Tampilkan postingan dengan label My Window World. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Window World. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 27, 2015

Twenty Four

Tepat tahun ke 24 saya hidup di dunia.

Akhir-akhir ini dibilang sibuk juga nggak, cuma saya lagi terhanyut sama hobi baru saya. Itulah kenapa pas malem baru saya ngeh kalo hari ini adalah hari terakhir saya di samping angka 23.

Hidup masih begitu sulit untuk saya, justru inilah titik terendah saya. Saya kehilangan hampir semua hal yang dulu menyangga saya. Setiap hari juga masih terus berjuang dengan lapisan-lapisan rapuh beragam emosi. Tempat-tempat yang sebelumnya terasa nyaman-nyaman saja tiba-tiba menjadi sesak dan mencekik. Pada dasarnya saya bukanlah orang yang cocok menetap lama di suatu tempat. Terlebih di usia ini, saya seharusnya sudah mandiri dan pindah dari rumah tempat kelahiran saya.

Usia 23 kemarin merupakan usia tersulit, namun begitu banyak juga hal berharga yang saya dapat. Hal-hal dan nilai-nilai hidup yang hanya bisa didapat oleh orang-orang yang menempuh perjalanan seperti yang sudah saya lalui. Saya masih penakut, masih pengecut, masih seekor siput yang terlalu waspada dan langsung berlari ke dalam tempat amannya begitu merasa terganggu sedikit saja. Namun belum pernah saya merasa lebih mengenal diri saya sendiri seperti saat ini. I have flaws, of course. And i have soooo many rare good side too. Kekuranganku mungkin fatal, tapi kebaikanku sangat jarang dimiliki orang lain. Selama 23 tahun, akhirnya saya bisa memahami diri saya. Saya mengerti alasan-alasan dari setiap tindakan dan keputusan yang saya ambil, karenanya saya bisa mencegah diri saya terluka sedini mungkin. Saya mengerti apa yang saya rasakan, apa dan siapa tepatnya yang saya butuhkan untuk dipertahankan di sisi saya. Saya akhirnya bisa merasa nyaman dengan siapa saya dan apa yang saya miliki. Saya tidak pernah ingin jadi orang lain dengan berkah mereka masing-masing. Dan di titik ini, saya yakin bahwa saya sudah cukup. Yang paling penting, saya tahu semua hal yang menjadi "pelatuk" bagi saya.

So, that's means i've lost some things but gained lots of valuable things too, right?

Sudah pasti akan ada banyak kesedihan dan penderitaan yang menanti saya di depan sana seperti biasanya, but i've endured all this time. Banyak waktu dimana saya merasa akan berakhir, namun nyatanya saya masih bisa menulis ini. Namun, Tuhan memang adil. saya diberikan hal-hal istimewa yang tidak diberikan pada orang lain dalam perjalanan saya sampai saat ini. Bukankah itu cukup jadi alasan untuk saya tetap kuat? Untuk melihat kejutan indah apalagi yang sudah disiapkan untuk saya. Untuk melihat seberapa kuat saya sebenarnya, terjatuh dan lost everything namun selalu bangkit lagi dan memperoleh kado kejutan dari Tuhan sebagai hadiah saya. Untuk melihat akan jadi seperti apa saya nantinya. It should be worth, right??

Pukul 12.48 WITA. 27 Agustus 2015.



Selasa, Mei 26, 2015

In May Days

Mmm..Sudah lama banget ga nulis. Bahkan saya pun bisa disibukkan oleh dunia nyata yang sedang berusaha saya rengkuh sebaik-baiknya.

Jadi, banyak progress bulan ini. Tanggal 6 Mei kemarin saya sudah selesai ujian skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan. Prosesnya cepet, ujian berlangsung nggak sampe setengah jam, sedikit sekali yang menanyakan argumentasi, kebanyakan hanya saran teknis penulisan saja. Saya sampe nggak percaya kalau itu ujian. Nggak kerasa. 

Sayangnya, saya nggak bisa ngejar wisuda bulan Juni. Saya insya allah akan mengikuti wisuda berikutnya September. Penyebabnya? Males ngerjain perbaikan. Hihihi. Saya sudah mengatakannya pada orang tua saya (Nunda wisudanya, bukan males perbaikannya) dan mereka OK saja karena toh saya masih terikat dengan kegiatan kursus sekitar empat bulan ke depan. 

Sekarang ini, saya sedang ada di Bandung, menginap di hotel Puri Tomat. Baru datang, sih. Besok konferensinya sudah mulai. Yang bikin saya agak lega adalah ternyata tempat penyelenggaraan konferensinya, di The Jayakarta Hotel, Suites, and Spa, itu di seberang jalannya Puri Tomat. Lebih dari yang bisa saya harapkan.

Akhirnya tiba juga saat ini, yang sudah saya nantikan selama tiga bulan terakhir ini. Banyak hambatan yang mewarnai perjalanan saya, masalah klasik sih: Uang. Saya baru tahu bahwa mahasiswa yang mengikuti acara-acara seperti ini tenyata harus mengatasi masalah keuangan sendiri. Cari dana sendiri, bikin proposal sendiri, kalau perlu pakai uang pribadi meski membawa nama kampus dan nama fakultas. Tapi, alhamdulillah semuanya bisa teratasi. Tidak banyak sih, malah bisa dibilang sangat pas-pasan banget. Dukungan orang tua dan dosen pembimbing membuat saya merasa begitu bangga dan senang pada mereka. Terutama pada kedua orang tua saya yang punya satu suara jika menyangkut pendidikan anak-anaknya. Tidak apa-apa kita di rumah makan seadanya, rumah jelek belum diplester atau dikeramik, perabotan rumah pun seperlunya saja, asal anak-anak bisa sekolah. Kalau perlu ngutang. Yang penting pendidikan lancar.

Saya agak merasa seperti berdelusi bisa kembali ke tanah Jawa secepat ini. Akan saya ceritakan esok, insya allah. Saya harus memaksa diri beistirahat supaya fit mengikuti konferensi esok.


Selasa, Februari 24, 2015

Accounting, Sewing, Writing, Dreams, Me, and The Way It Is Now

Untuk orang yang benci peraturan dan kesulitan bekerja di belakang orang lain, aku cukup menyukai dunia akuntansi. Sungguh. Akuntansi itu menantang. Akuntansi bukan persoalan yang terlalu mudah sehingga membuatku cepat bosan dan bukan juga bidang yang sangat sulit hingga aku harus jatuh bangun mempelajarinya.



Lebih dalam lagi, bagiku akuntansi adalah kenyataan. Ketika mempelajarinya saat kuliah dulu, aku sering berpikir, Wow! Jadi inilah semua yang menantiku di luar sana. Semua tabel dan alur ini yang akan menemani hidupku hingga akhir kelak, segala macam ketentuan dan keteraturan ini.

Aku beryukur bahwa di tengah semua keterbatasan dan kemungkinan, aku justru bisa kuliah di jurusan yang tidak sekedar bagus, namun juga bergengsi. Pekerjaan yang berkaitan dengan akuntansi bukan hanya sekedar pekerjaan, tapi juga menjamin citra dan kedudukan sosial. Meskipun aku sering membaca bahwa para akuntan adalah orang-orang pemikir yang kaku, patuh hukum, tidak neko-neko, dan suka hidup tenang dengan keluarga bahagia. Pekerjaan di bidang akuntansi bukanlah pekerjaan yang menuntut inovasi atau kreativitas, semua yang diperlukan hanyalah belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi ahli disana. Akuntansi bukanlah tentang kemampuan berbicara di depan orang banyak, melainkan bagaimana dengan pendidikan dan pengalaman masalah bisa ditemukan lalu mengatur dan mengelompokkan apa-apa yang “di luar tabel” sehingga segala macam aktivitas bisa tercatat dan terekam lalu catatan itu disusun sedemikian rupa. Akuntansi adalah keseimbangan.

Aku sendiri selalu menganggap diriku lebih ke tipe orang yang artistik. Aku sangat menghargai seni dan kreativitas manusia. Seni adalah sesuatu yang abstrak, berkaitan dengan rasa dan selera yang tidak dapat dikuantifikasi atau diproksikan. Sungguh bertolak belakang dengan akuntansi.

Source : Pinterest

Aku adalah seseorang yang punya mimpi-mimpi besar. Aku menyukai berbagai macam hal yang tidak ku ketahui. Terlebih lagi, aku sangat menikmati proses kreatif dan menciptakan sesuatu. Ya, proses itu sangat sulit. Tidak bisa ditebak, tidak bisa diatur, namun sekali ide itu muncul maka lahirlah sesuatu yang khas dan tidak bisa ditiru individu lain.

Dalam hal ini, aku ingin menjadi penulis dan perancang busana. Dua bidang yang menuntut inovasi dan kreativitas penuh. Tapi itulah yang aku sukai. Aku ini tidak suka mendapati diriku sama dengan orang lain, aku harus berbeda, harus unik, harus tak terganti, harus terlihat. Itulah prinsipku selama ini.

Penulis berarti menjadi Tuhan untuk sebuah semesta kecil. Sang penulis membuat dunia dengan aturan, hukum, norma, dan ketentuan yang diinginkannya. Ia mengisinya dengan tokoh-tokoh rekaannya, mensifati mereka, dan menggerakkan mereka sesuai kemauannya. Perintah yang datang dari jari jemarinya adalah titah tak terbantahkan. Ia menciptakan sistem sesuai idealismenya dan tak ada yang bisa menyalahkannya karena, hei, bagaimanapun ini adalah fiksi. Semua itu adalah keistimewaan seorang penulis. Bahkan, ia bisa mereka ulang takdirnya sendiri, lalu mengaturnya kembali sesuai yang diinginkannya. Memang, ia hanya bisa melimpahkan takdir ideal itu kepada tokoh-tokohnya, namun...apa salahnya?

Source : Pinterest

Mengenai perancang busana, ia juga adalah pembuat aturan. Namun skalanya lebih besar karena ia bersentuhan dengan dunia nyata dan orang-oran yang sesungguhnya. Perancang busana menciptakan aturan dan model yang dengan keindahannya dapat membuat orang terpengaruh sehingga tanpa sadar  mengikuti idealismenya. Siapa yang menentukan bahwa untuk terlihat sebagai seorang yang sukses dengan cita rasa tinggi, engkau harus memakai setelan jas Channel dengan jam tangan Rolex dan sepatu Dolce & Gabbana? Ya, para perancang merek-merek itulah. Mereka berhasil menyentuh orang dengan kreativitasnya sehingga aturan dibuat berdasarkan visi mereka.

Seni adalah pondasi peradaban.

Mengapa aku ingin menjadi penulis dan perancang busana?

Menjadi penulis, tentu karena aku ingin menghidupkan dunia sesuai bayanganku. Sering, aku merasa sangat lelah dalam dunia nyata yang ini. Aku lahir dan terikat dengan berbagai aturan yang ditentukan orang lain. Aku menjalani kehidupan dalam koridor takdir yang telah dituliskan untukku dan aku tidak punya hak apapun untuk merubahnya. Meski aku menganggap diriku adalah orang yang istimewa, meski aku punya berbagai macam ide dan solusi untuk membuat kehidupan di sekelilingku menjadi lebih baik, tidak serta merta aku dapat melaksanakannya. Aku terbentur berbagai batasan dan kekuasaan yang bahkan tidak peduli dengan niat baikku.  Aku hanyalah satu pemain diantara milyaran pemain. Karena itu, aku ingin melihat dunia yang ada di kepalaku benar-benar tercipta walau hanya setebal satu buku. Kalau beruntung, duniaku itu bisa mempengaruhi bahkan menyelamatkan orang lain.

Sedangkan mengenai perancang busana, aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak suka sama dengan orang lain. Jadi, ya, itu saja. Untuk yang satu ini, aku sudah memulainya. Awalnya karena ukuran tubuhku yang tidak ideal, sungguh sulit bagiku menemukan busana yang pas. Padahal aku kuliah yang menuntut pergantian model busana setiap hari dan baju-baju yang ku beli karena ukurannya muat, sungguh tidak ku sukai bentuknya. Karena itu, sejak awal semester tiga, aku mulai membuat modeku sendiri. Aku membeli majalah-majalah mode obralan, aku berselancar ke blog-blog para fashionista. Aku mendesain semampuku. Aku menyisihkan uang sakuku untuk membeli kain di pasar dan menjahitnya ke penjahit. Hasil-hasil karya pertamaku adalah rok-rok maxi dan beberapa macam kemeja. Namun sayangnya, karena aku menjahit pada penjahit pemula tetanggaku yang lulusan SMK dengan pertimbangan biaya, maka hasil jahitannya untuk baju belum terlalu bagus. Kerena itu aku memutuskan untuk menjahit rok-rok saja. Saat aku semester tiga itu, baru aku lah cewek berkerudung yang setiap hari memakai rok beragam model dengan beragam motif dan warna. Mode umum anak kuliah waktu itu adalah celana botol jins dengan kemeja. Aku punya gaya berbusana yang berbeda dengan mahasiswa lain dan aku percaya diri karenanya. Beberapa teman menanyakan model busanaku dan saat tahu aku mendesainnya sendiri mereka terlihat begitu kagum. Itu perasaan yang menyenangkan, mengetahui bahwa seleramu diakui orang lain. 

Saat memasuki semester enam, barulah style baru yang dibawa oleh para hijaber meledak. Saat itu mulailah banyak mahasiswa berkerudung yang memakai rok sebagai padanan busananya. Ada yang begitu menggangguku tentang hal tersebut. Banyak dari mereka hanya membeli pakaian itu karena modelnya terlihat bagus, padahal mereka sama sekali tidak pantas memakainya. Kesannya jadi dipaksakan. Fashion adalah tentang orang. Mengapa berusaha memakai sesuatu terlihat bagus di tubuh orang lain namun sangat mengerikan dikenakan pada tubuh sendiri?  Seperti rok maxi dari kain transparan dengan pelapis kain yang hanya sampai lutut sehingga orang masih harus memakai kaus kaki jika tak ingin kakinya terlihat, dan penampilan itu sangat sangat menggangguku sehingga hampir saja aku memarahinya. Padahal kebanyakan para perancang yang menampilkan sendiri rancangannya itu memiliki tubuh yang ideal dengan warna kulit dan kontur wajah sempurna sehingga ya, tentu saja apa yang mereka kenakan akan terlihat bagus. Atau jika tidak, mereka menggunakan model-model dengan tubuh yang sudah jelas sempurna. Padahal aku membaca di suatu tempat bahwa di dunia ini hanya kurang dari 5% orang yang punya tubuh ideal. Jadi, haruskah 95% lainnya memaksakan diri mereka dalam busana yang sama sekali tidak sesuai?

Itulah keinginanku. Untuk menciptakan busana yang cocok untuk 95% orang itu. Aku adalah salah satu orang yang masuk kategori yang disebut “bencana mode”. Tubuhku gendut, besar, dengan kulit sawo matang ke arah gelap. Perutku berlipat dan lenganku bergelambir. Hidungku pesek, wajahku bundar, alis dan bulu mataku tipis, serta tulang pipiku tidak menonjol. Sulit mencari busana yang pas denganku. Banyak anak-anak muda dengan tubuh sepertiku yang akhirnya harus menyerah dan memakai pakaian yang diperuntukkan bagi para ibu-ibu. Sungguh mengenaskan.

Source : Pinterest

Dan apa alasanku menulis postingan sepanjang ini kali ini?

Ya. Satu hal. Ibuku yang bekerja di Kantor Disnakertrans menawariku kesempatan mengikuti kursus yang dilaksanakan selama lima bulan oleh BLK. Satu bulan program pelatihan dan empat bulan lagi magang. Awalnya aku agak ragu karena aku berencana sehabis ujian skripsi yang memberikan gelar SE di belakang namaku, aku ingin langsung mencari kerja yang sesuai dengan bidangku tanpa menunggu wisuda di Juni. Lagipula, meski ingin menjadi perancang busana, aku sama sekali tidak ingin menjadi penjahit yang kerjanya monoton namun upahnya tidak sesuai UMR.

Namun, setelah berpikir masak-masak, aku akan mengambil kesempatan pelatihan ini. Para perancang busana profesional yang telah diakui adalah mereka yang pernah sekolah fashion. Mendesain tidak hanya tentang menggambar. Itulah hambatan yang ku temui selama ini. Aku mengerti sedikit banyak tentang basic fashion rules, aku tidak buta sama sekali soal jahit menjahit. Aku mampu membuat pakaian-pakaian berpotongan sederhana, namun keterbatasan pengetahuanku tentang teknik menjahit menyumbat ide-ideku. Aku tidak bisa membayangkan model-model pakaian yang rumit dan tidak bisa membayangkan letak jahitan dan potongannya. Hal itu membatasiku. Ide-ideku tidak bisa meninggi bila pondasiku rapuh. Lagipula, aku tidak punya modal. Sehingga aku tidak bisa harus terus membayar penjahit yang ongkosnya sungguh mahal di awal-awal nanti. Lagipula, tidak semua penjahit itu kreatif. Beberapa kali aku temukan hasil jahitan yang ku terima tidak sesuai dengan keinginanku, mendekati pun tidak. Ada beberapa hal yang tidak bisa dipelajari secara otodidak, termasuk teknik menjahit. Untuk hal lain seperti tema, padu padan warna dan motif, gambar desain kasar, dan pemasaran bisa ku pelajari sendiri dari buku-buku dan internet.

Jadi, sepertinya aku tidak bisa langsung terjun ke dunia akuntansi. Aku akan beralih ke mimpiku yang lain untuk sementara. Selepas ini, aku janji akan kembali ke dunia akuntansi karena aku sudah terlalu terpikat dengannya. Akuntansi itu pasti dan bekerja di bidang itu menjanjikan ketetapan dan sumber daya besar. Citranya baik. Meski aku sangat menghargai kerja kreatif, harus ku akui bahwa penulis dan perancang busana  bukanlah profesi-profesi yang menghasilkan kemapanan. Setidaknya tidak secara instan. Padahal ketahanan finansial adalah salah satu tujuanku dalam hidup. Uang yang cukup memberikan ketenangan. Aku menonton di salah satu film yang  tentang psikologi yang psikiaternya menjelaskan bahwa bila kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan telah terpenuhi, barulah manusia punya keistimewaan untuk melangkah lagi ke tahap pemenuhan kebutuhan lainnya, yaitu aktualisasi seni. Lagipula, mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan untukku. Berbeda dengan menulis yang hanya butuh banyak latihan dan banyak membaca, fashion butuh pengajaran dan praktik langsung kepada ahlinya. Meski keinginanku menjadi perancang busana sama kuatnya dengan mimpiku yang lain, sesungguhnya sebelum ini aku belum bisa melihat jalan ke arah sana. Dan tepat saat aku akan lulus, ada kesempatan ini yang ditawarkan di depan mataku. Ini adalah jawaban, kan?


Senin, Juli 28, 2014

A Stained Heart

Jadi, akhirnya bulan Ramadhan selesai dan hari ini kita merayakan hari raya idul fitri. Alhamdulillah. Mudah-mudahan tahun depan bisa menjumpai bulan yang istimewa dan hari spesial seperti ini.


Aku ingat saat masih kecil, sampai kira-kira SMP. Bahagia sekali rasanya menyambut hari raya. Berdebar-debar, exciting, semangat, bergembira bersama anak-anak kecil lain membicarakan tentang baju baru, kue-kue, rencana pesiar, dan hal-hal lain.

Dulu, kompleks tempatku tinggal ini setiap hari raya idul fitri punya acara pesiar bareng satu kompleks ke rumah-rumah yang jauh. Terasa sekali kebersamaannya. Naik motor bersama keluarga dan keluarga-keluarga lain, kadang dapat hagala [ istilah untuk amplop hari raya ]. 

Sejak tiga tahun lalu, hari raya idul fitri sudah mulai terasa biasa bagiku. Bukannya tidak senang atau apa. Makna hari raya masih sama besarnya bagiku, masih sama istimewanya, apalagi di usia remaja akhir ini setiap bulan puasa sudah mulai ikut balapan beramal dan mengejar pahala. Jadi, lebaran terasa begitu nikmat setelah berjuang selama sebulan. Yang berkurang kesannya adalah kebiasaan.

Berpelesir dan bersilaturahmi.

Mungkin dikarenakan sifat introvert dan antisosialku, bersosialisasi saat hari raya terasa sangat membebaniku. Soal saling maaf-maafan, sepertinya cuma terasa di mulut saja. Aku ini orang yang paling tidak suka senyum-senyum atau berbaik-baik sama orang yang sebenarnya masih ku gerundeli. Ku pikir orang lain juga seperti itu. Hanya saja, mereka kebanyakan bukan menampakkan ketidaksukaan, melainkan senyum palsu dibuat-buat lalu meminta maaf padahal dalam hati sebenarnya tidak bermaksud saling memaafkan. Kata maaf begitu sakral untukku. Aku tidak akan minta maaf jika aku tidak merasa bersalah meski orang lain mengganggapku salah. 

Source : Pinterest

Bukannya itu bertentangan dengan makna saling memaafkan yang sebenarnya ?

Bahwa meminta dan memberi maaf haruslah dilakukan dengan tulus sehingga tidak ada lagi rasa saling benci dan tidak senang setelahnya. Benar, kan ?? Seharusnya setelah itu tak ada lagi acara mengungkit-ungkit kesalahan yang sudah terlewat. Betul, kan ?

Balik ke soal introvert, bukan hal asing bagi orang sepertiku untuk selalu merasa ingin sendirian. Ini tidk berhubungan dengan depresi atau bipolar yang ku alami. Sifat introvert memang seperti itu, kurang nyaman bergaul bersama orang lain, selalu ingin menenmukan tempat untuk sendirian. Keramaian justru membuatku tertekan. Apalagi kalau jalan bareng muda-mudi, rasanya tidak enak hati melihat sikap-sikap kekanakan dan tingah polah puber mereka. 

Atau mungkin hatiku saja yang sudah berkarat  Jiwa muda yang mengalami penuaan dini. Orang seusiaku memang seharusnya bergaul dengan siapa saja, pergi kemanapun kaki membawa, dst dst. Tapi, entah mengapa semua itu tidk membuatku tertarik. Bagiku, definisi kesenangan dan ketenangan adalah tempat sepi yang sejuk, akses internet tak terbatas, tumpukan buku-buku yang belum dibaca, musik mellow, mungkin secangkir dua cangkir cappuccino panas, dan...kesendirian. Sendiri sehingga pikiranku lapang tanpa ada intervensi orang lain, tanpa ada perasaan apapun yang ditimbulkan oleh kegiatan interaksi, sendiri sehingga aku dapat merasakan diriku sendiri.

Source : Here

Ah, sudahlah. Mungkin aku saja yang terlalu melodramatis, menganggap ini semua terlalu serius. Hari ini bukan tentang aku, tapi tentang kita semua umat islam yang merayakan hari besarnya.

HAPPY IED MUBAROK 1435 H.


Senin, Juli 07, 2014

Caffeine

Sejujurnya, aku lebih suka milih yang cappuccino
Tapi, efek kafeinnya terlalu kuat untuk ditanggung tubuhku
Apalagi ini puasaan, butuh istirahat yang cukup dariku.
Dan kafein akan membuatku terjaga untuk waktu lama
Sesuatu yang selalu menyebabkanku melakukan dan memikirkan hal-hal yang buruk

Source : Pinterest

Jadi, malam ini milih Moka aja, yang lebih mild efek kafeinnya.
Memang tidak akan membuatku bersinar, tapi setidaknya cukup untuk meredakan keinginanku minum kopi.


Sabtu, Juli 05, 2014

#11 Tanpa Batas, Gagas Media Challenge

REMEMBER WHEN you held my hand for the first time ?

WITH YOU, I can feel the FLAVOR OF LOVE.

Kita sedang duduk berdua di taman kota yang terkenal dengan SEBELAS jenis anggreknya, dipayungi senja TANPA BATAS bernuansa ORANGE yang menceritakan KISAH LANGIT MERAH. Menikmati HEAVEN ON EARTH yang SEMPURNA. Aku terhanyut dalam BUKU berjudul IT HAD TO BE YOU, kau berbaring di sisiku, di rerumputan hijau yang terhampar luas, menyimpan MEMORI dari berjuta DONGENG SEMUSIM. Aku tertawa tanpa sadar saat sang tokoh utama, Phoebe Somerville, berdebat dengan Dan Calebo.

Tiba-tiba kau duduk, meraih tangan kananku lalu berkata pelan : “ Hei, jangan tertawa tanpaku “.


Itulah CATATAN MUSIM panasku bersamamu.

____________________________________________________

Source : Pinterest

Diatas itu puisi yang aku ikutkan dalam tantangan #11 Tanpa Batas dari Penerbit Buku Gagas Media di Fanpagenya. Peraturannya, harus bikin tulisan 111 kata menggunakan 11 judul buku terbitan Gagas dan mencantumkan kata-kata " Buku ", " Tanpa ", " Batas ", " Sebelas " dengan ditandai huruf kapital. Tantangan itu dibuat dalam rangka menyambut ulang tahun Gagas Media yang ke 11.

Ada dua sih tantangannya. selain yang di atas, yang satu lagi adalah bikin postingan tentang 11 buku terbitan Gagas Rekomendasimu. Sayang, karena aku cuma punya 2 buku dari Gagas, makanya agak susah mo ikutan. Mungkin dulu-dulu banyak buku Gagas yang udah ku baca, tapi nggak ngeh sama perbedaan antara penerbit satu dengan penerbit lain.

Jujur, aku bukan orang yang fanatik sama penerbit tertentu, pokoknya kalo aku suka atau lagi pengen bukunya, ya aku beli aja. Tapi, memang aku agak prefer sama terbitan Gramedia, terutama untuk novel terjemahan. Nggak tahu, aku rata-rata suka sama novel-novel luar negeri yang mereka terbitkan.

Jadi, itu aja. Mudah-mudahan aku menang, meski waktu ngirimnya mepet banget dari waktu deadline #Kebiasaan. :P AMIIIINNNN.....


Jumat, Juli 04, 2014

The Books I've Bought Last Month

Udah semingguan ga ada postingan nih. Nggak tahu kenapa males banget mau nulis. Padahal ide tulisan sih banyak, tapi kalo udah di depan dashboard blog, malah nggak tahu ilang kemana semua konsep yang udah terpikirkan sebelumnya. Apalagi sejak awal puasa, waktu istirahat malamku benar-benar harus ku manfaatkan sebaik-baiknya saking padatnya jadwal kegiatan. Kalo nurutin kebiasaan lama yang baru tidur menjelang shubuh sih, bisa kacau semua urusan.

Jadi, disini aku mau cerita tentang buku-buku yang ku beli bulan lalu ( Juni ). Demi apa songong banget dirikuh sampai buat postingan khusus tentang buku yang ku beli. Iya dong, soalnya pembelian bukuku bulan kemarin itu merupakan rekor pembelian buku terbanyak bulanan seumur hidupku. Dan juga merupakan sejarah pembelian online pertamaku. Dan...Semuanya murah meriah karena beli di event diskon dari penerbitnya langsung. Muahahahaha#KetawaGila

Langsung saja, ini nih buku-buku yang ku beli Bulan Juni :

Totalnya ada 13 buku. 11 novel terjemahan, 1 Al-Qur'an, dan 1 majalah anime obralan. 


1. Al-Qur'an ( Rp. 29.500 )

Beli di toko buku. Ceritanya pas awal Ramadhan kita sekeluarga lima orang rebutan qur'an bacaan. Soalnya, di rumah qur'an bacaan cuma ada empat, itupun yang satu udah bocel banget saking lamanya. Akhirnya ibu memutuskan buat membeli yang baru buat aku dan adikku. Kebetulan, pas kapan itu aku maen ke toko buku, nemu qur'an yang bagus-bagus dan murah. Jadilah pada hari ketiga puasa, siang bolong aku boncengan ma adek aku kesana. 

2. Succubus Series by Richelle Mead (@ Rp.16.500 ):
  • Succubus Revealed
  • Succubus On Top
  • Succubus Dreams 
  • Succubus Shadows
  • Succubus Blues
  • Succubus Heat


Hehehe..Inilah paket buku bersejarah belanja online pertamaku. Awalnya agak takut-takut belinya, takut ketipu. Makanya butuh waktu empat hari dari sejak aku booking sampai transfer uangnya. Yang bikin aku agak berani adalah ini dibeli di website penerbitnya langsung. Jadi, paling tidak ada yang bisa dihubungi kalau kenapa-kenapa. Dan, semuanya diatas itu buku novel Succubus Series yang jumlahnya enam. Yah, senang juga bisa punya series yang lengkap. Ngomong-ngomong, semunya diskon 80%. Hihihi..

Tapi, diskon itu berlaku bagi member. Mungkin karena aku baru pertama kali beli, maka dikasih harga diskon doang, yaitu 70%. Harga member adalah Rp.11.000. Semuanya 2 kg, jadi ongkirnya Rp. 80.000. Nekat banget deh pokoknya waktu itu. Baca Bismillah aja pas transfer di ATM. 

Cuma 3 hari bukunya nyampe, seneeeeeeeng banget deh pas itu. Sampe jingkrak-jingkrak keliling rumah nggak jelas gitu. 


Selain 6 novel, ini isi paketnya : Kartu diskon & nota pembelian.


3. Dark Hunter Series by Sherrilyn Kanyon ( @ Rp. 11.000 ) :
  • Unleash The Night
  • Sins Of The Night

Kalau 2 buku ini + 3 buku dibawah, udah dikasih harga member ( diskon 80%).
Aku milih buku ini karena terpengaruh sama beberapa reviewer buku. Lumayan banyak yang nge-fans sama serial ini. Bahkan, ada yang fanatik banget sama serial Dark Hunter ini. Bukunya sendiri sudah ada 9 seri yang diterbitkan di Indonesia. Yang ku beli di atas pas banget buku ke-8 dan buku ke-9. Sayang, yang kena diskon cuma 2 buku terakhirnya. Coba aja kalo dari seri nomor satunya, insya allah bakal ku beli semua seperti serial Succubus di atas. 

Udah nyoba baca sedikit, tapi aku ngerasa belum terlalu nyambung. Padahal, buku-bukunya bisa dibaca terpisah loh, nggak harus urut dari nomor satu. Karena masing-masing buku lain tokoh utamanya. Tapi, kok ya tetep aja rasanya nggak enak. Jadi, aku putuskan nyari buku-buku nomor sebelumnya. Ada sih, harganya lumayan murah juga, nggak nyampe 20K, tapi itu pun kalau aku belum tergoda beli buku yang lain :D

4. Serial Conspiracy 365 by Gabrielle Lord ( @ Rp. 7.980 )
  • Book 1 : January
  • Book 2 : February
Ini adalah seri crime writer karya penulis Australia Gabrielle Lord. Bukunya sendiri ada 12 yang katanya terbit tiap bulan. Tapi, yang terbit di Indonesia baru sampe buku ketiga.
Aku beli ini, kenapa ya ??? Mmm... Oh ya, pengen aja baca genre yang lain selain ParaRom dan Romance. Terus, di website sampulnya kayak seru banget.
Bukunya sih nggak begitu tebal, terus tulisannya gede. Jadi, kesimpulanku ini buku buat anak-anak setingkat SMP-SMA. Bukan berarti aku nggak suka, sih. Dari halaman awalnya saja sudah disuguhkan aksi. Tapi, bukan berarti aku suka banget juga.

5. Without Mercy by Lisa Jackson ( @ Rp. 11.000 )

Aku sebenarnya nggak pesan buku ini. Yang ku pesan tuh Wintercraft. Tapi, bukan berarti aku mengeluh kok. Untung saja aku belum punya dan belum pernah baca buku ini dan genrenya lumayan juga. Nggak ada penambahan harga juga.
Entah salah bungkus, atau emang nggak ada stocknya sampai diganti buku ini, tapi yang jelas untuk pemesanan selanjutnya aku masih harus pesan Wintercraft lagi. Mudah-mudahan selanjutnya nggak salah.

6. Majalah Animonster Edisi Mei 2014 Obralan ( Rp. 5000 )

Kalau ke toko buku, majalah inilah yang selalu ku cari. Tapi nyari di bagian obralan aja. Soalnya, harga barunya tuh kalau nggak salah 20K-an. Lagian, aku mau majalah anime ini bukan nyari update-an beritanya, tapi cume pengen baca review-reviewnya aja. Oh iya. Bonus posternya juga :D. Dan edisi Mei 2014 ini memuat hal ihwal tentang anime-anime Spring 2014 kemarin, yang hampir semua udah tamat sekarang.

Source : Pinterest

Jadi, total pembelian buku bulan lalu : 29.500 + 99.000 + 48.960 + 5000 = Rp. 182.460

Yah, lumayan murah sih, Kalau begini terus, target punya 50 buku tahun ini bisa tercapai. Soalnya dengan tambahan 11 novel di atas, tahun ini aku udah punya 22 buku dan total dengan pembelian tahun kemarin adalah 32 buku. Nyamm....

Oh iya, sampe lupa. Penerbit tempat aku beli novel-novel di atas adalah Penerbit Dastan. Salah satu hal yang ku sukai dari buku-buku terbitan penerbit ini adalah setiap bukunya PASTI ada bookmarknya, bentuknya lucu-lucu lagi. :D

Sekian, salam kutu buku. Selamat menjalankan ibadah puasa, minna-san.


Sabtu, Januari 18, 2014

Lofty Place...

Source : Pinterest

Kampusku terletak di bukit tertinggi di Palu. Jalan menuju kesana naik turun mengikuti kontur daratan. Untung kondisi aspalnya mulus. Lurus, nggak ada belokan tajam, dan nggak berlubang-lubang. Jika melintasinya, rasanya dekat sekali dengan langit.

Tapi, karena bagusnya jalannya itulah sering sekali digelar balapan motor baik yang resmi maupun tidak resmi, terutama di akhir pekan. Kalo yang nggak resmi, kita sebagai pengguna jalan cukup menjalankan motor dengan hati-hati melipir dekat trotoar supaya tidak tersambar motor-motor yang sedang melaju. Kalo yang resmi biasanya diselenggarakan oleh salah satu perusahaan rokok ternama di negeri ini. Sebalnya, mereka menutup semua akses jalan ke kampus. Padahal, akhir pekan aku tetap ke kampus untuk urusan lembaga atau cuma untuk main saja. Ada sih, jalan lain. Tapi, aku nggak terlalu hafal jalan di daerah sini. Untuk mencapai jalan alternatif yang lain itu, aku perlu memutar melewati bukit-bukit dan lorong-lorong tikus yang kondisinya jelek. Nyasar kesana kemari, lewat jalan buntu, kuburan, lapangan bola, dan lain sebagainya sambil mengira-ngira arah mana yang benar. Melihat kota ini, kau tidak akan mengira bahwa ada satu daerah dimana lorong-lorong tikusnya tak ubahnya labirin. Untuk penduduk asli, mungkin itu tak masalah. Tapi bagi orang sepertiku yang meski lahir disini tapi untuk dikatakan sebagai putra daerah juga tidak cukup pantas, ini sangat menyebalkan. Perjalanan pergi yang sebelumnya hanya memakan waktu paling lama 25 menit, sekarang menjadi dua kali lipatnya. Apalagi bila keadaan tangki bensin benar-benar pas-pasan dan uang di kantong juga menipis, rasanya was-was sekali.

Dan dalam perjalanan itu, aku berkali-kali nyasar ke bukit. 

Indah sih, pemandangannya. Tapi sepinya benar-benar mencekam karena sebagian area bukit juga digunakan untuk lokasi taman pemakaman umum. Begitu menaiki bukit dan langsung berhadapan dengan jurang di bawah dan langit seluas mata memandang, benar-benar menggetarkan hati. Dalam artian negatif buatku.

Source : Here

Aku benci ketinggian, sungguh. Dalam arti harfiah maupun kiasan. Ketinggian membuatku merasa tidak nyaman, tidak aman, mual, dan siap terjatuh kapanpun dengan sangat menyakitkan. Aku lebih takut pada ketinggian ketimbang pada setan. Kau bisa mengusir dan menjauhkan makhluk halus dengan berdoa. Tapi ketinggian ? Hanya ada kedalaman di depanmu. 

Aku heran kenapa orang Palu suka sekali berkunjung ke bukit ini. Memang pemandangannya sangat bagus, tapi ini bukan tempat satu-satunya di Kota ini dimana kau bisa mendapatkan semua itu.

Source : Here

Seingatku, dulu aku bukan orang yang takut ketinggian. Aku juga tak pernah mengalami kejadian yang membuatku trauma akan tempat tinggi. Entah sejak kapan aku punya phobia ketinggian. Benar-benar tidak romantis. Aku tidak akan bisa berdiri merentangkan tangan bersama orang yang ku cintai di ujung kapal menikmati udara laut seperti Rose dan Jack dalam film Titanic. 

# Menunggu kru lain yang katanya mau menginap...



Minggu, Januari 12, 2014

The Judgement And The Mental Diseases

Source : Pinterest

Menghakimi orang secara sepihak, itu tanda bahwa kita tak mengerti.

Entah mengapa, kita ini sebagai manusia lebih senang berbicara. Bahkan tanpa diminta. Kita mengomentari setiap hal yang mungkin tak ada hubungannya dengan kita hanya karena itulah hal paling mudah yang bisa kita lakukan. Kenapa kita tak mendengarkan omongan orang sampai selesai baru setelah itu kita mengutarakan pendapat kita ? Kenapa kita tidak berusaha untuk tidak menghakimi apapun tentang orang lain sampai kita mengetahui betul alasan di balik tindakan seseorang ?

Kita hanya membicarakan apa yang kita pernah rasakan, sesuatu yang kita [ pikir ] memahami dengan benar. Kita menjatuhkan dan menekan orang lain agar sesuai dengan apa yang kita mau. Padahal, kejadian hidup kita tak ada yang sama dengan kejadian orang lain. 

Bukan maksud untuk sok puitis atau bahkan menggurui, lho. Aku juga terkadang suka nyolot sampai berbusa-busa, menghamburkan keinginanku atas orang lain, menghakimi seseorang yang bahkan tidak ku kenal dengan baik.

Ada alasan aku menulis tentang topik " menghakimi ini ". Aku pernah sekali menulis tentang hal tersebut, namun aku hanya menceritakan tentang penghakiman orang lain terhadapku. Ya, aku ini tipe orang yang lebih suka sendirian. Orang yang mengabaikan keramaian, tak peduli terhadap sisi-sisi mana orang banyak memilih. Dan, seperti layaknya orang yang memilih berbeda, aku sering jadi korban penghakiman sepihak dari lingkunganku.

Tapi, kali ini aku akan menceritakan pendapatku tentang menghakimi orang yang mempunyai gangguan kejiwaan. Di lingkunganku ada seseorang yang terkena gangguan jiwa, tapi anehnya dia masih sadar sebagai seseorang. Ngerti kan ? Dulu aku berpikir bahwa orang gila itu ya benar-benar tak sadar akan siapa dan dimana dirinya, benar-benar terputus dari dunia. Tapi orang ini, memang perilaku, emosi, dan kemampuan sosialnya bermasalah, tapi dia masih mengerjakan pekerjaannya dengan rajin dan beres pula. Aku biasanya menjauhi orang ini karena dia sering bicara dan marah-marah sendiri, juga sering meledak tanpa sebab. Begitupun orang lain berusaha tidak bermasalah dengannya.

Source : Pinterest

Mengidap Bipolar, membuatku banyak mencari tahu tentang apa dan bagaimana gangguan mental ini. Dikatakan bahwa mengetahui tentang penyakit ini adalah salah satu cara untuk membuat pengidapnya merasa lebih baik. Aku sudah browsing kemana-mana, sampai akhirnya aku berselancar di situs Youtube. Dengan kata kunci " Bipolar Disorder ", maka banyak hasil pencarian yang bermunculan. Memang sih, semuanya berbahasa inggris. Aku hanya menonton video yang ada tulisan, bukan rekaman pembicaraan orang. Jadi, aku bisa mengerti sedikit banyak.

Dengan semua itu, aku tahu bahwa aku tidak sendirian di dunia ini. Banyak sekali orang yang juga mengalami hal yang sama, setiap hari terbangun dengan perasaan takut, mood apa yang akan menguasaiku hari ini ? Apakah Manic yang membuatku seperti terbang di atas awan tak berbatas ? Ataukah depresi ? Kejatuhan ke dalam kedalaman gelap tanpa ujung ?

Source : Pinterest

Tapi gangguan mental yang umum dikenal bukan hanya Bipolar Disorder. Masih ada Schizofrenia, kepribadian ambang, dan lain-lain. Nah, orang-orang pengidap Schizofrenia inilah yang sering diteriakin di jalan-jalan oleh anak kecil " Orang gila...Orang gila..,". Mereka mempunyai Waham, yaitu semacam halusinasi yang sangat mereka yakini bahwa hal itu benar terjadi. Karena waham itulah mereka berperilaku aneh, ada yang meyakini bahwa dirinya adalah seorang tentara pahlawan yang harus melindungi semua orang. Jadi, mereka bertingkah seperti tentara, kemana-mana membawa senjata [ mainan, tentu ], memakai topi tentara, dsb. Kalau gangguan kepribadian ambang, pengidapnya cenderung emosional, mudah marah, depresi tanpa henti, menutup diri, dll.

Meskipun Bipolar Disorder adalah penyebab tertinggi kematian yang disebabkan oleh bunuh diri, tapi aku masih merasa itu lebih baik ketimbang dua gangguan kepribadian lain diatas. Setidaknya, pengidap Bipolar masih sadar lahir batin, masih sangat manusia, tak ada yang salah kecuali mood swing yang ekstreme. Pengidap Schizofrenia banyak yang terputus dari kenyataan, hidup di dunianya sendiri. Pengidap Bipolar masih mampu hidup di masyarakat walau lebih sering menarik diri. Penderita gangguan kepribadian ambang merasa marah dan depresi terus menerus. Sedangkan pengidap Bipolar mempunyai periode Manic, yaitu di saat mood sedang sangat terlalu baik, ketika ini kami merasa sangat bahagia, optimis, bersyukur, sosialis, bersemangat, banyak ide, dan seterusnya. Disinilah kami betul-betul bisa produktif menghasilkan karya-karya hebat bahkan kalau bisa dibilang jenius. Banyak pelukis, ilmuwan, penulis, penyanyi, dan orang-orang hebat lain yang tercetak dalam sejarah diketahui mengidap Bipolar. Mau tahu siapa saja ? Silakan googling sendiri.

Inilah daftar dari beberapa video yang ku tonton di Youtube yang begitu menyentuh hatiku. Aku sampai menangis tersedu-sedu.


Daftarnya masih panjang, namun jika benar-benar ingin mengetahuinya, dipersilakan untuk mencari sendiri di Youtube.

Jika ada yang menonton semua daftar itu diatas, setidaknya kalian bisa mendapatkan sedikit gambaran tentang apa yang dirasakan oleh pengidap Bipolar.

Source : Pinterest

Kembali ke soal penghakiman sepihak tadi.

Banyak orang yang hidupnya selalu baik-baik saja, masalah terbesarnya adalah tidak mendapat nilai terbaik saat ujian, putus dengan pacar, tidak dapat mencapai target, dan bagi mereka itu adalah masalah yang sudah sangat besar. Dan orang-orang kebanyakan semacam ini, begitu melihat orang yang depresi, malah mengatakan, " Alah, gitu aja kok putus asa. Harusnya kamu itu bersyukur, karena masih banyak orang yang masalahnya lebih berat dibandingkan kamu,' atau " Berdoalah kepada Tuhan. Kamu orang beriman, kan ? Maka mengadulah kepadaNya. Jangan malah ingin meratap-ratap dan mau mati begitu,".

Tahu tidak bagaimana dampak kalimat seperti itu kepada [ khusususnya ] pengidap Bipolar ? Perkataan itu akan menjerumuskan kami ke jurang depresi lebih dalam lagi. Siapapun tahu tentang berdoa dan beribadah memohon pertolongan kepadaNya, semuanya juga tahu bahwa memang sudah seharusnya seperti itu. Tapi, bagaimana caranya untuk bangkit dan berdoa sementara kami sudah tidak memiliki keinginan hidup sama sekali ? Berdoa adalah untuk orang yang mempunyai harapan, dan kami, dalam kungkungan depresi kami, tidak memilikinya.

Atau, adakah yang menganggap bahwa orang-orang yang sering mengiris-iris pergelangan tangannya, minum obat dokter sampai overdosis, sering mengatakan ingin mati dan ingin bunuh diri, bahwa mereka melakukan semua itu untuk mencari perhatian ?

Ha..Ha..Ha. Tuhan, tolong ampuni orang-orang yang seperti itu. Berarti hidup mereka cukup bahagia.

Self-harm, atau menyakiti diri sendiri, pelakunya tidak ingin mencari ketenaran atau kurang perhatian kok. Beda ceritanya kalau mereka memang melakukannya di depan orang lain, itu memang cari perhatian. Tapi, kebanyakan melakukannya karena depresi. Praktek self-harm yang paling banyak dilakukan adalah mengiris pergelangan tangan dan paha. Mau tahu kenapa mereka melakukannya ?

Pernah merasakan kehampaan ? Kekosongan yang sangat, lubang besar, melayang tanpa beban, di dalam hatimu ? Tidak bisa merasakan apapun ? Terbiasa dengan gumpalan rasa sakit sehingga tak bisa merasakannya lagi ? Nah, jalan satu-satunya untuk kembali merasakan sesuatu adalah menyakiti diri sendiri, untuk meyakinkan bahwa tubuh masih bisa merasa sakit, meyakinkan bahwa masih ada darah yang mengalir di dalam nadi, tubuh yang didiami itu masih hidup.

Tidak pernah ya ? Tidak dapat membayangkan ? Syukurlah. Kau orang normal.

Source : Pinterest

Kalau ada seseorang yang mengatakan padamu bahwa dia ingin mati atau bunuh diri, jangan malah membentak, mengusir, mengabaikan, atau menasehatinya. Kau boleh merasa takut, tapi tolong jangan melarikan diri. Datangi saja orang itu dan ajak dia bersenang-senang, paksa dia untuk bangkit ke tempat terang yang biasa kau singgahi. Karena dia, begitu percaya padamu sampai bisa mengatakan rahasia gelap terbesarnya, menghubungimu saat dia berada di tepi jurang yang dalam. Dari semua orang, kaulah yang dipanggilnya. Dia butuh pertolongan, tapi tak dapat mengatakannya. Bunuh diri itu salah satu dosa besar, kan ? Maka kalau kau berhasil menyelamatkannya, betapa banyaknya pahala dan balasan kebaikan yang kau peroleh.

Tolong jangan menghakimi orang-orang yang bermasalah dengan kejiwaannya, betatapun mereka tampak begitu menggelikan, menyedihkan, aneh, dan menakutkan bagimu. Kau tidak tahu rasanya menjadi mereka dan berharaplah jangan sampai merasakan. Mereka tidak memilih untuk jadi seperti itu. Saat Tuhan menuliskan takdir setiap orang, kalau bisa semua manusia ingin mendapatkan tulisan takdir yang baik dan lurus, tapi ternyata tidak seperti itu kan ? Bukan kita yang menentukan. Apa yang baik bagimu belum tentu baik bagi orang lain. Apakah kau yakin bahwa jika kau mengalami hal yang sama, kau masih dapat bertahan seperti mereka ?

Tahu tidak bahwa kebanyakan faktor penyebab gangguan kejiwaan adalah genetik ? Sesuatu yang menyebabkan pengidap gangguan kejiwaan mempunyai struktur otak yang sedikit berbeda dari orang lain ? Pengidap Schizofrenia mempunyai ruang otak yang lebih besar. Kami pengidap Bipolar mempunyai kelainan dalam produksi cairan otak. Aku tidak tahu pasti apa nama ilmiah cairan itu. Kalau pada orang biasa, cairan itu berproduksi dengan normal, maka dalam otak pengidap Bipolar produksinya tidak teratur. Suatu kali sangat sedikit dan kali berikutnya sangat banyak. Ketika cairan otak itu menyusut, maka OdB [ Orang Dengan Bipolar ] jatuh dalam jurang depresi. Dan begitu cairan itu melimpah, maka mereka langsung masuk dalam periode Manic. 

Lihat ? Tidak ada yang salah dengan pengidap gangguan mental. Sama seperti tak ada yang salah dengan orang yang terlahir berhidung pesek, berjari 6, berambut merah, dsb.

Jika ada tanda-tanda seseorang mengidap gangguan mental, jangan abaikan, temanilah dan ajak untuk memeriksakan diri ke psikolog atau psikiater. Pertolongan yang dini akan mencegah semuanya bertambah buruk hingga tak tertolong lagi. Sudah ada obat-obatan khusus untuk gangguan mental.

Source : Pinterest

Tulisan ini ku buat untuk mengingatkan diriku sendiri untuk tidak berburuk sangka dan menghakimi keputusan yang diambil orang lain tanpa ku tahu pasti apa masalah dan motif mereka. Juga untuk membuatku sadar bahwa aku tak sendirian, banyak orang seperti ku di luar sana yang juga bertarung dengan diri mereka setiap hari, berjuang untuk tetap hidup, melawan suara-suara kegelapan dari dalam kepala, dan bertahan dari ayunan mood dan emosi yang naik turun.

Dan, suatu saat di masa depan, aku ingin sekali bergabung dengan komunitas yang berkecimpung untuk membantu orang-orang yang mengidap gangguan mental, kepribadian, dan kejiwaan. Mudah-mudahan aku diberi umur yang panjang dan kekuatan untuk hidup, sehingga meski aku juga tengah jatuh bangun bertarung dengan Bipolar, aku bisa membantu orang-orang dengan masalah yang sama untuk mempertahankan harapan dalam hidup. Amin Ya Robbal Alamin. 313x.


Jumat, Januari 10, 2014

My Little Library

Sudah sejak SMA aku punya cita-cita bahwa kelak di suatu saat aku akan membuat perpustakaan pribadiku sendiri. Aku ingin punya sebuah rumah yang mirip rumahnya Shinichi Kudo yang penuh buku [ udah googling tapi sayang nggak nemu gambarnya ], atau kira-kira seperti ini :

Source : Anime Go Sick Nomor 1

Tapi baru beberapa bulan terakhir ini aku mulai ngumpulin buku-buku, udah cerita kan ? Sekarang aku baru punya 13 buku. Tapi, biarpun baru segitu ternyata cukup makan tempat juga. 

My Homeless Book

Sepertinya aku butuh rak buku nih. Kamarku nggak punya rak buku. Soalnya selama ini buku paling tebal yang ku punya ya buku kuliah, terus dulu-dulu kalo ke toko buku belinya pasti komik yang nggak makan tempat. Rak bukuku adalah selembar papan yang dipakukan ke dinding. Selama ini sudah mencukupi kok.

Aku mau bikin rak buku sendiri. Yang sederhana aja, yang penting buku-buku punya rumah sendiri. Di rumah banyak papan-papan bekas ranjang kayu, tinggal mikirin gimana bentuknya, minjem peralatan dari Bapak, terus berkreasi deh. Kuat nggak ya tanganku maku-maku :D

Pengennya sih yang mirip ini :

Source : Pinterest

Tapi, karena aku sadar diri dengan kemampuanku, mungkin jadinya ya yang nggak jauh-jauh beda dari ini :

Source : Pinterest

Dan...Karena aku mau punya perpustakaan, makanya aku bulai belajar untuk menginventarisir buku-bukuku. Tau kan kalo di perpustakaan-perpustakaan itu, di punggung buku pasti ada tempelan kertas berisi indeks klasifikasi buku tersebut. Nah, tadi pagi tiba-tiba aku punya ide buat bikin kayak gitu. Biasanya buku-buku yang ku beli cuma ku tandai dengan nama dan tandatangan di lembar kedua setelah sampul.

Ada beberapa rumus klasifikasi buku yang sudah dikenal. Yang paling populer adalah indeks klasifikasi Dewey. menurut informasi yang aku dapat dari google, indeks ini adalah sistem klasifikasi yang paling maju dibanding sistem lainnya. Karena Dewey mengklasifikasikan buku-buku per kategori, tiap-tiap kategori itu di bagi lagi menurut genre buku, genre-genre buku tersebut juga dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Karena itu, sistem ini rumit. Karena kategori buku ala Dewey aja ada lebih dari 10.

Jadi, aku bikin sistem klasifikasi buku versiku sendiri. Toh, ini kan buat kepentingan pribadi juga.

Awalnya, rumusnya begini : 

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ]/ Tahun pembelian.

Jadi, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/2013

Keren, kan ?

Udah aku bikin lho untuk ke-13 bukuku, malah udah ditempelin sampe buku ke-10.

Hasil Kerjaan Sepagian-Salah Pula

Tapi ternyata aku bikin nomornya kurang. Di tahun 2013 aku beli 11 buku, tapi aku cuma nge-print nomor sampai 10. Terus yang bikin janggal tuh, kan ada beberapa buku yang berseri. Dan belinya juga nggak berurutan langsung buku 1, 2, 3 gitu. Biasanya loncat-loncat tergantung ketersediaan buku dan anggaran. Jadi, gimana bisa diketahui bahwa buku itu masih dalam satu serial padahal nomor pembelian bukunya nggak berurutan ???

Label Versi Awal-Nggak Ada Kategori Serial

Makanya aku mau nambahin satu kategori lagi, yaitu nomor serial [ jika berseri ]. Sejauh ini buku berseri yang ku miliki baru 5 serial. Jadi, daftarnya baru sampai lima. Terus gimana sistem penomorannya ? Jadi gini....

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ], Nomor Serial [ Sx ] /Non Serial [ NS ]/Tahun pembelian

Daftar Serinya :

A : Pierce Oliviera Series
B : Heather Wells Series
C : Layken Series
D : Deirdre & James Series
E : The Atlas Emerald Series

Maka, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, buku ketiga dari serial Pierce Oliviera, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/S-A-03/2013

Label Versi Perbaikan-Sudah Ada Kategori Seri

Tjakep, kan ?

Tapi, aku harus kerja dari awal lagi. Ngebukain satu-satu label yang udah ditempel, ngerancang dan ngeprint label klasifikasinya, terus ngegunting/ngelakban, dan nempelin tuh label ke buku. Yes. Bakalan sibuk nih malam ini. :D

Oh iya, perpustakaan kecil pribadiku ini aku kasih nama " HOSHIZORA PERSONAL LIBRARY ". Dalam Bahasa Jepang, " Hoshizora " berarti bintang. Alasannya simpel, aku suka bintang. Bagiku, bintang adalah simbol harapan. Dan aku berharap perpustakaan kecil ini akan terus bertambah besar dan pada akhirnya bisa menjadi salah satu tempatku membangun harapan dalam hidup [ Aciyaa.... ]

Source : Pinterest

# Puncak Manic..



Minggu, Januari 05, 2014

2014's Resolutions

Ah, Lagi-lagi nggak bisa tidur.
 
Source : Here

Tapi ini belum jam 2 sih, buatku waktu segini ini belum bisa dikatakan nggak bisa tidur.

Jadi, kapan batasnya ? Sekitar jam 3 lah. Kalo masih nggak ngantuk juga, baru itu namanya nggak bisa tidur.

Laptopku masih di bengkel, mungkin sekitar hari selasa atau rabu minggu depan baru bisa jadi. Insya Allah. Tadi teknisinya bilang masih sibuk banget gitu. Huuu..Nggak perlu juga kali ngasih alasan sibuk ma pelanggan. Jadinya sekarang ini pake laptop ibuku. Nie laptop kosongnya kalo pas lewat tengah malem gini. Kalo siang ya rebutan giliran antara Ibu ma tiga orang adekku yang semuanya hobi nonton. Berhubung aku udah difasilitasi laptop ma modem sendiri, biarpun lagi rusak, ya tetep lah harus tahu diri gitu. Biasanya juga aku marah banget kalo ada orang pake-pake laptopku nggak izin. Pelit, ya ? He..He..He. Laptop tuh bagiku udah kayak diary atau kamarku. Laptop tu isinya pribadi banget, bisa mencerminkan karakter dan diri seseorang. Apalagi nggak kayak kebanyakan pengguna laptop usia muda lain yang [ mungkin ] isinya banyakan tugas-tugas kampus atau film-film, laptopku tuh isinya random dan bener-bener aku banget deh. Disana ada tulisan-tulisanku, lagu-lagu favoritku, catatan harianku, dan segala macam hal yang jadi kesukaanku.

Uhhmm..Postingan  kali ini jadi random bubbling aja, ya. Aku lagi Manic nih. Jadi lagi banyak energi dan pikiran yang butuh disalurkan. Dan berhubung pas tahun baru kemarin aku belum punya kesempatan untuk nulis resolusiku tahun ini, makanya sekarang aku mau pamer resolusi aja.

Hmm..Sejujurnya selama hidup, baru pergantian tahun ini aku ingin buat resolusi. Resolusi itu apa, sih ? In my opinion, resolusi itu adalah rencana target gitu. sebenarnya nggak mesti tahun baru juga buatnya. Tapi, pergantian tahun itu memang jadi momentum. Saat istimewa dimana kita bisa melihat kembali apa-apa saja yang sudah kita capai dalam perjalanan yang sudah kita lewati, plus melihat dan mendaftar pencapaian-pencapaian yang harus kita kejar setelahnya.
 
Source : Here


Dan inilah resolusiku untuk tahun 2014 ini :

1. Menjadi Sarjana

Tahun ini pokoknya harus jadi sarjana. Kalo menurut hitungan angkatanku, paling cepet lulus ya sekitar bulan maret. Paling lambat ya akhir tahun. Jelas aku nggak bisa nargetin yang cepet, soalnya aku KKN aja baru mau turun februari besok. Proposal juga masih abu-abu. Yah, mudah-mudahan lah diberikan kelancaran.


2. Menyelesaikan Menulis Minimal Dua Novel Dan Tiga Cerpen


Betul. Yang penting diselesaiin dulu. Ada sebuah pepatah yang mengatakan begini " Perbedaan penulis dan pengkhayal adalah penulis menuliskan apa yang dikhayalkannya dan pengkhayal hanya mengkhayal menulis,". Jleb ya. Sebenarnya aku nggak kekurangan ide pokok buat bikin novel. Di laptopku ada kira-kira tujuh draft novel dan tiga kerangka cerpen yang semuanya setengah-setengah nggak selesai. Kekuranganku ya seperti itu. Gampang bosan, kurang bisa fokus, dan hobi ngeloncat-loncat dari satu ide ke ide lain. Ini sebenarnya pembawaan dari BD. Ah, Nggak boleh nyari kambing hitam. Pokoknya harus selesai minimal dua novel. Cerpen juga. Aku baru belajar buat cerpen nih.

Masalah diterbitkan atau nggak, belum akan ku jadikan target. Sambil jalan aja dulu. Tapi aku tetap akan berusaha mengirimkan draft-draft tulisanku ke penerbit-penerbit. Mudah-mudahan ada yang tembus.

 
3. Mendapat Penghasilan Dari Minat Jurnalistikku

Aku udah sering cerita kan kalau aku punya ketertarikan yang sangat besar dalam bidang jurnalistik dan sudah mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa tingkat fakultas. Tapi, namanya aja ekskul ya kita nggak dibayar di dalamnya meski bagaimanapun usahanya. Tapi, ada kesempatan yang terbuka lebar untukku dapet penghasilan sedikit-sedikit dari Jurnalistik. Yaitu, koran universitas. Yups, apalagi koran universitasku itu mulai tahun ini udah punya target mau menaikkan intensitas penerbitannya yang awalnya hanya sebulan sekali menjadi sebulan dua kali. Dan, kalau ku lihat model-model beritanya sih nggak susah-susah amat, ya. Rata-rata berita seremonial.

Lumayan lho honornya. Untuk satu berita dihargai mulai dari Rp. 25.000 s/d Rp. 75.000 tergantung panjang dan isinya. Puisinya temenku aja yang [ menurutku ] biasa banget bisa tembus redaksinya dan dapet bayaran Rp. 30.000. Sebenarnya bukan soal bayarannya yang jadi prioritas utamaku. Aku cuma pengen tahu seberapa sih nilai kemampuan jurnalistikku dihargai dengan angka. Apakah cukup bagus untuk dapet bayaran yang tinggi ? Atau rata-rata aja ?

 
4. Membaca Dan Memiliki Novel Terjemahan Minimal 50 Eksemplar

Udah dari bulan Agustus 2013 lalu aku keranjingan beli novel. Biasanya sih cuma minjem gratisan atau nyewa. Tapi, diitung-hitung jatuhnya mahal juga, udah gitu kalo lagi kepengen baca ulang novel-novel favoritku ya jelas nggak bisa. Jadi, biarpun harganya novel terjemahan tuh mahal banget dan di kotaku sini nggak pernah ada sale, aku usahain beli aja. Sekarang aku baru punya 13 eksemplar. Dan yaa..harus terjemahan dong. Selain itu, dengan membeli hasil karya seorang penulis menunjukkan cara kita menghargai karyanya.

Kalo dihitung-hitung antara pengeluaran dengan pemasukan bulananku, per bulan maksimal aku cuma bisa beli sekitar 3-4 novel. Makanya ini masih berkaitan dengan resolusi nomor 3-ku. Kan lumayan tuh kalo ada dua beritaku yang dimuat dengan, hitunglah dikasih honor rata-rata Rp. 50.000, maka aku udah bisa beli satu buku di luar anggaran yang biasa.

 
5. Bisa Main Gitar

Di lembagaku, banyak yang jago gitar. Nanti aku mau minta diajarin. Soalnya sejak aku nonton anime Nodame Cantabile yang inti ceritanya tentang musik, aku jadi tergerak buat belajar main musik sendiri. Aku juga pengen menyanyikan lagu ciptaanku sendiri, lagu yang aku banget gitu. Suaraku juga nggak jelek-jelek amat kok. Cuma perlu latihan ambil nada aja. Terus aku orangnya juga cepet belajar apalagi kalo lagi niat bener. Buat apa bisa main gitar ? Ya pengen bisa nyanyi sendiri aja pokoknya.

Source : Google Images

6. Menerjemahkan Berita Tiga Eksemplar Majalah Dan Satu Buku Berbahasa Inggris.

Ini sih berkaitan dengan keinginanku menjajaki profesi penerjemah buku yang sepertinya sangat menyenangkan. Diagnostic Test TOEFL-ku dapet skor 535, aku seneng denger lagu berbahasa inggris, suka baca buku terjemahan, dan nggak punya masalah kalo harus nonton film atau anime yang cuma ada subtittle bahasa inggrisnya. Itu semua udah bisa jadi modal dasarku untuk mulai mencoba profesi penerjemah, kan ?

7. Menekuni [ Lagi ] Dunia Fashion Designer

Di profilku aku nulis kalo hobiku adalah fashion designer, kan ? Ya. Aku suka banget merancang baju. Udah tiga tahun aku tekuni mulai dari jadi mahasiswa. Awalnya sih, alasannya karena susah banget nyari baju yang pas buat badanku yang nggak bisa dibilang kecil ini. Apalagi fashion identityku adalah rok. Di kota ini susah banget nyari rok yang modelnya keren dan muat dengan badanku. Akhirnya aku nyoba-nyoba beli kain sendiri ke toko terus lihat-lihat model rok di majalah remaja yang kemudian aku modifikasi agar sesuai untuk muslimah. Akhirnya keterusan deh. Apalagi penjahitnya tuh tetanggaku yang anak SMK jurusan menjahit. Jadi, gampang kalo mau konsultasi masalah model dan desainnya. Ditambah, karena masih penjahit amatir jadi dia bersedia dibayar murah. He..He..He.

Puncak kreativititasku sebagai perancang busana tuh pas semester 4-6. Tiap bulan aku menjahitkan sekitar 2-3 rok dengan kreasiku sendiri. Untuk baju aku nggak bikin lagi. Soalnya penjahit pribadiku [ Alaaahh ] diatas belum bagus kalau menjahit baju, lagian di kotaku ini masih banyak dijumpai baju yang seukuranku. Waktu itu, kalo ke toko buku aku pasti ngeborong majalah-majalah fashion remaja.

Semua rok hasil desainku baru aku pakai sendiri saja sih. Jadi, aku nggak pernah beli rok atau kerudung buatan toko, semua yang ku pakai adalah hasil desainku sendiri. Tapi, sudah banyak teman-teman maupun orang-orang di sekitarku yang memuji hasil desain dan pilihan corak serta warna kainku. Dulu, tiap kali pake rok baru langsung disamperin terus dipegang-pegang sambil ditanya-tanya dimana beli kain dan harganya bla bla bla.

Sayang, fashion creativityku itu berhenti di semester 7 kemarin. Alasan utamanya karena aku cuma ambil satu mata kuliah. Jadi, nggak ada kebutuhan harus pake baju yang berbeda tiap hari. Karena itu tahun ini aku mau mendesain bajuku lagi. Tapi, sepertinya pertama-tama aku harus cari penjahit pribadi yang murah dulu. Soalnya tetanggaku yang merangkap jadi penjahit amatir pribadiku udah mondok dan nggak nerima jahitan lagi. Huuu... Mudah-mudahan aku juga bisa menampilkan potret hasil kreasi desainku itu di blog ini.

 
8. Menulis Di Blog Setiap Hari

Ini sih sebenarnya udah ku lakukan dari pertengahan tahun 2013 kemarin. Kalo lagi nggak ada hambatan khusus [ kayak laptop yang lagi bermasalah ], aku pasti nulis tiap hari. Bahkan kadang sampe 2-3 postingan dalam sehari. Tapi, yah kadang masih ada bolongnya juga sih. Karena itu tahun ini harus full. Minimal jumlah postingan sama dengan jumlah tanggal. Kalo nggak sempet atau bolong-bolong karena hambatan khusus kayak sekarang, ya mesti ditambal dengan menulis dobel atau tripel saat udah bisa.

Banyak manfaat yang udah ku rasakan dari menulis blog. Meski bisa dilihat kalo postingan-postinganku masih seputar curhat sih. Manfaatnya kerasa banget kalo pas nulis novel atau cerpen, tulisan jadi lebih tertata baik dari segi ide maupun bahasa, penggunaan tanda baca lebih tertib, dan bagus untuk terapi jiwaku.

 
9. Bikin Blog Buku Dan Aktif Di GoodReads

Ini baru angan-angan juga, sih. Aku pengen bikin blog kedua yang khusus untuk blog buku dan gabung di grupnya BBI ( Blogger Buku Indonesia ). Soalnya BBI nggak mau nerima blog yang nggak mengkhususkan dalam bidang buku sih.

Aku suka banget maen-maen ke blognya anggota BBI. Disana ada review buku dan challenge-challenge yang berhubungan dengan buku. Aku jadi bisa milih buku yang sesuai seleraku karena baca review-review mereka. Aku juga pengen memperkenalkan apa yang ku baca dengan mereview buku-buku koleksiku. Kalo perlu ikutan reading challenge. Ih, pokoknya keren deh. Tapi untuk ini aku perlu nyiapin tekad yang kuat. Soalnya aku tuh paling males disuruh nulis panjang-panjang, apalagi review yang notabene harus nonton atau baca ulang film dan bukunya. Ingat review anime Angel Beatsku yang nggak selesai-selesai ? Belum lagi tumpukan buku baru yang belum ku inventarisir di blog ini.

Mengenai Goodreads, Errr...Udah punya akun disana sejak lama, sih. Cuma nggak pernah dibuka, username dan passwordnya aja udah lupa. Langkah pertama sih mungkin harus belajar cara make GoodReads dulu, ya. Hi..Hi..Hi.

 
10. Memperbaiki Dan Meningkatkan Segala Hal Dalam Hidupku

Yang ini sih umum, ya. Kayak tentang murid-murid yang ku ajar di TPA. Aku harus lebih rajin dan peduli lagi sama mereka, lebih sabar menghadapinya. Juga lebih termotivasi untuk membuat mereka jadi lebih baik. Terus soal ibadahku mudah-mudahan bisa lebih rajin lagi. Perkara-perkara remeh macam cuci motor,bersihin kamar, nyuci, masak, dan berhubungan dengan orang lain juga supaya lebih meningkat rajinnya.

Source : Google Images

Sebenarnya mungkin tahun 2014 ini bakalan jadi tahun yang berat buat aku. Soalnya aku udah kehilangan orang yang selama ini jadi tujuanku untuk menjalani hari demi hari. Seseorang yang jadi sumber inspirasi, pengharapan, kenangan, tawa, dia yang pertama kali mengenalkanku pada mimpi-mimpi yang tinggi, dunia serta orang-orang baru yang belum pernah ku ketahui, orang yang jadi tujuan doa, panggilan, obsesi, dan motivasiku selama enam tahun terakhir. Pendeknya, orang itu adalah hidupku. Benang yang mengikatku tetap di bumi dan tegar menjalani hidup. Sejak mendengar kabar bahwa dia sudah menikah, bukan hanya sekali dua kali aku mempertanyakan arti hidup yang sudah ku jalani. Tidak hanya sekali dua kali aku ingin menyerah dan menghadap Tuhan lewat jalan pintas.

Dan, yaahh..Semua itu pasti masih belum akan berakhir. Belum lagi Bipolar Disorderku yang semakin menjadi-jadi saja.

Aku hanya berharap, bahwa dengan postingan ini, malam ini, yang menjadi bukti bahwa aku ingin terus hidup, aku masih menginginkan banyak hal, aku masih mau melangkah, maka Tuhan akan memberiku kekuatan tak terhingga untuk terus berdiri menapaki waktu. Tak peduli seberapa jatuhnya aku, maka kekuatanNYA akan menopangku untuk bangkit dan bangkit lagi setiap kalinya. Amiiinn...313x.

Source : Here

# Ah..Sekarang sudah jam 4:04. Berarti aku benar-benar tak bisa tidur malam ini...