Minggu, September 29, 2019

Some Things Gets Better




Setelah hampir setahun homeless, akhirnya punya rumah sendiri lagi.
Memang belum sempurna sih, tapi ini sudah 80%. 
3 hal terpenting dari sebuah rumah ; Air, Listrik, Kamar Mandi sudah bagus. Bahkan, aku sudah punya kamarku sendiri lagi.
So, some things gets better.

Kamis, Agustus 08, 2019

Tentang Kata

Kata-kata pernah menjadi satu-satunya sauhku dalam menjalani hidup. Dengan mereka aku menghela nafas, mengendalikan suasana hati, mencari pegangan dan berteriak bisu. Setelah itu aku meninggalkannya.

Kini aku ingin kembali pada para kata.

Kamis, Desember 20, 2018

2018

Hai...
Sudah 3 tahun lebih sejak terakhir kali aku nulis disini. Aku ingat postingan terakhir itu, sebuah prosa yang ku harap, saat itu, menjadi simbol dari kekuatanku. Bahwa apapun yang sudah terjadi dalam hidupku, aku sudah selesai dengan semua itu.
Apakah aku baik-baik saja?
Banyak sekali yang telah terjadi selama 3 tahun ini.
Pertama, aku sudah bekerja. Di sebuah grup toko buku, ATK, mini market dan travel. Aku diterima di Desember 2015 dan tidak sampai setahun kemudian, aku menjadi manager keuangan di tempat itu. Boleh ku bilang, pekerjaan itu membuatku sangat sibuk sehingga tidak mampu memikirkan hal-hal lain, termasuk menulis.
Kedua dan seterusnya, banyak hal terjadi di tahun 2018 ini.
Aku kehilangan Ayahku, pada 16 Mei kemarin, yang meninggal dunia tiba-tiba dalam suatu serangan gagal jantung. Prosesnya cepat, hanya sehari semalam.
Aku divonis mengidap Anxiety Disorder, sudah berobat kurang lebih tiga bulan. Lalu ku hentikan karena aku terlalu sibuk dan tidak punya waktu dan tenaga untuk konsultasi seminggu sekali.
Lalu, 28 September 2018 kemarin, Kotaku diguncang bencana Gempa bumi, tsunami dan likuifaksi. Aku kehilangan rumah yang menjadi tempat pulang selama 27 tahun ini. Bersama itu, hilang pula tempat amanku, juga kenangan bersama Bapak. 
Kami (Aku, ibu dan 3 adikku) kemudian mengungsi ke rumah keluarga di Jawa. Disana aku menyempatkan diri mengikuti kursus brevet pajak dan MYOB untuk menunjang CV dan pekerjaanku. Aku juga berkesempatan melaksanakan salah satu keinginanku, yaitu solo traveling di kota-kota Jawa. Selama di Jawa, aku mengunjungi 11 kota dan 4 kota diantaranya ku sambangi sendirian.
Aku juga berhadapan kembali dengan hantuku, sosok dari masa kecil yang menjadi sumber deritaku.
 
Jadi, ya... Aku cukup baik-baik saja.


Jumat, September 04, 2015

I was done held the pain on past years due to the genesis accomplished events 
Now i open my eyes, and put everything to grow the hopes

A long time ago, things keep broken here
Deep inside
Fallen apart
Shattered into small pieces

There are still front years anymore..
Start from this point, i wish that i've never lose my heart.

Looks like my story still could keep continue
And for the next page, 
This vulnerable, fragile soul and self
Would shine invincible overcome the darkness all around.


Kamis, Agustus 27, 2015

Twenty Four

Tepat tahun ke 24 saya hidup di dunia.

Akhir-akhir ini dibilang sibuk juga nggak, cuma saya lagi terhanyut sama hobi baru saya. Itulah kenapa pas malem baru saya ngeh kalo hari ini adalah hari terakhir saya di samping angka 23.

Hidup masih begitu sulit untuk saya, justru inilah titik terendah saya. Saya kehilangan hampir semua hal yang dulu menyangga saya. Setiap hari juga masih terus berjuang dengan lapisan-lapisan rapuh beragam emosi. Tempat-tempat yang sebelumnya terasa nyaman-nyaman saja tiba-tiba menjadi sesak dan mencekik. Pada dasarnya saya bukanlah orang yang cocok menetap lama di suatu tempat. Terlebih di usia ini, saya seharusnya sudah mandiri dan pindah dari rumah tempat kelahiran saya.

Usia 23 kemarin merupakan usia tersulit, namun begitu banyak juga hal berharga yang saya dapat. Hal-hal dan nilai-nilai hidup yang hanya bisa didapat oleh orang-orang yang menempuh perjalanan seperti yang sudah saya lalui. Saya masih penakut, masih pengecut, masih seekor siput yang terlalu waspada dan langsung berlari ke dalam tempat amannya begitu merasa terganggu sedikit saja. Namun belum pernah saya merasa lebih mengenal diri saya sendiri seperti saat ini. I have flaws, of course. And i have soooo many rare good side too. Kekuranganku mungkin fatal, tapi kebaikanku sangat jarang dimiliki orang lain. Selama 23 tahun, akhirnya saya bisa memahami diri saya. Saya mengerti alasan-alasan dari setiap tindakan dan keputusan yang saya ambil, karenanya saya bisa mencegah diri saya terluka sedini mungkin. Saya mengerti apa yang saya rasakan, apa dan siapa tepatnya yang saya butuhkan untuk dipertahankan di sisi saya. Saya akhirnya bisa merasa nyaman dengan siapa saya dan apa yang saya miliki. Saya tidak pernah ingin jadi orang lain dengan berkah mereka masing-masing. Dan di titik ini, saya yakin bahwa saya sudah cukup. Yang paling penting, saya tahu semua hal yang menjadi "pelatuk" bagi saya.

So, that's means i've lost some things but gained lots of valuable things too, right?

Sudah pasti akan ada banyak kesedihan dan penderitaan yang menanti saya di depan sana seperti biasanya, but i've endured all this time. Banyak waktu dimana saya merasa akan berakhir, namun nyatanya saya masih bisa menulis ini. Namun, Tuhan memang adil. saya diberikan hal-hal istimewa yang tidak diberikan pada orang lain dalam perjalanan saya sampai saat ini. Bukankah itu cukup jadi alasan untuk saya tetap kuat? Untuk melihat kejutan indah apalagi yang sudah disiapkan untuk saya. Untuk melihat seberapa kuat saya sebenarnya, terjatuh dan lost everything namun selalu bangkit lagi dan memperoleh kado kejutan dari Tuhan sebagai hadiah saya. Untuk melihat akan jadi seperti apa saya nantinya. It should be worth, right??

Pukul 12.48 WITA. 27 Agustus 2015.



Jumat, Juni 19, 2015

The Me That I Hate

Source: Pinterest

Aku…kembali lagi menjadi diriku yang lama. Diri yang penuh kemarahan, penuh frustasi, selalu bergejolak dengan emosi dan kebencian yang terlalu tinggi untuk ku tanggung.

Tak perlu dikatakan, bahwa aku sangat tak menyukai sisi diriku yang ini.

Aku begitu lemah, mudah sekali diriku terpengaruh oleh keadaan sekitar, terseret oleh permainan orang-orang yang tak layak bahkan untuk ku pandang saja. Dan akibatnya, kelemahanku ini membuatku menyakiti orang-orang terdekatku. Keluargaku, orang-orang yang menyayangi dan mencintaiku ; kedua orang tuaku yang beranjak tua dan sakit-sakitan, yang seharusnya sangat tak pantas untuk ku ricuhkan dengan emosi tak terkontrolku ini. Siapa yang tahu berapa lama lagi waktu tinggal mereka di sisiku? Juga adik-adikku, yang belakangan baru ku sadari bahwa mereka memahamiku lebih daripada yang ku pikir. Mereka memang tidak tahu pasti rasa sakit yang ku hadapi, tapi mereka mengerti, dan dengan cara mereka sendiri berusaha menghibur dan menarikku ke tempat terang… Karena kelemahanku ini mereka sering memilih menjauh, takut pada gelombang badaiku yang sering tak terprediksi. Bisa ku lihat rasa takut itu di mata mereka. Saat mereka bicara padaku dengan sangat berhati-hati dan tak menatap mataku karena tak berdaya. Aku benci…Aku membenci diriku yang tidak mampu mengatasi hidup, tidak mampu menghela diriku sendiri agar tidak terpisah dari orang lain. Bagaimana caranya agar aku bisa jadi kuat? Agar roda kehidupan tidak membuatku tersakiti dan balik menyakiti? Kenapa sisi diriku yang ini ku tunjukkan pada keluargaku?
Rasa sakit ini datang dan pergi, tapi tidak pernah benar-benar menghilang. Sumbernya selalu berganti rupa, beragam wujud sesuai dengan tempat yang ku pijak. Mengapa hanya kepedihan dan kemarahan yang ku lihat dengan mataku ini?

I really hate myself. Apalah gunanya aku punya otak cerdas, banyak bakat, dan banyak kemampuan bila pada akhirnya semua itu justru tak mampu membuatku menjalani hidup dengan bahagia? Kenapa aku ini lemah sekali?


Selasa, Mei 26, 2015

In May Days

Mmm..Sudah lama banget ga nulis. Bahkan saya pun bisa disibukkan oleh dunia nyata yang sedang berusaha saya rengkuh sebaik-baiknya.

Jadi, banyak progress bulan ini. Tanggal 6 Mei kemarin saya sudah selesai ujian skripsi dengan nilai yang sangat memuaskan. Prosesnya cepet, ujian berlangsung nggak sampe setengah jam, sedikit sekali yang menanyakan argumentasi, kebanyakan hanya saran teknis penulisan saja. Saya sampe nggak percaya kalau itu ujian. Nggak kerasa. 

Sayangnya, saya nggak bisa ngejar wisuda bulan Juni. Saya insya allah akan mengikuti wisuda berikutnya September. Penyebabnya? Males ngerjain perbaikan. Hihihi. Saya sudah mengatakannya pada orang tua saya (Nunda wisudanya, bukan males perbaikannya) dan mereka OK saja karena toh saya masih terikat dengan kegiatan kursus sekitar empat bulan ke depan. 

Sekarang ini, saya sedang ada di Bandung, menginap di hotel Puri Tomat. Baru datang, sih. Besok konferensinya sudah mulai. Yang bikin saya agak lega adalah ternyata tempat penyelenggaraan konferensinya, di The Jayakarta Hotel, Suites, and Spa, itu di seberang jalannya Puri Tomat. Lebih dari yang bisa saya harapkan.

Akhirnya tiba juga saat ini, yang sudah saya nantikan selama tiga bulan terakhir ini. Banyak hambatan yang mewarnai perjalanan saya, masalah klasik sih: Uang. Saya baru tahu bahwa mahasiswa yang mengikuti acara-acara seperti ini tenyata harus mengatasi masalah keuangan sendiri. Cari dana sendiri, bikin proposal sendiri, kalau perlu pakai uang pribadi meski membawa nama kampus dan nama fakultas. Tapi, alhamdulillah semuanya bisa teratasi. Tidak banyak sih, malah bisa dibilang sangat pas-pasan banget. Dukungan orang tua dan dosen pembimbing membuat saya merasa begitu bangga dan senang pada mereka. Terutama pada kedua orang tua saya yang punya satu suara jika menyangkut pendidikan anak-anaknya. Tidak apa-apa kita di rumah makan seadanya, rumah jelek belum diplester atau dikeramik, perabotan rumah pun seperlunya saja, asal anak-anak bisa sekolah. Kalau perlu ngutang. Yang penting pendidikan lancar.

Saya agak merasa seperti berdelusi bisa kembali ke tanah Jawa secepat ini. Akan saya ceritakan esok, insya allah. Saya harus memaksa diri beistirahat supaya fit mengikuti konferensi esok.