Jumat, Februari 28, 2014

So, About That Island..

Jadi, pengumuman penentuan penempatan lokasi dan kelompok KKN sudah ditempel tadi pagi.

Aku ditugaskan ke daerah Banggai Kepulauan, tepatnya di desa Labuan Kapela Banggai Selatan.

Source : Here

Yah, sesuai ekspektasi.

Menurut informasi, dari 76 orang peserta KKN dari Ekonomi, 50% ditempatkan di pulau itu. Memang bupatinya yang meminta langsung. Keren, kan ? Udah ngebayangin turun dari kapal bakalan disambut dengan pesta rakyat dan dikalungi bunga. 

Halah, ngayal.

Begitu tahu bakal disana selama 2 bulan ke depan, aku langsung browsing dong. Nyari info tentang kabupaten baru itu. Terutama tentang potensi, hasil, dan kekayaan alamnya. Biar bisa mengira-ngira dari sekarang program kerja apa yang mau dibuat.

Intinya, produk utamanya adalah hasil pertanian berupa Ubi dan Jagung, serta hasil laut berupa ikan. Dan...Yang paling bikin aku exciting adalah potensi pariwisatanya.

Menurut Wikipedia, Banggai Kepulauan terdiri dari gugusan pulau-pulau sedang dan kecil berjumlah 121 buah. Panorama alamnya memikat dan masih belum terjamah. 

Oh, God. Itu benar-benar mendebarkan. 

Aku sudah membayangkan akan membantu mempromosikan pariwisatanya lewat internet.

Jadi berasa kayak Ikal di novel Laskar Pelangi.

Can't Wait..!!!!


Kamis, Februari 27, 2014

About KKN

Ini hari ke-4 pembekalan KKN. Besok diarahkan untuk pembekalan sesuai disiplin ilmu di fakultas masing-masing. Hari sabtu pelepasan. Hari senin sampai selasa sudah dikirimkan ke lokasi-lokasi KKN.

Source : Pinterest

Ada beberapa teman yang bercerita bahwa mereka sudah meminta kepada pihak P2WKKN selaku pelaksana kegiatan KKN agar ditempatkan di kampus, atau paling tidak di seputar wilayah Kota Palu saja dengan alasan masing-masing. Bahkan ada  seorang tetangga dari FKIP yang berstatus sebagai peserta KKN juga, sudah diuruskan orangtuanya untuk KKN di dekat kompleks perumahan kami saja. PKL di salah satu SMA di dekat rumah. Beberapa teman seangkatan yang sudah lebih dahulu mengikuti KKN di semester antara kemarin juga banyak yang menyarankanku untuk minta lokasi di kampus saja. " Supaya gampang urusan proposalnya " Kata mereka. Itu alasan yang benar, mengingat proposalku juga belum ada kemajuan sama sekali. Apalagi kalau aku berencana saat semester ini usai, harus sudah selesai ujian proposal juga. Yang berarti selama dua bulan ke depan seharusnya aku sudah selesai proses bimbingan yang tidak mungkin bisa terlaksana bila ditempatkan di lokasi di luar Kota Palu.

Tapi, entah kenapa aku ingin sekali agar ditempatkan di lokasi yang jauh dari sini. Kalau perlu di Banggai Laut, lokasi KKN terjauh yang perjalanannya menempuh waktu sehari semalam dan harus menyeberangi selat. Para pemateri pembekalan sudah mengatakan bahwa disana, masyarakatnya tidak mengenal yang namanya fasilitas MCK. Kamar mandi mereka adalah sungai, jadi seperti pemandian umum. WC tak dikenal, jika ingin buang hajat biasanya mereka langsung ke laut atau lari ke semak-semak dan menggali pasir seperti kucing.

Aku dilahirkan di kota, seumur hidup menempuh pendidikan di berbagai kota selain kota kelahiranku. Tak heran bahwa meski aku tercatat sebagai putra kelahiran Sulawesi, tak ada satupun yang ku ketahui tentang daerah ini. Dari hal mendasar saja seperti rute-rute jalan. Apalagi yang sudah besar seperti kebudayaan dan bahasa asli. Untuk dikatakan sebagai orang Jawa juga tidak bisa. Meski kedua orangtuaku asli orang Jawa, karena dibesarkan di Sulawesi maka budaya Jawanya juga kurang. Jadilah aku dan adik-adikku ini sebagai contoh kegagapan antara dua budaya yang jauh berbeda. Ha..Ha..Ha.

Hanya sekali aku pernah tinggal di desa. Saat itu aku baru lulus SMA dan ditugaskan ke daerah Lampung, Kalianda Selatan guna melaksanakan tugas sebagai Mubalighot. Daerah tempatku bertugas benar-benar minus. Listrik sebagai kebutuhan utama belum masuk, yang mengakibatkan perkembangan tempat itu juga tertinggal. Aku ingat nama desanya adalah Desa Budi Lestari. Hidup dalam kegelapan, secara harfiah, selam kurang lebih 8 bulan. Orang-orang desa situ juga sering bilang " Kasian banget ya mbak ini, ditugaskan disini. Di Lampung, Provinsi paling rendah dalam hal perkembangan daera se-Indonesia, di Kalianda yang jadi kecamatan terminus se-Lampung, dan di desa ini lagi, yang statusnya sebgai daerah tertinggal, desa termiskin di Kalianda ". Jadi, tempat paling miskinnya yang paling miskin. Istilahnya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. 

Tapi, meski sangat berat, aku bisa bertahan disana. Bahkan lumayan betah. 

Source : Pinterest

Ada serunya bertempat di desa. Karena status sebagai orang kota yang membuat masyarakat desa penasaran sekaligus menghargai kita. Dan, banyak sekali hal yang dapat dilakukan karena memang kehidupan di desa masih sangat banyak perlu perbaikan dalam berbagai bidang.

Program kerja apa yang dapat dilakukan jika KKN di kampus ? Paling banter ya penghijauan, atau kebersihan.

Kalau di Kota, orang-orangnya tidak bisa dikejutkan lagi. Kan sudah modern. Segala macam ada. Tingkat pendidikan juga tinggi. Sikap apatis dan keras kepala, juga sok pintar pati banyak. Apalagi Palu ini adalah daerah rawan konflik yang sering sekali terjadi di pinggiran kota. Serem.

Jadi, aku terima aja mau ditempatkan dimana. Katanya pengumuman pembentukan kelompok dan lokasinya kalau nggak sore ini ya besok sore. 

Kalau memang Tuhan mengatur bahwa aku harus segera menyelesaikan studiku, berarti aku akan ditempatkan di Kota. Kalau Dia menghendaki aku menambah pengalaman, aku senang-senang aja ditempatkan di desa. Di Banggai Laut sekalipun.

Apalagi, yang sangat aku perlukan sekarang adalah mengalihkan depresiku. Cara satu-satunya adalah dengan pergi sejenak dari rumah dan juga kompleks tempat tinggalku. Oh, juga aktivitas harianku. 

Meski antisosial, aku suka bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang baru. Yang ku benci itu harus bersosialisasi dengan orang-orang yang sudah lama dikenal, sudah saling mengetahui " kartu " masing-masing. Sudah men-judge dan menilai sesuai keinginan mereka sendiri.


Rabu, Februari 26, 2014

More

Kali ini aku sedikit lebih percaya diri. Aku bisa melakukan ini.

Satu irisan lagi.

Sama sakitnya, bahkan lebih sakit dari tadi pagi karena yang ini agak lebih dalam.

Source : Pinterest

Ternyata
Aku masih kurang berani.
Tapi hasilnya, kalau dua irisan tadi pagi butuh seharian untuk menampakkan bekasnya, maka yang ketiga ini langsung membekas. Ada sedikit darah yang merembes.

Ngilu.

Dan sakit.

Ku letakkan cutter itu, berpakaian lalu keluar untuk membeli keperluanku.

Seperti biasa, selanjutnya hanya ada aku dan diriku.

Aku berpikiran untuk menambah satu irisan lagi setibanya di rumah.

Sakit dari irisan ketiga itu memudar, digantikan oleh emosi dan sakit dari dalam diriku. Sama sekali tak ada rasanya. Jelas aku kurang dalam, hingga sakitnya dapat terkalahkan oleh perasaan dari diriku.

Source : Pinterest

Berikutnya, aku akan mencoba lebih dalam lagi.

Dan aku yakinkan. Bahwa dengan setiap irisan yang ku torehkan ke kulitku, aku akan jadi semakin kuat. Aku melakukan ini bukan karena aku berniat menyakiti diriku. Ini justru untuk membebaskanku. Supaya kesakitan dalam diriku agak teralih dengan rasa sakit  dari fisikku. Aku ingin lihat seberapa dalam aku harus menekan cutter hingga rasa sakitnya bisa menandingi kepedihan di sisi dalamku. Kesakitan melawan kesakitan. Aku mau tahu seberapa besar rasa sakit yang dapat ku tanggung. Torehan-torehan ini akan jadi bukti tentang rasa sakit yang ku hadapi. Tentang semua kegelapan yang dengan gagah berani ku tantang. Segala perih yang ku coba taklukkan. Tentang kemenanganku. Bahwa setiap irisan adalah keinginanku untuk terus hidup.

Karena dengan inilah semuanya agak terasa lebih ringan.

Itu untuk suatu saat nanti. Entah kapan, aku juga tidak berharap saat itu akan tiba. Mungkin aku akan mati lebih dahulu.

Untuk saat ini, aku butuh satu irisan lagi.

Stay Strong


Selasa, Februari 25, 2014

On My Own

MangaFox's Facebook Account

Ketika hari-hari berjalan begitu gelap dalam pandangan
Sulit rasanya untuk percaya bahwa suatu saat akan ada hal baik yang datang
Tidak mudah yakin kalau semua ini suatu saat akan berakhir begitu saja

Dan kala aku tertawa dalam kesedihanku, menangis karena kalut dan takut
Semua pintu tertutup, semua jalan terblokir, tak ada orang lain yang menawarkan perlindungan

Sepertinya kebahagiaan hanyalah sebuah dongeng dalam kisah putri-pangeran yang ku sukai kala aku lebih belia
Dan dongengku sudah lama mati

Perhaps..
Forever i will always be
On My Own...


Sabtu, Februari 22, 2014

Open Up The Curtain

Pada akhirnya, semua hanyalah tentang bagaimana kita berkompromi dengan kehidupan.

Source : Pinterest

Bagi seorang yang mengaku antisosial, berusaha menghindari segala bentuk sosialisasi dan hubungan yang tak begitu dibutuhkan, ada saatnya perlu membuka tirai dunia kecil itu. 

Matahari dunia luar begitu hangat dan terik, Wangi tanahnya begitu khas. Bau udara, hujan, laut. Lanskap langit, lautan, dan perbukitan. Semuanya nyata. 

Dunia kecil yang biasa kau diami disinari oleh impian dan obsesimu. Sekali-sekali, tak apa merasakan kenyataan. Karena inilah penghantarmu ketika dilahirkan.

Aku penasaran, apakah semuanya masih akan terasa semenyenangkan ini bila aku tidak pernah memutuskan untuk berpindah dari dunia nyata ??

# Salam Dari Dunia Paralel

Jumat, Februari 21, 2014

The Only Thing I Need Right Now Is A Pensieve

Tahu tidak, benda apa yang paling ku butuhkan saat ini ?

PENSIEVE.

Pensieve In Harry Potter, Source : Here

Penggemar Harry Potter pasti tahu ini. Ini adalah sebuah peralatan sihir milik Albus Dumbledore, kepala sekolah Hogwarts. Pertama kali muncul kalo nggak salah inget di buku ke-4.

Jadi, Pensieve ini digambarkan berbentuk baskom terbuat dari batu yang ada semacam cairan sihir di dalamnya. Gunanya untuk melihat secara visual pemikiran-pemikiran kita. Caranya ? Dengan tongkat sihir dan teknik tertentu, kita menarik pikiran yang kita inginkan keluar dari kepala kita lewat pelipis. Pikiran itu nantinya keluar dalam bentuk seperti sehelai benang transparan. Kita tinggal memasukkan benang itu ke dalam cairan di pensieve dan..saksikanlah pemutaran film pemikiran kita. Benang-benang pikiran itu juga dapat disimpan dalam botol-botol kaca kecil. Untuk merasakan sensasi yang lebih nyata, kita bisa mengalami lagi [ sebagai pengamat ] kenangan-kenangan yang telah kita lewati. Caranya ? Ya setelah benang berisi ingatan kenangan itu dicelupkan ke pensieve, kita tinggal memasukkan wajah kita ke baskom batu itu. Dan taraaa,,,.

Dumbledore When Using Pensieve, Source : Here

Aku sulit sekali berfokus pada satu ide. Ku pikir, itulah mengapa walau dengan otak lumayan seperti ini, aku jarang sekali sukses dalam suatu bidang tertentu.

Pikiran dan ideku melompat-lompat seperti kodok kepanasan. Satu demi satu menyambar silih berganti. Suatu saat aku begitu terpaku dengan satu pemikiran, dan saat berikutnya aku sudah tertarik pada hal lain dan melupakan yang lama. 

Sisi baiknya, karena aksi otakku itulah, aku jadi mempelajari banyak hal yang sedang tercetus dalam kepalaku. Aku bisa jadi orang nyambung diajak ngobrol apa aja dan siapa aja. Musik ? Olahraga ? Geografi ? Astronomi ? Agama ? Politik ? Pokoknya meski tidak ahli, setidaknya aku dapat menjadi kawan bicara yang terlihat cukup cerdas.

Kekurangannya sudah ku sebutkan di atas. Aku jadi sulit fokus dan memusatkan perhatian pada satu hal. Semua ide datang berkejaran seperti banjir di kepalaku dan aku tidak bisa memilahnya satu demi satu. Aku juga tak dapat memilih ide besarnya, mengambil apa yang sedang ku butuhkan dan mendorong sisanya ke belakang. It's Difficult.

Dan itulah kenapa sulit bagiku menyelesaikan proposal ini. Sejak awal pengajuan judul aja, aku sudah ribet sendiri sama banyaknya topik yang ingin ku ambil. Sekalinya udah beres, sekarang terputar-putar di banyaknya kalimat dan pembahasan yang menyentuh topik ini sehingga tidak tahu harus memasukkan yang mana.

Bingung.

Aku selalu saja seperti ini.

Source : Pinterest

Terkait dengan Pensieve ini, Albus Dumbledore berkata : " Terkadang kita butuh untuk mengeluarkan pikiran-pikiran kita dan melihatnya dari sudut pandang lain ".

Yeah, I know exactly what do you mean, Professor..


Kamis, Februari 20, 2014

Block

Source : Pinterest

Baru bulan kedua dari tahun ini, dimana aku beresolusi untuk menulis blog setiap hari, dan hasilnya udah berantakan.

Akhir-akhir ini rasanya malaaass sekali menulis.

Tahu kok sebabnya. Karena awal februari kemarin aku jatuh sakit setelah itu sibuk dengan kegiatan asrama, sehingga sampai 10 hari lebih tidak menulis. Karenanya semangat menulisnya perlahan luntur. Itulah. Kalau sesuatu yang baik itu perlu dijadikan kebiasaan agar bisa terus berjalan.

Bukannya tidak ada ide. Orang seperti aku ini tidak pernah kehabisan ide. Di draft blogger saja ada sekitar lima postingan yang setengah jadi. Belum lagi cerita dan curhat dadakan, ide-ide cerita, puisi, lagu, dsb. Cuma...Malas rasanya merunutkannya dalam bentuk tulisan.

Kalau berhasil dapet " feel " buat nulis, pasti langsung modyar tuh semangat di tengah jalan. Dulu, aku mngatasi ini dengan cara memaksa menulis, dan ternyata berhasil. Tapi untuk kali ini, lagi nggak enak rasanya maksa-maksa diri sendiri.

Hari ini, dari tadi pagi aku sibuk membaca dan memilih-milih jurnal-jurnal untuk keperluan proposalku.

Dan, ada lagi kompetisi menulis dari sebuah akun kepenulisan di facebook yang intinya " Buat cerpen sepanjang 1500-2000 kata tentang Valentine Day, pokoknya harus ada suasana suram dan gloomynya ". Hadiahnya pulsa 15 Ribu dan 2 buah buku bekas. Lumayan sih, pingin ikut. Aku baru tahu info itu semalam. Dan dari saat itu, sibuklah kepalaku mencari ide cerita. Masalahnya, tenggat waktu partisipasinya jam 23.59 malam ini. 

Sekian,