Jumat, Agustus 15, 2014

All I Want

Source : Pinterest

Di saat-saat terburuk, aku sering heran sendiri mengapa aku masih dapat bertahan.
Dan aku berjalan di muka dunia laiknya tidak terjadi apa-apa
Walau agak sulit, sering hampir gagal.
Saat aku merasa tidak tahan dengan sakit yang menggeliat-geliat di dalam dadaku
Di dalam otakku
Di sekujur tubuhku

Ketika aku tersenyum pada orang lain, padahal dalam diriku setengah mati mencaci dengan semua sumpah serapah yang ku tahu
Dan aku berdiri di tempatku biasanya berada, memproklamirkan kalimat-kalimat baik tentang hidup, harapan, kekuatan, kepercayaan, masa depan, dll
Sementara seluruh diriku sekarat, menginginkan untuk jadi tak pernah ada.
Dan aku sering heran betapa kuatnya ternyata aku ini.
Mati-tapi entah mengapa tetap hidup.

Aku hanya berharap bahwa aku akan terus cukup kuat melewati  jalan ini
Sehingga aku dapat mencapai fase tertinggi, tempat terpuji yang jarang dicapai orang lain
Yaitu fase dimana aku dapat melindungi orang-orang lain dari rasa sakit yang sama 
Karena aku tahu betapa dingin dan mengerikannya tempat gelap yang ku pijak
Aku tidak mau mereka mengalami hal yang sama, khususnya orang-orang yang ku kasihi.
Ketika aku tidak peduli lagi bahwa perlindunganku akan semakin melukaiku
Karena mereka tidak tahu, tidak mengerti, tidak memahami apa yang coba ku jauhkan dari mereka
Dan aku terlalu letih untuk menjelaskan apa-apa yang tak akan mereka percaya, hal-hal buruk yang biasanya hanya ada di film, terlalu jauh untuk jadi nyata.
Ketika yang ku inginkan hanyalah melihat mereka menjalani hidup yang lurus dan baik
Tumbuh dengan wajar
Memiliki pengalaman-pengalaman yang biasa
Dan menjadi manusia utuh dengan jiwa dan raga yang murni
Yang akhirnya membuat mereka bahagia dengan mudah
Jauh dari mimpi buruk, bekas luka, kepahitan, dan ketakutan yang tak berujung

Senin, Agustus 11, 2014

Deep Dream

Source : Pinterest

Pernahkah kamu bermimpi sesuatu yang sangat sangat sangat indah, sehingga kamu meneteskan airmata ketika terbangun ? Kamu begitu menginginkannya hingga terasa menyakitkan, tapi di saat bersamaan kamu sadar bahwa itu cuma mimpi ? Kemudian perasaan menginginkan itu harus dipaksa memudar, yang pada akhirnya meninggalkan jejak berupa kehampaan besar dalam hatimu ?.

Pernahkah kamu terbangun dari tidur, lalu sesaat lamanya lenyap dalam distorsi. Ketika mimpi yang baru saja kamu tinggalkan terasa lebih nyata ketimbang kenyataan itu sendiri ?

Sabtu, Agustus 09, 2014

It's Better To Be Like This

Lebih mudah seperti ini
Menarik diri, merajut selubung tebal hari demi hari
Dengan begitu mata dunia tak akan tertuju ke sini
Karena semakin waktu berjalan
Entah mengapa rasanya lebih mudah untuk diam saja
Lalu semua yang terserak dan terpapar dalam dada
Lebih baik diraba, diuraikan sendiri

Lebih mudah seperti ini
Jadi, tidak ada tuntutan untuk menjelaskan
Memaparkan
Segala sesuatu yang sebenarnya telah begitu jelas, hanya ditakacuhkan
Menyembunyikan
Kisah-kisah pilu dan kesalahan-kesalahan besar
Yang sebenarnya, mengingatnya pun telah membuat hati terasa mati

Lebih mudah seperti ini
Ada rasa takut, gelisah, khawatir
Jika kotak pandora ini terbuka
Maka akan jadi terlalu gelap untuk didekati
Diperbaiki
Dihidupkan kembali
Dan pada akhirnya lebih cenderung untuk ditinggalkan dan diabaikan
Karena lebih mudah bersikap tak peduli

Ya,
Lebih mudah seperti ini saja.

Lebih baik seperti ini...


Kamis, Agustus 07, 2014

Scene..

Dear, Rega....

Pengalaman pertamaku naik kereta adalah ketika berumur 17 tahun dan baru lulus SMA. Ketika itu aku melarikan diri dari rumah untuk yang kesekian kalinya. Hanya saja, itu pertama kalinya aku tidak punya tempat yang dituju. Itulah satu dari sedikit hal yang hilang dariku karena sekolah di tempat yang jauh dari rumah. Teman-teman dekatku juga berada di kota-kota yang jauh, dan teman-teman saat SMP sudah hanya jadi sekedar kenalan biasa saja yang tak mungkin dibebani dengan masalah-masalah yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan mereka.

Jadi, saat itu sekitar pukul delapan pagi saat aku memutuskan pergi setelah bertengkar hebat dengan Ibu. Uang yang ku pegang tidak lebih dari dua ratus ribu. Aku hanya terpikir membawa satu setel pakaian di ransel dan handphone. Hanya ada satu tujuan di kepalaku : pergi kemanapun asal tidak di kota ini.

Sepanjang perjalanan aku sms-an dengan Liliana, menanyakan sedetail mungkin cara naik kereta. Aku tidak menceritakan masalahku, tapi dia menjawab kekhawatiran dan ketakutanku. Katanya, saat ini transportasi umum sudah aman jadi aku tidak perlu takut. Tinggal naik saja kereta yang benar dan turun di stasiun yang benar pula. 

Di pintu gerbang stasiun aku tertegun melihat begitu banyaknya kerumunan orang berjubel. Kumal, kusam, berantakan, dan kotor. Dan banyak mata menatapku. Seolah tahu bahwa tidak seharusnya aku berada di situ. Seolah tahu apa yang ku tinggalkan, dan apa yang ku bawa. Semua kursi penumpang penuh. Dan aku duduk di lantai di sudut stasiun, gemetaran tak terkendali. Aku melewatkan kedatangan dua kereta. Ku pikir stasiun sama seperti bandara ketika pesawat telah tiba, lama kelamaan akan semakin sepi. Ternyata justru semakin ramai. Aku lapar, khawatir, marah, takut, sedih, dan putus asa. Ada seorang petugas mendatangiku dan menanyakan tujuanku. Aku bilang aku menunggu teman yang akan pergi bersama-sama. Aku tahu dia tidak percaya, terutama karena sudah hampir dua jam aku  tak beranjak dari situ. Tapi, tiba-tiba saja aku ingat nenekku yang tinggal di Solo. Lalu, aku langsung ke loket dan membeli tiket jurusan Solo yang kebetulan, menjadi kereta berikutnya yang tiba.

Untung saja perjalanannya menyenangkan. Keretanya tidak terlalu penuh, jadi gampang saja mendapatkan tempat duduk yang kosong. Dan beberapa saat kemudian, ada seorang penjual makanan kecil yang menyenangkan memilih duduk di kursi di belakangku dan mulai bercerita panjang lebar tentang insiden pengrusakan kereta ini oleh suporter bola salah satu klub di tanah air tiga hari lalu. Itu menjelaskan mengapa kereta ini kelihatan habis mengalami tabrakan hebat. Pendek kata, aku tiba dengan selamat di Solo dan nenek menjemputku di stasiun kereta.

Dari peristiwa itu aku sadar bahwa pelajaran hidup sering terjadi bersamaan dengan hal-hal yang tidak enak. Dalam hal ini, peristiwa menyakitkan di rumah yang membuatku kabur ternyata juga memberiku pengalaman naik kereta pertama kali. Memang terlihat kecil dan tak berarti bagi orang lain, tapi untukku itu sangat berharga mengingat ketakutan berlebihanku untuk pergi sendirian menuju tempat yang asing.

Sayangnya, ternyata  sebuah pengalaman yang terasa menyenangkan di suatu waktu belum tentu terasa sama menyenangkannya di waktu yang lain. Lebih tepatnya, naik keretaku yang sekarang [ ini kedelapan kalinya, ngomong-ngomong ] tidak terasa semenyenangkan yang pertama dulu. Memang saat ini aku sudah berani dan hampir yakin dengan tempat tujuanku. Namun, keretanya penuh. Dan aku membawa koper. Sulit sekali berjalan dengan menarik [ dan kadang mengangkat ] koper di antara lorong-lorong kereta. Kardus dan tas jinjing diletakkan di tengah lorong, padahal ada ruang kosong di bawah kursi si empunya. Sepertinya mereka tak mau repot, atau tidak mau mengurangi kenyamanan menyelonjorkan kaki. Kadang hidup bisa menjadikan seseorang begitu egois dan kejam. Tega mengesampingkan kebutuhan orang lain hanya untuk sedikit kepuasan pribadi.

Aku harus menyusuri dua gerbong sebelum mendapat tempat duduk. Bisa lebih lama lagi, jika aku tidak memberanikan diri duduk bersama rombongan orang asing.

Aku duduk bersama satu keluarga yang beranggotakan Ayah, ibu, dan tiga anak kecil yang dua diantaranya terlalu lincah dan yang satu masih menyusui dalam pelukan ibunya. Ini tempat teraman yang bisa ku dapat. Ada bangku-bangku lain yang masih kosong satu atau dua, hanya saja kalau tidak berhadapan dengan anak-anak muda perokok berpakaian preman, maka om-om lusuh yang terlelap dengan pulas, atau gerombolan cewek-cewek alay yang terlalu ribut dengan gosip-gosip mereka. Yah, lebih baik aku duduk bersama keluarga ini saja. Mereka sibuk dengan anak-anak mereka sehingga tidak sempat berbicara denganku, suatu hal yang ku syukuri. Dua anak mereka memang sedikit ramai dan hiperaktif, tapi setidaknya mereka tidak palsu atau memandangku dengan tatapan menilai. Dan jelas tidak ada kemungkinan bahwa entah bagaimana mereka adalah penculik wanita, atau pembunuh berantai, atau yah….yang lagi ngetren sekarang, penghipnotis sekaligus pencopet yang sedang menyamar.

Maka, disinilah aku. Masih tiga jam lagi sebelum sampai di Bandung. Waktu yang cukup lama untuk memikirkan sesuatu. Dan aku mendapati diriku menulis ini, di agendaku pula. Entah mengapa aku menulis namamu di atas. Mungkin karena aku sedang butuh teman bicara, dan tidak mungkin aku menelepon atau mengirimimu pesan setelah apa yang ku lakukan padamu. Kaulah orang terdekatku akhir-akhir ini. Dan aku tidak bisa memikirkan orang lain untuk ku tulis namanya. Surat tradisional seperti ini, harus bernama kan ? Maksudku, mungkin bagimu untuk mengirim sms kepada siapa saja, bahkan dengan orang tak kau kenal yang nomornya hanya kau ketik secara acak. Tapi tidak dengan surat. Tidak ada surat anonim. Bahkan jika kau tak mencantumkan namamu sebagai pengirim, kau tetap harus membubuhkan nama orang yang ingin kau kirimi surat.

Tidak ada yang spesial. Hanya saja aku mendapati ternyata mudah menuliskan sesuatu ketika itu ditujukan padamu. Hampir seperti bercakap-cakap yang biasa kita lakukan. Perbedaannya adalah kau jadi bayangan imajiner di kepalaku. 

Karena bayangan imajinermu tidak mungkin memarahiku, maka ini kesempatanku untuk sekali lagi bilang maaf. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Apalagi mencoba mendebatkan alasanku yang memang ku sadari begitu lemah. Ini yang bisa ku katakan : kau ingat pembicaraan kita beberapa waktu lalu tentang takdir ? dan firasat ? dan kesempatan kedua ?.Nah, saat ini aku sedang mengejar semua itu. Kau sendiri yang berpendapat bahwa firasat-firasatku banyak benarnya. Dan aku punya perasaan bahwa firasat kali ini akan menuntunku kepada sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang, yang sudah sekian lama ku cari jawabannya. Ini adalah kesempatanku mencari jalan takdirku, memastikan bahwa aku tidak akan menyesal di waktu-waktu mendatang.

Kalau kau masih tidak mengerti, aku tak akan memaksanya. Toh surat ini juga tak akan sampai padamu. Aku hanya iseng menulis ini, ingat ?

Dari atas kereta takdir,

M-renz

Salah satu konsep surat dalam satu rencana novelku. Ceritanya tentang cinta di masa lalu. Judulnya Unchanging Things. Tokohnya bernama Maren, Billy, dan Rega.


Rabu, Agustus 06, 2014

Ada benda-benda tertentu dalam hidup yang kita lindungi dan kita hargai lebih tinggi karena kenangannya. Atau nilai kebanggaannya. Kebanyakan hanyalah benda remeh temeh seperti selembar kertas piagam, bunga kering di buku harian, patahan-patahan perhiasan tua, pakaian lama yang sudah apek dan bulukan, coretan-coretan tak beraturan di potongan kertas, carikan-carikan tiket kendaraan atau tempat hiburan, bahkan yang sangat sepele seperti sebutir kancing baju.

Kita menyimpan semua itu dengan sangat baik. Melebihi perlakuan kita pada benda-benda yang mahal dan baru kita beli.

Tak apa merasa sentimentil. Itu kan bukti nyata dan abadi dari perjalanan-perjalanan yang sudah berhasil kita lewati. Bersama segala rasa dan emosi yang menyertainya.

Pada akhirnya, itulah bukti bahwa kita pernah hidup.

Minggu, Agustus 03, 2014

Half Reality, Half Fiction

Source : Pinterest

Biasanya aku tidak suka mengkritik selera orang lain-terutama selera musik.

Kalau ada jenis musik yang ku benci, maka itu adalah musik disko. Dan metal. Rock, bisa ku nikmati beberapa tergantung dari lirik dan seberapa jelasnya penyanyinya membunyikan kata-katanya. Intinya, aku benci musik keras yang berdentam-dentam.
Semua itu terdengar bertambah buruk sepuluh kali lipat di telingaku yang baru bangun tidur singkat setelah begadang semalaman-begadang berarti begadang, tidak tidur sepicing pun hingga hari beranjak terang. Musik diciptakan untuk menjadi penghiburan, menjadi penenang untuk hati yang lelah dari kerasnya dunia nyata. Karena itu, musik haruslah lembut. Aku tidak mengerti mengapa orang membuat musik keras semacam musik disko. Siapa yang bisa merasakan ketenangan saat musik yang keras dan menyayat telinga-dan dalam kasusku, kesabaranku ? Boleh ku beri tahu sesuatu tentang penelitian tentang musik keras yang tidak sengaja ku baca saat di bangku kuliah, bahwa penikmat musik keras lebih borpotensi, berapa persen tepatnya aku lupa, untuk melakukan kekerasan dibandingkan penikmat musik lain. Mungkin karena penikmatnya bukan bertujuan untuk relaksasi, tapi sekedar pelengkap untuk kegiatan lain yang menjadi pilihan utama melepas penat-berjoget.

Musik pilihanku ? Pop mellow. Jenis yang bisa dinikmati setiap saat tanpa membuat telinga sakit. Baik sebagai teman membaca buku, belajar, minum teh, berjalan-jalan, jogging, atau pengantar tidur.

Itulah sebabnya aku tidak suka diskotik. Tempat itu menduduki nomor-nomor awal dari tempat yang paling tak ingin ku kunjungi kembali. Yang menjadi alasan diriku dilabeli sebagai “ cewek nggak asyik “ di bangku kuliah, dan di kantor setelahnya.

Alasan utamanya mungkin karena tingkat toleransiku yang sangat rendah kalau boleh dibilang hampir tidak ada. Aku yakin di planet ini bukan aku saja yang benci jenis musik keras. Hanya saja, orang lain memilih diam dan mengikuti alur, dalam hal ini, ikut mejeng di diskotik dan memaksa diri mendengarkan musik keras dan berdentam yang sebetulnya bukan kegemarannya, daripada berkelahi dengan penggemar musik itu yang bisa mengakibatkan dirinya terkena masalah. Sedangkan diriku memilih jalan ekstrem, seperti selalunya. Menolak mentah-mentah ajakan ke diskotek karena aku tidak suka musiknya yang menyebabkan diriku kehilangan prospek mendapatkan teman yang lebih banyak dan memperluas lingkup pergaulan. Mengunci diri di rumah, dengan musik mellow kebanggaanku, membaca buku, dan itulah kurang lebih definisi kebahagiaan versiku.

Benar-benar khas “ cewek nggak asyik “.

Bagaimanapun rasa tidak sukaku, semua itu mesti ku tekan saat ini.

Aku sedang berada di toko buku bekas. 

Jumat, Agustus 01, 2014

Agoraphobia

Source : MangaFox

Kemungkinan besar dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, aku akan jadi seorang pengidap agoraphobia-phobia keluar rumah. Setelah bipolar disorder, PTSD, perfeksionis, anti sosial, dan kini agoraphobia. Hebat, benar-benar hebat. Masa depan yang cerah ceria benar-benar menungguku di depan sana.

Emosiku lebih kerdil daripada anak umur sepuluh tahun. Begitu banyak hal yang bisa dengan mudah melukaiku. Membuatku trauma, menjadikanku phobia, menanamkan ketakutan padaku. Setelah kejadian shubuh tadi, aku semakin menyadari bahwa betapa sedikitnya hal yang dapat ku kendalikan, terlalu sedikit sesuatu yang bisa ku atur, ku jalankan sesuai kehendakku. Kebanyakan berlalu melewatiku, tanpa sedikit pun melihat ke arahku. Aku tidak bisa. aku tidak akan bisa lagi melewati kejadian seperti itu. Aku tidak bisa tiba-tiba harus memikul tanggung jawab sebesar itu di pundakku, memikul nasib orang lain yang bahkan tak ada sangkut pautnya dengan dunia kecilku.

Seharian ini aku keluar rumah hanya ke masjid untuk sholat. Dan setiap kali melangkah keluar, bahkan memikirkannya saja, sudah membuatku panik dan ketakutan. Aku mengintip keluar dari jendela rumahku, memastikan tak ada orang yang bisa mempengaruhi emosiku. Aku berjalan cepat, lalu kembali pulang dengan cepat juga. Berkeringat dingin, nafasku tak teratur, dadaku sesak, kakiku gemetaran, pikiranku dipenuhi ilusi tentang penghakiman dalam tatapan mata orang lain. Hatiku dipenuhi rasa takut dan kepanikan, ingin menangis, rasanya tanah akan sewaktu-waktu terbelah di bawah kakiku lalu menenggelamkanku ke lubang gelap tanpa dasar, udara memampat di organ pernafasanku, dan langit mengancam akan runtuh setiap waktu.

Source : MangaFox

Aku takut. Takut sekali.

Aku tidak tahu bagaimana harus melewati semua ini. Lebih baik aku di dalam rumah sini saja, aman dan nyaman di dalam kamar kecilku, dikelilingi oleh semua hal yang ku cintai, segala sesuatu yang lebih bisa ku tangani. Ada keluargaku disini, animeku, buku-bukuku, kasurku, kipas anginku, dan….perasaan aman dan nyaman ini. Tak ada lagi yang ku butuhkan. Aku tidak mau keluar rumah. Terlalu banyak hal menakutkan di luar sana. Aku sama sekali tidak bisa meramal masa depan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi padaku saat selanjutnya aku berada di luar ? atau selanjutnya lagi ?

Dan siapa yang bisa menjamin bahwa orang-orang di luar sana tidak menghakimiku setiap kali melihatku ? melihat arah dan jalan yang ku tuju ? siapa yang bisa melindungiku dari mereka ? siapa yang bisa membelaku dan berdiri di depanku, ketika aku telah putus asa dan kehilangan kata, saat seluruh dunia mencibir dan memandang rendah alasan-alasanku ?? Siapa ???

___________________________________________________________________________
Catatan tambahan ini ditulis beberapa jam kemudian  dari tulisan di atas, saat aku sudah mulai tenang.

Aku akan menceritakan kisahku tadi pagi. Kisah yang membuatku masuk dalam antrean sebagai calon pengidap agrophobia.

Jadi, aku punya tetangga yang rumahnya depan rumah, untuk menghormati privasi beliau dan privasiku sendiri di dunia nyata [ siapa tahu aja ada orang dari dunia nyataku yang dengan sengaja atau tidak sengaja membaca postingan ini ], sebut saja namanya Mr. D.

Sudah sejak aku KKN kurang lebih dua bulan lalu, beliau ini mendadak jatuh sakit. Komplikasi penyakit dalam yang banyak banget. Jantung, ginjal, darah rendah, dll entah apalagi. Beliau ini kebetulan seorang yang terpandang di lingkunganku, karena beliau adalah seorang ulama besar. Tidak ada orang yang tidak kenal. Sakitnya ini parah banget. Kalo pas kambuh bisa pingsan tiba-tiba, dan...ah entah apalagi.

Fajar tadi, saat aku akan berangkat sholat shubuh ke mesjid, kebetulan aku bersua dengan dia. Karena rumah kami berhadapan, tentu sering sekali kami kebetulan bertemu dalam perjalanan ke mesjid. Masalahnya, saat melihatnya tadi pagi, perasaanku tiba-tiba tidak enak. Tapi mau balik ke rumah, sudah kepalang tanggung. Apalagi beliau sepat melihatku, kelihatan sekali nanti kalau aku menghindar. Beliau berjalan di depanku.

Dan beberapa detik dan beberapa alangkah kemudian, firasat burukku menjadi kenyataan. Tiba-tiba dia melambat dan menepi di pinggir jalan, lalau terbatuk-batuk dengan keras. Aku berjalan mendahuluinya, dengan khawatir menengok ke belakang padanya karena dia juga mulai muntah-muntah. 

Dan...

Belum sempat aku mencerna kejadian itu, tiba-tiba beliau tumbang. Jatuh ke jalan sambil kejang-kejang dan tangannya kayak orang kambuh stroke gitu.

Refleks aku langsung menghampirinya. Berteriak-teriak memanggil namanya. Lalu aku berteriak meminta tolong. Di mesjid, orang-orang sedang sholat shubuh, sudah di pertengahan sujud rakaat pertama. Tidak ada orang lain di sekelilingku. Hari masih begitu gelap. Beliau masih kejang-kejang. Aku ragu antara mau memegangnya atau tidak, mau membantunya duduk atau apalah tapi takut kekuatanku tidak sanggup menahan tubuh beliau. Takut setengah mati kalau beliau kenapa-kenapa karena jujur saja, aku paling nggak bisa menangani hal seperti ini.

Lalu, dengan seketika ku putuskan untuk ke rumah beliau mencari bantuan dari anggota keluarganya. Jaraknya tidak jauh kok, tidak sampai 50 meter dari rumah kami. Aku berdo'a setengah mati supaya masih ada orang di rumah beliau.

Lalu ku gedor-gedor pintu rumah beliau yang baru, mengkilap oleh pernis, dan tebal itu. Aku berteriak-teriak di depan rumahnya, sambil memukul-mukul seperti orang kehabisan akal. Beberapa saat berlalu, tidak ada yang keluar rumahnya. Karena khawatir dengan keadaan Mr. D yang terbaring di tengah jalan tanpa ada yang menunggui, aku memutuskan akan mencoba memapahnya sendirian saja. Begitu sampai di ujung halaman rumah Mr. D dan melihat ke jalanan tempat beliau terbaring tadi, ternyata beliau sudah berdiri lagi dan berjalan ke arah mesjid. Karena sudah tak ada lagi yang dapat ku lakukan, wong orang rumahnya aja tetep nggak ada yang keluar, aku menyusul beliau ke mesjid. Mr. D berjalan tertatih-tatih sambil masih terbatuk-batuk hebat. Bahhkan beliau sempat berhenti sebentar sambil bersandar di tiang masjid. Aku menatapnya khawatir. Tapi beliau lalu masuk dan sholat shubuh berjama'ah. 

Begitu sholat selesai, ternyata di belakangku ada anak perempuannya yang terlambat sholat. Aku memanggilnya dan menceritakan kejadian tersebut. Dia membenarkan memang mendengar suaraku, tapi saat dia membuka pintu, ternyata aku sudah pergi. Sedang Mr. D sendiri, begitu selesai sholat langsung berbaring di lantai masjid.

Masalahnya, aku mendengar cerita dari adikku yang teman akrab anak perempuan Mr. D itu. Saat ditanya anak perempuannya : " Pak, kenapa tadi ?,", Mr. D menjawab : " Iya, tadi saya sempat pingsan sebentar. Eh, saya kira Nf [ Nama panggilanku di rumah ] mau nolongin, ternyata malah lari pulang,". Anaknya menjelaskan bahwa aku lari itu minta pertolongan ke rumah mereka.

Begitu ku tanya ibuku, apa yang akan dilakukannya ketika berada di posisiku, ibuku menjawab bahwa dia mungkin juga akan berteriak-teriak histeris sepertiku. Sedang adik perempuanku bilang, kalau itu dirinya, dia akan langsung memeganginya dan membantunya duduk atau berdiri. Perkataan Mr. D diatas, sepertinya menyiratkan bahwa beliau menyesali keputusanku meninggalkannya di tempat itu.

Dan sampai maghrib tadi keadaan beliau belum juga membaik. Ayah dan ibuku yang menjenguk mengatakan bahwa Mr. D bilang " Yah, kalau dalam keadaan darurat nggak apa-apa [ maksudnya memegangi dia ],"

Dan sepanjang hari ini aku tertekan oleh perasaan bersalah. Apa aku tadi melakukan hal yang benar dengan meninggalkan beliau di jalan, lalu lari ke rumahnya, alih-alih menolongnya dan menunggu pertolongan ? Kalau iya, bagaimana kalau tadi beliau tidak langsung sadar, tapi justru malah tambah parah dan orang-orang yang mungkin akan datang setelahnya, menyalahkanku karena tidak segera memanggil bantuan ? Bagaimana kalau tadi beliau kenapa-kenapa ? 

Dan aku merasa, sepanjang hari ini, orang-orang menatapku dengan pandangan penghakiman. Mungkin aku saja yang terlalu parno. Karena kenyataannya yang tahu kejadian pagi tadi mungkin cuma keluarga Mr. D dan keluargaku. Entahlah. 

Apa yang harus ku lakukan ? Yang mana yang benar sebenarnya ? Memangnya apa yang bisa ku lakukan dalam situasi seperti itu ? Apa yang akan dilakukan orang lain ? Perempuan lain ? Dalam posisi yang sama ? Apakah keputusanku bijaksana ? Apakah jalan yang ku ambil itu mempengaruhi nasibku dan keadaan Mr. D ? 
Source : MangaFox