Minggu, Maret 29, 2015

Saya takut jurnal saya tidak bagus, kurang ilmiah, kurang masuk akal penalarannya, kurang "akuntansi" topiknya.
Pokoknya saya takut.
Lolos abstrak itu satu hal, full paper itu lain lagi.
Apalagi saya hampir tidak dibimbing dalam full paper ini.
Dan disana nanti, saya akan presentasi di forum ilmiah tingkat internasional.
Yang reviewersnya kebanyakan dari universitas luar.
Saya takut mempermalukan diri saya sendiri, universitas saya, serta dosen dan teman-teman saya yang akan bersama-sama saya nanti.

Can The Lonely Take The Place of You

Kadang-kadang saya masih suka ngestalk fb dia, mantan terindah saya yang udah menempuh hidup baru itu. Kadang-kadang lho, nggak sering. Dua bulan sekali aja nggak mesti. Saya nggak ada niat buruk kok, udah kebiasaan soalnya ngestalk dia. Masih percaya nggak percaya. Sakit nggak sakit.

Berhubung sibuk sama skripsi, udah sekitar 3 bulan lupa nggak mampir ke fb  dia. Terakhir dapet kabar kalo istrinya udah hamil anak kembar. Pas main lagi ke fb dia dua hari lalu, ahh... ternyata udah ada tuh dua bayi kembar. Usianya udah hampir setahun. Cewek. Nama yang dia kasih keren, perpaduan nama modern dan nama arab. Imut banget. Dan... mata mereka itu mata bapaknya.

Senang rasanya.

Terus sedih.

Karena saya udah unfriend dia pas tahu dia udah nikah dulu, makanya saya cuma bisa liat kabar itu aja yang ada di timelinenya.

Saya kayak nggak sadar abis itu. Kayak robot. Suer saya sedih banget. Sedih buat diri saya sendiri yang susah banget move on. Itu dua hari lalu, dan sampe sekarang rasanya saya justru makin sedih. 

Dari hasil ngestalk kemarin itu, dapet juga info kalo dia menetap di dekat SMA kami dulu (Karena kebetulan rumahnya juga deket sekolah). Saya ada rencana mau ke Bandung mei nanti, insya alloh. Dan saya pengin mampir ke sekolah, siapa tahu bisa ketemu dia. Saya ingin liat dia pas momong anak kembarnya bareng pasangan hidup yang dipilihnya. Saya punya perasaan bahwa dengan begitu saya bisa benar-benar mengikhlaskan. Atau malah saya bakal makin terpuruk, ya?

Akhir-akhir ini kabar pernikahan teman-teman saya menyerbu dari segala penjuru. Tiap buka FB atau tiap gabung sama orang-orang, kayaknya selalu ada aja foto-foto pernikahan, atau kabar si ini mau ngelamar si itu. Dan semalam, salah satu sahabat karib saya, yang sudah bersama-sama dengan saya sejak SMA hingga kuliah sekarang ini, akhirnya juga menikah. Tadi ketemu sama bapak ibunya habis ijab qabul. Saya tambah sedih. Saya merasa tertekan. Kenapa orang-orang begitu cepat menikah? Karena sahabat karib saya ini sekarang lagi sama-sama dalam proses menyusun skripsi. Minggu lalu dia tak membalas SMS saya dan saya asumsikan dia sedang sibuk dengan urusan pernikahannya yang saya rasa tak akan bisa diganggu gugat hingga kira-kira sebulan setelah resepsi pernikahan. Padahal saya berencana ujian skripsi bulan depan dan seperti ujian proposal kemarin, saya ingin minta bantuan dia untuk membantu saya. Tapi saya rasa itu tidak mungkin sekarang. Saya juga tidak yakin bisa menemui sahabat saya dengan bebas di rumahnya seperti dulu, malahan saya tidak yakin dia tinggal dimana sekarang.

Sungguh saya tidak berpikiran picik. Saya bahagia untuk semua teman saya yang sudah menikah sementara saya masih terlalu takut untuk menuju arah itu. Memikirkannya saja saya tidak sanggup. 

Apapun alasan saya, saya tahu saya belum siap. Tapi terkadang saya merasa ditinggalkan. Sepanjang hidup saya, jalan yang saya miliki selalu berbeda dengan jalan teman-teman saya. Saya tidak bilang jalan saya itu buruk. Justru jalan hidup saya itu menakjubkan karena berbeda dari yang lain. Saya tidak mengeluh. Faktanya saya suka sendirian, orang lain membuat saya terkuras. Tapi, saya juga makhluk sosial yang terkadang, terkadang sekali, saya tidak ingin sendirian.

Saya begitu sedih. Setelah begitu lama tidak meledak, tadi malam tangis saya pecah di atas motor dalam perjalanan pulang yang membuat saya harus memutar kembali untuk menenangkan dan merapikan sisa tangisan saya karena tak ingin keluarga saya di rumah melihat kehancuran saya. Tidak perlu saya jabarkan semua perasaan saya semalam, yang jelas rasa sendirian adalah salah satunya.

Saya sibuk sekali akhir-akhir ini. Judul skripsi saya lolos seleksi di konferensi internasional dan saya harus buat full papernya tanggal 25 kemarin. Belum lagi skripsi saya. Saya hanya tidur sedikit minggu ini. Berpikir dan berpikir. Saya mendapati saya bisa melupakan segalanya kalau saya sedang sangat fokus. 

Pengalihan. Itulah tepatnya yang saya butuhkan. 

Saya membaca kata-kata mutiara yang bilang bahwa jika kamu sudah sibuk dengan pemenuhanmu sendiri, kamu tidak akan mencari pemenuhan dari orang lain.

Inilah jalan saya: saya selalu ingin membuat penelitian untuk forum internasional. Inilah kunci  pembuka jalan saya, dan masih banyak konferensi yang ingin saya ikuti. Inilah pemenuhan saya. Sehingga saya tidak perlu menggapai-gapai orang lain untuk bisa memenuhi kehampaan.

Tetap saja, saya sedih.. 

"Bila nanti esok hari, kau temukan dirimu bahagia. Izinkan aku titipkan kisah cinta kita, selamanya....." -Demi Cinta, Kerispatih"

"Dancing slowly in the empty room, can the lonely take the place of you, i sing my self a quiet lullaby, let you go and let the lonely in" -The Lonely by Christina Perri



Kamis, Maret 12, 2015

Ada alasan lain mengapa aku masih menghindari pernikahan.
Alasan utama, satu-satunya, yang terbesar..Yang selalu ku samarkan dengan alasan-alasan lain yang lebih umum seperti ingin kerja, ingin mandiri dulu, masih ingin bebas, dan lain-lain.
Alasan yang mungkin akan dianggap mengada-ada dan ditertawakan sebagian orang.
Well, mereka tidak mengalami apa yang sudah ku alami. Tentu saja mereka bisa menafikan orang lain.

Aku hanya tidak mau disakiti.

Kalau menjalin hubungan baru, membentuk keluarga baru, hanya akan menambah lukaku, sepertinya lebih baik jika aku tidak memilikinya.


Kamis, Maret 05, 2015

They Are Really F**k

Source : Pinterest

Dan kepada orang-orang ini, baik yang ku kenal atau tidak, yang ku ingat atau tidak.. 

Penjaga fakultas yang sudah mengenal dan melihatku selama lebih dari empat tahun namun setiap kali bertemu diriku yang dikatakannya hanyalah ,"Kurangi makan nasi...,", " Bocor itu banmu soalnya terlalu besar yang naik,"..dan lain-lain semacam itu... 

Seorang dosen akuntansi syariah yang beberapa kali menyebutku "gajah" dan bertanya apa saja yang ku makan sambil tertawa-tawa di depan seluruh kelas

Seorang pemilik toko kelontong di pasar yang baru sekali ku berbelanja di tokonya dan yang dia tanyakan adalah " Makan apa kau? Saya pingin tahu karena saya lihat besar badanmu,"

Pegawai administrasi surat menyurat fakultas yang membicarakan berat badanku " Kalau ini tidak lari dari 110 ini....," seakan-akan aku tidak ada disitu.

Orang-orang yang dengan serius bertanya padaku bagaimana cara menggemukkan badan atau bercanda tentang berat badanku..

Dan semua yang wajah dan perkataannya tidak bisa ku ingat persis namun yang tertinggal di hatiku hanyalah kesan buruk dan perasaan terluka..

"FUCK YOURSELF"
Memangnya fisik kalian lebih baik dariku?

Penjaga fakultas itu kakinya pincang sebelah, hitam, jelek, selalu berpenampilan seperti gelandangan. Dosen itu wajahnya seperti kambing dengan jenggot panjang. Pemilik toko itu wajahnya buruk. Pegawai administrasi itu pendek dan hanyalah seorang pegawai rendahan...

Lain waktu, jika ada lagi yang berkomentar atau berlelucon tentang berat badanku aku akan berbicara dengan orang lain dan pura-pura tidak mendengar atau melihat mereka. Toh, mereka itu sampah.

Dan pada beberapa orang yang keterlaluan, aku akan bilang dengan percaya diri dan mengangkat kepala," Hei, memang tubuhku gendut, tapi apa kalian lebih baik dariku? Dan asal kalian tahu, boleh saja badanku besar, karena aku bisa pastikan tubuh itu digunakan untuk menampung otak dan hati yang besar yang menghasilkan pemikiran-pemikiran dan jiwa yang besar pula,"

Yeah, Fuck yourself, people !!!!


Jumat, Februari 27, 2015

The Strongest Pole

Ini tentang keinginanku menjadi sukarelawan untuk menolong orang-orang yang mengidap mood disorders, korban pelecehan seksual, atau korban kekerasan anak.....

Source : Pinterest

Aku tidak akan bisa menyelamatkan orang lain jika aku tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Bertahan hidup saja tidak cukup. Aku harus memiliki harapan, yang mana itu adalah sesuatu yang begitu mewah bagiku sekarang. Sebelum aku membantu orang lain untuk merelakan, menerima, memaafkan, dan melupakan, aku harus bisa melakukannya terlebih dahulu. Tidak ada hal baik yang bisa ku berikan pada orang lain jika aku sendiri belum menemukan hal baik itu.

Terutama, aku belum punya cukup kekuatan untuk menciptakan tiang yang bisa ku pegang agar tidak terseret. Penderitaan dan kejadian orang lain akan sangat mempengaruhiku. Dan kecenderunganku untuk merasa bertanggungjawab atas berbagai macam hal, akan membuatku terseret arus gelap karena aku akan merasa tidak bisa menolong mereka. Ya. itu juga alasan mengapa saku memperkecil lingkunganku. Istilahnya, membatasi perimeter. Aku memilih siapa-siapa yang bisa terlibat denganku sehingga paling tidak aku memiliki kendali atas kejadian-kejadian yang mungkin saja terjadi. Dengan begitu, aku bisa menyaring informasi apa yang ku terima, menakarnya sesuai dengan kemampuanku. 

Contohnya, saat menonton berita saja, ketika melihat nasib orang lain yang begitu buruk, atau melihat orang-orang yang begitu jahat dan tidak ada yang bisa menghukum mereka, aku akan begitu marah. Aku putus asa dan mulai menyalahkan diriku kenapa tidak bisa berbuat sesuatu. Pada akhirnya semua berujung sama : Keputusasaan.

Jika aku terlibat dengan kejadian orang lain yang pasti kurang lebih banyak yang sama seperti kejadianku sementara aku belum tersembuhkan, pasti itu akan jadi pelatuk yang meledakkan peluru berisi rasa sakit. Malah, aku mungkin akan menyeret orang yang seharusnya ku tolong itu dalam jurang penderitaanku sendiri. Tidak ada yang akan terselamatkan.

Keinginanku begitu kuat. Aku tidak mau ada orang lain merasakan seperti yang ku rasakan. Rasa sakit dan amarah ini. Sendirian lagi. Aku tidak mau ada anak-anak korban pelecehan seksual, kekerasan, dan bullying yang hidup dengan melihat neraka di depan matanya. Aku tidak mau ada orang-orang terkucilkan yang dianggap gila dan aneh oleh lingkungannya hanya karena mereka mengidap sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Mereka diabaikan karena orang lain tidak bisa menandingi mereka. Mereka diremehkan karena sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Padahal justru orang-orang inilah pejuang yang sesungguhnya, orang-orang brillian dengan ide-ide hebat dan kekuatan tak terlihat. Mereka inilah yang harus dijaga. 

Jadi, mungkin yang harus ku lakukan pertama kali saat ini adalah mencari bantuan profesional.


Selasa, Februari 24, 2015

Accounting, Sewing, Writing, Dreams, Me, and The Way It Is Now

Untuk orang yang benci peraturan dan kesulitan bekerja di belakang orang lain, aku cukup menyukai dunia akuntansi. Sungguh. Akuntansi itu menantang. Akuntansi bukan persoalan yang terlalu mudah sehingga membuatku cepat bosan dan bukan juga bidang yang sangat sulit hingga aku harus jatuh bangun mempelajarinya.



Lebih dalam lagi, bagiku akuntansi adalah kenyataan. Ketika mempelajarinya saat kuliah dulu, aku sering berpikir, Wow! Jadi inilah semua yang menantiku di luar sana. Semua tabel dan alur ini yang akan menemani hidupku hingga akhir kelak, segala macam ketentuan dan keteraturan ini.

Aku beryukur bahwa di tengah semua keterbatasan dan kemungkinan, aku justru bisa kuliah di jurusan yang tidak sekedar bagus, namun juga bergengsi. Pekerjaan yang berkaitan dengan akuntansi bukan hanya sekedar pekerjaan, tapi juga menjamin citra dan kedudukan sosial. Meskipun aku sering membaca bahwa para akuntan adalah orang-orang pemikir yang kaku, patuh hukum, tidak neko-neko, dan suka hidup tenang dengan keluarga bahagia. Pekerjaan di bidang akuntansi bukanlah pekerjaan yang menuntut inovasi atau kreativitas, semua yang diperlukan hanyalah belajar dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi ahli disana. Akuntansi bukanlah tentang kemampuan berbicara di depan orang banyak, melainkan bagaimana dengan pendidikan dan pengalaman masalah bisa ditemukan lalu mengatur dan mengelompokkan apa-apa yang “di luar tabel” sehingga segala macam aktivitas bisa tercatat dan terekam lalu catatan itu disusun sedemikian rupa. Akuntansi adalah keseimbangan.

Aku sendiri selalu menganggap diriku lebih ke tipe orang yang artistik. Aku sangat menghargai seni dan kreativitas manusia. Seni adalah sesuatu yang abstrak, berkaitan dengan rasa dan selera yang tidak dapat dikuantifikasi atau diproksikan. Sungguh bertolak belakang dengan akuntansi.

Source : Pinterest

Aku adalah seseorang yang punya mimpi-mimpi besar. Aku menyukai berbagai macam hal yang tidak ku ketahui. Terlebih lagi, aku sangat menikmati proses kreatif dan menciptakan sesuatu. Ya, proses itu sangat sulit. Tidak bisa ditebak, tidak bisa diatur, namun sekali ide itu muncul maka lahirlah sesuatu yang khas dan tidak bisa ditiru individu lain.

Dalam hal ini, aku ingin menjadi penulis dan perancang busana. Dua bidang yang menuntut inovasi dan kreativitas penuh. Tapi itulah yang aku sukai. Aku ini tidak suka mendapati diriku sama dengan orang lain, aku harus berbeda, harus unik, harus tak terganti, harus terlihat. Itulah prinsipku selama ini.

Penulis berarti menjadi Tuhan untuk sebuah semesta kecil. Sang penulis membuat dunia dengan aturan, hukum, norma, dan ketentuan yang diinginkannya. Ia mengisinya dengan tokoh-tokoh rekaannya, mensifati mereka, dan menggerakkan mereka sesuai kemauannya. Perintah yang datang dari jari jemarinya adalah titah tak terbantahkan. Ia menciptakan sistem sesuai idealismenya dan tak ada yang bisa menyalahkannya karena, hei, bagaimanapun ini adalah fiksi. Semua itu adalah keistimewaan seorang penulis. Bahkan, ia bisa mereka ulang takdirnya sendiri, lalu mengaturnya kembali sesuai yang diinginkannya. Memang, ia hanya bisa melimpahkan takdir ideal itu kepada tokoh-tokohnya, namun...apa salahnya?

Source : Pinterest

Mengenai perancang busana, ia juga adalah pembuat aturan. Namun skalanya lebih besar karena ia bersentuhan dengan dunia nyata dan orang-oran yang sesungguhnya. Perancang busana menciptakan aturan dan model yang dengan keindahannya dapat membuat orang terpengaruh sehingga tanpa sadar  mengikuti idealismenya. Siapa yang menentukan bahwa untuk terlihat sebagai seorang yang sukses dengan cita rasa tinggi, engkau harus memakai setelan jas Channel dengan jam tangan Rolex dan sepatu Dolce & Gabbana? Ya, para perancang merek-merek itulah. Mereka berhasil menyentuh orang dengan kreativitasnya sehingga aturan dibuat berdasarkan visi mereka.

Seni adalah pondasi peradaban.

Mengapa aku ingin menjadi penulis dan perancang busana?

Menjadi penulis, tentu karena aku ingin menghidupkan dunia sesuai bayanganku. Sering, aku merasa sangat lelah dalam dunia nyata yang ini. Aku lahir dan terikat dengan berbagai aturan yang ditentukan orang lain. Aku menjalani kehidupan dalam koridor takdir yang telah dituliskan untukku dan aku tidak punya hak apapun untuk merubahnya. Meski aku menganggap diriku adalah orang yang istimewa, meski aku punya berbagai macam ide dan solusi untuk membuat kehidupan di sekelilingku menjadi lebih baik, tidak serta merta aku dapat melaksanakannya. Aku terbentur berbagai batasan dan kekuasaan yang bahkan tidak peduli dengan niat baikku.  Aku hanyalah satu pemain diantara milyaran pemain. Karena itu, aku ingin melihat dunia yang ada di kepalaku benar-benar tercipta walau hanya setebal satu buku. Kalau beruntung, duniaku itu bisa mempengaruhi bahkan menyelamatkan orang lain.

Sedangkan mengenai perancang busana, aku sudah menjelaskan bahwa aku tidak suka sama dengan orang lain. Jadi, ya, itu saja. Untuk yang satu ini, aku sudah memulainya. Awalnya karena ukuran tubuhku yang tidak ideal, sungguh sulit bagiku menemukan busana yang pas. Padahal aku kuliah yang menuntut pergantian model busana setiap hari dan baju-baju yang ku beli karena ukurannya muat, sungguh tidak ku sukai bentuknya. Karena itu, sejak awal semester tiga, aku mulai membuat modeku sendiri. Aku membeli majalah-majalah mode obralan, aku berselancar ke blog-blog para fashionista. Aku mendesain semampuku. Aku menyisihkan uang sakuku untuk membeli kain di pasar dan menjahitnya ke penjahit. Hasil-hasil karya pertamaku adalah rok-rok maxi dan beberapa macam kemeja. Namun sayangnya, karena aku menjahit pada penjahit pemula tetanggaku yang lulusan SMK dengan pertimbangan biaya, maka hasil jahitannya untuk baju belum terlalu bagus. Kerena itu aku memutuskan untuk menjahit rok-rok saja. Saat aku semester tiga itu, baru aku lah cewek berkerudung yang setiap hari memakai rok beragam model dengan beragam motif dan warna. Mode umum anak kuliah waktu itu adalah celana botol jins dengan kemeja. Aku punya gaya berbusana yang berbeda dengan mahasiswa lain dan aku percaya diri karenanya. Beberapa teman menanyakan model busanaku dan saat tahu aku mendesainnya sendiri mereka terlihat begitu kagum. Itu perasaan yang menyenangkan, mengetahui bahwa seleramu diakui orang lain. 

Saat memasuki semester enam, barulah style baru yang dibawa oleh para hijaber meledak. Saat itu mulailah banyak mahasiswa berkerudung yang memakai rok sebagai padanan busananya. Ada yang begitu menggangguku tentang hal tersebut. Banyak dari mereka hanya membeli pakaian itu karena modelnya terlihat bagus, padahal mereka sama sekali tidak pantas memakainya. Kesannya jadi dipaksakan. Fashion adalah tentang orang. Mengapa berusaha memakai sesuatu terlihat bagus di tubuh orang lain namun sangat mengerikan dikenakan pada tubuh sendiri?  Seperti rok maxi dari kain transparan dengan pelapis kain yang hanya sampai lutut sehingga orang masih harus memakai kaus kaki jika tak ingin kakinya terlihat, dan penampilan itu sangat sangat menggangguku sehingga hampir saja aku memarahinya. Padahal kebanyakan para perancang yang menampilkan sendiri rancangannya itu memiliki tubuh yang ideal dengan warna kulit dan kontur wajah sempurna sehingga ya, tentu saja apa yang mereka kenakan akan terlihat bagus. Atau jika tidak, mereka menggunakan model-model dengan tubuh yang sudah jelas sempurna. Padahal aku membaca di suatu tempat bahwa di dunia ini hanya kurang dari 5% orang yang punya tubuh ideal. Jadi, haruskah 95% lainnya memaksakan diri mereka dalam busana yang sama sekali tidak sesuai?

Itulah keinginanku. Untuk menciptakan busana yang cocok untuk 95% orang itu. Aku adalah salah satu orang yang masuk kategori yang disebut “bencana mode”. Tubuhku gendut, besar, dengan kulit sawo matang ke arah gelap. Perutku berlipat dan lenganku bergelambir. Hidungku pesek, wajahku bundar, alis dan bulu mataku tipis, serta tulang pipiku tidak menonjol. Sulit mencari busana yang pas denganku. Banyak anak-anak muda dengan tubuh sepertiku yang akhirnya harus menyerah dan memakai pakaian yang diperuntukkan bagi para ibu-ibu. Sungguh mengenaskan.

Source : Pinterest

Dan apa alasanku menulis postingan sepanjang ini kali ini?

Ya. Satu hal. Ibuku yang bekerja di Kantor Disnakertrans menawariku kesempatan mengikuti kursus yang dilaksanakan selama lima bulan oleh BLK. Satu bulan program pelatihan dan empat bulan lagi magang. Awalnya aku agak ragu karena aku berencana sehabis ujian skripsi yang memberikan gelar SE di belakang namaku, aku ingin langsung mencari kerja yang sesuai dengan bidangku tanpa menunggu wisuda di Juni. Lagipula, meski ingin menjadi perancang busana, aku sama sekali tidak ingin menjadi penjahit yang kerjanya monoton namun upahnya tidak sesuai UMR.

Namun, setelah berpikir masak-masak, aku akan mengambil kesempatan pelatihan ini. Para perancang busana profesional yang telah diakui adalah mereka yang pernah sekolah fashion. Mendesain tidak hanya tentang menggambar. Itulah hambatan yang ku temui selama ini. Aku mengerti sedikit banyak tentang basic fashion rules, aku tidak buta sama sekali soal jahit menjahit. Aku mampu membuat pakaian-pakaian berpotongan sederhana, namun keterbatasan pengetahuanku tentang teknik menjahit menyumbat ide-ideku. Aku tidak bisa membayangkan model-model pakaian yang rumit dan tidak bisa membayangkan letak jahitan dan potongannya. Hal itu membatasiku. Ide-ideku tidak bisa meninggi bila pondasiku rapuh. Lagipula, aku tidak punya modal. Sehingga aku tidak bisa harus terus membayar penjahit yang ongkosnya sungguh mahal di awal-awal nanti. Lagipula, tidak semua penjahit itu kreatif. Beberapa kali aku temukan hasil jahitan yang ku terima tidak sesuai dengan keinginanku, mendekati pun tidak. Ada beberapa hal yang tidak bisa dipelajari secara otodidak, termasuk teknik menjahit. Untuk hal lain seperti tema, padu padan warna dan motif, gambar desain kasar, dan pemasaran bisa ku pelajari sendiri dari buku-buku dan internet.

Jadi, sepertinya aku tidak bisa langsung terjun ke dunia akuntansi. Aku akan beralih ke mimpiku yang lain untuk sementara. Selepas ini, aku janji akan kembali ke dunia akuntansi karena aku sudah terlalu terpikat dengannya. Akuntansi itu pasti dan bekerja di bidang itu menjanjikan ketetapan dan sumber daya besar. Citranya baik. Meski aku sangat menghargai kerja kreatif, harus ku akui bahwa penulis dan perancang busana  bukanlah profesi-profesi yang menghasilkan kemapanan. Setidaknya tidak secara instan. Padahal ketahanan finansial adalah salah satu tujuanku dalam hidup. Uang yang cukup memberikan ketenangan. Aku menonton di salah satu film yang  tentang psikologi yang psikiaternya menjelaskan bahwa bila kebutuhan dasar sandang, pangan, dan papan telah terpenuhi, barulah manusia punya keistimewaan untuk melangkah lagi ke tahap pemenuhan kebutuhan lainnya, yaitu aktualisasi seni. Lagipula, mungkin ini jalan yang diberikan Tuhan untukku. Berbeda dengan menulis yang hanya butuh banyak latihan dan banyak membaca, fashion butuh pengajaran dan praktik langsung kepada ahlinya. Meski keinginanku menjadi perancang busana sama kuatnya dengan mimpiku yang lain, sesungguhnya sebelum ini aku belum bisa melihat jalan ke arah sana. Dan tepat saat aku akan lulus, ada kesempatan ini yang ditawarkan di depan mataku. Ini adalah jawaban, kan?


Senin, Januari 12, 2015

This Point

Source : Pinterest

Hi there. 

Sudah lama sejak aku terakhir menulis. Memang benar ternyata bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Dulu aku mewajibkan diri menulis blog setiap hari, sehingga setiap hari ada saja rasanya ide untuk menulis walaupun dalam keadaan setidak menyenangkan apapun. Sejak KKN, kebiasaan itu mulai menghilang dan sekarang yah...tinggal seperti inilah. Ide selalu ada, tapi rasanya sulit menuangkannya dalam kata-kata.

Jadi, aku sudah selesai ujian dan perbaikan proposal tanggal 5 Desember tahun lalu. Saat ini seharusnya aku sedang penelitian untuk skripsi. Aku ingiinya bisa ujian bulan februari awal agar bisa ikut wisuda bulan maret. Tapi, entahlah...

Kisah yang mendominasi hari-hariku masih kisah sedih dan gelap. Moodku semakin kelam, yang mendominasi perasaanku adalah semua emosi negatif. Kemarahan, kebencian, ketidakpuasan, kekecewaan, kepedihan, terasing, tidak utuh, dan sebagainya. Komunikasi dengan keluargaku sedang tidak baik. Aku merasa mereka seperti kebanyakan orang, tidak bisa memahami diriku, dan aku benci itu karena, yah, mereka kan keluargaku. Aku merasa mereka membuangku karena tidak bisa menerima aku yang sebenarnya. 

Setiap bangun tidur, aku terjaga dengan perasaan yang rapuh. Seperti aku berdiri di atas selapis es di atas permukaan sungai yang dingin. Dan aku menunggu, menunggu suatu peristiwa yang memicuku untuk jatuh dalam sungai itu. Jika beruntung, selama sehari itu semuanya baik-baik saja. Tidak ada "pelatuk" yang ditarik. Jika nasibku buruk, maka tidak akan lama sesudah bangun, aku terperangkap. 

Dan pelarian yang paling terasa nyata saat ini adalah self injury.

Awalnya aku melakukannya jika emosi yang melandaku sudah benar-benar tidak tertahankan. Namun, akhir-akhir ini sepertinya semua emosi terasa seperti itu. Bukan hal yang aneh bagiku yang sekarang bila sebelum fajar menyingsing aku sudah memiliki lima torehan baru di lenganku.

Aku mencoba percaya bahwa semua ini akan berakhir. Aku tidak mungkin memiliki takdir yang seburuk itu, kan? Semua akan indah pada waktunya. Namun, di balik keyakinan rapuh itu ada suara berbisik yang semakin keras "Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika tidak lebih baik? Bagaimana jika memang inilah nasibku? Bagaimana jika aku tidak bisa bahagia lagi?,"

Suatu kali aku merasakan begitu banyak hal sekaligus. Aku mengerti segalanya, bisa melihat dengan jelas ke arah manapun. Namun, semua itu selalu berganti dengan cepat. Aku jadi buta. Jalanku menghilang dan aku tidak mampu berdiri. Aku mulai kehilangan diriku. Yang manakah aku yang sebenarnya? 

Dan semuanya jadi lebih buruk karena aku tidak bisa menulis. Berputar-putar dalam benakku. 

Namun, ide-ideku semakin baik. Rasanya aku bisa melihat jalan yang baru dari banyak hal. Sebagian ide itu ada yang mampu diterima oleh orang lain, yang mana membuatku merasa "lepas". Tapi sebagian yang lain, terlalu aneh atau mungkin malah terlalu absurd sehingga ditolak, ditertawakan, dan diabaikan. Dan semua itu berubah jadi barbel terikat di kakiku dan menyeretku tenggelam dalam sungai yang dingin.

Dan aku tidak yakin lagi bahwa aku akan bertahan.