dari awal? Bayangkan pas koreksi pertama itu lama banget dia "bedah' proposalku. Coret sana coret sini. Kan buang-buang waktu namanya. Terus proposal versi ketiga itu, yang dia nggak koreksi dan suruh bikin ulang, kan jadinya kertasnya mubadzir. Itu bikin aku jengkel. Apalagi tema proposalku adalah tentang akuntansi hijau, yang  mana di dalamnya aku tegas dan keras banget menyoroti masalah eksploitasi SDA oleh manusia demi kepentingan hidup dan industri.

Mubadzir kertas ikut mempercepat habisnya hutan-hutan Indonesia oleh Illegal logging

Yang aku syukuri selama penyusunan proposal ini, aku baru sadar bahwa aku ini punya kelebihan yang berguna yaitu rentang konsentrasiku yang amat panjang. Memang agak susah bagiku untuk konsen karena ide-ideku yang banyak dan perhatianku sangat  mudah teralih. Namun, begitu bisa memasuki mode konsentrasi, maka aku akan benar-benar fokus. Ku perhatikan, aku bisa konsen selama kurang lebih 36 jam. Dan asyiknya, aku mendapati bahwa kalau kerjaanku yang butuh konsentrasi itu belum selesai tapi karena lelah aku berhenti sejenak untuk melaksanakan aktivitas lain seperti masak, makan, nonton film, menyanyi, membaca, mencuci, bahkan tidur, otakku tetap siap siaga pada kerjaan yang belum selesai itu. Pikiranku seperti sudah terikat pada hal itu dan tidak teralih meski fisikku berpindah-pindah. Berguna banget, kan?

Oh ya, berkaitan dengan penyusunan proposal itu, aku kan browsing-browsing tuh terutama mengenai kasus-kasus pencemaranalam oleh industri. Dan sumpah, aku nangis waktu baca tentang kisah tragedi Teluk Minamata di Jepang. Bukan pas tragedinya, tapi upaya negara itu untuk menjaga lingkungannya agar tidak terjadi hal serupa. Masyarakat Jepang itu belajar dari pengalaman, makanya nggak heran mengapa setelah diluluh lantakkan bom atom Hiroshima-Nagasaki, mereka cepet banget bangkitnya. Ck...ck...ck. Tapi abis itu aku emosi berat waktu baca tentang kasus Lapindo. Urghh..Rasanya pengen banting laptop saking sebelnya sama perusahaan itu & juga pemerintah yang nggak tegas dan penakut.

Abis itu, aku jadi punya keinginan untuk menjadi seorang volunteer pelestarian lingkungan hidup. Aku pengen jadi aktivisnya Green Peace atau minimal Wahana Lingkungan Hidup (WALHI). Sejujurnya, sejak dulu aku ini memang punya kepedulian lingkungan yang besar, lho. Malah jauh lebih besar dibanding kepedulian sosialku. He...he..he. Aku tuh perasaan banget kalau ngeprint-ngeprint salah terus yang bikin kertas & tinta terbuang percuma, atau siang-siang pas asap knalpot kendaraan lagi banyak-banyaknya, atau yang bikin aku gelisah banget... masalah energi minyak yang bikin bumi tambah panas hari demi hari. Aku sering mikiiir gitu gimana caranya supaya ada energi alternatif pengganti minyak bumi. bahkan aku setuju-setuju aja subsidi BBM dihapuskan, atau penerapan kebijakan warna plat, dengan catatan ada fasilitas transportasi umum yang aman, murah, nyaman, terjangkau, dan mudah diakses ( Kapan, ya?). Aku juga setuju-setuju aja ada kewajiban naik sepeda kesana-kemari sebagai pengganti kendaraan bermotor. Asal bukan aku sendirian yang naik sepeda :D.

Source : Pinterest

Ya, sebetulnya keinginan jadi volunteer itu  kuat banget akhir-akhir ini. Tidak cuma jadi volunteer lingkungan, aku juga pengen banget gabung jadi aktivis gerakan kesehatan mental dan.....galakkan kebiasaan membaca. Beneran, deh. Aku mau tuh gabung di tiga gerakan itu. Mungkin abis kuliah ini aku mau meluangkan waktu kesana.

Sekian. Selamat dini hari...


Senin, September 29, 2014

Before You Decide To Give Up


Source : Pinterest
Before you decide to give up, please think about :
  1. The books and mangas you want to read, and your goal to collect all of them
  2. The favorite or new animes and movies you want to watch
  3. The beautiful places around this world and your wish to visit them
  4. The clothes, accessories, handmade, and creativity you want to make and show it to the world
  5. The big personal library, full of books, that you want to build
  6. The story you want to tell to people, pull them into wonderful world of yours. The novels, articles, poems, reviews, and other great words  and incredible perspective of your beautiful mind. 
  7. The languages that you want to learn
  8. The challenging games you want to try
  9. Kutubussittah, nahwu shorof, qiro’at, and other religion knowledges you want to look for and spread it to make a better service for your creator
  10. The high-tech gadgets you want to have on your own
  11. The songs and musics you wanna write and sing it to people
  12. The delicious foods, freshing drinks, good snacks that you wanna try to eat.
  13. The people you want to save, you want to pull out of their darkness. 
  14. Your deepest hope to inspire others.
  15. All your big passions that you write down on your heart, still waiting for you to make it.
Source : Pinterest

See ? still so many reasons for you to give up now.
It doesn’t matter if your life feels like hell at all. It doesn’t matter if you fall down on the ground, surrounded by sadness and emptiness. All you need is stand up again and again in every single once. Stay strong ! Stay Alive ? Stay Happy ! See you in future, in the finish line.


Kamis, Mei 22, 2014

Insomnia's Bubbling.

Source : Pinterest

Maen Zuma, sampe kewalahan sendiri di level 3-4.
Maeng Hangaroo, curang banget nyari jawabannya di internet. Untung nggak pake waktu. Tetep juga mati di level 7. Pas di kata kunci " Phrases ". Pengen aja ngeliat apa yang muncul kalo berhasil menamatkan 10 level Hangaroo. :D

Jam 2 : 15

KTI sudah fix. 98 % copas. Parah dah. Tahu ngapa nggak mood banget ngerjainnya. Lagian nggak diujikan ini. Besok pokoknya harus sudah koreksi. Karena lusa deadlinenya. Ck..ck..ck. Sukanya mepet-mepet batas waktu. Mudah-mudahan aja langsung di-acc sama dosen pembimbingnya. Udah tinggal lusa kali, bu. Nggak usah kerajinan ngoreksi satu-satu napa. Toh di P2WKKN juga cuma ditaroh gitu aja. Digeletakin, dibuang-buang, ga diurus. Rugi dong susah-susah bikin.

I can't sleep.

Ga suka kalo insomnia gini. Pati besok seharian bakal ngerasa ga enak badan, plus ga enak di mood. Ih, mau gimana lagi coba. Udah berusaha tidur nih. Seminggu terakhir ini, insomnia menyerang hampir tiap malam. 

Source : Pinterest

Hmm..udah hampir masuk pertengahan tahun nih. Apa kabarnya resolusiku, ya ? Kayak belum ada yang terlaksana satupun. Cek satu-satu, ah. Postingan lengkapnya disini.

( 1 ) Menjadi Sarjana. Masih progress, tercapai baru 25 %

( 2 ) Membuat minimal dua novel dan tiga cerpen. Nggak ada blass, cuma paragraf-paragraf pendek yang nggak saling nyambung satu sama lain. 0 %.

( 3 ) Mendapat Penghasilan Dari Minat Jurnalistik. Udah pasti 0 %. Justru sekarang malah semakin jauh sama lembaga pers di kampus.

( 4 ) Membaca dan Memiliki Novel Terjemahan Minimal 50 Eksemplar. Hmm..E-book dihitung nggak, ya ? Kalau membaca sih udah ada sekitar 15. Tapi yang dimiliki baru 9 buah, berarti sekitar 5,6 %. Hitungan awalku dulu, satu bulan harus beli 4-5 novel, jadi seharusnya sekarang aku sudah punya minimal 20 novel. Jauh banget deh, ya ? Tapi tanggal muda bulan depan, insyaallah rencananya aku mau beli novel di toko online yang lagi obral besar-besaran. Mudah-mudahan jadi, ya ? Bisa punya sekitar 5-6 buku lagi tuh.

( 5 ) Bisa Main Gitar. Pencapaian sekitar 5 %. Pas KKN kemarin, baru sempet diajarin satu nada aja. Itupun metiknya ga bener, jadi disuruh senam jari dulu. Sekarang nggak tahu mau minta ajar siapa lagi. Mungkin otodidak aja ya, lihat dari internet.

( 6 ) Menerjemahkan Berita Tiga Eksemplar Majalah Asing Dan Satu Buku Berbahasa Inggris. Progress : 0%. Dulu sudah sempat mendownload novel bahasa inggris. Tapi baru diterjemahkan sekitar satu paragraf. Ternyata nggak semudah yang ku perkirakan.

( 7 ) Menekuni [ lagi ] Dunia Fashion Designer. Yang ini sih nggak ada target, ya. Sejauh ini aku baru mendesain 2 rok. Ntar dilanjutin lagi kalo udah punya duit buat beli kain.

( 8 ) Menulis Di Blog Setiap Hari. 35 %. Sebelum KKN sih banjir-banjir postingannya. Karena KKN di tempat yang nggak ada sinyal, kacaulah rencana ini. Tapi, niatku tetep mau memenuhi resolusi ini dengan membuat postingan dobel-dobel supaya tetep pas minimal 365 postingan.

( 9 ) Bikin Blog Buku & Aktif Di Goodreads. 0 %. Tapi kemarin aku udah di-approve buat gabung sama sebuah grup belajar menulis online di fb. Termasuk nggak ya ?

( 10 ) Memperbaiki dan Meningkatkan Segala Hal Dalam Hidupku. Ini juga nggak ada target pasti. Pokoknya harus ada perubahan positif dalam diriku. Yang lagi ku perjuangkan sih, melatih anak-anak sebaik mungkin supaya di Festival Anal Sholeh ( FAS ) tanggal 1 juni nanti, TPAku bisa dapat juara umum 1. Amiiiiinnn.....313x.

Source : Pinterest

Akhir-akhir ini sering banget sakit kepala menusuk, terutama kalau menjelang sore sampai malam hari. Kemarin sore malah aku sampe mau nangis. Apa gara-gara aku nggak pake kacamata lagi, ya ? Jadinya kalau udah sore gitu, mataku harus mulai kerja keras buat bisa melihat lebih jelas. Atau karena kecapekan dan tertekan aja ? Aku benci pake kacamata, membuatku terlihat seperti ibu-ibu. Tapi, aku juga nggak suka nggak bisa ngelihat apapun dengan jelas, itu merugikan banget tahu. Aku jadi disangka sombong gara-gara nggak nyapa, cuma karena aku nggak bisa lihat jelas mukanya orang jadi aku nggak tahu aku kenal dia apa nggak. 

Kenapa kalau di anime, cewek pake kacamata itu kelihatan imut ???

Hmm...


Sabtu, Mei 10, 2014

Aku tidak seperti itu..

Source : Pinterest

Aku bukannya sok misterius
Sok sibuk
Sok keren
Apalagi sok cantik

Aku kurang suka bersosialisasi
Kurang suka basa-basi, bicara ngalor ngidul
Jejaring sosial yang ku punya pun hanya ku jadikan tempatku mempublikasikan tulisan dan mengarsipkan hari-hariku

Aku tidak suka nongkrong nggak jelas
Wira wiri nggak ada tujuan
Curhat ke sembarang orang

Aku adalah orang yang biasa disebut " Kuper "

Aku selalu sibuk dengan diriku sendiri
Dengan pikiran, khayalan, impian, dan rencana-rencanaku
Dengan buku-buku, anime-anime, film-film, musik, dan duniaku 

Aku nggak sok pintar kok

Kalau ada perlu, datang saja ke pojokanku
Jawil aku, 
Pasti akan ku tanggapi dngan sebaik mungkin

Mungkin aku nggak secemerlang orang lain
Tapi ku pastikan aku akan tulus menyambut siapapun yang tersenyum padaku..



Jumat, Januari 10, 2014

My Little Library

Sudah sejak SMA aku punya cita-cita bahwa kelak di suatu saat aku akan membuat perpustakaan pribadiku sendiri. Aku ingin punya sebuah rumah yang mirip rumahnya Shinichi Kudo yang penuh buku [ udah googling tapi sayang nggak nemu gambarnya ], atau kira-kira seperti ini :

Source : Anime Go Sick Nomor 1

Tapi baru beberapa bulan terakhir ini aku mulai ngumpulin buku-buku, udah cerita kan ? Sekarang aku baru punya 13 buku. Tapi, biarpun baru segitu ternyata cukup makan tempat juga. 

My Homeless Book

Sepertinya aku butuh rak buku nih. Kamarku nggak punya rak buku. Soalnya selama ini buku paling tebal yang ku punya ya buku kuliah, terus dulu-dulu kalo ke toko buku belinya pasti komik yang nggak makan tempat. Rak bukuku adalah selembar papan yang dipakukan ke dinding. Selama ini sudah mencukupi kok.

Aku mau bikin rak buku sendiri. Yang sederhana aja, yang penting buku-buku punya rumah sendiri. Di rumah banyak papan-papan bekas ranjang kayu, tinggal mikirin gimana bentuknya, minjem peralatan dari Bapak, terus berkreasi deh. Kuat nggak ya tanganku maku-maku :D

Pengennya sih yang mirip ini :

Source : Pinterest

Tapi, karena aku sadar diri dengan kemampuanku, mungkin jadinya ya yang nggak jauh-jauh beda dari ini :

Source : Pinterest

Dan...Karena aku mau punya perpustakaan, makanya aku bulai belajar untuk menginventarisir buku-bukuku. Tau kan kalo di perpustakaan-perpustakaan itu, di punggung buku pasti ada tempelan kertas berisi indeks klasifikasi buku tersebut. Nah, tadi pagi tiba-tiba aku punya ide buat bikin kayak gitu. Biasanya buku-buku yang ku beli cuma ku tandai dengan nama dan tandatangan di lembar kedua setelah sampul.

Ada beberapa rumus klasifikasi buku yang sudah dikenal. Yang paling populer adalah indeks klasifikasi Dewey. menurut informasi yang aku dapat dari google, indeks ini adalah sistem klasifikasi yang paling maju dibanding sistem lainnya. Karena Dewey mengklasifikasikan buku-buku per kategori, tiap-tiap kategori itu di bagi lagi menurut genre buku, genre-genre buku tersebut juga dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Karena itu, sistem ini rumit. Karena kategori buku ala Dewey aja ada lebih dari 10.

Jadi, aku bikin sistem klasifikasi buku versiku sendiri. Toh, ini kan buat kepentingan pribadi juga.

Awalnya, rumusnya begini : 

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ]/ Tahun pembelian.

Jadi, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/2013

Keren, kan ?

Udah aku bikin lho untuk ke-13 bukuku, malah udah ditempelin sampe buku ke-10.

Hasil Kerjaan Sepagian-Salah Pula

Tapi ternyata aku bikin nomornya kurang. Di tahun 2013 aku beli 11 buku, tapi aku cuma nge-print nomor sampai 10. Terus yang bikin janggal tuh, kan ada beberapa buku yang berseri. Dan belinya juga nggak berurutan langsung buku 1, 2, 3 gitu. Biasanya loncat-loncat tergantung ketersediaan buku dan anggaran. Jadi, gimana bisa diketahui bahwa buku itu masih dalam satu serial padahal nomor pembelian bukunya nggak berurutan ???

Label Versi Awal-Nggak Ada Kategori Serial

Makanya aku mau nambahin satu kategori lagi, yaitu nomor serial [ jika berseri ]. Sejauh ini buku berseri yang ku miliki baru 5 serial. Jadi, daftarnya baru sampai lima. Terus gimana sistem penomorannya ? Jadi gini....

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ], Nomor Serial [ Sx ] /Non Serial [ NS ]/Tahun pembelian

Daftar Serinya :

A : Pierce Oliviera Series
B : Heather Wells Series
C : Layken Series
D : Deirdre & James Series
E : The Atlas Emerald Series

Maka, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, buku ketiga dari serial Pierce Oliviera, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/S-A-03/2013

Label Versi Perbaikan-Sudah Ada Kategori Seri

Tjakep, kan ?

Tapi, aku harus kerja dari awal lagi. Ngebukain satu-satu label yang udah ditempel, ngerancang dan ngeprint label klasifikasinya, terus ngegunting/ngelakban, dan nempelin tuh label ke buku. Yes. Bakalan sibuk nih malam ini. :D

Oh iya, perpustakaan kecil pribadiku ini aku kasih nama " HOSHIZORA PERSONAL LIBRARY ". Dalam Bahasa Jepang, " Hoshizora " berarti bintang. Alasannya simpel, aku suka bintang. Bagiku, bintang adalah simbol harapan. Dan aku berharap perpustakaan kecil ini akan terus bertambah besar dan pada akhirnya bisa menjadi salah satu tempatku membangun harapan dalam hidup [ Aciyaa.... ]

Source : Pinterest

# Puncak Manic..