Sabtu, Januari 11, 2014

My 1st Song- Gerimis

Source : Pinterest

Terhantam oleh perasaan asing yang tak ku kenali.
Ada banyak hal yang masih belum ku mengerti
Aku berlari di tengah gerimis, sisa-sisa hujan tadi siang. Saking bingungnya, tak ku pedulikan genangan air yang menciprati bagian bawah rok maxiku. 
Bahkan dingin menusuk tulang yang menyusul, tertiup angin. 
Aku masih berlari

Aku ingin bertemu seseorang
Yang menjadi masalah adalah aku pun tak tahu siapa yang ingin ku jumpa itu
Seperti perasaan ketika mengetahui bahwa kita melupakan sesuatu, namun tak dapat mengingat apa itu
Atau ketika menyadari bahwa hasil kerja kita tak sebagus biasanya, namun tak dapat menemukan dimana kekuranganya

Aku juga ingin membeku dalam gerimis ini
Sesaat saja untuk tidak merasa, meraba, dan merupa
Jadi, aku tidak perlu selalu mengira dan menerka apa yang ada di depan sana
Yang terjadi di menit berikutnya, jam, hari, minggu, bulan, tahun, bahkan di dasawarsa atau milenium selanjutnya


Sudahkah ku menceritakan bahwa aku mencintai hujan ?
Kau pasti berkata " Ah, itu sudah biasa. Siapa di dunia ini yang tidak suka hujan ? Dengan alasan yang mengingatkan pada romansa merah jambu ?,"
Ku beritahu, alasanku berbeda. 

Aku cinta hujan karena hujan memperlambat siapapun, tanpa pandang bulu.
Orang yang sedang tergesa pun tak punya pilihan selain menepi dan berteduh di pelataran milik empunya yang asing
Dan sejenak dunia menjadi tenang, membuatku merasa tak tertinggal dari siapapun

Dan aku berharap menjadi tak kasat mata untuk sehari saja
Agar aku bisa berjalan bebas kemana kedua kakiku membawa, tanpa khawatir dengan pandangan ingin tahu dan penghakiman sepihak
Agar aku bisa bernyanyi selantang mungkin sambil duduk sendiri di tempat favoritku 
Jadi aku dapat mencoba menertawakan pusaran rasa asing ini


Hei, siapapun berhak untuk memilih berada di sisi yang berbeda, kan ?


[ Aku berniat menjadikan ini sebagai lagu. Inginku sih dalam bahasa inggris, tapi nanti setelah aku mendapatkan nada vokal yang cocok baru aku tentukan dalam bahasa apa. Bagus juga dinyanyikan dengan iringan gitar. Tapi sayang aku belum bisa memainkannya sama sekali. Sementara, cukuplah dulu dengan ini ]

# What Mood Button is This ???


Jumat, Januari 10, 2014

Random-Manic-Thoughts

Source : Pinterest

Setelah browsing kemana-mana, aku tetap tak dapat menemukan data yang mendukung teoriku bahwa kafein bisa menyebabkan periode Manic terasa lebih berat. Sebenarnya, tidak ada makanan atau minuman yang bisa berpengaruh pada Bipolar, tidak seperti penyakit fisik yang pasti ada makanan/ minuman pantangan maupun anjuran.

Bipolar bukan penyakit fisik, namun akibatnya bahkan malah bisa lebih parah.

Kesimpulan yang bisa ku dapat, aku memang murni sedang dalam periode Manic. Dan kalau dihitung-hitung, ini sudah hari ke-4. Fakta ini baru bagiku lho, soalnya seingatku biasanya aku lebih sering depresi ketimbang Manic. Apapun yang ku lakukan, aku tidak bisa mengeluarkan diriku dari jurang depresi itu.

Ini bukan Manic pertamaku, tapi ini pertama kalinya periode ini sangat terasa sensasinya, pada tubuh maupun pikiranku.
Bisa dilihat, tulisan ini merupakan postingan ke-3 hari ini. Dan anehnya, di pagi hari tadi aku sempat merasakan depresi tapi hanya sesaat. Kemudian menjelang siang, beberapa kali terasa gejala depresi, aku bahkan menangis beberapa kali hari ini. Yang paling parah adalah depresi pertama yang muncul hari ini. Semuanya ku tumpahkan dalam postingan pertama di hari ini. Tapi semuanya itu seperti cuma sekedar emosi yang numpang lewat sebentar untuk kemudian moodku diambil alih oleh Manic. Jadi, beginilah sekarang keadaanku. 

Bersemangat, penuh energi dan ide, tak bisa diam, dan sangat optimis.

Hal tak biasa yang ku lakukan hari ini :

1. Ide pertama yang datang setelah shubuh adalah menginventarisasi dan menomori buku-buku koleksiku. Langsung ku buat rumusnya, bikin, kemudian diprint lalu digunting dan ditempelkan satu-satu ke punggung buku. Setelah hampir dua jam dan 10 buku selesai, dapat ide untuk menambahkan kategori serial pada sistem penomoranku. Akhirnya berhenti di buku ke-10.

2. Ide kedua datang saat di kampus, sedang ngobrol-ngobrol dengan ketua lembagaku, aku tiba-tiba punya ide untuk melaksanakan pelatihan Menulis Fiksi dengan mengundang narasumber dari salah satu penerbit major yang hanya minta ditanggungkan uang tiket pesawat. Ku paparkan rencana itu sedetail-detailnya kepada ketuaku.

3. Masih dalam momen yang sama, ketuaku mengingatkanku untuk mengirim pesan pemberitahuan untuk rapat redaksi kepada seluruh crew besok. Berita utama adalah tentang reuni Fakultas minggu depan. Dengan segera timbul keinginan yang sangat kuat untuk masuk dalam tim liputan dan ku ceritakan konsep beritaku kepada ketua lembaga. Melihatku yang terlalu bersemangat, ketua mengizinkanku untuk ikut meliput.

4. Di perjalanan pulang, datang cita-cita untuk membuat lagu dan menyanyikannya sendiri dengan petikan gitarku. Sudah membuat syair lagu meski baru jadi sepenggal, mencoba mencari nada vokal yang bagus untuk sepotong lagu itu.

5. Ketika mengajar anak-anak di TPA, entah bagaimana tiba-tiba sebuah ide datang dalam satu paket lengkap. Ide itu tentang membuat acara games, kompetisi, sekaligus evaluasi belajar untuk anak-anak. Segera ku tuliskan ide-ide pokoknya dalam kertas folio sepanjang 1 halaman penuh. Setelah pulang, ku paparkan keinginanku pada tendik-tendik lain dan semua menyetujuinya.

6. Timbul keinginan yang sangat untuk memposting di blog. Jadilah tulisan yang di posting tepat sebelum postingan ini.

7. Membuat kembali sistem penomoran buku yang salah tadi pagi. Membuka label yang terlanjur ditempel.

8. Tiba-tiba muncul rasa ingin membuat pembatas buku. Begini, tidak semua buku yang ku beli menyertakan bonus pembatas buku di dalamnya. Sebenarnya ini sudah rencanaku sejak lama, namun setiap kali membuka Ms. Word tiba-tiba langsung hilang mood. Malam ini aku sangat menginginkan membuat itu, lalu aku browsing Bookmark D-I-Y di Pinterest dan membuatnya. Sudah jadi dua dari sembilan.

9. Ingin menulis di blog lagi. Maka jadilah postingan ini.

Itulah ringkasan Random-Manic-Thoughtsku pada hari ini. Seperti yang ku bilang di awal, sempat juga ada depresi. Tapi itu tidak begitu mengganggu dan hanya terasa sebentar saja.

God...Please save and bless me !!!

# Say That You Glad To Be Life


My Little Library

Sudah sejak SMA aku punya cita-cita bahwa kelak di suatu saat aku akan membuat perpustakaan pribadiku sendiri. Aku ingin punya sebuah rumah yang mirip rumahnya Shinichi Kudo yang penuh buku [ udah googling tapi sayang nggak nemu gambarnya ], atau kira-kira seperti ini :

Source : Anime Go Sick Nomor 1

Tapi baru beberapa bulan terakhir ini aku mulai ngumpulin buku-buku, udah cerita kan ? Sekarang aku baru punya 13 buku. Tapi, biarpun baru segitu ternyata cukup makan tempat juga. 

My Homeless Book

Sepertinya aku butuh rak buku nih. Kamarku nggak punya rak buku. Soalnya selama ini buku paling tebal yang ku punya ya buku kuliah, terus dulu-dulu kalo ke toko buku belinya pasti komik yang nggak makan tempat. Rak bukuku adalah selembar papan yang dipakukan ke dinding. Selama ini sudah mencukupi kok.

Aku mau bikin rak buku sendiri. Yang sederhana aja, yang penting buku-buku punya rumah sendiri. Di rumah banyak papan-papan bekas ranjang kayu, tinggal mikirin gimana bentuknya, minjem peralatan dari Bapak, terus berkreasi deh. Kuat nggak ya tanganku maku-maku :D

Pengennya sih yang mirip ini :

Source : Pinterest

Tapi, karena aku sadar diri dengan kemampuanku, mungkin jadinya ya yang nggak jauh-jauh beda dari ini :

Source : Pinterest

Dan...Karena aku mau punya perpustakaan, makanya aku bulai belajar untuk menginventarisir buku-bukuku. Tau kan kalo di perpustakaan-perpustakaan itu, di punggung buku pasti ada tempelan kertas berisi indeks klasifikasi buku tersebut. Nah, tadi pagi tiba-tiba aku punya ide buat bikin kayak gitu. Biasanya buku-buku yang ku beli cuma ku tandai dengan nama dan tandatangan di lembar kedua setelah sampul.

Ada beberapa rumus klasifikasi buku yang sudah dikenal. Yang paling populer adalah indeks klasifikasi Dewey. menurut informasi yang aku dapat dari google, indeks ini adalah sistem klasifikasi yang paling maju dibanding sistem lainnya. Karena Dewey mengklasifikasikan buku-buku per kategori, tiap-tiap kategori itu di bagi lagi menurut genre buku, genre-genre buku tersebut juga dibagi lagi menjadi beberapa bagian. Karena itu, sistem ini rumit. Karena kategori buku ala Dewey aja ada lebih dari 10.

Jadi, aku bikin sistem klasifikasi buku versiku sendiri. Toh, ini kan buat kepentingan pribadi juga.

Awalnya, rumusnya begini : 

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ]/ Tahun pembelian.

Jadi, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/2013

Keren, kan ?

Udah aku bikin lho untuk ke-13 bukuku, malah udah ditempelin sampe buku ke-10.

Hasil Kerjaan Sepagian-Salah Pula

Tapi ternyata aku bikin nomornya kurang. Di tahun 2013 aku beli 11 buku, tapi aku cuma nge-print nomor sampai 10. Terus yang bikin janggal tuh, kan ada beberapa buku yang berseri. Dan belinya juga nggak berurutan langsung buku 1, 2, 3 gitu. Biasanya loncat-loncat tergantung ketersediaan buku dan anggaran. Jadi, gimana bisa diketahui bahwa buku itu masih dalam satu serial padahal nomor pembelian bukunya nggak berurutan ???

Label Versi Awal-Nggak Ada Kategori Serial

Makanya aku mau nambahin satu kategori lagi, yaitu nomor serial [ jika berseri ]. Sejauh ini buku berseri yang ku miliki baru 5 serial. Jadi, daftarnya baru sampai lima. Terus gimana sistem penomorannya ? Jadi gini....

Nomor urut pembelian buku, Lokal [ L ]/Terjemahan [ T ], Fiksi [ F ]/Non Fiksi [ NF ], Nomor Serial [ Sx ] /Non Serial [ NS ]/Tahun pembelian

Daftar Serinya :

A : Pierce Oliviera Series
B : Heather Wells Series
C : Layken Series
D : Deirdre & James Series
E : The Atlas Emerald Series

Maka, kalo buku itu adalah buku kelima yang ku punya, terjemahan, fiksi, buku ketiga dari serial Pierce Oliviera, dan dibeli di tahun 2013, jadinya kayak gini :

005/T/F/S-A-03/2013

Label Versi Perbaikan-Sudah Ada Kategori Seri

Tjakep, kan ?

Tapi, aku harus kerja dari awal lagi. Ngebukain satu-satu label yang udah ditempel, ngerancang dan ngeprint label klasifikasinya, terus ngegunting/ngelakban, dan nempelin tuh label ke buku. Yes. Bakalan sibuk nih malam ini. :D

Oh iya, perpustakaan kecil pribadiku ini aku kasih nama " HOSHIZORA PERSONAL LIBRARY ". Dalam Bahasa Jepang, " Hoshizora " berarti bintang. Alasannya simpel, aku suka bintang. Bagiku, bintang adalah simbol harapan. Dan aku berharap perpustakaan kecil ini akan terus bertambah besar dan pada akhirnya bisa menjadi salah satu tempatku membangun harapan dalam hidup [ Aciyaa.... ]

Source : Pinterest

# Puncak Manic..



Trash..

Ah, pagi-pagi aku sudah sangat kacau. Efek Manic yang ku ceritakan di postingan sebelum ini masih sangat terasa di tubuh. Tapi realita yang menghantamku pagi ini sungguh menyakitkan, dan sekarang..di pagi buta seperti ini aku terserang depresi. Dan orang-orang yang ada di sekelilingku hanya mempercepat proses kejatuhan ini.

Aku benci orang-orang terdekatku, yang merasa berhak menyakitiku hanya karena mereka punya hubungan denganku. Mereka tidak pernah ada di saat-saat ku jatuh, saat ku membutuhkan tarikan dari orang yang mana sudah sepantasnya seharusnya mereka yang pertama kali ada...Tapi, mereka justru sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan entah apa seolah mereka tak punya waktu sama sekali. Dan yang menyebalkannya ? Ketika ada ketidakberesan atau kekacauan dalam urusan mereka, mereka segera datang padaku, dan melampiaskan rasa tak enak dalam hati mereka dengan cara memojokkanku. Dan juga...menyalahkanku.

Haloooo ???? Kalian kemana aja sih saat aku butuh ? Bagus banget sih alasan kalian itu. Kata mereka " Ini demi kebaikanmu, kamu harus ini, kamu harus itu...Kami ini sudah berpengalaman. Kenapa kamu melakukan hal ini, melakukan hal itu ??? Bla..Bla..Bla...,"

Aku benci jadi samsak orang lain hanya karena aku terlihat diam dan mudah dipojokkan, hanya karena kedudukanku tak memperbolehkanku untuk membantah. Hanya karena mereka, yaahh....bisa menyalahkanku.

Mereka sih senang-senang aja, abis buang " sampah " uneg-uneg, lega terus pergi.
Tinggal aku disini, sepanjang waktu berperang dengan " sampah " mereka, berjuang agar tidak kalah yang mana itu akan membuatku semakin jatuh saja.

Seakan tidak cukup dengan Bipolar ini, ulah mereka itu langsung menendangku masuk jurang gelap bernama depresi dengan telak. 

Jika sekali-kalinya aku coba melawan, langsung saja aku diingatkan pada kesalahan-kesalahanku, penghakiman, dan kuliah panjang yang tidak penting, yang bernada memojokkan dan menyalahkan. Lalu setelah semua usai, mereka mendatangiku lagi dengan tanpa penyesalan, dengan ceria dan bahagia membawa kisah menyenangkan. Padahal aku berada di depan mereka, terkungkung dalam ruang gelap, pikiran dan emosi negatif, tidak tahu harus berbuat apa untuk bangkit, bingung dengan pusaran rasa sakit, tidak yakin dengan hidup.

Dan apakah mereka peduli ? Tidak, tuh.
Mereka tahu apa yang ku rasakan dan alami sepanjang waktu ? Tidak juga.
Terus, mereka menghadapi kenyataan yang ku hadapi ?? Ya nggak lah.


Nah, terus apa hak mereka buang " sampah " padaku ??
Nggak tahu juga, ya..

Source : Pinterest
# Into the never ending trouble..


Kamis, Januari 09, 2014

Manic And Caffeine..

Yang ingin sekali ku ketahui sekarang, apakah kafein dapat memperparah periode Manic ?

Masalahnya begini..
Aku ini pecinta berat kopi, yang mana tiap hari minimal mesti minum segelas. Kalau nggak rasanya nggak afdhol aja. Kalau lagi ke kampus, biasanya aku bawa bekal 2 sachet kopi untuk diminum pake air dispenser di sekret. Dulu, tak pernah ada masalah dengan ini.

Tapi, sejak akhir tahun lalu, aku sadar bahwa sepertinya kopi mendorongku masuk periode Manic. Ceritanya waktu itu aku juga sedang Manic, namun begitu habis minum satu mug besar kopi, jantungku berdebar dengan keras dan efek dari Manic menjadi dua kali lebih terasa.

Manic memang dipenuhi dengan perasaan senang dan bersemangat dalam kadar yang tak wajar. Pengidap Bipolar yang sedang mengalami periode ini dipenuhi energi, kebahagiaan, ide, semangat, dan euforia yang melimpah ruah. Untukku sendiri, saat-saat seperti ini sangat sulit untuk duduk atau berdiri diam lebih dari tiga menit. Banyak sekali rencana dan ide yang berlompatan keluar masuk pikiranku, seluruh sel tubuh sepertinya sedang menari-nari. Hidup menjadi sangat menyenangkan, aku dipenuhi keyakinan akan keberhasilanku di hari esok.


Kedengarannya menyenangkan ?


Maaf. Sama sekali tidak.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

Nah, mulai dari kejadian pertama itu, sekarang tiap kali habis minum kopi, pasti aku langsung diseret oleh gelombang Manic. Dan efeknya bertahan sampai waktu yang lama. Kalau biasanya kebiasaan minum kopiku itu siang, maka sampai hampir tengah malam sensasinya masih mengungkungku.

Sepertinya seluruh saraf di tubuhku bekerja keras memerintahkanku untuk melakukan sesuatu sekaligus, ada perasaan tak nyaman di perut dan rongga dada bila aku tak bergerak atau setidaknya, berpikir keras. Kadang, luapan energi itu sampai membuatku terengah-engah tanpa sebab. 

Melelahkan. Terutama karena tubuh tidak bisa menyalurkan dengan tuntas segala euforia itu. Kalau menuruti Manic ini, sudah pasti sekarang aku sedang menyanyi rock sekeras-kerasnya sambil berjungkil balik dengan cepat. Tapi, ini kan tengah malam ? Terus, aku mana bisa jungkir balik ? Kalau menggelinding, iya.

Dalam film At The Very Bottom Of Everything, Manic digambarkan sebagai " Cahaya yang membutakan ".

Setahuku, kafein dari cokelat dan kopi memang punya efek menenangkan dan mendorong tubuh untuk memproduksi hormon yang membuat perasaan jadi gembira.

Jadi, apakah kafein memang punya pengaruh terhadap periode Manic dalam Bipolar ???

Source : Pinterest

# Proposal pada Chopvie....Proposal memanggil Chopvie..

 Salam dari negeri Manic di atas awan..


A Suddenly Idea..

Tiba-tiba dapet ide cerita novel yang menohok banget. Barusan aja melintas di kepala. Aku nggak begitu pintar menjabarkan dengan persis apa yang ku pikirkan, tapi aku akan berusaha.

Jadi gini :

Tokoh utamanya ada satu cewek ( A ) dan dua cowok ( B & C ).

Cewek A dan cowok B adalah teman semasa SMA. A jatuh cinta pada B sejak SMA, tapi tak berani mengungkapkannya. Dia terus saja memelihara perasaannya bahkan sampai mereka lulus. B ini adalah tipe cowok yang berwibawa dan berjiwa pemimpin, karena itu di masa sekolah B termasuk cowok yang banyak dikagumi orang karena memegang jabatan-jabatan penting di organisasi sekolah [ tapi dia bukan tipe pangeran yang gantengnya selangit dan sok-sok cool gitu. Dia dikagumi karena aura kepemimpinannya ].

Nah, sampai lulus SMA pun A tetap tak berani mengungkapkan perasaannya pada B. Ia tipe perempuan yang pasrah dan sangat mempercayai takdir. Ia yakin takdirnya kelak akan bersua dengan takdir B. Sejak lulus SMA, A berusaha keras melakukan banyak hal untuk membuat dirinya sepadan dengan B. Meski mereka tak pernah bertemu lagi sejak kelulusan karena berbeda kota tempat tinggal, tapi A tetap dengan naifnya percaya bahwa B adalah jodohnya.

7 tahun kemudian....

A mendapat kabar bahwa B sudah menikah. A sangat shock, ia tiba-tiba kehilangan arah di tengah perjalanan yang selalu dipercayainya akan berujung pada B. A berubah menjadi perempuan yang pendiam dan penuh kehampaan, hidup dijalaninya dengan perasaan depresi. 

Lalu, datanglah cowok C yang menyelamatkan hidupnya dari jurang keputusasaan.

Awalnya A selalu menolak perasaan C, merasa bahwa dirinya terlalu gelap dan rusak untuk seorang yang baik seperti C. Lama kelamaan, dengan kesabaran C, A luluh dan mereka akhirnya berpacaran.

Tak berapa lama kemudian, datang lagi kabar bahwa istri B meninggal saat melahirkan. A tersentak dan kembali tenggelam dalam masa lalunya yang belum terselesaikan. Ia merasa ini adalah kesempatan kedua yang diberikan Tuhan padanya untuk kembali berada di sisi B dan melakukan hal yang semasa SMA tak dapat diperbuatnya, memperjuangkan cintanya. Lalu, A meninggalkan C dan segera pergi ke kota tempat tinggal B untuk menemui dan menemaninya.

Inti ceritanya gitu, sih. Kesannya gelap, nggak ? Aku belum mikirin endingnya gimana tuh. Ah, aku mau banget jadiin ide itu ke dalam novel. Tapi kayaknya bakalan jadi novel tebal banget, euh. 

Ayo atuh, cepetan diselesaiin bikin proposalnya supaya bisa bikin novel :D

Source : Pinterest

Salam insomnia selalu..

Rabu, Januari 08, 2014

The Espressologist, A Novel By Kristina Springer


Judul : The Espressologist
Judul Asli : The Espressologist
Pengarang : Kristina Springer
Penerjemah : I Gusti Nyoman Ayu Sukerti
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Qanita
Tebal : 291 halaman
Diterbitkan pertama kali : Januari 2012
Format : Paperback
Target : Semua Umur
Genre : Novel
Serial : -
Beli di : Tb. Ramedia       

Ini sampul edisi terjemahan Indonesia yang ku punya :           
                            
Source : Here

Blurbs :

Aku Jane Turner, seorang barista. Sekarang aku lebih dikenal sebagai Espressologist--Orang yang bisa menjodohkan orang lain sesuai dengan kopi favorit mereka. Semua orang di kota membicarakanku, mereka yang belum punya pasangan datang padaku. dan tiga host TV ternama mewawancaraiku. Keren, kan ?

Semua orang yang datang padaku akan segera mendapatkan pasangan. Aku jamin 100 %.

Lalu bagaimana denganku ? Apa aku sudah punya pasangan ?

Sayangnya, belum. Tapi, setidaknya sekarang aku sudah menemukan targetku--cowok keren dan baik hati yang jadi pelanggan nomor satuku. Yah, walaupun kopinya bukan jodoh kopiku, kurasa aku bisa melakukan sedikit penyesuaian dengan kopi favoritku. Rencana ini pasti berhasil. Dan ku harap keberuntungan biji kopi berpihak padaku.

Sinopsis :

Percayakah kalian jika dikatakan bahwa kalian bisa menemukan jodoh kalian yang cocok hanya dengan melihat kopi kesukaan masing-masing ? Ide ini kedengaran agak absurd, ya. Tapi itulah yang menjadi keahlian Jane Turner, seorang barista muda yang bekerja di kedai kopi Wired Joe's. 

Jane adalah seorang mahasiswa senior di sebuah SMA. Karena bosan dengan kehidupan sekolahnya, ia justru memilih lebih menekuni pekerjaan paruh waktunya di Wired Joe's. Hari-harinya yang seru di tempat itu dikelilingi oleh pelanggan-pelanggannya yang ceria, Derek, sang manajer wilayah berusia 30-an yang terobsesi menjadi kontestan ajang pencarian bakat penyanyi rock, dan teman-temannya sesama barista Wired Joe's ; Sarah, Em [ yang juga sahabat Jane ], dan Daisy.

Tapi, Jane punya rahasia. Diam-diam ia mempelajari segala macam jenis kopi yang dipesan pelanggannya. Semacam tebakan gitu deh. Kalau melihat seseorang, hanya dari penampilan luarnya saja dia sudah tahu kopi apa yang akan dipesan orang itu sebelum orang yang bersangkutan memesannya. Tak lama kemudian, Jane juga mendapati bahwa ternyata ia dapat menjodohkan [ mak comblang ] dua orang hanya dengan melihat kopi favorit mereka. Pasangan pertama yang dijodohkannya adalah temannya sendiri, Simone [ kopi favoritnya Medium Dry Cappuccino ] dengan cowok bernama Gavin [ kopi favoritnya Medium Iced Vanilla Latte ].

Melihat kecocokan diantara Simone dan Gavin, Jane mulai percaya diri untuk menjodohkan teman-teman maupun pelanggan-pelanggannya. Dan semuanya ternyata berhasil, pasangan yang disatukannya selalu cocok satu sama lain. 

Tapi bagaimana dengan Jane sendiri ? Ia yang menyukai Non-fat Iced No Whip Mocca ternyata belum punya pasangan. Bukannya tidak ada orang yang disukainya sih, ada cowok pelanggan tetapnya yang bernama Will [ kopi favorit : Five-shot Espresso Over Ice ] yang ganteng minta ampun [ bahasa Jane ] yang matanya berwarna biru gelap. Selain itu ada Cam, cowok yang menjadi teman satu grupnya di salah satu pelajarannya [ Cam, kopi Favorit : Toffe Nut Latte ]. Jane menjodohkan Cam dengan Em, sahabatnya [ kopi favorit : Coffe Hot Chocolate ] yang baru saja diputuskan oleh pacarnya. Awalnya Jane sempat ragu bahwa mereka berdua bisa menjadi cinta sejati, mengingat kopi favorit mereka yang sebetulnya tidak terlalu cocok, namun bukannya tidak mungkin mereka bisa saling mengisi satu sama lain untuk sementara. Cam menerima suruhan Jane untuk mengajak Em keluar dengan ogah-ogahan.

Jane juga punya musuh, namanya Melissa. Cewek itu menyebutnya dengan panggilan Tukang-Macarin-Sepupu, karena pernah memergoki Jane menggandeng sepupunya sebagai teman kencan di pesta Homecoming [ Itu usul ibu Jane, karena Jane belum punya pacar ]. Sejak itulah Melissa selalu mengolok-olok Jane di setiap kesempatan.

Karier Jane sebagai Espressologist semakin bersinar setelah Derek, manajer Wired Joe's membuat event khusus Espressology bagi para pelanggan yang ingin mencari jodoh. Karena kesuksesannya, salah satu acara TV terkenal datang dan meliput serta mewawancarai sesi espressology Jane.

Di lain pihak, Jane dilema karena cintanya pada Will. Will menunjukkan tanda-tanda jelas kalau ia juga menyukai Jane. Namun, ternyata kopi favorit Will tidak cocok dengan kopi favoritnya, namun ia meyakinkan dirinya bahwa hal itu tak berarti apa-apa dan ya...ia bisa merubah pilihan kopinya. Jane berniat menjodohkan dirinya dengan Will di akhir sesi wawancara TV, saat ia diminta untuk menjodohkan sepasang pelanggan yang hadir di Wired Joe's langsung di tempat. 

Namun, ketika telah tiba saatnya, Melissa justru tiba-tiba mengajukan diri untuk dijodohkan [ Kopi favoritnya : Nonfat Latte ]. Jane yang panik karena didesak akhirnya terpaksa mengakui kalau pasangan yang cocok yang sesuai dengan kopi favorit Melissa adalah Will. Ia menjodohkan mereka, dan ketika kamera televisi pergi untuk meliput pasangan baru itu untuk kencan pertama mereka , Jane berlari sambil menangis. Ia dikejar dan ditenangkan oleh Cam, yang kemudian tiba-tiba menciumnya. Sialnya, Em yang menganggap dirinya berpacaran dengan Cam melihat semua kejadian itu dan kemudian mendiamkan Jane.

Pada akhirnya, Em yang sudah berbicara dengan Cam memaafkan Jane. Melissa juga berterima kasih karena telah menjodohkannya dengan Will, ia akhirnya berbaikan dengan Jane dan memberinya akses untuk bisa diterima belajar di sekolah fashion impian Jane. Dan.....Cam pun akhirnya jadian dengan Jane..

Spoiler abis, la..la..la.. #Lari-Lari Cantik. Biarin, orang bukunya udah terbit dua tahun lalu juga. 

Pendapatku sih, buku ini adalah semacam teenlit rasa barat. Soalnya ceritanya ringan, konfliknya nggak berat, dan agak menye-menye. He..He..He.

Yang saya suka dari novel ini adalah banyaknya resep kopi-kopi ala Wired Joe's. Kopi ala Starbucks gitu, saya suka menganalisis resepnya sambil membayangkan bagaimana jadinya. Terus ada gambaran-gambaran kepribadian yang dilambangkan dengan kopi-kopi itu. kalau menurut penjabarannya sih, sepertinya kopi yang cocok dengan profil saya adalah Small/Medium Zebra Moccha : Pintar dan kritis, tipe orang seperti ini suka mencoba sesuatu yang nggak biasa& memiliki jiwa petualang. Kreatif dan humoris, karakter yang menyenangkan. Berpenampilan standar--bukan seorang bintang rock, tapi juga bukan pekerja kantoran yang serius. 

Ngaku-ngaku, nih.

Yah, saya SUKA SEKALI kopi. Beneran deh. Saya pecinta kopi sejati. Tapi, kopi yang suka saya minum itu yang rasa Moka. Yang dijual rencengan harga seribu/bungkus itu, ada juga yang beli 2 gratis 1. :D. Sejujurnya saya belum pernah sekalipun nyobain minum kopi di kafe atau kedai yang ternama gitu. Denger-denger sih harganya mahal, nyampe 30.000-an/ gelas. Mending uangnya dikumpulin buat beli buku baru. Terus budaya minum kopi di kafe belum jadi hal yang lumrah di kota sini. Jadi, ya beli yang rencengan aja. Kalo itu sehari aku habis 2 bungkus.

Nah, ada tiga alasan kenapa saya milih beli buku ini pas kapan itu :

1. Harga

He..He..He. Soalnya saya ke toko bukunya nggak pas awal bulan, jadi ya anggarannya terbatas. Dan harga buku ini yang cuma 50K lebih berapa ribu gitu jelas menggoda mata saya.

2. Judul

Karena saya penggemar kopi, makanya saya tertarik dengan ceritanya yang, pada ekspektasi awal saya, akan menceritakan tentang kepribadian seseorang dilihat dari kopi favoritnya. Dan ternyata tebakan saya betul.

3. Sampul

Sampulnya yang ungu terong itu keren banget. Ungu adalah warna favorit saya selain pink. Kesannya mewah gitu.

Lah, kok jadi ngelantur kesana kemari. 

Untuk novel The Espressologist ini, aku kasih rating :

Cerita :


Sampul :